Rabu, 09 Mei 2012

Pataba Lahirkan Anak Kandung Pertama


PATABA LAHIRKAN ANAK PERTAMA
Hermawan Widodo

Kelahiran PATABA
Perpustakaan PATABA, adalah perpustakaan nirlaba di Blora yang dikelola Soesilo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer yang merupakan keturunan Mastoer, tokoh pendidik legendaris asal Blora.
PATABA, akronim dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa, merupakan upaya yang dilakukan oleh Soesilo Toer untuk mengenang salah satu kakaknya itu. Kenangan yang ia bangun bukan saja untuk dirinya sendiri, melainkan untuk semua masyarakat Blora, masyarakat Indonesia dan dunia. 
Pramoedya Ananta Toer, meski jasadnya telah menyatu dengan tanah lebih lima tahun lalu, namun semangatnya tidak pernah mati. Kenangan itu yang ingin ia abadikan. Ada banyak cara yang mungkin lebih gagah dan meriah. Namun, adik kebanggaan Pram itu, lebih memilih membuka ruang baca, memanfaatkan salah satu bagian bangunan rumah peninggalan bapaknya. Soesilo Toer ingin membangun budaya membaca dan menulis di tengah rendahnya budaya baca dan tulis masyarakat Indonesia. Cita-cita yang kemudian menjadi motto PATABA “Masyarakat Indonesia Membangun adalah Masyarakat Indonesia Membaca menuju Masyarakat Indonesia Menulis”.

Meramahkan Rumah Hantu
Karena PATABA menjadi satu bagian dari rumah tua bapaknya, yang masih dianggap angker, bahkan disebut sebagai rumah hantu oleh sebagian kalangan, maka Soesilo Toer menjadikan rumah itu ramah. Rumah yang mampu memberikan ketenangan, keteduhan, kedamaian, dan jaminan keamanan dari rasa haus dan lapar. Kebutuhan paling mendasar setiap manusia hidup. Di rumah itu, setiap tamu akan selalu disediakan air minum, cemilan bahkan juga makan besar jika sudah waktunya makan.  Maka banyak tamu datang dengan berbagai keperluan. Ada yang ingin menggali ilmu dari ribuan koleksi buku yang dipajang di perpustakaan. Ada juga yang ingin menimba ilmu dan pengalaman dari Soesilo Toer, tokoh sepuh Blora yang menganggap dirinya sebagai anak haram Negara. Maka pak tua yang masih tampak bugar itu, dengan penuh semangat akan membagi ilmu dan pengalamannya kepada siapa saja yang dating, tanpa membedakan suku, agama, ras, ideologi, jenis kelamin maupun usia. Gelar doktor yang ia raih dari salah satu perguruan tinggi ternama di Rusia, tidak menjadikannya seolah menara gading, yang susah dipahami bicaranya, karena ketinggian ilmunya. Pak Soes, demikian biasa ia dipanggil, dengan sangat luwes menyesuaikan cara menyampaikan ilmu kepada tamunya yang heterogen.

Membangun Pondasi Budaya Membaca dan Menulis
Meski baru lima tahun berdiri, PATABA mampu memberikan dorongan geliat membaca di kalangan masyarakat. Ada langkah yang patut diacungi jempol untuk merangsang budaya membaca. PATABA memberikan penghargaan kepada pengunjung yang paling rajin meminjam buku. Sejak penghargaan itu diberikan, yang mendapatkan bukan dari kalangan pelajar, mahasiswa maupun guru, justru diterima oleh seorang lelaki tua yang sehari-harinya sebagai tukang parkir di Jl. Lawu Blora, Sujono namanya. Membanggakan dan ironi sekaligus.
Membangun budaya menulis, ia lakukan dengan menulis berbagai hal yang kemudian dicetak secara swadaya, menjadi buku-buku tipis yang sederhana. Banyak karyanya yang ia pajang di perpustakaan itu, sebagai oleh-oleh bagi tamu yang berkunjung ke perpustakaannya. Spirit menulis itu ia gelontorkan kepada kaum muda pelajar, dengan menyelenggarakan lomba menulis bagi pelajar di Blora pada awal tahun 2011. Ternyata naskah yang ia terima malah datang dari berbagai daerah Nusantara. Ada lebih seratus naskah yang dikirim oleh pelajar dari Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Saya ikut membantu mengetik ulang dan menyunting naskah-naskah itu menjadi buku-buku tipis dan sederhana. Buku yang diberi judul ‘Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa’ itu diterbitkan menjadi lima seri. Ya, meski masih sederhana, namun itulah karya. Mengutip pernyataan pemenang Nobel untuk ekonomi Gunnar Myrdal dari Swedia bahwa sekecil apapun tulisan pasti memiliki manfaat.

