Kamis, 10 Mei 2012

Pataba Press Buku 3 " Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa "


HIKAYAT SEORANG BOCAH
Vinca Dia Kathartika Pasaribu (Jember Jawa Timur)

Hujan di luar memasung semesta
Di balik kelambu sehitam mendung angkasa
Seorang bocah berdiri mengutuki hari kelahirannya
Tak dihiraukan tubuh tirusnya menyeri terpagut gigil
Justru dia ingin menguliti dirinya sendiri
Agar telanjang dalam kehampaan

Betapa telah sungguh-sungguh dipahaminya kemelut
Sejak dirinya dicampakkan takdir
Ke gubuk tua yang hampir roboh oleh gelap perasaannya
Hanya gaung air sungai yang masih setia menyapanya

Tiba-tiba ingatannya terbang ke masa purba
Dibacanya tulisan tangannya yang berantakan
Terbukukan menjadi memoar
Berisikan dongeng-dongeng ibunya setiap malam
Sewaktu ia masih kanak
Dongeng yang selalu berakhir legit
Sangat berbeda dengan kehidupannya
* * *


**************************************************************


SEMUA BUTUH WAKTU
Luisa Leonardo (Denpasar Bali)

Apakah semua cerita akan berakhir bahagia? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tidak lepas dari benakku. Hidupku tidak ada apa-apanya dan aku sangat bosan menjalaninya. Awal dari kehidupanku saja tidak menarik, hanya sempat bahagia sebentar, lalu dalam sekejap semua kebahagiaan itu pergi dan tidak kembali.
Namaku Anna Fransisca Gunawan. Ayahku Henry Gunawan dan ibuku Alisa Putri. Mereka bukanlah orang kaya yang mempunyai rumah mewah, mobil mewah atau perhiasan mahal. Namun aku bersyukur kepada Tuhan karena kami hidup berkecukupan dengan tubuh sehat. Kami tinggal di Bandung di daerah Cihampelas, Bandung bagian atas. Biasanya cuaca sangat dingin di malam hari namun sangat panas di siang hari. 
Seperti sudah dikatakan, hidupku tidak ada apa-apanya. Aku bahkan merasa bahwa aku tidak diharapkan oleh ayahku. Sejak dulu ayahku ingin anak laki-laki. Meski begitu, ibuku selalu mendukungku dari belakang, menyayangiku dengan sepenuh hati, merawatku dengan senyum, keringat dan air mata.
Ketika umurku tiga tahun, adik laki-lakiku lahir. Ia sangat lucu dan tampan. Ayah memberi nama Daniel Gunawan. Ayah begitu bahagia dengan kelahiran anak laki-lakinya. Sejak itu, aku merasa semakin tersisih. Ayah selalu memberikan yang lebih untuk Niel, dan itu membuatku cemburu.
Ketika aku ulang tahun yang ke tujuh, ibu dan Niel memberiku hadiah buku diari warna biru yang indah dan terbungkus rapi. Sedangkan ayah tidak memberiku apa-apa. Ayah lebih mementingkan urusan kerjanya. Ketika ayah keluar dari pintu rumah tanpa melihatku pada hari yang berbahagia itu, aku lari ke pangkuan ibu, menangis tersedu-sedu. Dunia terasa hampa, aku sangat sedih, sedih sekali.
Hari pertama masuk sekolah, aku memakai seragam putih merah, dasi merah dan sepatu hitam yang tidak baru, serta tas punggung yang sudah ada sobekan di pojokan karena usangnya. Teman-teman lain semua memakai sepatu dan baru. Meski demikian aku sangat senang masuk sekolah. Temanku banyak, semua baik. Aku termasuk murid yang paling cerewet. Aku senang berteman dengan mereka semua. Aku menemukan kebahagiaan tersendiri di sana, bisa tersenyum, tertawa gembira.
Kelas IV wali kelasku adalah seorang guru yang masih muda, pak Gilang namanya. Pak Gilang menjadi idola murid-muridnya karena memang tampan. Lisa teman sekelasku yang paling ekspresif menunjukkan kesukaannya kepada pak Gilang. Lisa pernah menulis surat cinta kepada wali kelasku itu. Aku juga suka dengan pak Gilang, meski aku tidak seperti Lisa. Kebetulan pak Gilang berusaha dekat dengaku. Hal itu yang membuat Lisa pernah sangat marah kepadaku dan menjambak rambutku. Untung pak Gilang datang dan menghentikan aksi Lisa yang nekat itu. Saat pak Gilang mengantarku pulang, aku dibelikan es krim. Pak Gilang bercerita bahwa aku mirip dengan adiknya Hana. Foto kecil ditunjukkan kepadaku. Memang mirip denganku.  Adiknya itu sudah meninggal setahun lalu. Aku tahu kini mengapa pak Gilang ingin sekali dekat denganku.
Waktu terus berjalan begitu cepat. Aku sudah kelas VI sekarang. Ada anak baru yang masuk kelasku. Namanya Violet, anak pindahan dari Jakarta. Cantik, tinggi, putih dan tampak kaya dari apa-apa yang dipakainya. Violet anaknya cerewet, sedikit angkuh dan tampak sombong. Meski begitu temannya banyak dan langsung popular di sekolah kami karena Violet tampak beda dengan yang lain.
Suatu ketika aku dikerjainya. Kursiku ditempeli permen karet. Saat aku tegur, dia marah-marah dan mengejekku. Memang aku pendek dan tidak cantik. Namun ketika dia mengejekku aku jadi marah. Aku jambak rambutnya, dan terjadi pergulatan. Perkelahian tidak wajar itu terhenti ketika kepala sekolah lewat kelasku. Kami segera dipanggil ke kantor. Tentu Violet tidak mau mengakui perbuatannya. Dia malah menuduhku menjambak rambutnya. Aku hanya tertunduk, dan mengakui perbuatanku, karena memang aku yang menjambaknya duluan. Aku dihukum membersihkan toilet selama seminggu, mulai besok.
Besoknya saat aku membersihkan toilet, Violet datang menghampiriku dan meminta maaf. Sejak itu aku berteman akrab dengannya. Aku sering diajak ke rumahnya. Rumahnya besar dan mewah. Bapak ibunya sangat hangat. Dua kakaknya juga sangat sayang pada Violet. Aku iri melihatnya. Sangat berbeda dengan kondisi keluargaku.
Hari pengumuman kelulusan setelah beberapa hari menempuh ujian akhir yang membuatku tegang. Dalam daftar siswa yang lulus terpampang nama : Anna Fransiska Gunawan. Aku lulus. Aku sangat senang dan bahagia. Namun kebahagiaanku itu langsung sirna, ketika pak Gilang mengajakku segera bonceng motornya. Aku diajak ke rumah sakit. Saat masuk kamar nomer 208, aku melihat ibuku terbaring lemah. Ibu mengalami kecelakaan. Dokter berusaha menyelamatkan ibu. Luka-lukanya cukup parah. Ibu banyak kehilangan darah. Usaha dokter yang maksimal tidak mampu menyelamatkan ibuku. Ayah sangat terpukul, melihat ibu sudah tak mampu bergerak. Niel dan aku hanya mampu menangis histeris.
Sebulan setelah ibu pergi, aku dititipkan ayah kepada pamanku di Jakarta. Aku masuk sekolah yang sangat berbeda suasananya dengan sekolahku sebelumnya. Aku menjadi gadis pendiam, dan tidak banyak teman yang dekat denganku. Dalam kondisi begitu Violet mengirimiku kabar mau datang ke Jakarta. Tentu aku senang akan ketemu dengan sahabat dekatku. Sesuai janjinya dia datang ke rumah pamanku membawa mobil. Aku, Niel dan Lukas anak paman diajak Violet bersama dalam mobilnya. Kami putar-putar kota Jakarta dan berbicara banyak hal. Aku sangat senang. Violet sepertinya sangat bahagia. Dia seperti menaruh hati kepada Lukas. Aku tahu dari caranya berbicara. Sejak itu aku sering berkomunikasi dengan Violet, sekedar menanyakan kabar dan lainnya.
Tiba-tiba saja, saat aku berangkat ke sekolah, sebuah motor yang melaju cepat menabrakku. Aku tidak tahu persis kronologisnya. Tahu-tahu aku sudah tergeletak di rumah sakit. Saat kubuka mataku, aku melihat ayah telah disampingku. Meskipun samar, aku bisa melihat ayah menangis saat itu. Aku dipeluknya. Tentu aku sangat terharu karenanya. Aku menangis. Ternyata ayah sangat mengkhawatirkanku. Mendengar aku tertabrak motor, ayah langsung ke Jakarta. Ayah setiap hari menemaniku di rumah sakit.
Hampir dua minggu aku opname. Setelah boleh pulang, ayah mengajakku kembali ke Bandung. Aku dan Niel dibawa oleh ayah kembali ke Bandung. Rumah kami bersihkan bertiga. Kami makan bersama, bercanda bersama, tertawa bersama. Aku menemukan kebahagiaan di dalam keluargaku. Lebih berbahagia lagi ketika aku masuk sekolah yang sama dengan Violet. Bahkan aku sekelas dengannya. Aku merasa Tuhan telah memberiku lebih dari yang kuharapkan. Meskipun itu butuh waktu. Memang semua butuh waktu.(*)
      
**************************************************************************

TELAGA NGERONG
Achmad Nasta’in (Lamongan Jawa Timur)

