Rabu, 09 Mei 2012

Soesilo Toer Mutiara dari Blora



SOESILO TOER & PATABA
MUTIARA DARI BLORA
Hermawan Widodo

Suatu pagi di hari Minggu, bertempat di Masjid Agung Blora, saya mengikuti diskusi tentang sejarah Islam Blora. Terus terang, saya tidak begitu mengenal sejarah Blora. Bagi saya yang buta Blora hanya sedikit paham bahwa, Blora itu Pramoedya Ananta Toer. Blora itu, Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo. Blora itu, Aryo Penangsang. Blora itu, Samin! Ketika pemakalah menyatakan bahwa penyebar ajaran Islam di Blora adalah Sunan Pojok, saya betul-betul tidak paham siapa dia. Menurut saya, nama yang agak aneh untuk seorang tokoh penyebar ajaran besar. Biasanya pojok digunakan untuk nama warung makan atau toko, bahkan malah jadi plang tukang cukur atau tambal ban. Saya tidak begitu tertarik dengan pemaparan sejarah itu.
Saya baru tertarik ketika ada seseorang yang maju ke depan saat sesi tanya jawab. Seorang bapak, yang menurut perkiraan saya, berumur tujuh puluhan tahun. Berperawakan sedang, rambut sudah semua putih, dengan cambang cukup tebal yang juga sudah putih. Berbaju batik lengan pendek warna coklat, dan celana panjang abu-abu. Bapak tua itu mengenalkan dirinya sebagai Susilo, pekerjaan pemulung. Dia tidak bertanya, namun memberikan data-data tentang sejarah Blora, dari buku yang dibacanya. Data yang justru belum pernah dipahami oleh pemakalah yang memaparkan sejarah Blora.
Setelah bapak tua itu kembali ke tempat duduknya, saya kemudian berkenalan dengannya. Sebelumnya saya minta menggeser seorang siswa yang duduk dekat bapak tua itu, agar saya bisa duduk berdampingan dengannya. Setelah berkenalan, saya menanyakan kepadanya, apakah seorang Aryo Penangsang itu pahlawan atau pemberontak. Ternyata dia tidak memberikan jawaban. Menurutnya, dia belum menemukan referensi yang akurat tentang hal itu. Dia kemudian menawarkan kepada saya, untuk datang ke rumahnya di Jalan Sumbawa, kalau mau membaca buku. Katanya di rumahnya ada berbagai macam buku. Saya waktu itu berpikir, dia adalah penjual buku-buku bekas. Dugaan saya itu diperkuat oleh pernyataannya, bahwa dia juga menjajakan buku di depan masjid tempat diskusi dilaksanakan. Saat saya keluar masjid selesai acara usai, saya melihat-lihat buku yang dijajakan. Ternyata yang dimaksud buku itu adalah foto copy tulisan yang dijilid tipis-tipis. Sebagian besar tulisan tentang Pramoedya Ananta Toer. Ada Pramoedya dan Seks, Memperingati 1.000 hari Pramoedya Ananta Toer. Buku-buku itu dihargai Rp.5.000,- Saya timang-timang buku tipis sampul merah, bergambar tangan diborgol sedang memegang pena, berjudul Pram dalam Sastra&Fakta, Memperingati 1.000 Hari Pramoedya Ananta Toer. Buku tipis itu saya beli dan saya bawa pulang.
Sampai rumah, saya buka buku tipis itu, isinya tulisan bermacam-macam. Ada kumpulan puisi untuk Pram, berbagai penilaian orang terhadap Pram. Ada tulisan yang membandingkan Pram dengan Samin Surosentiko. Ada juga tulisan panjang yang mendominasi hampir seluruh halaman buku, yang ditulis oleh Soesilo Toer. Saya baca tulisan itu hingga selesai. Tulisan yang mengesankan bahwa penulisnya amat sangat dekat dengan Pram. Dari buku itu saya baru tahu kalau Soesilo Toer, adalah adiknya Pramoedya Ananta Toer.
