Rabu, 16 Mei 2012

Listrik Masuk Kampung


LISTRIK MASUK KAMPUNG
Hermawan Widodo

Jika Dahlan Iskan selaku dirut PLN sedang getol-getolnya memperbaiki perlistrikan Indonesia itu adalah hal yang wajar. Sebab jaringan listrik yang mampu menghidupkan berbagai kebutuhan mendasar manusia itu, saat ini selayaknya sudah dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Listrik hampir menjadi kebutuhan primer, setara dengan sembako. Sebagian besar kegiatan manusia berhubungan dan memerlukann listrik. Meski demikian masih banyak dijumpai di berbagai belahan sudut pulau luar Jawa yang belum tersentuh aliran listrik.
Jangankan di luar Jawa. Saya saja yang tinggal di sentral Jawa, Jogjakarta Hadiningrat pusatnya budaya dan peradaban Jawa baru bisa merasakan aliran listrik pada pertengahan tahun 1990, sehari menjelang saya menempuh pra ebta saat kelas 3 SMAN 5 Jogja.
Kondisi itu mungkin tidak dapat dipercaya, jika dilihat secara geografis dusun saya Kepuh Lor, berjarak tidak lebih dari 4 Km dari Kotagede yang legendaris dengan kerajinan perak dan juga merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram. Hanya berjarak sekitar 3 Km dari monumen Ngoto, tempat jatuhnya pesawat yang dipiloti oleh Adisucipto. Juga hanya sekitar 2 Km dari Sanggrahan yang sangat terkenal di kalangan kaum pencari kepuasan bawah perut. Tetapi faktanya, saya dan warga dusun baru bisa menikmati listrik, pada pertengahan tahun 1990, jauh tertinggal dengan penduduk di lereng pegunungan Muria Kudus, yang sudah mendapatkan sengatan listrik sejak tahun 1980.
Berarti dusun saya yang masih sangat dekat dengan kota tertinggal satu dekade dengan dusun di lereng gunung yang lebih dekat dengan batu. Kutho cerak karo ratu, gunung cerak karo watu, kata orang Jawa. Namun dekat dengan ratu tidak menjamin lebih cepat mendapatkan kemudahan dalam urusan perlistrikan ini.
Pada akhir tahun ‘70an, dusun Kepuh Lor sebenarnya sudah mengenal jaringan listrik tegangan tinggi atau yang disebut dengan sutet itu. Hanya beberapa meter dari rumah saya berdiri tower berangka besi baja sangat tinggi, yang di atasnya menggantung 4 kabel bermuatan mega watt listrik. Tower itu dibangun saat saya masih duduk di TK. Pagi-pagi ada delapan orang dari PLN datang ke sawah kas desa yang berada di selatan Kepuh Lor, tepatnya hanya berjarak 8 meter dari rumah Budhe Pudjo, dan hanya 2 meter saja dari jalan.
Mereka membawa berbagai macam perlengkapan kerja. Namun yang utama adalah pacul. Mereka dibagi menjadi empat kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 2 orang menggali lubang berdiameter satu meter, dengan kedalaman lebih dari 10 meter. Lubang seperti sumur itu berjarak 6 meter antara lubang satu dengan yang lainnya. Penggalian lubang itu selesai hanya dalam tempo kurang dari sehari. Mereka kemudian berpindah ke tempat lain, yang jaraknya sekitar 500 meter dari penggalian sebelumnya. Di sebelah timur, penggalian dilakukan di area persawahan dusun Jambidan, sedang di baratnya berada di seberang sungai yang membelah Kepuh Wetan dan Kepuh Kulon.
Lubang mirip sumur itu dibiarkan sekitar satu minggu tanpa ada tindak lanjut. Kamilah yang kemudian menindaklanjuti dengan memanfaatkan sebagai arena bermain. Kami julurkan tali ke dasar lubang dari atas. Yang dimaksud dengan tali adalah, karung beras yang dipilin kemudian diikat sambung menyambung hingga sepanjang lebih sepuluh meter. Tali karung beras itu kami ikatkan ke pohon yang ada di dekat lubang itu. Dengan tali itu kami menuruni lubang hingga ke dasarnya.