Musim kemarau panjang telah tiba. Penduduk di desa Perengan sekitar lereng gunung yang kekurangan air. Mereka telah mencari air di mana-mana tidak menemukan air setetespun. Desa tersebut mengalami kekeringan. Mereka tidak dapat menanam, karena setia yang ditanam layu kemudian mati. Manusia juga mulai ada yang mati karena kekurangan pangan.
Salah satu penduduk di desa itu adalah seorang janda yang sedang hamil tua. Suaminya telah mati, tidak lama setelah mereka menikah. Janda itu menyusuri jalan setapak berbatu untuk mencari air. Karena lelah dia istirahat di atas bongkahan batu.
“Ya Tuhan, harus kemana lagi aku harus mencari air,” ungkapnya penuh doa.
“Nak, kamu tidak akan mendapatkan air jika Tuhan tidak menghendaki,” tiba-tiba suara kakek muncul dari belakangnya.
“Kakek siapa?”
“Aku kakek Kerong!”
“Adakah air untukku kek?”
“Ada, ini,” kakek itu menunjukkan sebuah tongkat.
“Mana kek? Ini hanyalah tongkat. Mana airnya?”
“Atas ijinNya, kakek dapat mengubah tongkat ini menjadi air. Tetapi kakek ada pesan untuk kamu dan penduduk desa ini. Kakek ingin penduduk desa bersedekah setiap bulan Maulud.”
 “Iya kek, nanti saya sampaikan kepada penduduk desa.”
“Kakek tidak mau begitu. Kakek mau mereka semua ada di sini untuk menerima pesan itu.”
Janda itu menyerahkan guci tempat air kepada kakek. Setelah menerima guci itu, tiba-tiba kakek itu menghilang. Janda itu kemudian menyampaikan pesan kakek misterius itu kepada penduduk desa. Lewat kepala desa, semua penduduk dikumpulkan. Kepala desa memukul kentonga. Tak lama kemudian semua penduduk sudah berkumpul di depan rumah kepala desa.
“Saudara-saudara sekalian, kita dapat pesan dari kakek Kerong, jika kita ingin mendapatkan air, kita harus bersedekah setiap bulan Maulud. Apakah saudara semua setuju?”
“Setuju..!”
“Kalau begitu besok kita berkumpul kembali untuk menemui kakek Kerong di mana ibu ini ketemu dengannya.”
Esok harinya, penduduk dipimpin kepala desa dan dipandu janda menuju tempat bertemu kakek Kerong dengan janda sebelumnya.
“Kakek Kerong, ini aku sudah bersama penduduk.”
“Bagus-bagus. Kamu sudah menyampaikan pesan kakek?”
“Sudah kek.”
“Kakek hanya bisa memohon kepada Tuhan, agar mengabulkan permohonan kalian semua.”
Kakek menggaruk-garuk tanah dengan tongkatnya. Tak berapa lama mengalir air dari lobang tanah itu. Awalnya hanya sedikit, lama-lama air muncul dengan deras. Melihat air demikian melimpah, penduduk menjadi gembira. Mereka segera mengambil air yang lama mereka cari. Mereka tidak sadar ternyata kakej Kerong sudah tidak lagi ada di situ. Mereka baru sadar ketika janda itu berteriak “Kakek Kerong hilang!”.
“Kalian semua jangan lupa dengan pesan kakek!” suara tanpa wujud terdengar sangat jelas.
Sumber air itu kemudian dipelihara sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh penduduk.  Dengan adanya sumber air itu, kini penduduk tidak lagi kekurangan air. Mereka sangat terbantu dengan adanya sumber air itu. Bahkan sumber air itu berkembang menjadi sungai.
“Saudara-saudara, bagaimana kalau sungai ini kita beri nama?” kata kepala desa.
“Setuju.”
“Karena di sini ada goa juga, bagaimana kalau kita sebut saja dengan Goa Ngerong.”
Penduduk sepakat dengan nama itu. Untuk meresmikan nama itu penduduk mengadakan sedekah bumi. Bertahun-tahun kemudian Goa Ngerong menjadi obyek wisata yang banyak dikunjungi orang. Penduduk desa Perengan kecamatan Rengel kabupaten Tuban tidak pernah melupakan pesan kakek Kerong untuk bersedekah setiap bulan Maulud. (*)

***********************************************************************

BAHAGIAKU SURGA MEREKA SENGSARAKU PILU MEREKA
Amri Ramadhan ( Sragen Jawa Tengah)

Suatu senja, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat pantai Marmara, seorang pemuda duduk sendirian di kursi kayu tua di ruangan sudut bangunan. Ia hanya menunduk. Dari sudut matanya meleleh air bening hangat. Lama-lama air mata itu deras mengalir membasahi wajahnya. Di tangannya tergenggam kertas surat. Entah apa yang menjadikannya begitu tampak terpukul. Ia baru bangkit ketika terdengar suara adzan. Pemuda itu menghapus air matanya dan bergegas menuju ke masjid.
Pagi hari, Fajar menyiapkan dirinya untuyk belajar di OMU (Ondokuz Mayiz Universitesi). Ia tidak punya cukup waktu untuk sarapan. Selama dalam perjalanan di atas bus dari Cengiz menuju Samsun, ia masih memeikirkan kondisi keluarganya di tanah air, Indonesia. Sebuah surat ia terima kemarin yang mengabarkan ibunya sakit, dan selalu mengigau menyebut dirinya dalam tidurnya. Ia bingung, galau dan gelisah. Sebentar lagi ujian kelulusan. Bingung untuk memutuskan kembali ke Indonesia atau menyelesaikan terlebih dahulu ujian. Ia sudah sepenuhnya siap menghadapi ujian. Namun sebagai anak ia sangat mencemaskan kondisi ibunya.
Malam hari ia memutuskan untuk bermalam di masjid. Ia mencoba mendekatkan diri kepada Allah. Ia menangis dan memohon ampunan. Setelah shalat istikharoh, ia memantapkan pilihan dalam mengambil keputusan.
Esok siangnya, sepulang dari kampus, ia membeli sebuah kaset. Ia akan merekam suaranya dalam kemudian mengirimkannya kepada ibunya tercinta. Setiba di kos ia segera merekam suaranya yang lembut.
Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Apa kabar Bu? Semoga ibu lekas sembuh. Fajar mau cerita. Selama belajar di sini, sesuatu selalu terlintas di fikiran Fajar. Sesuatu itu adalah apa yang telah ibu lakukan sampai sekarang. Ibu telah membopongku ketika dirimu hamil selama Sembilan bulan. Ibu telah berjuang untuk hidupku dan mempertaruhkan nyawa demi kelahiranku di dunia ini. Ibu merawatku dengan penuh cinta. Ayah yang mengajariku dan bekerja keras dengan ikhlas. Keringat ayah dan ibu mengalir deras sehingga Fajar dapat menikmati hidup detik demi detik, hari demi hari sepanjang waktu. Akan tetapi apa yang sudah Fajar lakukan sebagai balasan? Sering Fajar menutup telinga tidak mendengar nasehat ibu. Fajar sering berbohong demi kepuasan sendiri. Fajar sering melawan jika ayah memarahiku, bahkan sering mengelurakan kata kasar yang tidak pantas. Tetapi apakah ibu membenciku? Fajar yakin ibu akan selalu memaafkanku, menyayangiku dalam setiap waktu. Ibu dan ayah selalu menyebut nama Fajar dalam setiap doa, sehingga Fajar bisa menjadi seperti sekarang ini. Fajar harap ibu dan ayah dapat melihatku saat upacara kelulusan. Terimakasih ibu, ayah, Fajar saying ibu dan ayah sampai akhir hayat. Ini tidak cukup untuyk membalas apa yang telah ibu berikan kepada Fajar sampai sekarang.
Wassalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Anak ibu tercinta, Fajar  
Malam itu Fajar shalat tahajud dan berdoa, “Ya Allah semoga rekaman itu dapat sampai secepat mungkin, semoga ibu hamba segera sehat, dan keluarha hamba dilimpahkan kemudahan.” Setelah itu ia niatkan untuk puasa.
Sambil menunggu adzan magrib, ia membaca Al Qur’an. Hingga saat adzan ia baru sadar belum memiliki makanan untuk buka. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
“Assalamu alaikum arkadasim, sahabatku!” Emre memberi salam kepada Fajar.
“Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh, Emre. Ne var, ada apa?” jawab Fajar.
“aku ingin bertanya tentang pelajaran, apakah waktunya luang? Dan ini untukmu!” Emre memberikan sekantong plastic berisi makanan.
“Ne teasduf, wah tepa sekali Em! Ayo masuk dulu dan sikat habis bareng-bareng!” Fajar bersemangat. Lalu mereka makan bersama dilanjutkan shalat maghrib. Setelah shalat mereka belajar bersama.
Hari berikutnya Emre mengunjungi Fajar. Mereka belajar bersama. Emre selalu mentraktir Fajar. Mereka selalu belajar bersama hingga dua hari menjelang ujian. Fajar berdoa, “Ya Allah hamba berharap keadaan ibu baik, sembuhkan ia dari sakitnya, ampuni dosa ibu dan ayahku. Tolong bombing hamba dan teman-teman dalam ujian besok ya Allah, amin.”
Ujian dimuylai hri Senin hingga Jumat. Fajar menghadapinya dengan sungguh-sungguh. Waktu berjalan dengan cepat. Hari Jumat hari terakhir ujian. Fajar berencana pamit kepada teman-teman untuk pulang ke Indonesia. Ia telah membeli tiket pesawat untuk hari Sabtu pagi.
Matahari terbit bersinar dari ufuk timur Gunung Ulu. Fajar telah berada di bandara sejak jam empat pagi, dan pesawat akan lepas landas satu jam kemudian. Ia berdoa semoga selamat sampai Indonesia dan keluarganya dalam keadaan baik.
Pukul dua siang pesawat telah mendarat di Indonesia. Tak seorangpun datang menyambutnya di bandara. Ia langsung menuju kampungnya di Manyaran Wonogiri. Menggunakan bus, jam enam pagi ia telah sampai di depan rumahnya. Ia terkejut mendapati bendera merah dipasang di dekat rumahnya. Hatinya tidak enak. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Dilihatnya banyak orang memakai baju hitam di rumahnya. Ia berlari masuk rumah dan melihat seseorang telah diselimuti kain kafan. Dengan air mata yang membasahi wajah, dibukanya kain penutup jasad orang yang sangat dicintainya. Dilihat wajah ibunya sangat tenang dan ada senyum tipis tersungging. Melihat wajah ibunya, hati Fajar menjadi agak tenang. Setelah membacakan melakukan shalat jenazah, Fajar membaca beberapa ayat suci. Tak berapa lama kemudian jasad ibunya dikemumikan.
Selesai upacara pemakaman, Fajar tertidur karena capainya. Ia melihat ibunya berjalan emndekati Fajar sambil menggelengkan kepala.
“Tidur, tidurlah yang nyenyka! Kamu lelahm mengasolah dulu sejenak, Nak!” bisik ibunya.
“Bu, ibu!” Fajar mengigau.
“Tidurlah yang nyenyak, istirahatlah, nyamankan dirimu!” kata ibunya.
Fajar menyingkap selimutnya, turun dari tempat tidurnya, berlutut ke lantai, mencium tangan ibunya. “Ibu di sini? Dari mana ibu datang? Maafkan aku Bu!” Fajar memohon.
“Ya tentu. Kau tidak bersalah, Nak. Ibu telah meninggalkan dunia ini. Ibu datang untuk mengatakan ini. Fajar kamu adalah anak kesanyan ibu. Kehendak Allah tidak dapat diubah manusia.” Kata ibunya.
“Akan kuingat ibu selalu! Fajar merasa ibi selalu di dekatku sampai ke dasar sanubariku. Tolong lihat kesuksesan Fajar ketika nanti memakai pakaian kelulusan, toga dan menjadi murid terbaik. Tolong hadiri hal itu dulu Bu!” Fajar memohon dengan sangat.
“Ibu selalu memperhatikanmu, Nak. Ibu bangga atas semua yang telah kamu raih. Ibu sangat bahagia telah emlahirkan seorang anak yang heba.”
“Tetapi Fajar pikir, fajar belum membahagiakan ibu. Pakaian kelulusan, toga dan sebaginya tidak berarti apa-apa daripada cinta ibu.”
“Tidak apa-apa, Nak. Ibu sudah bahagia jika kamu berguna bagi agama dan bansga. Sekarang ibu harus pergi. Terimalah restu ibu,” wanita itu meletakkan tangannya di atas kepala Fajar lalu berpamitan.
“Ah, Ibu! Ibu! Tunggu, tunggu dulu!” teriak Fajar dalam mimpinya. (*)

