Rabu, 30 Mei 2012

Pram di Kampungnya Blora

PRAMOEDYA DI KAMPUNGNYA BLORA

Perpustakaan PATABA mengajak warga Blora untuk mengenang Pramoedya Ananta Toer dengan cara yang cerdas. Soesilo Toer penanggung jawab Perpustakaan PATABA berharap warga Blora dapat mengungkapkan kenangannya bersama kakaknya itu dalam bentuk tulisan. Menurutnya banyak sekali peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan Pram yang belum diketahui oleh publik. Beberapa tokoh Blora, pernah mengungkapkan secara lisan peristiwa-peristiwa menarik saat mereka itu berinteraksi langsung dengan Pram.
Ketika memperingati 6 tahun meninggalnya Pram, akhir bulan April 2012, Perpustakaan PATABA menyelenggarakan bedah buku tentang Pram. Salah satu buku yang dibedah adalah ‘Pram Melawan’ tulisan P.Hasudungan Sirait dan kawan-kawannya. Buku itu memberi inspirasi Pak Sus, panggilan akrabnya. Menurutnya buku itu paling lengkap membahas tentang Pram, namun juga paling banyak salahnya. Pak Sus ingin menyampaikan opini, sehingga bisa memberikan informasi yang benar kepada publik tentang Pram dan dirinya.
Dari ide awal itu kemudian berkembang. Akan lebih bagus jika masyarakat Blora, kampung halaman Pram, dilibatkan dalam membangun gagasan tersebut. Apalagi setelah Pak Sus membaca tulisan anaknya sendiri, Benee Santoso yang menuangkan kesan paling mendalam saat perjumpaan terakhirnya dengan Pram. Tulisan itu dimuat di salah satu tabloid lokal Pati.
Karena perpustakan PATABA bersifat swadaya dan nirlaba, maka kumpulan tulisan itu nanti akan diterbitkan secara swadaya pula. Hal ini sejalan dengan misi Perpustakaan PATABA, membangun masyarakat Indonesia gemar membaca dan mampu menulis. Buku itu diharapkan mampu menambah informasi tentang Pram, oleh orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya. Tentu kesan itu bisa jadi umum atau bahkan sangat personal. Justru itulah nilai lebihnya.
Pak Sus menginginkan, Pram bukan menjadi menara gading, tinggi tak terjangkau. Hanya orang-orang tertentu yang mampu menyentuhnya. Pak Sus ingin Pram lebih membumi di tanah kelahirannya sendiri Blora. Menurutnya masih banyak warga Blora yang belum tahu atau tidak tahu, bahkan mungkin tidak mau tahu siapa Pram. Yang lebih parah adalah yang pura-pura tidak tahu, karena mengenal Pram dianggapnya tidak ada untungnya sama sekali. Mungkin mereka juga dihinggapi oleh phobia akronim dari nama Toer, ‘Tansah Ora Enak Rasane’. Segala hal yang ada kaitannya dengan Toer dan yang melingkupinya dianggap serba tidak mengenakkan.
Namun yang lebih utama bagi Pak Sus, partisipasi warga Blora dalam menyumbangkan tulisan tersebut. Tulisan dapat diserahkan langsung ke Perpustakaan PATABA, Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora, rumah masa kecil Pram. Atau bisa juga melalui email : pataba.blora@yahoo.co.id. Pak Sus akan menerima semua tulisan, tanpa dibatasi bentuk, tema, halaman, yang diketik atau ditulis tangan. Diharapkan semua tulisan dilampiri fotocopy identitas penulisnya.