Tiba-tiba pikiran saya melayang kepada pemulung dan penjual buku, di Masjid Agung Blora. Jangan-jangan…. Saya bolak-balik buku itu. Di salah satu halaman dicantumkan beberapa nama kontributor. Ada Muhidin M Dahlan dan Soesilo Toer. Nama Muhidin M. Dahlan, saya paham sebagai penulis novel “Tuhan Biarkan Saya Jadi Pelacur” dan pernah masuk acara Kick Andy, saat dia berbicara tentang bukunya yang membahas Lekra. Nama Soesilo Toer, saya baru tahu dari buku tipis itu. Saya selama ini berpikir Pramoedya adalah seorang diri saja. Ketika saya baca alamat yang menjadi sekretariat : Jl.Sumbawa 40 Jetis Blora, pikiran saya kembali mengait kepada pak tua yang mengundang saya ke rumahnya Jl.Sumbawa. Nama yang mirip dan alamat yang hampir sama. Daya tebak saya langsung mengarah bahwa, Susilo si pemulung itu adalah Soesilo Toer, adik sang maestro sastra Indonesia. Hati saya langsung berdesir, jantung berdetak lebih kencang, keringat dingin keluar meski tidak sampai mengucur. Daya nalar saya juga menyajikan kesimpulan yang sama, bahwa pemulung yang mendebat pembicara di masjid tadi adalah Soesilo Toer adiknya Pramoedya Ananta Toer. Pantesan, meski sudah tua tetap galak.
Saya tidak peduli siapa Soesilo Toer, yang pasti dia adalah adiknya Pramoedya Ananta Toer. Orang besar tidak akan meninggalkan sesuatu yang tidak besar. Sudah pasti tidak bisa ketemu dengan Pram, bisa ketemu adiknya sudah merupakan kanugrahan luar biasa besar. Adrenalin saya untuk segera datang ke Jl.Sumbawa, langsung membumbung. Saya membayangkan akan datang ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Masuk ke rumah masa kecil, penulis besar dunia. Mas Ari, kakak ipar saya yang penggemar berat Pram, pasti iri jika tahu, saya bisa masuk rumah penulis legendaris itu. Meskipun mas Ari dosen filsafat di Universitas Islam Bandung, yang koleksi buku Pram-nya lebih lengkap dari saya, namun saya yakin haqul yaqin, dia belum pernah melihat langsung rumah Pram di Blora. Jangankan melihat rumahnya, sedang menginjak tanah Blora pun belum. Saya sudah membayangkan akan mendapati buku-buku Pram, dan membacainya semua-muanya.
Dalam siraman gerimis ba’da maghrib, saya kayuh sepeda onthel menuju Jl. Sumbawa. Sampai di Jl. Sumbawa, saya datangi seorang bapak yang sedang duduk di ruang tamu.
“ Pak, rumah pak Soes mana?” saya bertanya pelan.
Bapak bersarung itu menunjuk sebuah rumah di sebelah yang nampak gelap. Begitu melihat kondisi rumah yang gelap dan kelihatan seram, saya pastikan lagi ke bapak tadi.
“Rumahnya kok gelap?”
“Masuk saja, biasanya juga begitu, ada orangnya di dalam. Ketok saja!” jawabnya meyakinkan.
Sepeda saya tuntun memasuki halaman rumah. Sampai depan rumah, mata saya langsung tertumbuk pada papan warna dasar putih ukuran sekitar satu meter persegi, bertuliskan huruf merah bernada provokasi : BACALAH, BUKAN BAKARLAH!! Disamping tulisan itu, ada gambar khas Pram berkacamata dan bertopi. Saya ketuk pintunya berkali-kali, tidak ada yang menyahut. Setelah hampir sepuluh menit, baru ada suara sahutan dari seorang perempuan yang menanyakan mencari siapa. Ternyata saya salah ketuk. Saya diminta untuk masuk ke rumah samping yang masih gelap gulita.
Saya melangkah ke pekarangan yang dipenuhi tumbuhan kenikir. Sebelum sampai teras, lampu di dalam rumah tiba-tiba menyala. Pintu terbuka, saya disambut langsung oleh sosok yang tadi pagi ketemu di Masjid Agung Blora. Setelah menjabat tangan, dengan hangat dia mengajak saya masuk. Saya duduk di kursi kayu jati berpoliteur hitam, dengan jok warna biru. Ketika duduk, saya masih berusaha untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa saya sedang duduk di dalam rumah Pramoedya Ananta Toer, dan orang yang sedang di depan saya adalah adik kandungnya. Di ruang ukuran sekitar 4x5 meter persegi itu, terdapat rak-rak berisi buku banyak sekali, ditata berdiri, yang hanya menampakkan judul buku dari samping. Ruangan yang tidak begitu luas itu juga dipenuhi oleh foto, lukisan, sketsa berbagai ukuran dan warna. Wajah Pram mendominasi dinding bercat putih itu.