**************************************************************

PAK TUA DAN BECAKNYA
Mahardia Prihati Yuda (Sumatera Selatan)

Pak Tua adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becak, mengayuh dan mengayuh untuk member jasa kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja sang pelanggan inginkan, dengan imbalan uang sekedaranya. Tubuhnya tidaklah perkasa. Pereawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang yang menumpang becaknya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. MUlai jam enam pagi setelah selesai ibadah, ia telusuri sepanjang jalan untuk mengantr pelanggannya. Ia akan mengakiri kerja kerasnya itu jam delaman malam. Para pelanggan sangat suka kepada Pak Tua, karena pribadinya yang ramah dan senyumnya tak pernah lekang dari wajahnya. Ia tidak mematok berapa harus membayar. Namun karena sifatnya itu, justru banyak pelanggan yang member lebih.
Pak Tua tinggal di gubuk reyot yang nyaris rubuh. Bersama kaum yang hampir sama nasibnya, sesama tukang becak, pedagang asong dan pemulung. Hanya ada tikar yang sudah robek-robek untuk alas merebahkan tubuh saat penat. Ruangan begitu sempit, sehingga ruang itu untuk segala keperluan. Kardus tempat baju yang juga sudah lusuh teronggok di pojok. Ada lampu teplok yang dinyalakan kala malam untuk sedikit memberikan penerangan. Pak Tua sendirian tinggal di gubuk reyot itu. Tak ada sanak saudara yang bersamanya. Orang hanya tahu ia pendatang. Meskipun begitu banyak orang di sekitaranya yang kemudian menjadi saudaranya. Pak Tua sangat ringan tangan dalam menolong sesamanya.
Pendapatan yang diperolehnya seharian menayuh becak, sebenaranya cukup untuk membeli makan dan pakaian yang layak. Namun ia tidak lakukan itu. Sebagian hasil kerjanya ia serahkan kepada sebuah yayasan di Palembang yang menyantuni sekitar 300 anak yatim piatu. Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ia baru istirahat setelah mengantar pelanggannya. Ia menyaksikan seorang bocah lelaki kurus umur 6 tahun yang menwarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil tampak sempoyongan menggendong beban di pundaknya. Dan dengan gembira ia menerima upah uang receh dari ibu itu. Dengan wajah tengadah ia bergumam, bersyukur kepada Tuhan. Beberapa kali anak itu memberikan jasa kepada ibu-ibu. Kemudian dilihatnya bocah itu ke tempat sampah, mengais-ngais dan mendapatkan sepotong roti yang kotor. Dibersihkannya roti itu kemudian disantapnya dengan mantap, seolah makanan dari surge.
Pak Tua tercekat melihat itu. Ia hampiri bocah itu dan memberikan bekal makanan siangnya kepadanya. Ia heran, mengapa bocah itu tidak membeli makan dari uang yang diperolehnya.
“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya.” Kata bocah itu.
“Orang tuamu di mana?”
“Saya tidak tahu. Ayah dan ibuku pemulung. Tetapi sudah sebulan lalu mereka tidak pernah pulang. Saya harus bekerja mencari makan untuk saya dan adik saya.”
Pak Tua mengajak bocah itu ke raunahnya. Melihat kondisi rumah dan adik-adiknya yang kurus-kurus, menjadikan Pak Tua semakin trenyuh. Kondisi lingkungan juga tidak begitu berbeda. Semua terbelenggu oleh kemiskinan. Pak Tua kemudian membawa bocah itu dan dua adiknya ke yayasan yang bisa menampung anak yatim piatu. Kepada pengurus yayasan itu, Pak Tua bilang akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mendapatkan makan dan minum serta pendidikan yang layak.
  Sejak itulah Pak Tua menghabiskan waktunya untu mengayuh becak. Seluruh pengahsilnya setelah dipotong sewa gubuk dan membeli tiga nasi bungkus di warung langganannya, diserahkan semua ke yayasan itu. Ia merasa sangat bahagia melakukan itu semua. Merupakan kememawan luar biasa bila ia mendapatkan pakaian rombeng yang layak untuk dipakai dari tempat pembuangan sampah. Ia menagyuh becak selama 365 hari setahun. Tidak ada hari libur baginya.
“Tidak apa-apa menderita, yang penting anak-anak itu dapat makan dan bersekolah layak.” Demikian sudah menjadi tekadnya.
Rutinitas itu dilakukan terus menerus hingga Pak Tua hampir mencapai umur 90 tahun. Sudah 20 tahun ia terus menerus memberikan sumbangan kepada yayasan itu setiap hari. Hari itu ia datang ke yayasan dan menyerahkan uang tabungannya sejumlah 650 ribu rupiah.
“Saya sudah tidak dapat menyumbang lagi. Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Mungkin ini sumbnagan terakhir darissaya.” Kata Pak Tua dengan sedih.
Tiga tahun kemudian Pak Tua mangkat. Pak Tua meninggal di gubuk reyot itu, dan tetap miskin. Meskipun demikian ia telah seumbangkan tak kurang dari 470 juta rupiah kepada yayasan yatim piatu. Tidak seorangpun peduli, tidak ada yang menangisi kematiannya, bahkan mungkin yayasan yatim piatu itu. (*)

*************************************************************

KRISIS DI BUMI
Fardian Bimo Aji (Cilacap Jawa Tengah)