Meski nampak mudah, namun tidak semua anak berani turun dengan mengandalkan tali darurat itu. Saya termasuk yang berani. Saya selalu membayangkan menjadi pemanjat tebing yang bergelantungan di tali. Rasanya gagah dan heroik. Kadang saya mencoba turun tidak menggunakan tali. Saya turun menggunakan tumpuan kaki dan tangan. Namun karena diameter lubang agak lebar untuk ukuran badan saya waktu itu, saya agak kesulitan untuk menahan tubuh dengan kaki dan tangan. Tumpuan kaki dan tangan terlalu jauh untuk menjangkau bibir lubang sehingga kekuatannya tidak maksimal. Saya belum pernah berhasil turun dengan cara itu.
Kami bermain dengan lubang-lubang itu hingga kemudian datang truck-truck yang mengangkut besi baja. Truck itu menurunkan muatan di dekat empat lubang yang sudah seminggu ini kami jadikan arena bermain. Berbagai jenis dan ukuran besi baja menumpuk. Sepertinya itu adalah rangka tiang. Delapan orang bertopi proyek mulai menata besi baja itu. Empat besi baja yang besar ditanam di empat lubang, hingga hanya nampak sekitar setengah meter saja dari permukaan. Lubang itu kemudian ditimbun dengan adonan semen hingga penuh. Jadilah empat buah pondasi yang akan menyokong berdirinya rangka tower.
Dengan keahlian yang sepertinya memang sudah teruji, mereka kemudian memasang besi baja berbagai ukuran itu. Di tiap ujung besi baja ada lubang-lubang untuk memasang sekrup dan baut. Selain membentuk ketinggian, besi baja itu juga dipasang melintang, menyambungkan antar tiang. Sehari itu sudah nampak bangunan rangka tower yang berdiri sekitar delapan meter.
Hari berikutnya aktifitas pemasangan besi baja tidak berjalan secepat hari pertama. Hal itu dikarenakan besi baja itu harus dinaikkan ke sambungan yang sudah tinggi. Dengan menggunakan tali besar, besi baja itu diikat dan ditarik ke atas disambungkan pada ujung-ujungnya yang terakhir. Dibutuhkan waktu seminggu hingga tower itu selesai. Tower yang sudah jadi itu ketinggiannya sekitar tiga puluh meter. Empat fondasi kuat menjadi penyangga tiang-tiang besi baja yang ditata dengan konstruksi khusus itu. Tiap empat tiang yang berdiri kemudian disambungkan dengan delapan tiang melintang sehingga nampak sangat kokoh.
Pada ketinggian dua puluh meter dari permukaan tanah dibuatkan dua cabang ke kiri dan ke kanan. Cabang ke dua di puncak tower juga ke kiri dan ke kanan. Panjang cabang sekitar lima meter. Dari jauh tower itu nampak seperti tiang bersalib dua. Bangunan gagah itu kemudian juga dibiarkan begitu saja oleh orang-orang bertopi proyek itu.
Warga Kepuh Lor terutama anak-anak memanfaatkan tower itu untuk bermain. Tower itu dipanjat untuk membuktikan keberanian. Semakin tinggi semakin diakui keberaniannya. Saya hanya berani memanjat hingga ketinggian lima belas meter saja, baru separo dari tinggi tower. Dari ketinggian itu melihat benda-benda atau orang-orang di bawah sudah nampak kecil-kecil.
Namun ada yang berani memanjat tower hingga ke puncak, namanya mas Harno anaknya Budhe Pudjo. Umurnya lima belas tahun lebih tua dari saya. Dia naik ke atas tower sambil membawa layang-layang dan gulungan benang. Sambil berdiri di cabang tower dia terbangkan layang-layang itu. Semakin lama semakin tinggi. Begitu benang di gulungan habis, dia duduk di antara besi baja itu. Layang-layang ukuran jumbo berwarna merah itu terus melayang-layang mengikuti arah angin pada ketinggian di atas rata-rata yang lain. Untuk rekor manaiki tower dia belum terpatahkan, bahkan mungkin tidak ada yang berani mematahkan rekor itu, kecuali petugas PLN bagian arus tegangan tinggi.
Meskipun saya senang dan berani naik tower itu, namun setiap malam ketika berjalan di bawah tower itu muncul rasa ngeri. Tidak tahu mengapa saya selalu mengalami ketakutan jika berjalan di jalan yang hanya dua jengkal dari tower tinggi itu berdiri. Malam-malam, Bapak sering mengajak saya untuk membeli mi rebus atau yang lain di warung mbah Mar.
