Rabu, 16 Mei 2012

Ketoprak Sayembara " Mayat Hidup Lahir Dalam Kubur "


KETOPRAK SAYEMBARA
“Mayat Hidup Lahir Dalam Kubur”
Hermawan Widodo

TVRI sebelum munculnya RCTI sebagai stasiun tivi swasta pertama di Indonesia, merupakan satu-satunya stasiun tivi  yang ada, dan bisa dikatakan rajanya tivi. Sebagai stasiun tivi pelat merah, TVRI betul-betul dimanfaatkan oleh penguasa waktu itu, untuk memberikan informasi tentang berbagai hal menurut versi pemerintah. Namun bagi kami warga dusun Kepuh Lor, tidak begitu mempersoalkan apakah yang disiarkan itu untuk kepentingan pemerintah atau untuk kepentingan siapa, yang penting acaranya menyenangkan.
Acara TVRI yang begitu populer adalah Aneka Ria Safari, Selekta Pop untuk acara musik. Sedangkan untuk seni pertunjukan adalah ketoprak dan wayang orang. Kami sudah dibuat takjub dengan penampakkan gambar Bima yang lebih besar dari tokoh yang lain. Juga saat Gatotkaca bisa terbang di atas awan. Belakangan juga acara mbangun desa yang diperankan oleh sebagaian besar awak Teater Gandrik. Tokoh-tokoh seperti Pak Bina, Kang Kuriman, Lek Sronto, dan tentu  Baguse Ngarso begitu melekat di ingatan.
Ada satu acara TVRI yang begitu fenomenal yaitu acara ketoprak. Setiap malam Rabo bisa dipastikan perhatian warga terfokus pada acara ketoprak dipancar luaskan oleh stasiun Jogja itu. Antusiasme warga untuk melihat acara tivi kesayangan tersebut memang betul-betul signifikan.
Saya dan keluarga merasakan denyut antusiasme mereka. Saya tahu karena keluarga kami saat itu adalah pemilik pesawat tivi satu-satunya di Kepuh Lor. Pesawat tivi hitam putih ukuran 14 inc merk JVC. Meskipun ada tetangga lain memiliki pesawat tivi, tetapi yang open house memang hanya di rumah saya saja.
Penayangan acara ketoprak baru mulai jam 7 malam, namun kegiatan yang mendukung sudah dilakukan ba’da maghrib. Mereka dengan kesadaran sendiri menyiapkan pesawat tivi tentu dengan akinya ke halaman depan rumah. Kebetulan halaman depan rumah kami berupa lantai plesteran semen yang biasanya dipakai untuk menjemur padi saat panen. Halaman itu disapu, kemudian digelar tikar. Di tempat itulah nanti hampir seluruh warga tumplek duduk lesehan melihat acara ketoprak kesayangannya.
Melihat fenomena seperti itu, ada yang cukup kreatif menangkap peluang bisnis di kerumunan orang. Orang itu bukanlah jebolan sarjana ekonomi atau minimalnya SMEA, namun hanyalah seorang embah putri yang sudah sepuh, Mbah Rono namanya. Rumahnya berdiri di bantaran sungai yang membelah antara Kepuh Wetan dan Kepuh Kulon. Beliau selalu menggelar berbagai macam cemilan mulai dari pisang godog, kacang godog dan jajanan model kampung lainnya, termasuk es sirup.
Jadi ketika asyik melihat ketoprak, mereka juga asyik makan cemilan. Tetapi Mbah Rono adalah penggemar fanatik ketoprak sehingga begitu acara dimulai dia tutup dagangannya dan tidak mau lagi melayani pembeli. Dia asyik bersama yang lain larut acara nonton bareng ketoprak di depan tivi.
Pemandangan seperti itu terus akan terulang lagi nanti pada hari Selasa malam Rabo. Saat saya lulus SMP, sudah mulai ada orang lain yang memiliki tivi. Orang yang tadinya rajin melihat tivi di rumah saya secara bertahap memiliki pesawat tivi sendiri, sehingga tidak harus mendatangi rumah saya untuk sekedar melihat tivi.