Bumi adalah planet yang indah, yang diciptakan Tuhan beserta isinya. Kita sebagai manusia seharusnya menjaga dan membuat bumi ini tetap lestari.
Indonesia adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki lingkungan dan alam yang indah, gunung yang menjulang, perairannya yang luas dan hutannya lebat. Bahkan Indonesia dijuluki negara maritim dan bahari.
Negara Indonesi letaknya sangat strategis di garis katulistiwa sehingga rakyatnya sejahtera.
Penataan alam di Indonesia dimulai sejak dini dengan menanamkan pendidikan bagi para pelajar tentang arti penting menjaga kelestarian alam. Contohnya dengan diadakan kegiatan pramuka. Pramuka menanamkan perilaku-perilaku terpuji. Contohnya bersedekah dan perbuatan sosial lainnya. Berdarma wisata juga sangat baik karena kita dapat mengenal banyak hewan dan tumbuhan di daerah-daerah yang masih asli keindahan alamnya agar cikal bakal bangsa Indonesia bisa menyadari betapa besar anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia.
Memang kebanyakan manusia hanya bisa merusak, mengambil dan tidak memperbaikinya kembali.  Di Indonesia sangat banyak pembalakan liar, penangkapan hewan-hewan langka. Oleh sebab itu kita sebagai warga negara yang baik harus selalu menjaga dan memperbaiki kerusakan alam. Contohnya menanam pohon, mengurangi polusi udara dan membuang sampah pada tempatnya.
Bumi juga punya hati dan perasaan. Jika bumi disakiti, bumi juga akan marah dan mengganggu kehidupan manusia. Contohnya, karena PT Lapindo mengebor minyak terlalu dalam, sampai menjebol lapisan bumi yang dalam sehingga keluar lumpur yang sangat banyak. Lumpur itu menenggelamkan jalan-jalan di Sidoarjo bahkan banyak desa yang tenggelam, hilang dari peta.
Di tengah situasi dunia yang semakin panas, terjadi peperangan di mana-mana. Banyak negara mengalami konflik karena perebutan kekuasaan. Presiden Mesir berhadapan dengan rakyatnya karena tidak mau turun dari jabatannya. Banyak bangunan dan benda-benda bersejarah dijarah bahkan dihancurkan. Korban jiwa juga berjatuhan. Banyak warga negara Indonesia yang dipulangkan atau dipindahkan ke negara lain.
Korupsi di Indonesia masih merajalela. Gayus Tambunan dipenjara kerena kasus korupsi. Namun karena uangnya banyak dia bisa keluar penjara untuk melihat pertandingan tenis di Bali. Meski Indonesia adalah negara hukum ternyata hukum bisa dibeli.
Jakarta adalah ibu kota Indonesia, yang juga disebut dengan kota metropolitan. Tetapi sayang masyarakat di sana bukannya makmur tetapi malah tertindas dengan kondisi ekonominya. Memang ada banyak yang makmur dan menjadi pengusaha, tetapi lebih banyak lagi yang hidup sengsara, banyak yang menjadi pemulung, pengemis atau pengamen yang tinggal di kolong jembatan, bantaran sungai, di pinggir rel kereta api dengan rumah-rumah dari kardus. Kondisi itu sangat berbahaya bagi keselamatan mereka. Jika sungai meluap mereka akan hanyut terbawa air. Itulah Jakarta yang tidak peduli dengan kondisi rakyatnya.
Banjir menjadi bencana langganan Indonesia. Tiap tahun banjir menghantui rakyat Indonesia. Air dimana-mana, rumah-rumah tenggelam, banyak yang terkena penyakit diare, kudis, gatal, batuk dan lainnya. Banjir akibat ulah manusia sendiri yang sembarangan dan tidak peduli dengan alam. Membuang sampah sembarangan, memenuhi tanah dengan bangunan sehingga air tidak dapat teresap dengan baik ke tanah.
Kemacetan adalah masalah yang sangat sulit diantisipasi oleh pemerintah. Jakarta hampir setiap hari macet. Meskipun sudah banyak cara dilakukan tetapi tidak mampu menyelesaikan masalah. Dibuatkan jalan tol, mengatur jam kerja dan jam sekolah, tetapi solusi itu selalu gagal. Bahkan tahun 2014 Jakarta diramalkan akan macet total dan tidak ada lagi kendaraan yang bisa bergerak.
Gunung meletus menjadi ancaman juga bagi Indonesia. Merapi, Bromo dan yang lain. Bahkan Merapi hingga kini masih mengancam dengan lahar dingin yang berbahaya bagi manusia. Tanah longsor karena gundulnya hutan menjadi ancaman bagi rakyat Indonesia. Karena itu kita harus menanam pohon agar Indonesia tetap hijau, sehingga banjir dan longsor bisa dicegah.
Ozon di bumi ini memang makin menipis dan bisa membahayakan manusia di bumi. Sinar ultraviolet yang langsung mengenai manusia akan membahayakan kulit dan mata.
Mari kita berdoa agar dunia ini tetap setabil dan alam Indonesia tidak rusak dan kekacauan di bumi ini segera dihentikan. (*)

*****************************************************************

SAYA, BIASA DAN LUAR BIASA
Landia Rani Astiti (Wonosobo Jawa Tengah)

Saya, seorang anak yang biasa-biasa saja. Pernah merasakan betapa susahnya hidup dalam kekurangan dan bagaimana rasanya ketika hidup berkecukupan. Merasakan mempunyai teman, kehilangan teman dan bersosialisasi dalam kehidupan dengan dengan manusia lain. Kehidupanku juga biasa saja, seperti layaknya orang-orang lain di permukaan bumi ini.
Di sekolah, aku adalah siswa biasa. Di rumah aku adalah sewajarnya seorang anak, di desa akupun biasa saja. Ya, semua serba biasa tentang aku ini.
Seorang temanku, ketika penilaian berpidato di depan kelas, dia begitu fasih berbicara. Seisi kelas terkagum-kagum karenanya. Beberapa hari kemudian ketika bu guru menyuruh kami membuat sebuah karangan, salah seorang temanku mengarang dengan sangat indah. Ceritanya begitu merasuk dalam hati kami semua. Karangan selanjutnya selalu membuat kami terpukau. Ketika semua siswa berpikir keras menyelesaikan satu soal matematika hingga hampir menghabiskan jam pelajaran matematika. Dalam detik-detik penghabisan itu, tepat seorang temanku mampu menyelesaikannya. Sungguh tak diduga, jawabannya benar dengan cara-cara yang tepat. Padahal, kami semua tahu, guru matematika kami telah mengatakan soal itu sangat sulit dibanding soal biasa. Satu komentar kami, “wah” untuknya.
Hari ini, aku melihat di telivisi, seorang penyandang cacat berpendapatan ribuan dollar dari bisnis melalui internet. Sungguh, dia sangat luar biasa, aku yang melihat saja serasa melayang-layang membayangkan banyak hal. Bagaimana dengan diri orang itu sendiri ya? Bagaimana rasanya?
Beberapa temanku juga, mereka tak lagi anak biasa sepertiku. Mereka bisa melakukan itu semua, hal yang cukup luar biasa bagi seisi kelas. Seperti apa ya perasaan mereka? Ah, entahlah..
Kini aku bukan anak biasa. Tetapi, remaja bisa. Kata biasa masih melekat pada diriku. Semakin bertambah usiaku, entah mengapa aku selalu memikirkan “biasa, biasa, dan biasa…”. Sampai di malam yang dingin ini, kuambil baju hangat di lemari dan ketika menutup lemari, mataku melirik cermin lemari pakaian tadi. Lama aku bercermin dan tersadar, selama ini aku terlalu banyak melihat orang lain, diriku sendiri lupa untuk dilihat. Ternyata aku masih biasa dan mulai tumbuh menjadi luar biasa buat mereka.
Sekarang aku mampu mengatakan, dan seringkali ketika seseorang memandang dirinya sendiri dan kemudian melakukan hal luar biasa, dia baru tahu kalau ada emas dalam dirinya. Yang sungguh amat mahalnya dari pada emas di tambang-tambang.
Aku mampu menjadi luar biasa, kumampu melakukan lebih dari yang orang bisa lakukan. Kuyakin setiap orang pasti tahu, perlu pengorbanan atas berbagai kesulitan. Namun jiwa pemberani dan pantang menyerahlah yang bisa melewati semuanya, apapun itu.
Beberapa temanku itu, sebelumnya adalah seorang anak biasa yang dalam perjalanannya kemudian menjadi luar biasa. Nah, dari sini aku menyadari bahwa orang-orang biasa selalu punya potensi untuk menjadi “luar biasa” yang positif tentu saja. Mereka bisa melakukannya, karena mereka dekat dengan hidupnya sendiri dan juga asal dirinya.
Satu hal penting yang patut kuingat : dulu mereka adalah orang biasa. Berada di posisi biasa, tanpa tantangan dan hidup statis. Namun, merubah hidup yang statis adalah tantangan. Banyak dari mereka yang luar biasa berasal dari jiwa seorang yang biasa. Orang yang biasa adalah bakal calon seorang yang luar biasa. Jadi, aku adalah calon orang luar biasa. Telah kurangkai jalanku, dan saatnya aku melewatinya. Akan kutemukan di ujung sana, seperti apakah aku jadinya.(*)

*************************************************************

HUKUM KARMA CINTA
Ankaa Rafflesia Andhini (Blora Jawa Tengah)