Pak Soes, demikian panggilan sehari-hari, menjelaskan tentang perpustakaan yang dikelolanya. Perpustakaan itu adalah gagasannya, untuk mengenang kakaknya Pramoedya Ananta Toer. Dengan memanfaatkan bangunan baru hasil pemugaran dan pemekaran dapur, jadilah perpustakaan yang diisi buku-buku koleksi pribadinya. Ada juga sebagian buku dari Koesalah Soebagya Toer dan juga buku peninggalan Pramoedya. Perpustakaan itu diberi nama PATABA akronim dari Pramoedya Ananta Toer Anak Blora. Akronim itu kemudian disempurnakan menjadi Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa, yang dipakai hingga sekarang. Baru beberapa menit berbicara tentang PATABA, tetangga yang mau berangkat kumpulan RT memanggil Pak Soes untuk berangkat bersama. Saya pamitan dan berjanji akan datang lagi, lain waktu secepatnya.
Sebelum pulang saya masuk warnet, mencari informasi tentangnya. Saya jadi sedikit tahu bahwa Soesilo Toer adalah seorang doktor ekonomi jebolan Institut Plekhanov, salah satu perguruna tinggi bergengsi di Rusia, dosen beberapa universitas di Jakarta, pernah menjabat sebagai rektor, penulis, dan memiliki pengalaman mendekam di penjara selama 6 tahun semasa orde baru. Saya yakin dengan tesis saya, bahwa orang besar tidak akan meninggalkan sesuatu yang tidak besar. Pramoedya Ananta Toer, selain memiliki karya-karya besar, juga memiliki keluarga yang juga orang-orang besar. Meski kebesaran itu terpayungi oleh kebesaran nama Pramoedya sendirian. Namun demikian dalam hati terdalam, saya yakin sepenuhnya bahwa Soesilo Toer adalah sosok besar dengan cara dan gayanya sendiri.
Sesuai janji, saya datang lagi ke Jl. Sumbawa. Pak Soes, meski umurnya sudah mendekati 75 tahun, bicaranya masih meledak-ledak. Ketika saya berbicara menggunakan bahasa Jawa kromo, dengan maksud menempatkan beliau lebih tinggi dari saya, ternyata dia tidak pernah menggunakan bahasa Jawa. Saya lupa bahwa keluarga Pram, khususnya Pram pribadi, menentang segala bentuk feodalisme. Maka saya terbawa untuk berbahasa Indonesia ketika berbicara dengannya. Meski baru ketemu tiga kali : di masjid Blora, malam sebelumnya yang hanya sebentar, dan siang itu, pak Soes sudah menceritakan berbagai hal, tentang Pram, tentang dirinya, tentang Mastoer bapaknya dan keluarga besar Toer lainnya. Dia tidak membuat jarak, meskipun jelas jarak saya dengannya sangat jauh. Pak Soes penulis yang sudah teruji kadar kepenulisannya. Bahkan sebelum tulisan Pram dilarang oleh penguasa, tulisannya sudah lebih dahulu dicekal karena dianggap berbahaya. Sejak masih umur belasan, tulisannya sudah dimuat di berbagai media. Dia mampu menyelesaikan pendidikan strata tertingginya di Rusia yang tentu membutuhkan perjuangan luar biasa berat. Sedangkan saya, bukanlah siapa-siapa. Namun siang itu, antara saya dan dia seakan tanpa jarak. Saya seperti sedang berhadapan dengan seorang teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu.
Sejak pertemuan siang itu, saya merasa bahwa pak Soes adalah sosok guru yang mengajari tanpa harus menggurui. Kuat keinginan saya untuk menyerap segala ilmu yang bersemayam pada sosok bertubuh tidak terlalu besar, namun berjiwa sangat besar itu. Pernah saya tanyakan bagaimana dulu orang tuanya mendidik anak-anaknya, sehingga mampu menghasilkan generasi yang berkualitas tinggi. Jawaban yang dipaparkan oleh Pak Soes, di luar yang saya duga. Meski bapaknya adalah seorang guru, bahkan tokoh pendidik yang legendaris di Blora, ternyata Soesilo kecil tidak pernah diajari belajar oleh bapaknya. Ada pembiaran di sana. Soesilo kecil dibiarkan semaunya. Belajar silakan, main boleh, semua terserah, semaunya anak. Ketika kemudian anak-anaknya menjadi orang-orang yang kapabel di bidangnya, itu karena memang sudah dari sononya, gawan bayi.