Namun bagi yang belum memiliki pesawat tivi sendiri mereka masih tetap setia dengan tivi di rumah saya. Bukan hanya saat penayangan acara ketoprak saja yang memang menjadi acara idola, tetapi juga pada saat hari yang lain. Bahkan mereka nonton acara tivi itu hingga TVRI selesai mengudara sekitar jam 10 malam, kecuali hari sabtu malam minggu ada penanyangan film akhir pekan, TVRI tutup jam 12 malam.
Kami tentu tidak selamanya harus menunggu mereka melihat tivi. Jika memang sudah mengantuk, mereka dibiarkan melihat sendiri. Baru ketika sudah saatnya mau pulang, mereka memberesi seluruh perangkat tivi itu, kemudian membangunkan kami untuk pamit dan juga agar kami mengunci pintu. Sepanjang pengalaman berlangsungnya open house tivi itu, mereka selalu disiplin dengan mekanisme tak tertulis itu. Jika kami agak susah dibangunkan, terpaksa mereka menunggui sampai salah satu dari kami bangun untuk kemudian pamit. Belum pernah ada kejadian satu kalipun mereka meninggalkan tivi tanpa pamit kepada kami.
Ketoprak di tivi mengalami masa jaya saat dibuat model kethoprak sayembara. Cerita dibuat bersambung menjadi 4-5 episode , di akhir cerita ada jawaban pertanyaan yang dijadikan sebagai sayembara. Tentu sayembara ini berhadiah bagi yang beruntung. Beruntung karena jawabannya benar, dan beruntung karena muncul namanya sebagai pemenang saat diundi. Dengan model bersambung seperti itu, rasa penasaran selalu hinggap di setiap episode cerita, dan selalu mengharapkan kelanjutannya. Saya tidak begitu ingat apa judul ceritanya karena agak panjang, seingatku ada kata langitnya. Hanya ada satu tokoh yang tidak lupa sampai sekarang yaitu Ki Bongol, kalau tidak salah pemerannya Yoyok Aryo.
Ketoprak agaknya tidak bisa dijauhkan dari keluarga saya. Pak Tuwo sebutan mbah, dari ibu adalah seorang pemain ketoprak yang cukup disegani pada jamannya. Jika menyebut Darmo Dalimun, orang yang pernah hidup sejaman dengan mbah saya dan penggemar ketoprak pasti mengenalnya, paling tidak pernah mendengar namanya. Kemampuan bermain ketoprak Pak Tuwo itu menurun pada Lek Sapar adiknya ibu. Meskipun sekedar  untuk solidaritas, tetapi saat pentas kethoprak 17an Lek Sapar pasti menjadi pemeran utama protagonis.
Bapak saya juga  tak kalah fanatiknya. Bapak berasal dari Sekarsuli Sendangtirto Berbah Sleman. Kecamatan Berbah sudah dikenal oleh masyarakat perketoprakan sebagai gudangnya pemain ketoprak dan juga kelompok ketoprak. Meskipun bapak bukan pemain, namun setiap ada pentas ketoprak tobong tidak pernah absen nonton.
Waktu itu kelompok ketoprak Sapta Mandala binaan Kodam Diponegoro biasa mengadakan pertunjukan keliling selama 30 hari nonstop. Saat Sapta Mandala menggelar  pentas di lapangan Pleret Bantul, bapak selalu melihatnya. Saya kadang diajak melihat. Dari situ saya sedikit banyak mengenal tokoh-tokoh ketoprak. Nama-nama seperti Widayat, Marjiyo, Marsidah, Darsono, Miyanto, Dirjo Tambur, Sopyan dan lainnya begitu familiar. Yang paling terkenal dan menjadi idola adalah Widayat dan istrinya Marsidah. Pasangan suami istri itu sering memerankan tokoh utama pria dan wanita. Karena suami istri, maka saat adegan romantis mereka melakukannya tanpa sungkan. Merangkul, memegang janggut, menggendong dan adegan roman lainnya, dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ternyata Widayat itu adalah kakak sepupu teman sekelas saya waktu SMA.