Ketika berjalan yang hanya berjarak dua meter dari tower itu berdiri, saya selalu merapat kemudian memegang erat tangan bapak. Mungkin bapak heran, melihat perubahan sikap saya ketika berada di bawah tower itu. Dalam diri saya muncul kekhawatiran jika tower itu tiba-tiba roboh. Ketakutan yang menurut saya menggelikan, tetapi bagi anak seusia TK saat itu masih bisa diterima.
Tower itu menjadi ajang bermain kurang lebih selama sebulan. Truck-truck kembali datang dengan membawa gulungan kabel sangat banyak jumlahnya. Di tiap-tiap titik dengan jarak tertentu di tempatkan gulungan kabel seukuran jempol kaki. Ketika kabel itu masih berada di bawah, kabel itu bergerak karena ditarik untuk disambungkan dengan kabel di ujung yang lain. Waktu kabel bergerak itu, juga dijadikan sebagai ajang bermain bagi kami anak-anak Kepuh Lor.
Sepulang dari sekolah TK, saya, Slamet dan Suselo selalu mencari sesuatu yang bisa diikatkan pada kabel yang bergerak. Biasanya berupa kantong plastik bekas, atau pelepah pisang. Bermacam-macam benda yang terikat itu akan terseret gerak kabel. Mungkin bapak bertopi proyek di seberang sana akan misuh-misuh ketika harus mencopoti ikatan-ikatan benda pada kabel hasil kreasi kami. Saat mengikatkan ke kabel itu kami harus ikut bergerak searah gerak kabel. Jika tidak begitu, maka benda yang akan diikatkan sudah putus oleh goresan kabel sebelum terikat. Selo pernah tergores pahanya oleh kabel yang bergerak itu, akibatnya dia harus berdarah-darah. Kabel-kabel itu, kemudian oleh orang-orang yang bertopi proyek dinaikkan ke tower.
Sayangnya saya tidak bisa menjadi saksi hidup bagaimana kabel seukuran jempol kaki dan panjangnya berkilo-kilo meter itu, bisa bertengger di tower yang tingginya mencapai 30 meter. Sepulang dari sekolah TK dengan maksud main ikat kabel, ternyata sang kabel sudah bertengger di atas sana dengan angkuhnya.
 Kabel sudah terpasang di tower. Berjarak lima meter dari bawah, di tiap tiang tower di beri pagar runcing dan tulisan merah pada plat putih. Bunyi tulisan itu yang jelas adalah “ BERBAHAYA - LISTRIK TEGANGAN TINGGI - DILARANG MEMANJAT “. Dengan adanya tulisan peringatan berbahaya itu selesai sudah tower sebagai ajang bermain. Sebab setelah itu tower bukan lagi ajang bermain-main, dia sudah menjelma menjadi tower penjemput maut. Barang siapa memiliki nyali cukup untuk naik ke tower itu kemudian dengan gagah memegang kabel seukuran jempol kaki itu, bisa dipastikan dia akan sukses menjemput maut.
Ketika tower sutet itu sudah berfungsi, kami warga Kepuh Lor tidak bisa menikmati aliran listrik yang towernya berdiri gagah hanya beberapa jengkal di samping bumi Kepuh Lor. Listrik bertegangan tinggi itu sekedar lewat saja di atas kepala kami, tidak peduli dengan warga di bawahnya yang sangat ingin dusunnya diterangi listrik. Justru burung merpati saya yang sukses menikmati bangunan gagah salah satu ikon Kepuh Lor itu.
Ketika saya melepas merpati berbulu hitam itu dari dusun Dolahan sekitar satu kilo meter dari rumah, burung itu terbang dengan cepat ke arah Kepuh Lor. Dari tempat saya berdiri melepaskan burung itu, saya melihat merpati saya tiba-tiba mampu menukik dengan ketajaman tukikan 90 derajat. Suatu prestasi yang betul-betul luar biasa, mengingat merpati saya tidak memiliki kemampuan khas merpati terlatih.
