Rabu, 09 Mei 2012

Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa PATABA


Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa
( P A T A B A  )
Naskah untuk Panitia Festival Salihara Tahun 2011 di Jakarta
Disusun oleh Soesilo Toer

Pengantar
Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa, merupakan perpustakaan nirlaba inisiatif saya, sebagai bagian dari keluarga besar Toer. Perpustakaan liar yang menjadi satu dengan rumah peninggalan bapak itu, didirikan untuk mengenang kakak saya yang lahir di desa Mlangsen pada tanggal 6 Februari 1925, dan meninggal di Jakarta pada tanggal 30 April 2006, dalam usia 81 tahun.

Maksud dan Tujuan Berdirinya PATABA
Maksud pendirian perpustakaan itu sangat sederhana yaitu membangkitkan minat baca masyarakat di sekitar RT I, dan di sekitar Jl. Sumbawa No.40 Jetis Blora di mana perpustakaan itu berada.
Adapun tujuan PATABA adalah turut berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengembangkan budaya membaca dan menulis. Tujuan itu tersimpul dalam moto PATABA, yaitu “Masyarakat Indonesia Membangun adalah Masyarakat Indonesia Membaca menuju Masyarakat Indonesia Menulis”.
Sebelumnya ada rombongan peneliti muda Blora yang tergabung dalam Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana atau LPAW, mengadakan penelitian tentang hari kelabu di seputar Blora. Penelitian itu sebagai dukungan atas anjuran Gus Dur saat menjabat presiden tentang rekonsiliasi peristiwa berdarah tahun 1965-1966. Mereka mohon pengantar dari Pram untuk hasil penelitiannya. Dari situlah mulai terjalin hubungan saya dengan LPAW. Atas peran komponen muda itu, PATABA mulai mendapatkan publikasi yang cukup intensif di media-media cetak daerah semacam Diva, Suara Rakyat, Wacana maupun Suara Pantura. Publikasi meluas di tingkat regional melalui Suara Merdeka dan Jawa Pos (Radar Bojonegoro), dan nasional melalui Kompas. Sejak itu PATABA mulai dikenal masyarakat luas.