Saya kemudian menjadi sering bertandang ke rumahnya. Setiap kali ke Blora, saya selalu ke rumahnya. Tanpa merasa lelah, apalagi bosan Pak Soes menerima kehadiran saya, kemudian menceritakan tentang dirinya dan keluarga besarnya lebih detil dan mendalam. Sebagaian besar bersifat off the record, cukup saya simpan untuk diri saya pribadi. Dari apa yang disampaikannya, saya semakin memahami sosok besar yang sering saya kunjungi ini. Betapa ikhlas menjalani kehidupan, berusaha tidak menyakiti orang, berusaha melayani semua orang, berusaha hidup mandiri tidak bergantung kepada siapapun.
Dalam suatu kesempatan, dia pernah menceritakan masa lalunya. “Kalau saya mau, saya tidak akan sengsara di negeri sendiri. Karena kecintaan saya kepada negeri ini, tawaran untuk hidup aman, nyaman dan enak di negeri orang, saya tolak. Saya lebih cinta negeri Indonesia. Maka saya pulang dari Rusia, meski konsekuensinya saya sengsara,” katanya dengan mata menerawang.
“Namun saya sangat bersyukur bisa hidup hingga kini, melewati hari tua di negeri sendiri,” katanya kemudian dengan berapi-api.
“Banyak kawan-kawan saya, ingin sekali menginjakkan kaki di negeri sendiri, tidak terwujud hingga kini,” sambungnya.
Ya, dia ingat peristiwa sekian puluh tahun yang lalu, saat keluar dari pesawat yang membawanya pulang dari Rusia tempat dia menyelesaikan pendidikan tingginya, ke tanah airnya Indonesia. Turun di bandara, dia dijemput oleh orang yang sudah sangat dia kenal, kawan satu alumni di Rusia. Situasi politik saat itu tidak lagi mengenal kawan. Jangankan kawan, saudara sekandung saja, tidak lagi dianggap, ketika berbeda ideologi. Oleh kawannya, yang sudah tidak lagi mengenal kawan itu, dia langsung dibawa ke kantor Imigrasi untuk “ditanyai”, dan selanjutnya diinapkan di berbagai “pondokan”, istilah lebih beradab daripada penjara. Setelah beberapa kali pindah pondokan, akhirnya dia terdampar di pondokan Kemayoran Lama, hingga genap enam tahun.
Keluar dari sana tanpa memiliki apa-apa, kecuali tambahan gelar sebagai mantan tapol PKI selain gelar resminya sebagai doktor ekonomi yang tidak diakui. Dengan bekal pendidikan di bidang ekonomi yang dimilikinya, dia mencoba melakukan usaha dagang. Nasiblah yang kemudian membawanya menjadi dosen di Universitas Tujuhbelas Agustus (Untag) Jakarta, ketika dia dimintai bantuan salah seorang koleganya. Dari hasil dagang dan mengajar itu, dengan susah payah dia mampu mendirikan rumah di daerah Bekasi.
Kenyamanan yang hanya bisa dinikmati sebentar saja, karena statusnya sebagai mantan tapol, dia harus kembali berhadapan dengan penguasa. Ternyata enam tahun di penjara belumlah cukup, menghapuskan kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Semua perlawanan untuk mempertahankan haknya, tidaklah mempan di hadapan penguasa. Betul dia warga negara Indonesia, tetapi berbeda dengan warga negara yang lainnya. Penguasa dengan bisa mengambil apa yang ada pada dirinya. Rumahnya digusur, tanahnya diambil paksa, jadilah dia dan keluarganya tuna wisma, tanpa rumah dan tanah. Nasib jugalah yang kemudian membawanya kembali ke tanah kelahirannya Blora, tanpa membawa apa-apa.
Di Blora, dia rawat rumah peninggalan bapaknya dengan sisa-sisa tenaganya. Dia tanami dengan tangannya sendiri, pekarangan rumah yang luas itu dengan ratusan pohon jati, dan aneka tetumbuhan lain. Usaha mulia itu mendapatkan ganjaran penyakit prostat yang dideritanya hingga sekarang. Sebuah jenis penyakit yang sangat menyiksa dirinya jika kambuh. Untuk itu dia berharap penyakit itu tidak betah lagi singgah di tubuh tuanya. Harapan sederhana, namun rasanya sangat sulit terlaksana.