Lek Gi yang merupakan adik bungsu bapak saya juga pernah ikut main ketoprak saat digelar di rumah Pak Tuwo Sekarsuli. Usianya masih 10 tahunan, ketika memerankan anak raja yang masih kecil. Adegan yang harus diperankan hanyalah duduk dan kemudian ditandu oleh para abdi, tanpa sepatah katapun dialog. Namun begitu penampilan Lek Gi sudah membuat kami-kami ini bangga.
Generasi terakhir yang pernah terlibat dalam dunia perketoprakan adalah adik saya Igun. Saat acara 17an di Kepuh Lor, adik saya ikut terlibat dalam pementasan ketoprak. Meskipun bukan menjadi tokoh utama, tetapi bukan sekedar sebagi pemain figuran atau baladupak yang sekali muncul langsung mati dan tidak muncul lagi. Baladupak tidak perlu menghafal dialog, cukup ciat ciat dan adegan jotosan dengan durasi maksimal 3 menit. Igun cukup sering muncul, dan dialognya juga lumayan banyak. Tentu kami sekeluarga ikut euforia menanti kemunculan Igun di panggung.
Pentas itu adalah pentas pertama dan juga yang terakhir. Sebab setelah itu Kepuh Lor sudah tidak pernah menggelar acara ketoprak lagi saat 17an. Alasannya tentu karena biaya yang tinggi dan mungkin juga sudah mulai tidak diminati lagi. Seiring dengan berjalannya waktu, sepertinya ketoprak akan menjauh dari keluarga kami, bersamaan dengan kepergian Igun selamanya pada tahun 2007.
Selain di tivi dan dipentaskan, ketoprak juga sudah ada rekamannya dalam bentuk pita kaset. Saya juga sering mendengarkan ketoprak dari tape recorder. Biasanya saya mendengarkan ketoprak lewat tape recorder itu di rumah Agus. Sudah sering saya tidur di rumah Agus. Dia secara nasab masih adik sepupu saya. Mbahnya adalah adik mbahku. Jadi menurut perhitungan Jawa dia semestinya memanggil saya mas, meskipun secara umur, dia dua tahun lebih tua dari saya. Tetapi saya dan Agus sehari-hari cukup memanggil nama, tidak menggunakan embel-embel mas.
Rumah Agus merupakan peninggalan dari Mbah Kaji. Ada tiga rumah yang ukuran dan bentuknya persis dengan rumah itu. Selain rumah keluarga Agus di Kepuh Kidul, adalah rumah mbah Wondo di Kepuh Lor, dan rumah mbah Lurah di Wirokerten.
Meskipun besar, namun tidak ada kamarnya, hanya berupa ruangan-ruangan. Untuk menjadikannya kamar, biasanya disekat dengan almari pakaian. Jadi tempat tidurnya ada di belakang almari pakaian itu. Di depan rumah ada halaman yang cukup luas yang diplester semen. Halaman itu fungsi utamanya untuk menjemur padi yang baru dipanen. Ruang depan dibagi tiga bagian. Ruang utama biasanya untuk menerima tamu, persis di bawah limasan dengan empat tiang kayu jati. Di samping kanan dan belakang ada ruangan lagi yang juga difungsikan untuk tamu. Tiga ruang itu dipisah oleh semacam lorong membentuk huruf U.
Kemudian di ruang tengah juga dibagi menjadi tiga ruangan. Disamping kanan ada gandok, kemudian yang tengah merupakan ruang khusus keluarga. Di dalam ruang keluarga ini ada ruangan kecil yang disebut dengan senthong. Biasanya untuk menyimpan barang berharga. Di samping ruang keluarga dibatasi tembok ada ruangan namun lebih mirip lorong. Di ruangan itu saya pernah melihat berbagai koleksi senjata tajam semacam tombak, keris, pedang dan lainnya. Ruang belakang difungsikan sebagai dapur dan area mandi cuci kakus.