Sejarah PATABA
Pada tahun 2003, Pram tersentak kaget mendengar dapur rumah masa kecilnya di Blora akan dijual. Rumah pusaka warisan terakhir Mastoer bapaknya itu cukup besar, berdiri di atas tanah yang luas, lebih dari tiga ribu meter persegi. Pram berang kepada salah seorang adiknya, yang punya ide itu. Namun sebenarnya, Pram berang kepada dirinya sendiri, yang mengabaikan warisan orang tuanya. Dan Pram juga dibuat judeg, ketika adik lelaki kesayangannya menolak ditunjuk untuk merenovasi dapur yang mau roboh itu, dengan alasan sibuk dan banyak pekerjaan. Koesalah, adik kesayangan tersebut, justru menunjuk keponakannya sebagai pengganti. Alasannya adalah, keponakannya itu lulusan kursus cor beton milik Prof. Ir. Rooseno, salah seorang dari lulusan pertama STT Bandung, bersama Ir. Soekarno. Apalagi keponakannya sudah bertahun-tahun bergelut dalam pembangunan jalan tol, pasti ia paham tentang konstruksi. Pram setuju dan memberi cek senilai lima puluh juta rupiah. Namun entah bagaimana, ketika cek itu diuangkan di bank, ternyata telah kedaluwarsa.
Saya, yang waktu itu sedang menganggur total, diingatpun tidak. Padahal saya adalah adik kebanggaannya. Alasannya saya sudah paham, bahwa saya memiliki kelebihan tampang kriminal, mata maling dan rambut teroris.  Namun dapur keluarga saya harus diselamatkan dari kebangkrutan. Dengan mengabaikan rasa malu, saya memohon bahkan merengek hingga mengemis kepada Koesalah, namun ia tetap menolak. Koesalah benar-benar bergeming, sampai akhirnya saya berang dan rasa benci merajalela terhadap siapa tak jelas. Rupanya Koesalah setali tiga uang dengan Pram, tidak mempercayai saya. Koesalah tersadar ketika saya berontak dan berjanji akan menyampaikan keinginan saya itu langsung kepada Pram. Pada kesempatan bertemu dengan Pram, Koesalah ingkar janji, justru saya disuruhnya bicara sendiri kepada Pram. Saya nekat menyampaikan niat untuk menangani pembangunan dapur yang mau roboh itu dengan senjata ampuh ucapan Pram sendiri dalam Bukan Pasar Malam, “Kalau rumah itu rusak, penghuninya juga rusak!” Pram rupanya tersindir oleh omong besarnya sendiri yang sudah saya hafal luar kepala. Saya juga membawa senjata lain dari Bumi Manusia, “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Meski begitu kecurigaan Pram tidak mengendur kepada saya. Dengan lirih tanpa memandang saya, yang masih saja diperlakukan tidak adil sejak dalam pikirannya itu, ia bertanya, “Berapa kebutuhan dapurmu sehari?”
“Dua puluh ribu,” saya jawab dengan tangkas dan sigap meski tanpa persiapan. Dan saya tahu jumlah itu jauh di atas yang sebenarnya. Pram tidak komentar, langsung menyuruh istrinya mempersiapkan uang enam ratus ribu untuk saya. Ia kemudian juga memberi saya lima belas juta untuk membangun kembali dapur masa kecilnya, masih dengan kesan penuh curiga.
“Awas kamu, tiga bulan lagi aku lihat kerjamu!”
Itu pantas ia ucapkan karena saya pernah janji menangani penyusunan Kronik Revolusi, dan hasilnya gagal total. Jadi buatnya itu adalah salah satu bukti kualitas saya di hadapannya.
Ternyata bukan tiga bulan seperti omongannya. Belum genap dua bulan, Pram sudah muncul ke Blora bersama istri dan anak-anaknya. Bangunan baru, belum lagi siap, meski wujudnya sudah berdiri. Pram melihat-lihat, tampaknya ia sangat puas. Kecurigaan kepada saya mengendur. Saya sendiri heran. Dengan uang lima belas juta sudah menghasilkan bangunan seluas enam puluh meter persegi, dilengkapi tiga pintu dan jendela jati peninggalan bangunan lama. Masih ditambah dengan satu kamar tidur, satu WC, dua kamar mandi, dan bangunan teras seluas delapan meter persegi. Seluruh lantainya keramik warna putih, kamar mandi dengan bak air 3/4 kubik dari keramik warna biru telur asin, dan tembok dicat putih semua.
Pram langsung menambah order kepada saya untuk membangun tembok pagar setinggi dua meter mengelilingi tanah warisan. Ia serahkan uang sebesar dua puluh juta. Kemudian ia menyuruh membuat pondasi rumah utama sedalam dan selebar satu meter. Pram ingin membuat gedung kebangkitan kota Blora, tiga tingkat, membungkus bangunan rumah warisan di dalamnya. Ia serahkan uang lima puluh juta untuk itu kepada saya. Namun kemudian dibatalkan, karena adiknya, Prawito marah, takut rumah utama yang sudah direnovasinya dari uang waletan bapak tahun 1955 itu roboh, karena galian yang menganga itu dipenuhi air hujan. Obsesi pembangunan gedung itu pupus, tak pernah terwujud hingga Pram meninggal.
Sejak ada bangunan baru bekas dapur itu, Pram jadi sering tetirah ke Blora. Rupanya ia senang dan puas dengan uang yang dipercayakan dengan paksa kepada saya. Di kamar itu, ia biasa tidur saat menginap di Blora menjelang hari-hari terakhirnya.
Ketika akhirnya Pram meninggal tahun 2006, bangunan itu saya fungsikan menjadi perpustakaan sebagai bentuk kenangan kepadanya. Perpustakaan itu berisi sebagian besar buku-buku koleksi saya. Sewaktu saya masih menjadi dosen, separo gaji saya belikan buku, separonya lagi untuk mentraktir mahasiswa. Perpustakaan itu saya beri nama PATABA, akronim dari Pramoedya Anak Asli Blora. Kemudian saya ganti menjadi Pramoedya Anak Blora. Akhirnya karena saya anggap nama itu berbau kedaerahan dan souvinisme, serta melihat perkembangan situasi dan kondisi, akronim PATABA saya ganti menjadi, Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa, hingga kini.
Simbol PATABA adalah “ huruf T besar berkaki tiga” yang artinya PATABA dibangun atas ide tiga Toer bersaudara yaitu Pramoedya, Koesalah dan saya.