Di suatu malam minggu, aku yang sedang melamun sambil menulis puisi, seperti malam minggu sebelumnya aku selalu sendiri. Aku jadi ingat waktu awal pindah ke Blora dan bingung mau neneruskan ke sekolah SMA mana.
“Bu, gimana ini? Aku mau di sekolah di mana?” tanyaku.
“Ibu sendiri juga bingung!”
Ketika itu aku dan ibu kebingungan, untuk aku sekolah di mana. Padahal nilaiku cukup tinggi di Jepon, yaitu 36,15. Rencana semula mau masuk SMA 1 Blora, namun tidak bisa. Seleksi masuk sekolah favorit itu dilakukan sebelum ujian nasional SMP.
Aku memutuskan sekolah di SMA 1 Jepon. Tidak kuduga ternyata aku mendapat peringkat parallel 1. Ketika masuk sekolah aku berkenalan dengan seorang cewek yang duduknya satu bangku denganku. Namanya Amel.
“Hai, nama kamu siapa? Dan kamu dari SMP mana?” tanyaku pada Amel.
“Namaku Amel, dari SMP 1 Jepon. Kalau kamu?”
“Aku Antares dari SMP 3 Tuban!”
“Oh kamu yang namanya Antares, yang dapat parallel 1 tow? Selamat ya!”
Setelah beberapa hari masuk sekolah, aku mulai banyak memiliki kenalan. Statusku saat itu masih pacaran dengan Alif. Dia wanita hebat. Sudah ditinggal ayah dan ibunya sejak TK. Meskipun sudah yatim piatu namun Alif mampu tegar menjalani hidup. Suatu ketika aku ingin memutuskan hubungan dengan Alif karena ingin serius belajar di Blora. Aku menelponnya untuk menyampaikan niatku.
“Yank, aku sebelumnya minta maaf. Mulai saat ini kita cukup bersahabat saja ya. Aku mau fokus, konsentrasi belajar di Blora.”
“Tetapi kenapa Yank? Apa salahku? Aku benar tulus mencintaimu. Kamu yang membuatku semangat menjalani hidup!” Alif menjawab sambil menangis.
Tiba-tiba HP mati. Setelah itu Fransiska, sahabat Alif telpon.
 “Alif kamu apain kok nangis?”
“Gimana ya, sebenaranya aku tidak tega, tetapi aku mau konsentrasi belajar!”
Suatu kali Novia, sahabat Alif juga telpon.
“Heh, brengsek lo ya, mutusin Alif. Gue gak rela Alif lo bikin nangis. Kampret lo!”
“Pliss, ngertiin aku,” pintaku.
“Trus yang mau ngertiin Alif siapa? Awas lo kalau lo ke Tuban, gue bikin gak hidup!”
Hari berlalu. Akibat memutuskan hubungan dengan Alif masih berlanjut. Kakaknya Alif telpon aku.
“Dik, kenapa Alif dari kemarin nangis terus dan nggak mau makan?”
“Maaf kak, aku mau fokus sekolah dulu, maka hubunganku dengan Alif putus dulu!”
“Tapi kasihan Alif, dia sangat sayang kamu. Sejak pacaran dengan kamu semangat hidupnya kuat.”
“Ya kak, aku tau. Tolong bantu aku njelasin ke Alif. Aku akan selalu merhatiin dia.”
“Janji ya!”
Sejak itu aku jadi khawatir memikirkan Alif. Kekhawatiranku terus bertambah. Aku merasa sudah berbuat jahat kepada Alif. Hingga malam aku tidak bisa tidur. Aku gelisah. Setelah minum obat tidur 3 butir aku baru bisa tertidur.
Waktu terus berlalu. Aku sudah bisa melupakan Alif. Hidupku hanya sekolah, belajar, tidur. Aku tidak banyak keluar rumah. Rasanya hidup sepi.
Waktu ujian mid semester nilaiku kurang begitu bagus. Aku hanya dapat rangking 2. Aku malu karena aku adalah peringkat 1 paralel. Aku memotivasi diriku untuk lebih baik. Hal itu dipacu oleh salah satu cewek di kelasku, Fani namanya. Ternyata aku diam-diam jatuh cinta padanya. Dia yang membuatku bersemangat berangkat sekolah pagi-pagi. Awalnya dia cuek saja. Namun lama-lama, karena aku selalu memperhatikan dia, akhirnya luluh juga.
Pada suatu malam, Fani SMS ke HPku. Aku kemudian telpon balik Fani.
“Hai selamat malam!”
“Malam juga.”
“Fan, aku mau jujur kepadamu. Aku benar-benar suka dan sayang padamu. Maukah kamu menjadi pacarku?”
“Aku juga suka sama kamu. Aku mau!”
Sejak itu aku dan Fani resmi pacaran. Kami saling memotivasi untuk lebih giat belajar. Terbukti pada ujian semester 1 aku mampu meraih peringkat 1 di kelas, dan peringkat 3 paralel. Sedangkan Fani mendapatkan peringkat 5.
Setelah penerimaan rapor, sekolah libur selama 2 minggu. Aku berlibur ke Semarang dan bertemu dengan teman-teman lama. Selesai liburan aku kembali ke Blora siap-siap masuk sekolah lagi. Tiba-tiba Fani telpon malam-malam itu.
“Ada apa Fan?”
“Aku minta kita putus!”
“Kenapa, apa salahku?”
“Gak ada yang salah. Aku merasa tidak nyaman saja dengan kamu!”
“Kamu kok tega banget sama aku. Apa tidak boleh sama orang tuamu?”
“Iya. Aku takut, karena SMSmu kemarin itu dibaca adikku dan dilaporkn ke ayahku. Maka kita putus saja.”
Aku sakit hati banget diputus oleh Fani begitu saja. Rasa sakit itu terus terasa dan tidak hilang begitu saja. Aku tumpahkan sakit hatiku dalam bentuk puisi. Aku jadi berpikir, apakah dulu Alif juga merasa sakit seperti ini? Apakah ini yang disebut karma? Aku telah menyakiti Alif, kini aku yang ganti tersakiti. Aku mendapatkan karma karena cinta. (*)

*********************************************************

BOLA BASKET CINTAKU
Anatalia Dwi A (Blora Jawa Tengah)

 Kisah ini berawal ketika aku beranjak dewasa. Aku mulai sedikit mengerti makna kehidupan yang sebenarnya. Awalnya yang kupikirkan hanya kesenangan-kesenangan saja, tanpa berpikir sedikitpun tentang rintangan hidup. Ternyata baru kusadari sekarang asam pahitnya kehidupanku, yang awalnya hanya seorang murid biasa yang tidak pernah menonjolkan kelebihannya di muka umum seperti murid-murid yang lain. Mereka selalu berlomba mencari perhatian orang lain dengan cara positif, tetapi banyak juga dengan cara-cara yang negative. Entahlah, aku tidak mau ambil pusing tentang itu semua, aku tidak peduli. Teman-temanku sering mengatakan kalau aku cuek. Memang aku punya dunia sendiri yang tidak bisa dimasuki oleh mereka. Keluargaku juga beranggapan sama dengan teman-temanku. Aku hanya ingin dimengerti, bahwa yang mereka duga sesungguhnya tidaklah benar adanya. Hingga suatu ketika aku mengenal makhluk Tuhan yang disebut dengan laki-laki.
Ketika aku duduk di kelas 3 SMP, aku masuk kelas 3A, kelas yang diinginkan oleh banyak murid di sekolahku, karena kelas 3A adalah kelasnya murid-murid yang pintar dan menonjol prestasinya.. Aku sendiri heran bisa masuk kelas 3A, karena aku merasa bukanlah murid yang pandai.
Hari Senin, guruku menyuruh semua murid ke lapangan untuk upacara. Padahal selama ini di sekolahku upacara hanya diadakan pada waktu hari-hari besar saja, tidak rutin setiap hari Senin seperti sekolah yang lain. Banyak teman-teman yang menggerutu disuruh upacara yang tidak biasanya itu. Selesai upacara dijelaskan oleh kepala sekolah bahwa sejak hari ini, setiap hari Senin diadakan upacara pengibaran bendera. Hal ini karena ada edaran dari bupati yang baru, yang mewajibkan semua sekolah melakukan upacara setiap hari Senin.
Menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN) aku bertemu dengan seorang laki-laki. Dika namanya. Dia lebih tua dariku, sudah kelas 3 SMA. Aku tidak tahu mengapa sejak pertemuan itu hatiku jadi tidak menentu. Ketika bertemu lagi dan mengobrol dengannya aku selalu gugup, keringat dingin mengucur dan menjadi salah tingkah karenanya. Karena lebih tua ia lebih sering memberiku nasihat. Dari situlah aku mulai belajar mengenal hidup dan mulai peduli dengan lingkungan sekitarku. Aku yang sebelumnya sangat cuek, bisa berubah. Perubahan tabiatku membuat teman-temanku, guru dan juga keluarga menjadi heran.
 Tiga bulan menjelang UAN pelatih basketku mengatakan akan ada Pekan Olah Raga Pemuda Daerah (POPDA). Dia memberoku target bisa masuk tim basket POPDA. Aku tidak tahu mengapa pelatih membebaniku target begitu. Padahal aku baru ikut kegiatan ekstra basket belum lama. Kata pelatih aku memiliki bakat yang besar di bidang basket. Jika diasah dan dilatih akan menjadi pemain yang bagus. Aku bingung. Sebentar lagi UAN, dan aku harus lulus. Sementara juga ada latihan basket untuk seleksi masuk tim basket POPDA. Orang tuaku menyuruh aku tidak usah ikut basket. Aku harus lulus biar tidak memalukan keluarga. Tetapi aku mengambil sikap untuk ikut seleksi POPDA sambil tetap belajara menghadapi UAN.
Seleksi untuk masuk tim basket berlangsung sangat ketat. Aku harus bersaing dengan pemain basket terbaik dari sekolah-sekolah lain untuk bisa masuk tim basket yang mewakili daerah dalam ajang POPDA. Pada saat seleksi itu, aku merasakan ada perubahan sikap dari teman-teman, guru-guru dan keluargaku kepadaku. Mereka mulai mengerti bagaimana aku. Guru-guru malah menjadikan aku sebagai contoh untuk murid-murid lain. Orang tuaku mulai membanding-bandingkanku dengan kakak-kakakku. Pada saat seperti itu Dika menyatakan cinta kepadaku. Namun kutolak cintanya. Aku masih sakit saat melihatnya bergandengan mesra dengan cewek lain. Ternyata saat aku dekat dengannya, Dika sudah memiliki kekasih. Ketika putus dengan kekasihnya itu, Dika kemudian menyatakan cintanya kepadaku. Sikap yang membuatku muak dan benci sekali.
Seminggu menjelang UAN, aku sangat cemas. Jujur saja aku khwatir tidak lulus. Kukemasi kumpulan soal-oal try out yang kumiliki.  Aku juga membeli buku detik-detik matematika. Wali kelasku tersenyum saat melihat aku membeli buku itu. Dengan penuh semangat kukerjakan kumpulan soal-soal itu. Aku yakin dengan upayaku. Saat pelaksaan UAN tiba, tidak lupa aku minta doa kepada orang tua. Aku berusaha sekuat tenaga menjawab soal-soal yang menentukan kelulusanku itu. Akhirnya hari-hari yang menegangkan itu terlewat. Aku sudah berusaha maksimal. Aku tidak tahu bagaimana nasibku. Lulus atau tidak kuserahkan pada yang Kuasa.
Saat hari penentuan kelulusan, aku sedang menyetrika baju. Aku belum mandi, baru cuci muka dan gosok gigi. Tiba-tiba ada SMS dari pelatih basketku : kalau lulus kamu mau apa? SMS itu kubalas : mau lari dari rumah ke sekolah. Ada balasan SMS dari pelatih basket : ya sudah sekarang kamu lari saja ke sekolah. Tanpa pikir panjang, aku segera keluar rumah dan berlari ke sekolah. Jarak sekolah dari rumahku lebih dari 3 kilo meter. Aku tidak peduli saat itu belum mandi. Aku berlari kencang ke sekolah. Saat sampai di sekolah, aku segera menuju papan pengumuman. Dari kertas yang ditempel nama-nama yang lulus, namaku ada di situ. Tentu aku sangat bahagia melihatnya. Segera kutelpon orang tuaku, dengan bangga kusampaikan kalau aku lulus.
Setelah pengumuman itu, kami semua kelas 3 mengadakan tour wisata ke Surabaya. Dalam bus kami bercanda ria. Meskipun semua tertawa, namun ada perasaan galau di dalam hati, karena setelah ini harus berpisah. Tiga tahun bersama di SMP, untuk kemudian melanjutkan sekolah tingkat atas. Namun kenangan indah saat bersekolah tidak akan pernah terlupakan.
Hari pertama masuk SMA, masih dalam masa orientasi. Pada masa orientasi itu, aku melihat laki-laki yang membuat hatiku merasa bergetar. Dia di SMA lain tidak satu sekolah denganku. Kebetulan, Kris temanku sekelas saat SMP satu kelas dengan laki-laki itu di sekolah barunya. Pada suatu kesempatan aku bertemu dengan Kris sedang bersama laki-laki itu. Oleh Kris aku dikenalkan dengannya. Namanya Andry. Sejak perkenalan itu, aku dan Andry mulai ada komunikasi. Saling telpon atau minimal SMS. Saat sudah merasa dekat, aku nekat menyampaikan cintaku padanya. Aku pede saja saat itu. Ternyata Andry sudah memiliki pacar, teman satu sekolah dengannya. Aku malu, hati perih rasanya. Aku tidak tahu hal itu. Sejak itu hubunganku dengan Andry menjadi renggang. Namun setelah agak lama menjauh, Andry malah sering kirim SMS. Dia curhat masalah hubungan dengan kekasihnya. Aku yang pernah merasa sayang padanya, sekarang menganggapnya hanya sebagai teman saja. Dari curhat itu, aku tahu hubungan Andry dengan pacarnya sudah diambang putus. Akhirnya memang pacaran itu putus di tengah jalan. Aku sedih, namun juga senang. Karena memang sebenarnya aku masih memendam rasa sayang padanya.
Sejak itu, aku dan Andry mulai dekat lagi. Tetapi aku tidak mau mengulang peristiwa yang sudah lalu. Meski aku ingin sekali, namun aku tidak banyak berharap. Aku hanya menunggu saja sikap Andry kepadaku. Mudah-mudahan saja Andry juga memiliki rasa suka kepadaku. Hingga akhirnya pada pergantian malam tahun baru, Andry menyatakan cinta kepadaku. Tentu aku bahagia, dan menerima cintanya. (*)