Pak Soes suatu ketika pernah menceritakan awal merintis ruang baca yang diberi nama PATABA itu. Dia tidak akan melupakan aksi brutal tentara puluhan tahun lalu di Jakarta, terhadap buku-buku yang berbeda dengan ideologi penguasa. Itulah mengapa dia memasang plang dengan tulisan mencolok : BACALAH, BUKAN BAKARLAH!!, di depan pintu rumah utama. Usaha mulia mendirikan perpustakaan itu, oleh pemerintah setempat, perpustakaan itu mendapat predikat istimewa, sebagai perpustakaan liar.
Meski tidak diakui oleh pemerintah Blora, perpustakaan itu dia kelola dengan sepenuh hati. Kini ruang baca itu menjadi tempat yang mengasyikkan bagi pengunjung untuk melampiaskan minat bacanya. Bukan saja dari Blora, juga bukan saja dari Indonesia, namun dari berbagai negara orang datang, untuk membaca, mencari data, studi banding, atau hanya sekedar ingin merasakan aura kebesaran penulis kelas dunia, Pramoedya Ananta Toer, di rumah tua itu. Di situ, pengunjung boleh meminjam buku apa saja dari ribuan koleksinya. Di situ, disiapkan kamar khusus untuk menginap jika membutuhkan. Di kamar itu juga, Pramoedya Ananta Toer biasa tidur jika sedang menginap di Blora, di hari-hari terakhir hidupnya. Di situ, juga disediakan minum dan snack gratis. Bahkan jika waktunya makan, dia akan mengajak pengunjung untuk makan bersama keluarganya. Rasanya tidak ada di belahan negara manapun, perpustakaan liar yang keramahannya melebihi dari perpustakaan yang dikelolanya.
Dia bukan sekedar merangsang minat baca, namun juga berusaha merangsang minat menulis. “Bacalah apa-apa yang telah mereka tulis, sebab membaca itu lebih mudah dari menulis. Kemudian tulislah, maka kamu akan abadi,” katanya suatu hari. Dia bisa berkata begitu, karena memang dia adalah penulis sejak masih sangat belia. Karya-karyanya banyak dimuat berbagai media di Jakarta saat itu, sebelum dia berangkat ke Rusia. Komponis Kecil, merupakan salah satu buku kumpulan ceritanya yang pernah sangat laris.
Sebagi penulis, dia tidak segan-segan memberikan bimbingan kepada siapa saja yang ingin belajar menulis. Banyak naskah yang dibawa oleh penulisnya ke rumahnya di Jalan Sumbawa no.40 Jetis Blora, untuk mendapatkan koreksinya. Ketika naskah itu ada di hadapannya, dia akan total mencurahkan kemampuannya untuk mengoreksi, kemudian memberikan masukan-masukan yang membangun, sehingga naskah-naskah itu menjadi lebih baik. Dari usaha kerasnya mengoreksi semua naskah yang dibawa ke rumahnya, dia akan mendapatkan ganjaran ungkapan terima kasih. Meski begitu dia sudah sangat bahagia, ketika naskah yang dikoreksinya bisa diterbitkan, baik menjadi buku atau dimuat di media cetak.
Pada awal tahun 2011, dia juga menyelenggarakan lomba menulis untuk pelajar. Maksudnya hanya untuk pelajar dari Blora saja. Ternyata naskah yang masuk banyak juga yang dari luar Blora, bahkan luar Jawa. Ada naskah yang dikirim oleh pelajar dari Sumatera, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Naskah sejumlah 103 baik berupa tulisan tangan maupun ketikan itu, semua mendapat apresiasi dan penghargaan dari Pak Soes.
Meski meraih gelar sarjana strata tertinggi, namun gelar itu tidak pernah diakui pemerintah. Diakui atau tidak, baginya tidak menjadi masalah. Baginya, yang penting dapat berbuat yang terbaik, semaksimal yang mampu diperbuatnya untuk orang banyak. Bahkan seandainya, kertas ijazah doktornya itu dibakar habis, ilmu yang sudah terserap dalam memori dan jiwanya tidak akan hangus.