Kegiatan PATABA
Atas dukungan berbagai komunitas di Blora seperti Mahameru, Super Samin dan lain-lain PATABA menyelenggarakan berbagai kegiatan, di luar kegiatan kepustakaan. PATABA mengadakan kegiatan menyusuri kali Lusi sepanjang 40 Km dan membagikan bibit jati untuk penghijauan, seminar tentang bencana Lapindo Brantas. Kegiatan bedah buku juga dilakukan, antara lain buku Sejarah Wong Jawa Konung, Panggil Aku Kartini Saja, Wedha Sanyata Seputar Islam. PATABA juga menyelenggarakan kegiatan baca puisi, pertunjukan teater, lomba dan pameran lukisan anak-anak, pegelaran musik pop dan keroncong, kesenian tradisional kentrung, wayang krucil dan wayang kulit.  Acara srawung seni yang diisi dengan diskusi seni dan budaya, membaca geguritan, cerpen, puisi dan pentas teater. Semua kegiatan itu dilaksanakan di pelataran dan dalam rumah pusaka keluarga Toer, yang menyatu dengan PATABA.
Dari PATABA lahir dua lembaga swadaya masyarakat, yaitu Lembaga Ekonomi Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang energi alternatif, dan Lembaga PASANG SURUT yang bergerak dalam ranah budaya dan lingkungan hidup. PATABA kemudian berkembang menjadi tempat diskusi, mencari bahan penulisan kertas kerja, naskah-naskah untuk diikutkan lomba, hingga bahan-bahan untuk menyusun skripsi. Selaku penanggung jawab PATABA, saya sering diundang untuk berbicara di gereja, klenteng, sekolah-sekolah, berbagai komunitas di daerah Rembang, Pati, hingga Semarang.
Setiap tahun PATABA selalu mengadakan kegiatan berkenaan dengan meninggalnya Pram. Yang terbesar ketika memperingati seribu hari meninggalnya Pram, dilangsungkan kegiatan selama tujuh hari yang diikuti lebih dari lima puluh komunitas dari Blora dan sekitarnya. Beberapa orang yang cukup ternama datang ke Blora kala itu,
Pada ulang tahun yang ke lima, PATABA mengadakan lomba menulis untuk pelajar SMP-SMA/sederajat. Kini, hasil karya mereka telah diterbitkan secara swadaya oleh Pataba Press dengan judul “Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Bangsa”. Sudah terbit buku ke tiga dari tujuh buku yang direncanakan. Pataba Press sebelumnya telah menerbitkan lebih dari sepuluh buku.
Di samping fungsi utama sebagai perpustakaan, PATABA juga berfungsi sebagai tempat memajang foto dan lukisan tokoh-tokoh nasional dan internasional. PATABA menyediakan souvenir khas yang berkaitan dengan Pram atau Blora berupa kaos dan lainnya. Ada beberapa orang yang menitipkan buku-buku karyanya untuk dijual kepada pengunjung, bahkan ada juga yang menitipkan perangko-perangko langka. Meskipun PATABA telah cukup dikenal masyarakat luas, namun hingga kini status perpustakaan PATABA, masih dianggap liar oleh pemerintah Blora.