Maka Lahirlah Anak Pertama
PATABA bukan berhenti sampai di situ. Soesilo Toer ingin menguji dan membuktikan tesis Prof. Teeuw, kritikus sastra Indonesia dari Belanda yang menyatakan bahwa dalam seabad belum tentu lahir pengarang sekaliber Pramoedya Ananta Toer. Maka ketika ada seorang perempuan bernama Lina Kelana, ingin menerbitkan karyanya di PATABA, Soesilo Toer langsung mengiyakan. Naskah yang ia terima yang belum ada judul dan cover itu, kemudian dicetak menggunakan payung PATABA Press. Buku itu kemudian diberi judul “Suwung” dengan cover lukisan gunungan. Bagi PATABA, Lina Kelana dan “Suwung” adalah anak kandung pertamanya. Sebelumnya PATABA telah memiliki anak, Soetarmin Purwo S. Dono yang menuliskan buku “Wedha Sanyata Seputar Islam”. Dia bisa dikatakan sebagai ‘anak tiri’ karena lahir bukan dari rahim PATABA sendiri.
Kehadiran ‘anak pertama’ tentu sangat membahagiakan orang tuanya. Maka untuk menyambutnya, PATABA mengadakan hajadan. Hajadan yang terbilang meriah. Mulai sore ba’da ashar, Kamis 22 Desember 2011, di pelataran rumah pusaka keluarga besar Toer diadakan pentas seni budaya. PATABA memberikan ruang untuk tampilnya anak-anak dari SD, SMP dan SMA. SDN 1 Jetis menyajikan berbagai tarian, sedangkan SMPN 2  Blora menggelar opera Arya Penangsang. SMA Katholik Wijaya Kusuma yang juga dijadwalkan, sore itu karena suatu hal urung tampil. Puncaknya adalah penampilan barongan yang mampu menghibur penonton dengan sajian tarian dan musiknya yang sangat atraktif.
Bedah buku ‘Suwung’ yang lahir dari rahim PATABA, sebagai acara inti digelar malamnya, memasuki malam Jum’at Kliwon, di pelataran rumah yang katanya juga angker. Acara dipandu oleh Eko Arifianto, dimeriahkan oleh orkes keroncong jalanan Kebo Marcuet, yang biasa mangkal di stasiun lama Blora, juga pembacaan puisi karya Lina Kelana oleh para penyair muda dari Manado dan Tuban. Banyak tokoh hadir dalam hajadan itu. Di atas karpet yang digelar di pelataran, tampak duduk pengarang Beni Setia dari Madiun, penulis Gunawan Budi Susanto dari Semarang, para penyair muda dari Manado dan Tuban, penulis Soetarmin Purwo S. Dono dari Blora, sejarahwan Probo Sutejo dari Blora, peneliti dari LIPI, wartawan, tokoh sepuh dan masyarakat umum Blora.
Hampir semua yang hadir memberikan apresiasi atas lahirnya penulis wanita ini. Soesilo Toer sebagi ‘orang tuanya’ merasa sangat bangga bisa melahirkan penulis. Apalagi seorang perempuan, yang menurutnya di berbagai Negara, penulis perempuan dibanding laki-laki adalah 1:7. Di Indonesia bisa lebih jauh, mencapai 1:30 bahkan mungkin 1:50. Diakuinya sebagai karya, tidak ada yang sempurna. Masih dijumpai kesalahan di sana-sini, namun itu tidak mengurangi kebahagiaannya.
Beni Setia yang cukup aktif terlibat dalam ‘persalinan’ buku ini, memberikan uraian bagaimana ia berusaha terus memompa Lina agar mewujudkan karyanya. Maka lahirlah “Suwung” sebagai sebuah karya sastra. “Suwung” mengangkat tema pergolakan batin seorang wanita Ra Hasti Dewantari, yang lahir dari rahim seorang wanita pribumi. Ia ada karena benih yang ditanam secara paksa di rahim ibunya, oleh seorang berandal kulit putih di masa penjajahan Belanda. Seorang wanita yang terlahir ‘berbeda’, yang lebih mirip dengan ‘bapak’, yang sangat ia benci, meski ia tak mengenalnya. Latar belakang itulah yang menjadikannya memiliki kepribadian bukan saja ganda, namun tiga kepribadian sekaligus yang tumpang tindih dalam satu tubuh. Suatu tema yang menurut Beni Setia, cukup berat.
Gunawan Budi Susanto, yang biasa dipanggil Putu oleh kawan-kawannya itu, membenarkan bahwa karya Lina Kelana ini termasuk karya tulis yang berat. Sebagai manusia yang sudah berumur lebih dari lima puluh tahun, sangat berat membaca buku “Suwung”. Ia harus mengerahkan konsentrasi tinggi, dan juga alat bantu kaca mata untuk bisa memelototi tulisan-tulisan yang begitu kecil dan rapat. Selain tulisan yang begitu mungil, mungkin ini menyesuaikan dengan penulisnya yang mungil, alur cerita juga mbulet-mbulet, membuat dahinya mengkeret karena mumet. Namun ketika tulisan itu terus dibaca, meski dengan memaksa, pada akhirnya ia mendapat kesimpulan, membaca buku “Suwung” itu mencapaikkan namun mengasyikan. Mungkin mas Putu tidak tega untuk menyatakan membaca buku “Suwung”, rasanya seperti berhubungan dengan istri, capai tapi asyik. Malah ia menyebut “Suwung” ini sebagai karya hybrid, model baru dalam khazanah sastra Indonesia. Maka ia sangat menganjurkan kepada semua yang hadir untuk membaca buku “Suwung”, jika ingin mendapatkan sensasi itu. Baginya yang utama adalah keberanian Lina Kelana menerbitkan buku itu, dengan segala pengorbanan dan resikonya. Keberanian itu yang patut mendapat apresiasi dan dorongan.
Sebenarnya, “Suwung” malam itu tidak sendirian. Dia temani oleh adik kecilnya, buku tipis tulisan keroyokan Soesilo Toer, saya dan Yuni Kiki Handini, yang masih kebul-kebul baru keluar dari ‘percetakan’. Namun buku mungil yang diberi judul “PATABA, Mutiara dari Blora” itu tidak ikut dibedah. Dia menjadi souvenir bagi para tamu yang hadir. Buku yang mencoba menampilkan perpustakaan PATABA, menurut versi masing-masing penulisnya.