Merpati hitam itu selama ini jika turun tidak mampu menukik, dia hanya turun langsam saja. Tetapi tukikan itu terlihat ada yang janggal. Burung itu seperti terhenti dan kemudian melesat ke bawah. Saya mengambil sepeda yang tergeletak, kemudian mengontelnya menuju rumah. Saya penasaran dengan peningkatan kemampuan merpati saya. Namun sampai rumah, di gupon tidak ada merpati itu. Di atas genteng juga tidak ada. Saya heran. Terbersit pemikiran merpati saya menabrak kabel listrik.
Saya berlari menuju sawah persis di bawah kabel yang melintas. Saya mencari-cari di tempat kira-kira merpati saya tadi menukik tajam. Mata saya tertumbuk pada sosok hitam yang tergeletak di sela-sela tumbuhan kacang. Saya ambil sosok itu, yang ternyata merpati hitam yang belum pulang. Tercium bau gosong. Saya lihat dada burung itu sudah terbelah, mati sudah.
Merpati hitam itu ketika terlihat menukik, bukan karena mau turun dengan gerakan tukikan tajam, namun karena dia menghantam kabel listrik tegangan tinggi. Akibatnya sungguh tragis, dia mati seketika dan jatuh melayang tanpa ampun, ke bawah terhempas di sawah, dengan dada gosong dan terbelah. Burung merpati saya betul-betul menik-mati tower sutet itu, menabrak kabel dan mati.
Memasuki pertengahan tahun ‘80an wacana mewujudkan penerangan listrik kembali menguat. Waktu itu warga Kepuh Lor menyelenggarakan turnamen bola volley yang mendatangkan klub-klub bola volley se Jogjakarta.
Bapak selaku bendahara turnamen, paling kuat memperjuangkan hasil keuntungan turnamen itu untuk membeli tiang listrik. Dengan tiang itu, maka kabel yang membawa aliran listrik bisa sampai di Kepuh Lor. Tentu wacana itu menimbulkan gairah bagi kami untuk bisa menikmati enaknya memiliki jaringan listrik.
Turnamen yang digelar selama sebulan penuh itu berjalan sangat sukses. Berbagai klub volley ternama seperti Yuso, Pertamina, Baja 78, Mataram Timur dan yang lain, saling tanding dengan kualitas permainan yang baik. Beberapa pemain nasional juga turut turun lapangan, bermain memperkuat klubnya. Wajar jika penonton mampu tersedot banyak setiap harinya. Tiket selalu habis terjual. Bahkan banyak penonton yang masuk meski tanpa tiket, setelah pintu dibuka pada saat game terakhir penentu kemenangan.
Permainan paling sedikit tiga game, dan paling banyak lima game. Tiap klub harus mampu meraih poin tiga game untuk memenangi pertandingan hari itu. Selain pertandingan volley bermutu tinggi, juga dimeriahkan pentas seni di malam hari di panggung yang sengaja dibuat di pojok lahan yang agak jauh dari lapangan.
Setiap malam kamis dan malam minggu, selalu ada pertunjukan seni. Ada tari, dagelan dan lainnya. Yang menjadi favorit adalah pentas dangdut dari MBS. Malam minggu saat MBS tampil, penonton selalu membludak. Pentas seni di malam hari itu juga memberikan pemasukan cukup besar, karena setiap penonton wajib membeli karcis masuk.
Meski turnamen volley berjalan sukses dan menangguk pendapatan besar, namun harapan yang tinggi untuk segera mendapatkan aliran listrik ternyata tidak bisa wujud. Menurut bapak, tidak ada kata sepakat dalam penggunaan hasil keuntungan turnamen untuk mengalirkan listrik bagi dusun kami. Saya tidak paham persis bagaimana alotnya pembahasan, namun yang pasti listrik yang sudah diharapkan segera masuk dusun kami tidak jadi, batal, gagal, urung menyala.
Upaya mendapatkan energi listrik akhirnya pupus sudah. Kami harus kembali mengandalkan aki (bunyi dari tulisan accu) untuk menyalakan tivi, mengandalkan minyak tanah untuk penerangan, dan tentu arang untuk menyeterika.
Saya merasakan betapa dongkolnya saat asyik-asyiknya nonton film minggu siang tiba-tiba akinya habis. Kami harus pontang-panting lari ke rumah tetangga untuk melanjutkan melihat film Combat, yang menjadi film favorit selain film Raksasa. Celakanya di dusun saya yang memiliki tivi hanya ada dua orang, yaitu bapak saya dan Budhe Pujo. Namun di rumah budhe itu tivinya diletakkan di ruang dalam dan tidak untuk umum. Jadi kami harus lari meyeberang sungai ke Kepuh Kulon sekedar untuk melihat aksi serdadu Amerika hingga kelar.