Selain ada sumur di dalam, di depan rumah juga ada sumur untuk keperluan wudhu bagi jama’ah yang hendak sholat di mushola depan rumah. Bangunan mushola ukuran sedang berdiri di depan sisi kanan rumah. Sebelah barat mushola terdapat sungai kecil dan langsung bersinggungan dengan kuburan. Sebelah barat kuburan terdapat sungai yang membelah dusun Kepuh Wetan dan Kepuh Kulon.
Suatu ketika saat menginap di rumah Agus, kebetulan orang tuanya, Pak Darmo dan Mbak Zaenab sedang tidak di rumah. Agus, saya dan Hartono tidur di rumah itu.
Awalnya kami bertiga ngobrol macam-macam sambil makan kacang dan minum teh. Kebiasaan yang sampai sekarang masih terpelihara, utamanya minum teh. Menjelang larut, Agus berinisiatif menyetel ketoprak RRI dengan lakon Lahir Sakjroning Kubur, saduran dari karangan Abdullah Harahap. Pemeran dalam lakon itu utamanya adalah Widayat, Marsidah, Wahono, Marjiyo dan lainnya.
Ceritanya memang cukup menyeramkan untuk ukuran anak. Berawal dari kisah istri raja yang dibunuh oleh ibu mertua dan adik iparnya, dalam kondisi mengandung. Ternyata saat dikubur, janin yang ada di dalam perut tidak mati, dia lahir di dalam kubur. Ibu bayi yang masih gentayangan itun memburu satu persatu para pembunuhnya. Mereka satu-persatu dicekik hingga mati.
Saat kemunculannya itu disertai dengan suara khas yang membuat bulu kuduk berdiri hii.hii.hii..serem banget.
Saat cerita pada fase puncak kengerian, tiba-tiba saja lampu satu-staunya penerang mati. Tentu kami panik, untuk tidak menyatakan diri dengan takut. Sebab dalam kegelapan total itu suara horror hii.hii.hii.., masih terus terdengar, sebab tape tidak mati, kaset masih berputar.
Tanpa dikomando kami pun tiarap masuk ke dalam sarung masing-masing. Tidak ada satupun yang berinisiatif mematikan tape yang menebar horor itu. Baru ketika pita habis, terdengar bunyi jeglek, kaset secara otomatis berhenti. Setelah itu kami baru bangun dari tiarap, mencari korek api untuk menyalakan lampu yang tadi mati tanpa sebab yang pasti.
Kejadian yang sama terulang saat kami tidur di rumah Agus, namun kaset ketoprak yang diputar dengan lakon Mayat Hidup. Dengan para pemain yang hampir sama. Ceritanya bermula dari sayembara memperebutkan seorang putri bernama Maya sebagai calon istri. Dalam satu perang tanding Yudas kalah oleh musuhnya. Permintaan terakhirnya agar mayatnya disimpan dan diawetkan. Sebelum mati dia menulis surat untuk pujaan hatinya yang tak kesampaian.
Sekian tahun kemudian di tempat mayat Yudas itu disimpan ada maling yang mengambil barang-barang berharga. Tanpa sengaja maling itu mengambil kain berisi surat untuk Maya. Dengan penasaran maling itu membaca surat itu hingga selesai. Begetu selesai surat itu dibaca, tiba-tiba mayat itu hidup dan berjalan. Tentu sang maling ketakutan dan mengambil langkah seribu.
Munculnya mayat hidup itu membuat panik penduduk. Kata-kata yang terucap hanya satu Maya..! Maya..! Saat lakon itu dimunculkan di TVRI, mayat hidup yang berbentuk mumi itu benar-benar menakutkan. Keseraman itu masih terekam dan melekat saat kami mendengarkan lakon itu dari kaset. Kondisi gelap gulita, dengan suara Maya..!Maya..! itu membuat kami benar-benar mati kutu.
Entah kejadian itu ada kaitan dengan rumah Agus yang hanya berjarak kurang dari 3 meter dengan kuburan atau tidak, yang jelas dua kali mendengarkan kaset ketoprak yang menceritakan orang mati, pasti endingnya horror.