 Menguji dan Membuktikan Mimpi
Baru lima tahun PATABA berdiri, sudah lahir satu penulis dari rahimnya. Soesilo Toer tidak mengukur besar kecilnya penulis. Baginya yang penting telah lahir seorang penulis. Masih terentang waktu panjang untuk menguji tesis Prof. Teeuw, apakah penulis itu akan menyamai Pramoedya Ananta Toer. Dalam rentang waktu itu, tentu masih akan lahir penulis-penulis baru. Jika ‘kelahiran normal’, andaikan setiap tahun lahir dua penulis, maka 90 tahun ke depan akan lahir 180 penulis. Soesilo Toer yakin, salah satunya akan menjadi seorang penulis besar. Sembilan puluh lima tahun, tidak sampai 100 tahun. Sebuah keyakinan yang terus ia pupuk, ia semai dan pelihara.
Maka ia dengan PATABA tidak akan berhenti. Akan terus berusaha mengandung dan melahirkan penulis-penulis di kemudian hari. Kalau saat ini sudah lahir Lina Kelana, maka ke depan akan lahir Lina-Lina yang lain. Lina Kelana meski bertubuh mungil, namun semangat dan nyalinya tidaklah kecil. Banyak orang besar yang tidak identik dengan tubuh besar. Munir, tubuhnya mungil, namun nyalinya luar biasa. Jendral Soedirman, fisiknya ringkih, namun semangatnya berkobar tak surut oleh tekanan siapapun. Lina Kelana telah berani lahir sebagai penulis dengan segala konsekuensinya.
Soesilo Toer masih akan terus menguji dan membuktikan mimpinya, melahirkan penulis-penulis di masa depan Dengan senyum kebapakkan, dan suara lembut ia berujar, “Selamat datang anakku, mari kita isi dengan karya-karya tulis yang lebih baik, dan terus lebih baik, untuk Indonesia dan dunia.”. (*)


Hermawan Widodo
Bakul Kacang ‘Nyamleng’ Blora
Sedang belajar membaca dan menulis di perpustakaan PATABA Blora

Foto Diri.jpg