****************************************************************

PETAKA ROKOK
Sukron Jayadi (Daser Kalimantan Timur)

Siang itu, seusai pulang sekolah, aku dan teman-teman sekolahku berkumpul di salah satu warung makan langganan kami. Setiap pulang sekolah, kami biasa menghabiskan waktu di warung itu. Biasanya sahabatku Andrian yang mentraktir. Tetapi saat itu dia sedang rapat OSIS, jadi dia tidak ikut gabung. Namun aku tenang saja, karena waktu itu aku memiliki cukup uang. Selesai makan di warung, kami tidak langsung pulang, namun beranjak menuju gedung tua di sebelah sekolah. Di tempat itu, kami kemudian menghisap puntung rokok bersama sambil bercanda ria.
Aku mulai mengenal rokok sejak sebulan lalu. Aldi, adalah teman yang mengenalkan rokok pertama kali kepadaku.Awalnya aku tidak mau, namun bujukan Aldi mampu membuatku penasaran. Akhirnya aku mencoba satu dua hisapan. Rasanya aneh, dan aku langsung butuk-batuk. Namun pada hisapan selanjutnya, aku sudah tidak batuk lagi. Sejak itu aku mulai biasa menghisap rokok.
“Mau coba rokok baru?” tanya Aldi kepadaku.
“Wah, sepertinya enak,” jawabku.
“Tapi ini lebih keras. Kalau tidak kuat bisa bikin kamu klenger,”jelas Aldi.
Ternyata rokok baru Aldi terasa enak. Ada rasa yang berbeda di tenggorakan. Tanpa kami sadari sudah banyak batang yang kami hisap dan terbakar. Karena disertai dengan canda tawa, kami jadi sering lupa waktu.
Saat kami masih asyik dengan rokok-rokok itu, Adrian datang menghampiri. Adrian adalah temanku sejak kecil, juga temanku sekolah dari SD, SMP hingga kini di SMA. Meski teman dekat, namun aku beberapa hari belakangan kesal dengan dia, karena dia selalu memberiku ceramah dan protes keras jika aku merokok. Dia tidak merokok dan tidak setuju aku merokok. Namun karena aku nekat dia tidak lagi mempermasalahkan. Bahkan saat dia kuminta untuk tidak bilang kepada siapa-siapa tentang hal itu, dia juga tidak keberatan.
“Sudah selesai rapatnya Yan?” tanyaku padanya.
“Sudah. Tadi aku ke warung, kamu tidak ada. Katanya kamu dan teman-teman berjalan ke arah sini. Jadi aku langsung saja ke sini. Ayo pulang!” ajaknya.
Di perjalanan, dia kembali memberiku cermah tentang rokok. Namun ceramah itu aku bantah. Bantahan itu yang membuat Adrian terdiam.
“Kamu sekarang boleh bilang begitu. Tetapi jika nanti kamu sudah kenal rokok, kamu akan berkata lain. Lagi pula penyakit itu datangnya dari Tuhan. Banyak orang yang merokok hidupnya lama dan tetap sehat. Tetapi ada yang sama sekali tidak merokok, namun tetap sakit-sakitan, bahkan mati tanpa sekalipun merokok.”
Setelah beberapa waktu dalam suasana hening, karena masing-masing diam, Adrian tiba-tiba bicara dengan tema lain.
“Kemarin ibuku ketemu dengan ibuku. Katanya, ibumu akhir-akhir ini sering kehilangan uang. Apa betul begitu?”
“Ak..aku tidak tahu,”jawabku agak gelagapan.
“Kok tidak tahu. Memang ibumu tidak cerita masalah itu?”
“Tidak,” jawabku dengan harapan Adrian tidak meneruskan pembicaraan itu lagi. Tetapi harapanku sia-sia. Dia bertanya lagi dan langsung ke inti masalah.
“Kamu tidak ada kaitannya dengan masalah hilangnya uang ibumu kan?”
“Maksud kamu apa?” aku tersinggung oleh ucapannya.
“Maaf Ton. Akhir-akhir ini aku sering melihatmu membeli rokok. Saat di warung juga aku sering lihat kamu beli macam-macam minuman kaleng. Kan biasanya aku yang traktir,” tegasnya.
“Jadi kamu nuduh aku yang ngambil uang ibuku?” balasku sengit.
“Bukan begitu maksudku.”
“Sudahlah, aku malas ngomong masalah itu. Aku kecewa dengan kamu, Yan!” Aku melangkah cepat meninggalkannya.
Sampai di rumah, aku mendengar ibu dan bapak ribut-ribut. Aku segera masuk kamar. Dari kamarku aku mendengar ibu berusaha menjelaskan masalah uang yang hilang kepada bapak. Namun sepertinya bapak tidak percaya, uang bisa hilang di dalam rumah.
“Pulang ke rumah, bukannya mendapatkan sambutan yang menyejukkan, malah dikabari berita yang susah dipercaya,” kata bapak sambil keluar rumah.
Saat aku keluar kamar, kulihat ibu hanya menunduk dan kudengar suara isak tangis. Ibuku menangis karena bapak tidak percaya dengan ucapannya. Aku tidak menyangka ternyata uang yang hilang itu berefek begitu besar kepada ibu. Bahkan hingga seminggu bapak belum bisa meredakan amarahnya. Sikap bapak masih dingin. Meski begitu ibuku tetap memberikan pelayanan seperti biasa kepada bapak. Makanan dan minuman selalu tersaji. Aku saat itu baru sadar telah membuat hubungan ibu dan bapak menjadi tidak enak. Itu semua karena rokok. Aku merasa sangat bodoh saat itu.
Waktu di kelas aku banyak diam. Bel berbunyi tanda masuk jam pelajaran pertama. Namun masih ada kursi yang kosong. Ternyata Adrian tidak masuk. Saat diabsen, Rio menyampaikan kalau Adrian sakit dan sedang dirawat di rumah sakit.
Ketika pulang sekolah, Aldi dan teman yang lain seperti biasa mengajakku ke gedung tua untuk pesta rokok. Aldi menawarkan rokok baru yang katanya lebih enak dan akan dibagi cuma-cuma kepada semua. Namun tawarn Aldi kutolak. Aku berniat menengok Adrian ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, aku melihat ibu Adrian sedang menunggui Adrian yang sedang tidur. Ibunya Adrian menjelaskan, kalau Adrian paru-parunya sakit. Itu akibat asap rokok. Tentu saja aku heran karena Adrian tidak merokok.
“Adrian menurut dokter termasuk perokok pasif. Meskipun dia tidak merokok tetapi orang-orang di sekitarnya yang menyebulkan asap rokok itu yang kemudian masuk ke paru-parunya hingga membuat rusak. Bibi juga heran, padahal kami semua di rumah tidak ada yang merokok. Teman-temannya juga bibi lihat tidak ada yang merokok,” jelas ibunya Adrian panjang lebar.
Keheranan ibunya Adrian itu membuatku berpikir, bahwa akulah yang menyebabkan Adrian sakit. Selama ini Adrian hanya dekat denganku yang perokok, yang selalu mensupalinya asap perusak itu.
“Ton, itu Adrian bangun!” kata ibunya Adrian.
“Sejak kapan kamu di sini Ton?” tanya Adrian.
“Baru saja. Bagaimana keadaanmu?”
“Sudah lumayan. Dua hari lagi sudah boleh pulang. Hanya disuruh banyak istirahat.”
“Maaf ya Yan. Kamu begini gara-gara aku,” aku berucap lirih agar tak terdengar ibunya.
“Bukan salahmu Ton. Ini sudah takdir. Kan sakit itu datangnya dari Tuhan. Kamu kan yang bilang begitu,” kata Adrian tentu menyindir ucapanku beberapa waktu lalu.
“Ya memang semua dari Tuhan, tapi aku yang menjadi perantara. Juga masalah uang ibu itu. Aku juga yang menjadi penyebabnya,” tanpa terasa aku telah nerocos memberikan pengakuan.
“Aku selalu punya syarat. Kamu kuamaafkan asal kamu tidak lagi merokok. Bagaimana?”
“Ya. Aku berjanji tidak merokok lagi. Kusadari kini akibat rokok, bapak dan ibuku jadi bertengkar. Kamu jadi sakit paru-paru. Sedang aku tidak mendapatkan apa-apa dari rokok itu!”
Setelah itu aku dan Adrian berbincang-bincang lama dan hangat. Aku sudah akrab kembali dengan Adrian. Memang apa yang diomongkan Adrian semua benar. Tiba-tiba Rio tetangga Adrian datang. Dia membawa kabar kejadian siang tadi.
“Kalian tahu, gedung tua sebelah sekolah? Gedung itu baru saja terbakar. Katanya itu akibat puntung rokok yang masih menyisakan api, yang banyak dibuang di sana. Sekarang sedang diusut pelakunya oleh polisi.”
Deg. Jantungku rasanya berhenti. Keringat dinginku meleleh. Wajahku mungkin pucat saat itu. Aku membayangkan seandainya tadi siang sepulang sekolah aku ikut Aldi ke gedung tua itu. (*)