Tetapi kalau filmnya Londen (maksudnya film Little House-nya Michael London) kami tidak begitu antusias meskipun aki habis, ya sudah tidak perlu berlari-lari seperti halnya mengejar film perangnya serdadu Amerika Combat atau Raksasa.
Divisi penerangan di rumah saya masih mengandalkan lampu teplok, dan petromak. Mungkin keluarga saya satu-satunya yang selalu menyalakan petromak setiap hari. Baru setelah jam 9 malam petromak dimatikan dan yang tetap menyala adalah lampu teplok. Sebagai anak tertua, saya yang ditugaskan menjabat menteri penerangan dan bertanggung jawab terhadap penerangan dalam rumah.
Kewajiban menyalakan teplok dan petromak itu rutin setiap menjelang magrib. Sehingga ketika saatnya harus menyalakan lampu saya masih asyik bermain, pasti ibu sudah mencari dan menyuruh segera pulang untuk menyalakan lampu.
Untuk stok minyak tanah, ibu berlangganan kepada Lek Pringgo, pemilik warung kelontong terlengkap di Kepuh Kidul. Biasanya sekali antar sekitar 40 liter, yang kemudian dituangkan dalam ember plastik besar. Urusan merapikan baju dengan seterika juga tak kalah ribetnya. Menyiapkan seterika hingga siap dipakai bukanlah perkara mudah.
Dibutuhkan perjuangan ekstra agar arang di dalam seterika itu bisa menjadi bara sesuai harapan. Kadang api baru menyala sebentar kemudian mati, sehingga arang masih dalam keadaan hitam seperti semula. Cara jitu adalah dengan mengguyur minyak tanah, kemudian saat api masih menyala dikipasi perlahan-lahan hingga nampak bara merah di tiap-tiap bongkahan arang. Resikonya memang sedikit terasa aroma minyak tanah. Belum resiko terbakar, atau baju jadi meleleh jika tingkat kepanasannya sudah sangat tinggi. Begitu seterika diletakkan di baju langsung lengket, dan dijamin baju sudah tidak bisa dipakai lagi. Itu kalau seterika yang dipakai masih seterika besi yang berat, umumnya merk jago, yang pengaitnya memang berbentuk jago.
Namun jika seterika itu dibuat dari kuningan yang lebih kecil dan ringan, resiko tadi bisa diminimalisir. Karena begitu ribetnya, saya kadang membawa baju seragam SMA ke rumah Memet di Kanggotan ketika berangkat belajar bersama. Malam diseterika, pagi dipakai sekolah.
Kondisi jahiliyah itu baru berakhir saat bulan Mei tahun 1990. Sehari menjelang pra ebta SMA, tiba-tiba lampu yang sudah terpasang di rumah menyala. Memang beberapa bulan sebelumnya tiang listrik sudah masuk Kepuh Lor. Kabel juga sudah dipasang dan dialirkan ke tiap-tiap rumah. Kami tidak perlu bersusah payah membeli tiang listrik sendiri yang selama ini menjadi kendala utama. Rasanya dunia terang benderang bersamaan dengan menyalanya lampu dop di rumah kami. Waktu itu kami hanya memasang beberapa lampu dop sembari menunggu aliran listrik benar-benar sampai rumah.
Setelah diyakini aliran listrik nyata berada di rumah kami, bapak kemudian membeli berbagai perlengkapan listrik khususnya lampu yang mampu menerangi rumah kami layaknya saat masih menyalakan petromak. Rumah menjadi terang benderang di malam hari. Euforia itu berlanjut terus hingga sekitar sebulan kemudian. Lampu tidak padam sepanjang malam. Kehadiran listrik mampu mengatasi segala keribetan itu.
Dan memang selayaknya listrik dapat dinikmati oleh seluruh warga negara tanpa kecuali, tentu dengan harga yang murah. Saya tidak mau ikut pusing mengkalkulasi biaya produksi, harga jual, subsidi dan tetek bengek lainnya. Mau saya sangat sederhana, listrik menyala, kalau bisa malah menyala terus, terang terus  sepanjang masa. (*)