PATABA Bukan Perpustakaan Biasa
PATABA sepintas tidak berbeda dengan perpustakaan yang lain. Namun PATABA memiliki kelebihan sekaligus kekurangan yang tidak dimiliki oleh perpustakaan lain.
Kelebihan utama adalah, PATABA mendapat gelar perpustakaan liar. Karena liar, maka tak ada katalog untuk membantu menemukan buku yang dikehendaki dari empat ribu lebih buku yang menjadi penghuni perpustakaan itu. Pengunjung harus rela melayani dirinya sendiri, karena memang tidak ada petugas khusus di sana. Didukung ruangan sempit, kadang yang datang berombongan harus rela berdesakan di perpustakaan tanpa kipas apalagi AC itu. Karena sifatnya yang terbuka itu, ada banyak buku yang bernilai dan berharga tinggi berpindah tempat atau tangan tanpa diketahui rimbanya. Meski begitu saya yakin buku-buku yang mereka ambil tanpa bilang itu, dibaca, bukan dibakar sebagaimana peristiwa jaman kelam puluhan tahun silam. Maka di depan pintu masuk rumah utama terpampang plang ukuran satu meter persegi, dengan tulisan merah menyala di atas dasar warna putih: BACALAH BUKAN BAKARLAH!  
Banyak kekurangan yang disandang oleh perpustakaan nirlaba di Blora ini. Peminjam tidak harus menjadi anggota, hanya mengisi buku tamu, selanjutnya boleh membaca di ruangan itu sepuasnya atau membawa pulang buku yang dikehendaki. Selalu disiapkan air minum kemasan dan snack bagi pengunjung. Ketika tiba waktunya makan, pengunjung saya ajak makan bersama dengan keluarga saya. Jika kemalaman, tersedia kamar untuk tidur mereka. Kamar yang dulu dipakai Pram ketika tetirah di Blora menjelang hari-hari terakhirnya. Semua itu saya sediakan gratis. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada di belahan dunia ini, ada perpustakaan liar sebagaimana PATABA. Mungkin karena banyak kekurangannya itu pengunjung berdatangan bukan saja dari Blora, tetapi juga dari luar Blora bahkan luar negeri. Di dalam buku tamu tercatat pengunjung yang datang dari Swedia, Amerika, Belgia, Jepang, Korea, Australia, Prancis, Jerman, Italia dan Rusia yang mewakili empat benua. Hanya dari Afrika yang belum ada.
Para pengunjung beragam dari siswa SD hingga mahasiswa Pasca Sarjana, dari pemulung hingga budayawan, dari tukang parkir hingga mantan menteri. Tokoh yang pernah berkunjung dapat saya sebutkan : Ajip Rosidi, Koesalah Soebagya Toer, FX Hoerry, Joko Pitono, Martin Moehtadhim, Sindunata, Muhidin M Dahlan, Bashkoro, Poppy Dharsono, Sony Keraf, Amrih Widodo. Koh Young Hun (Korea), Etienne Naveau (Prancis), Kevin (Amerika), Andree Moller (Swedia), Malraux (Belgia), Anna Tipikina (Rusia) dan lain-lain. Sedangkan rombongan yang datang, umumnya dari perguruan tinggi : Undip Semarang, Satya Wacana Salatiga, UNY Jogajakarta, UNS Solo, IAIN Walisongo Semarang, dan UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.
Sedangkan yang menjadikan PATABA bukan perpustakaan biasa adalah, tradisi memilih pengunjung yang paling rajin pinjam buku. Dua tahun terakhir dipegang oleh Soejono, seorang tukang parkir yang biasa mangkal di Jl. Lawu Blora. Atas dedikasinya tersebut PATABA memberikan piagam dan sejumlah uang.

Harapan PATABA Masa Mendatang
Atas sambutan yang menggairahkan itu, PATABA merasa yakin memiliki masa depan yang cukup menjanjikan. Untuk itu, perlu penanganan yang lebih professional, tanpa harus meninggalkan ciri khas PATABA, dibantu oleh lembaga atau individu yang memiliki perhatian dan sejalan dengan PATABA. Harus juga ditingkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan PATABA sendiri yang makin semarak dan bermutu.
Dari kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sudah ada niat, beberapa mahasiswa jurusan perpustakaan dari perguruan tinggi ternama di Indonesia, yang kelak di kemudian hari akan membaktikan diri mereka demi terwujudnya PATABA bukan saja sebagai perpustakaan daerah, tatapi akan diusahakan menjadi perpustakaan bertaraf nasional bahkan internasional. Dilibatkannya PATABA pada festival ini, menunjukkan gejala yang menggembirakan, sehingga keberadaannya makin banyak dikenal masyarakat nasional maupun internasional.

Penutup
PATABA optimis bahwa hari depan yang cerah telah menanti. Hal ini disebabkan karena PATABA adalah perpustakaan biasa yang luar biasa. Terutama karena PATABA mencoba mengaitkan dirinya dengan nama pengarang asal Blora. Bagi saya, itu adalah jaminan karena Pramoedya Ananta Toer adalah ikon yang unik dari segi keberhasilan maupun kegagalannya.
PATABA ada di Blora untuk Indonesia dan dunia.

Blora, 18 Oktober 2011

( Soesilo Toer )
Jl.Sumbawa 40 Jetis Blora