********************************************************************
SAMPAI BAPAK MENUTUP MATA
Aryati Rahayu ( Blora Jawa Tengah)

Pagi itu cuaca sejuk dan cerah. Di sana sini masih basah karena hujan yang mengguyur desa Sumber tadi malam. Pak Harjo membuka pintu kandang yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Suara hewan-hewan ternak piaraannya langsung menyambut. Diletakkannya ember berisi pakan ternak yang sudah diaduknya. Setelah memberi makan semua ternaknya, pak Harjo segera kembali ke rumah untuk bersiap-siap ke pasar. Hari ini dia akan menjual hasil panen sayur mayur. Ladangnya menghasilkan panen yang lumayan.
Pak Harjo tinggal sendirian. Istrinya sudah lama meninggal. Anaknya kuliah di Jakarta. Sebagai petani sukses kehidupan pak Harjo lebih dari cukup. Meskipun begitu dia tidak mau kawin lagi. Pak Harjo sudah merasa tua. Dia ingin mengurus ternak dan ladangnya saja.
Sudah beberapa waktu anak kesayangannya tidak memberikan kabar. Pak Harjo berpikir anaknya sedang sibuk kuliah. Fadli hanya pulang setahun sekali saat hari raya saja. Selebihnya Fadli sama sekali tidak pernah menengok bapaknya yang sendirian di desa. Namun ketika pak Harjo rindu dengan anaknya itu, perasaannya ia tekan. Pasti anaknya sedang tekun belajar agar segera lulus dari kuliah.
Baru saja pak Harjo mau berangkat ke pasar, ada suara yang memanggilnya.
“Pak, tunggu..!”
Samin tetangganya berlari-lari menuju ke tempat pak Harjo berdiri.
“Ada apa, kok bikin kaget orang tua?”
“Ini ada surat dari mas Fadli!” Samin menyerahkan sepucuk surat kepada pak Harjo dan langsung pamitan.
Pak Harjo dengan senang membuka dan membaca surat dari anaknya yang tersayang. Ternyata isinya hanya singkat.
Assalamualikum wrwb.
Pak, maaf Fadli baru bisa beri kabar. Fadli sedang sibuk kuliah. Fadli butuh uang. Mohon bapak kirim wesel sepuluh juta. Ditunggu segera. Terimaksih
Wassalamu alaikum wrwb
Putramu
Fadli.
Selesai membaca surat itu, pak Harjo mengambil nafas dalam-dalam. Matanya termangu menatap surat itu dan melipatnya kembali. Hatinya sedih. Pak Harjo berharap Fadli memberi kabar yang banyak. Apakah dia tidak kangen dengan bapaknya? Apakah dia betul-betul sibuk dengan kuliahnya? Apakah uang itu begitu mendesak untuk membayar keperluan kuliahnya? Banyak pertanyaan yang muncul di hati pak Harjo. Namun tak ada jawaban yang diperolehnya. Meski begitu pak Harjo mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan anaknya. Segera dihidupkan mesin mobil pick up kesayangannya untuk mengangkut sayur mayur ke pasar. Setelah itu ia akan mengirim uang kepada Fadli, anak semata wayangnya.
Beberapa hari berlalu setelah surat dari Fadli datang itu. Uang juga sudah dikirimkan sesuai permintaan. Hatinya sudah merasa tenang. Dia sudah mampu melupakan kekecewaannya kepada Fadli tentang suratnya yang hanya pendek. Pak Harjo sudah tenggelam dalam rutinitas mengurus ternak dan ladangnya. Siang hari sepulang dari ladang, pak Harjo menyalakan tivi. Pembawa berita sedang menyampaikan berita penggerebekan oleh polisi terhadap beberapa pemuda yang sedang pesta narkoba.
“Ini jaman edan. Mestinya pemuda itu belajar dan memikirkan masa depan, ini malah madat. Rusak,rusak benar jaman ini,” pak Harjo bergumam.
Begitu tivi itu menayangkan salah satu pelaku pesta narkoba, mata pak Harjo terbelalak, jantungnya bagai berhenti, tubuhnya kaku.
“Tidak mungkin, tidak mungkin. Pasti itu bukan dia,” ujarnya.
Tiba-tiba saja pak Harjo sudah tak sadarkan diri. Tetangga dekat membawa pak Harjo ke rumah sakit. Tiga hari pak Harjo tidak sadarkan diri. Pak Harjo terkena stroke yang membuat separo tubuhnya lumpuh, mulutnya miring tidak dapat berbicara. Berita tertangkapnya Fadli dalam pesta narkoba, membuat pak Harjo terguncang. Tekanan darahnya tak terbendung dan pecah, membuatnya lumpuh. Anaknya adalah sandaran hidupnya, setelah istrinya tiada. Namun kekecawaan itu membuatnya tidak lagi memiliki semangat hidup.
“Duh Gusti, apa dosa hambamu ini? Anak yang paling hamba sayang dan hamba banggakan telah membuat kecewa hamba. Hamba merasa gagal menjadi orang tua yang baik. Ampuni hambamu duh Gusti.”
“Fadli, putra bapak..Bapak sayang padamu, Nak. Mengapa kamu membuat bapak kecewa? Tidak, Nak. Bapak tidak akan menyalahkan kamu. Ini salah bapak, tidak mampu mendidikmu. Bertobatlah anakku. Jalanmu masih panjang. Jangan sia-siakan hidupmu. Bapak sayang padamu, Nak.”
 “Gusti, sekarang hamba berserah padaMu. Hamba ikhlas kembali ke sisiMu. Tuntunlah anak hamba. Tunjukkanlah ia kepada jalan yang benar. Asyhadu ala illa ha ilallah wa asyhadu ana Muhammadarrarulullah,” suara pak Harjo lirih sekali, sebelum memajamkan mata selamanya. Dia sudah rindu bertemu dengan istrinya (*).