Karena tidak diakui sebagai siapa-siapa itu, maka dia lebih senang mengklaim dirinya sebagai pemulung, selain tentunya sebagai penulis. Pak Soes sangat bangga dengan mata pencahariannya sebagai pemulung. Apapun dia pulung. Berbagai macam benda dari besi mulai dari sekrup, baut, obeng bahkan uang recehan dia ambil. Karena tidak merokok, jika menemukan rokok, dia simpan kemudian diberikan kepada tamu yang mau. Semua benda-benda bekas itu disimpan. Dia memiliki obsesi akan menjadikan semua benda hasil temuannya itu, nanti ditata secara artistik untuk kemudian bisa dilihat oleh semua pengunjung perpustakaan. Pengunjung tidak hanya membaca buku, namun juga bisa melihat foto-foto, lukisan atau karya seni yang lain. Dia ingin rumah itu menjadi cagar budaya dari Blora untuk dunia. Ketika ada tamu dari Inggris, Pak Soes menanyakan bahasa Inggrisnya pemulung. Sang tamu menyebut satu kata. Namun definisi kata itu, tidak sama dengan yang dilakoninya. Meskipun belum menemukan padanan kata yang pas dalam bahasa Inggris, namun dia tetap bangga dengan profesinya. Saking bangganya, pernah terungkap bahwa istri ketiganya, yang asli Sleman Jogja, didapatkan juga dengan cara mulung. Karuan Bu Soes menangis dan mencak-mencak hebat, disamakan dengan barang bekas.
Namun dasar seorang penulis yang pandai merangkai kata, Pak Soes mampu menjelaskan dengan sangat elegan, “Kamu itu emas yang saya pulung.”
Mendengar itu istrinya tertawa, tetapi malam harinya menangis lagi. Cita-citanya sejak lama adalah menjadi pemulung profesional. Dia berharap menemukan kalung, gelang atau cincin emas. Untuk mendukung cita-cita pak Soes itu, sebenarnya mudah. Buang saja kalung, gelang atau cincin emas anda di depannya. Faktanya, belum pernah ada orang yang cukup gila, mau berbuat begitu, sehingga keinginan mulia pak Soes itu, harus dipendam dalam-dalam.
Pak Soes percaya dan yakin akan dharma. Barang siapa berbuat baik kepada orang lain, maka akan mendapatkan penggantinya. Suatu ketika ada dua orang pengunjung perpustakaan yang menginap karena kemalaman. Malam itu Bu Soes kebetulan tidak masak nasi maupun sayur. Sementara di dapur hanya tinggal indomie dua bungkus. Dia perintahkan istrinya untuk merebus dua bungkus indomie terakhirnya itu, dan menyajikannya kepada tamu., Malam-malam mendapat sajian mie rebus panas, dua tamu itu senang bukan kepalang. Sebaliknya dua orang tuan rumah, malam itu harus menahan lapar hingga pagi menjelang. Itu bagian dari konsekuensi dharma yang diyakininya. Faktanya tidak sampai berganti minggu, ada wartawan datang untuk wawancara, dan memberinya buku sebagai kenang-kenangan. Ketika sampul buku itu dibuka, di dalamnya terselip amlop berisi uang lima lembar bergambar Soekarano-Hatta. Belum sampai habis uang itu dipakai, Pak Soes mendapat kiriman royalti dari Gramedia atas sumbangan tulisannya dalam buku Bersama Mas Pram.
Suatu hari ba’da Isya’, ketika saya berkunjung ke rumahnya, saya sudah membawa beberapa lembar tulisan yang sudah saya cicil selama ini. Saat membawa tulisan itu dalam map hijau, saya sertakan juga spidol warna merah.
Ketika Pak Soes menanyakan tulisan tentang apa, saya jawab, “ Macam-macam.”
Saya lega ketika pak Soes hanya bilang, “Tinggal saja, nanti saya baca!”
Plong rasanya, seolah lepas dari beban berat yang menghimpit rongga dada. Selain lega saya juga sangat bangga. Bagaimana tidak, seorang Soesilo Toer, penulis besar, mau membaca tulisan saya, yang tidak jelas bentuk apalagi mutunya.