*******************************************************************
DAIRY DEPRESIKU
Widya Naurmala (Blora Jawa Tengah)

Blora, 12 Oktober 2009
Ini adalah hari terburuk dalam hidupku. Hari yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, saat aku harus melihat senyum bunda untuk yang terakhir kalinya.
Perceraian ayah dan bunda membuatku sangat terpukul. Hari-hari suram seolah menantiku di kemudian hari. Hatiku hancur berkeping-keping, sakit dan perih rasanya.
“Ahmad Prayoga anak bunda, apapun yang terjadi, bunda akan selalu sayang pada Yoga. Jaga dirimu baik-baik ya,” kata bunda sambil memelukku.
Aku hanya menangis, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Hatiku remuk. Bunda melepas pelukannya dan berlalu meninggalkan rumah.
Blora, 12 November 2009
Belum lagi sebulan bunda meninggalkan rumah, ayahku sudah membawa wanita lain ke rumah.
“Yah, kenapa ayah setega itu?”
“Ada apa?”
“Belum sebulan, bunda pergi. Ayah sudah bersama wanita lain. Bagaimana perasaan Bunda jika tahu hal ini. Ayah juga tidak peduli perasaanku,” aku nerocos marah.
“Anak kecil, tahu apa kamu? Dan orang yang kau sebut bunda itu, aku sudah tidak peduli!” ucap ayahku keras.
Mendengar itu, aku langsung masuk kamar. Aku tidak tahan dengan ucapan ayahku. Ternyata aku sama sekali tidak dianggap oleh ayahku. Itu berarti aku juga tidak perlu menganggap ayahku.
Di kamar kepalaku rasanya pusing sekali. Tanpa sengaja kutemukan pil penenang yang biasa diminum bundaku. Kini aku tahu mengapa bunda sering minum pil itu. Bunda depresi menghadapi kelakukan ayahku.
Blora, 12 Desember 2009
Hidupku sekarang benar-benar berubah. Aku bukan lagi Ahmad Prayoga yang polos. Kini aku menjadi sosok yang dipenuhi kebencian, tidak peduli, tidak mengenal aturan.
“Apa sebenaranya mau kamu? Sering bolos, melawan guru, tidak mengerjakan PR. Memang kamu pikir ini sekolah apa?” bu Ambar wali kelasku marah di depanku. Aku diundang oleh wali kelas menghadap ke ruangannya.
“Semua guru mengeluhkan ulahmu. Ibu ingatkan, jika kamu tidak merubah sikapmu, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah ini. Kamu paham Yoga?” ancam bu Ambar.
“Ya!” jawabku singkat.
“Bagus kalau paham. Sangat disayangkan kalau kamu sekarang seperti ini. Padahal dulu kamu itu murid yang baik.”
“Tahu apa, ibu tentang saya?” ucapku kesal.
“Apa?” pekik bu Ambar sangat kaget.
“Ibu tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu tentang kehidupan saya!” tegasku.
“Yoga, ibu mengerti. Untuk ukuran murid SMP, masalahmu memang berat. Tetapi ibu yakin, kamu bisa melewati masalah itu dengan baik.”
Aku langsung berdiri meninggalkan ruangan bu Ambar, dan langsung keluar dari halaman sekolah. Saat itu jam sekolah memang sudah selesai. Aku kayuh sepedaku dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba, sepedaku menabrak seseorang perempuan. Sepedaku oleng dan aku terjatuh.
“Yoga, bangun,” ucap perempuan yang kutabrak tadi.
“Bella?” gumamku.
“Iya, aku Bella. Kamu Yoga kan?”
“Kenapa kamu di sini?”
“Aku pindah ke Blora. Ayahku pindah tugas. Jadi sekarang aku sekolah di Blora. Bagaimana kabarnya om dan tante?”
Bella adalah temanku masa kecil. Dia pindah ke Jakarta saat kelas V SD, karena bapaknya pindah tugas ke sana.
“Kamu kenapa?”
“Aku sekarang tidak punya keluarga lagi.”
“Maksud kamu apa?”
“Ayah dan bundaku telah bercerai. Bunda sekarang entah ke mana. Ayahku telah punya keluarga baru. Aku sekarang tidak punya keluarga.”
Blora, 20 Maret 2010
Aku kaget, saat pulang ke rumah, ada bunda dan ayah duduk di ruang tamu.
“Yoga!” pekik bunda sambil merangkulku.
Aku diam saja. Saat ini aku benci kepada bundaku. Aku lepaskan pelukan bunda, dan pergi dari ruang tamu.
“Yoga, maafkan Bunda,” ucap bunda sambil menangis.
“Maaf? Semudah itu bilang maaf? Aku sudah sangat sakit. Hatiku hancur. Kalian benar-benar membuat hidupku berantakan. Orang tua yang benar-benar tidak tahu perasaan!” ujarku dengan penuh amarah.
“Maafkan Bunda, Yoga,” ucap bunda sambil beusaha memelukku.
Aku segera lari keluar rumah. Aku tidak mau melihat mereka berdua. Aku sudah benar-benar benci. Aku berhenti di depan rumah Bella. Tanpa malu aku menangis saat itu.
“Mengapa kamu menangis?” tanya Bella begitu ia keluar dari rumahnya.
“Bell, bunda datang ke rumah.”
“Aku tahu kamu pasti tertekan.”
“Lebih dari itu, sakit sekali rasanya.”
“Yoga, semua orang punya sisi gelap dalam hidupnya. Kamu harus dewasa menghadapi masalah ini. Kalau kamu bersikap bigini kapan selesaianya?” kata Bella.
“Ini mungkin tidak akan pernah selasai,” kataku putus asa.
“Iya. Masalah ini tidak akan selesai, kalau kamu bersikap begini. Kamu menyimpan kebencian, memenuhi dirimu dengan penderitaan. Bagaimanapun kamu membutuhkan orang tua, membutuhkan kasih sayangnya. Kamu harus berusaha merubah dirimu,” kata Bella lembut.
Mendengarnya aku merasa agak tenang. Memang sepertinya mudah, namun sungguh berat bagiku untuk melakukannya. Aku berusaha untuk bersikap lebih dewasa. Aku pulang kembali ke rumah. Bunda dan ayahku masih di sana.
“Sekarang, sebenaranya apa yang ayah bunda inginkan dari saya,” kataku dengan datar.
“Maafkan Bunda, Yoga. Kami sepakat, kalau kamu mau, kamu setelah lulus SMP ikut Bunda ke Bandung,” kata bunda dengan lembut.
“Sebenarnya, aku ingin bersama bunda. Namun jika ingat peristiwa yang lalu, aku jadi ragu. Beri aku waktu,” kataku masih datar.
Bunda kemudian memberikan kartu nama. Bunda berharap aku memberi kabar setelah aku membuat keputusan. Setelah itu bunda pergi meninggalkan rumah. Aku masuk kamar tanpa menghiraukan ayah.
Tak berapa lama, saat aku keluar rumah, akukembali bertemu dengan Bella. Kuceritakan semua pembicaraan dengan bundaku. Bella menyimak ceritaku. Sepertinya ia mendukung aku ikut bunda ke Bandung.
“Di tempat itu, kamu akan lebih tentram. Kamu tidak akan melihat ayahmu bersama keluarga barunya. Kamu bisa melupakan, dan menjalani kehidupan baru,” katanya lembut.
“Tunggu.., kalau aku ke Bandung berarti kita pisah dong?”
Kulihat wajah Bella berubah. Sepertinya ia juga berat pisah denganku.
“Tetapi kamu harus bersama dengan keluargamu. Kita kan bisa berhubungan lewat telphon, email atau surat,” katanya menghibur diri.
Blora, 12 Mei 2010
Hari ini benar-benar hari yang membingungkan, antara perasaan sedih sekaligus bahagia. Aku bahagia karena aku lulus, namun sedih harus segera pisah dengan Bella untuk menyusul tingga bersama bunda di Bandung.
“Selamat ya, mudah-mudahan kamu senang dan bahagia di Bandung,” tiba-tiba Bella sudah berada di sampingku.
“Ya, aku sedih harus pisah denganmu, Bell. Aku pasti akan sangat merindukanmu.”
“Apalagi aku,” ucap Bella dengan suara sendu.
Blora, 20 Mei 2010
Tepat pukul 06.00, aku dan bunda sampai di Bandung. Aku sekarang telah berdiri tepat di depan rumah bunda. Rumah bercat kuning ini terasa sejuk.
“Ayo, Sayang masuk,” ajak bunda.
Aku masuk dalam rumah baru dan kehidupan baru. Aku berharap hidupku ke depan lebih baik.
Bandung, 29 Juni 2010
Aku terbaring di rumah sakit. Aku belakangan ini sering sakit-sakitan. Mulai dari sakit ringan hingga harus opname, seperti saat ini. Bundaku selalu mendampingiku.
“Yoga, sakit apa, Bunda?” tanyaku.
“Tidak masalah. Yang penting sekarang, Yoga selalu dekat Bunda. Sebentar juga sembuh,” jawab bunda sambil mengelus rambutku. Kurasakan kasih sayang itu mengalir ke seluruh tubuhku. Kini kusadari betapa arti penting kasih sayang bunda kepadaku. Dalam sakitku, aku diberikan apa yang selama ini telah hilang. Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Rasa sakit itu kini telah tidak ada lagi. Terimakasih Tuhan. (*)


***********************************************************
  
TENTANG PENULIS

Nama                        : Vinca Dia Kathartika Pasaribu
Sekolah        : SMPN 1 Jember Jawa Timur
Judul                        : Hikayat Seorang Bocah

Nama                        : Luisa Leonardo
Sekolah        : SMP  Dyatmika Denpasar Bali
Judul                        : Semua Butuh Waktu

Nama                        : Achmad Nasta’in
Sekolah        : MA Ma’arif 7 Sunan Drajat Paciran Lamongan Jawa Timur
Judul                        : Goa Ngerong

Nama                        : Amri Ramadhan
Sekolah        : SMAN Sragen Bilingual Boarding School Jawa Tengah
Judul                        : Bahagiaku Surga Mereka Sengsaraku Pilu Mereka

Nama                        : Mahardika Prihati Yuda
Sekolah        : SMAN 3 Unggulan Kayuagung Sumatera Selatan
Judul                        : Pak Tua dan Becaknya
Nama                        : Fardian Bimo Aji
Sekolah        : SMPN 2 Kesugihan Cilacap Jawa Tengah
Judul                        : Krisis di Bumi

Nama                        : Landia Rani Astiti
Sekolah        : SMAN 1 Wonosobo Jawa Tengah
Judul                        : Saya, Biasa dan Luar Biasa

Nama                        : Ankaa Rafflesia Andhini
Sekolah        : SMAN 2 Blora Jawa Tengah
Judul                        : Hukum Karma Cinta

Nama                        : Anatalia Dwi A
Sekolah        : SMA Katolik Wijaya Kusuma Blora Jawa Tengah
Judul                        : Bola Basket Cintaku

Nama                        : Sukron Jayadi
Sekolah        : SMAN Long Ikis Daser Kalimantan Timur
Judul                        : Petaka Rokok

Nama                        : Aryati Rahayu
Sekolah        : SMK 2 Blora Jawa Tengah
Judul                        : Sampai Bapak Menutup Mata

Nama                        : Widya Naurmala
Sekolah        : SMP di Blora Jawa Tengah
Judul                        : Diary Depresiku


###########################################################


Dapatkan tulisan-tulisan yang lain pada posting berikutnya :
“ Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa Jilid IV “
Semua adalah persembahan Pataba Press Blora
Pataba ada di Blora untuk Indonesia dan dunia
Membangun Masyarakat Indonesia
adalah
Membangun Budaya Membaca dan Menulis






Tidak ada komentar:

Posting Komentar