Seminggu kemudian ketika saya berkunjung lagi ke rumah Pak Soes, saya sudah meniatkan diri untuk menyerahkan nasib saya dan tulisan-tulisan kepadanya. Saya siap dibantai habis. Ternyata tulisan saya dikembalikan utuh tanpa catatan apapun, apalagi coretan spidol merah. Saya menduga pasti tidak dibaca. Setelah saya terima kembali tulisan-tulisan itu, Pak Soes secara lisan memberikan penilaian terhadap tulisan yang sudah dibacanya. Menurutnya, sudah baik, sudah lancar, isinya masih sangat datar, tidak ada gejolak, tidak jelas mau cerita apa. Namun yang nyantel di kuping dan hati saya adalah pernyataan ‘sudah baik’ dari seorang Soesilo Toer. Woou…luar biasa rasanya. Saya tidak begitu hiraukan isinya yang datar-datar saja itu. Saya sudah terlanjur hanyut oleh pernyataan sudah baik itu saja.
Ketika saya tanyakan mengapa sama sekali tidak ada koreksi atau coretan. Menurutnya setiap tulisan adalah hak intelektual seseorang. Orang lain tidak boleh mengubah-ubah sekehendaknya. Apa yang ditulis oleh seseorang, adalah apa yang dipikirkan dan dirasakan, bersifat sangat personal, persepsi individual, yang sangat mungkin tidak dipikirkan dan dirasakan oleh orang yang mengoreksi. Menurutnya, tidak selayaknya orang dengan semena-mena mencoret-coret tulisan orang lain. Katanya, Pram juga tidak pernah mengoreksi tulisannya. Pram membiarkan tulisan itu sendiri yang akan mencari jalan hidupnya. Kalau baik, akan hidup lama dalam ingatan orang, jika jelek, tak lama akan ditinggalkan. Pada kali pertama menilai tulisan saya, Pak Soes tidak memplonco calon muridnya yang masih hijau, dengan coretan-coretan spidol merah seperti yang saya bayangkan sebelumnya.
Saya pernah meminta Pak Soes untuk membubuhkan paraf di buku-buku Pram yang saya miliki. Sebelumnya, saya menanyakan terlebih dahulu, apakah etis jika saya memintanya membubuhkan paraf itu. Menurutnya tidak masalah, justru dia merasa tersanjung. Bisa jadi anak-anak Pram yang akan protes, karena omnya yang membubuhkan paraf di buku karangan bapaknya. Dia menjelaskan bahwa parafnya itu selalu berbeda di setiap kesempatan. Tidak seperti paraf Pram, yang selalu nampak persis sama di mana saja dibubuhkan. Saya tidak mempermasalahkan bentuknya sama atau tidak, yang penting ada parafnya. Akhirnya semua buka Pram yang saya punya dibubuhi paraf oleh Pak Soes. Buku tebal Tetralogi Buru, yang lebih tipis semacam Bukan Pasar Malam, Larasati, Jalan Raya Pos Jalan Daendels, Gadis Pantai hingga yang paling akhir saya beli Arok Dedes diparafnya. Saya berkeyakinan paraf Soesilo Toer di buku itu, nanti akan memiliki nilai sejarah tinggi.
Tulisan-tulisan saya yang sudah saya serahkan ke Pak Soes dan dikoreksinya, kemudian saya  perbanyak dan saya jilid layaknya buku. Kumpulan tulisan yang tetap saya anggap buku itu, saya beri judul agak sangar “Kepuh, Tragedi Pembunuhan Berencana - Mutiara Dari Bantul Hingga Blora”. Di sampul belakang saya cantumkan tulisan : “Masyarakat Indonesia Membangun, adalah Masyarakat Indonesia Membaca, menuju Masyarakat Indonesia Menulis”. Buku itu hanya saya buat terbatas, untuk anak-anak saya  dan teman-teman dekat. Salah satunya saya serahkan kepada Pak Soes dan mejadi salah satu koleksi perpustakaan PATABA.
Beberapa waktu kemudian, Pak Soes menyerahkan buku yang sudah tampak tua dan menguning. Buku itu adalah Komponis Kecil, karyanya pada kurun waktu tahun ’50 an. Itu adalah buku satu-satunya yang masih dia simpan. Dia minta saya untuk mengetik kembali kumpulan cerita itu dan menerbitkannya. Saya sanggupi permintaan itu. Seminggu kemudian setelah ketikan dan rencana covernya selesai, saya serahkan untuk mendapatkan koreksi. Setelah Pak Soes memberikan persetujuan, naskah itu kemudian dicetak. Cover depan saya ambil foto seorang anak laki-laki kecil sedang memainkan biola di depan rumahnya. Anak kecil itu adalah Idris Sardi. Di cover belakang, selain saya tampilkan profil Pak Soes, saya cantumkan juga tulisan Masyarakat Indonesia Membangun, adalah Masyarakat Indonesia Membaca, menuju Masyarakat Indonesia Menulis.
Kemudian Pak Soes minta kepada saya untuk mengetik dan menyunting kembali naskah-naskah dari pelajar yang masuk. Pak Soes sudah memilih naskah-naskah yang dianggapnya layak. Hingga kini sudah diterbitkan buku yang ke empat, dari lima yang direncanakan. Cover belakang sama dengan buku Komponis Kecil, sedangkan cover depan saya ambil foto anak-anak yang sedang bermain di pantai. Judul buku itu adalah Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa. Buku-buku itu diterbitkan di bawah bendera Pataba Press. Sebelumnya dia telah menulis dan menerbitkan sendiri buku-buku kecil, untuk selanjutnya dipajang di perpustakaannya. Buku-buku kecil itu, kini sudah berada di berbagai daerah bahkan juga negara-negara lain, dibawa oleh pengunjung yang datang ke perpustakaannya. Sejak itulah Pak Soes menjadikan “ Masyarakat Indonesia Membangun, adalah Masyarakat Indonesia Membaca, menuju Masyarakat Indonesia Menulis “, sebagai semboyan PATABA.
Di usianya yang semakin menua, kemampuan yang masih dimilikinya ingin dia darmakan untuk negerinya. Meski belum tentu, apa yang didarmakannya, diterima dengan suka cita, bahkan mungkin dipenuhi oleh syak wasangka dan curiga. Semua itu dia terima dengan lapang dada. Dia resapi betul nama besar Toer yang disandangnya. Toer, dia akronimkan dengan “Tansah Ora Enak Rasane”, karenanya dia senantiasa ikhlas menjalaninya. Di rumah pusaka itu, dia tinggal bersama istrinya tercinta, dan salah satu kakaknya, Prawito Toer. Ini menjadi bagian dari perjalanan hidup, justru di masa tuanya, dia harus merawat kakak kandungnya yang disebutnya sebagai pejuang yang kalah itu. Sedangkan anak laki-laki semata wayangnya Benee Santosa, selesai menamatkan sekolah di Blora, kemudian bekerja di Jakarta hingga sekarang
Di usianya yang sudah senja, semangat untuk membangun bangsa dan negerinya, melalui budaya baca dan budaya tulis tidak pernah padam. Dia berjuang dengan caranya sendiri. Dia yakin martabat negara akan terangkat dengan karya tulis anak bangsanya. Maka dia juga tetap menulis. Dia setia dengan keyakinannya itu. Dia sangat ingin mewujudkan karya terakhirnya yang diharapkan menjadi karya fenomenal, masterpiecenya, yang akan menjadi warisan untuk istri dan anaknya tercinta, juga untuk bangsanya. Pak Soes pernah bilang ingin hidup lebih lama lagi. Dia ingin menyaksikan panen ratusan pohon jati yang ditanamnya sendiri, di pekarangan rumahnya. Ingin mewujudkan rumah pusaka peninggalan bapaknya, betul-betul menjadi cagar budaya untuk dunia. Ingin hidup tenang dan damai di bumi Blora tempat dia lahir dan dibesarkan hingga umur belasan. Ingin terus berjuang mempertahankan dan mengembangkan prinsip-prinsip hidupnya. Mengutip tulisan tangan Robert Wolter Monginsidi dalam penjara sebelum dieksekusi  Setia hingga akhir dalam kejakinan”. Keinginan yang terwujud dan tidaknya, hanya menjadi rahasia Tuhannya

Saya yakin Pak Soes akan terus berjuang dengan caranya sendiri. Akan terus memberikan bimbingan kepada yang muda-muda untuk mau membaca dan menuliskan apa-apa yang sudah dibaca. Dia selalu menebarkan ajakan : “Bacalah! Sebab menulis itu lebih sulit”. Kita tinggal membaca apa yang orang-orang tulis. Meningkat dari itu adalah : “Tulislah! Sebab dengan menulis itu kamu akan abadi”.  Menurut saya, Soesilo Toer dan PATABA, adalah mutiara dari Blora. (*)

Hermawan Widodo
Bakule Kacang “NYAMLENG