Rabu, 16 Mei 2012

Mutiara Dari Bantul Hingga Blora "Catatan Diri Seorang Hermawan"


MUTIARA DARI BANTUL HINGGA BLORA
Catatan Diri Seorang Hermawan

Catatan yang berceceran tidak karuan ini, sengaja disusun sebagai upaya terlemahku, dalam mendokumentasikan berbagai hal tentang keluargaku di Bantul. Meskipun dari Bantul, sang waktulah yang menempatkanku hingga terdampar di bumi Blora. Aku tidak tahu sedang mencari apa di Blora, mungkin tersimpan mutiara di tanahnya.
 Dulu di tanah Bantul aku lahir. Hingga sekarang, aku belum menjadi siapa-siapa. Di tanah Blora, dulu lahir tokoh-tokoh besar yang berani menentang tirani. Aryo Penangsang yang gagah, dipaksa bersimbah darah, dengan usus semburat, sebagai konsekuensi sikap kerasnya. Samin Surosentiko berakhir riwayatnya di pembuangan, karena melawan kolonial. Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo, rela meregang nyawa demi keyakinan terhadap Negara Islamnya. Pramoedya Ananta Toer  sastrawan kelas dunia, separo hidupnya lebih akrab dengan tembok pengap penjara, daripada udara segar kebebasan, akibat tulisan-tulisannya. Juga Sang Pemula, Tirto Adhi Soerjo perintis pers nasional, yang menginspirasi generasi berikutnya. 
Di Bantul aku lebih mengenal keluargaku dan hampir seluruh kerabat besar Trah Mangunharjan dan Wongsoharjan. Di Blora aku mengenal sosok besar yang rela tinggal di rumah mungil di ujung jalan kecil. Sosok yang mengajariku banyak hal, meski belum lama kenal. Sosok yang menyokong spirit luar biasa dalam menjalani hidup dengan penuh keikhlasan. Sosok besar yang namanya terpayungi oleh kebesaran nama kakaknya, Pramoedya Ananta Toer. Sosok yang aku anggap sebagai guru dalam berbagai ilmu, kawan diskusi dalam segala situasi, dan seorang bapak yang sangat mengayomi.
Sosok besar itu adalah Bapak Soesilo Toer, yang mau menerima kehadiranku dalam setiap kesempatan di rumahnya. Dalam kesehariannya yang padat, beliau masih mau memberikan waktunya untuk membaca catatan-catatanku yang mungkin baginya tidaklah berarti. Sikap yang membuatku kagum, sejak kali pertama ketemu di Masjid Agung Alun-Alun Blora. Terimakasih Pak Soes atas semuanya.
Tidak lupa terima kasihku untuk kekasihku sepanjang waktu, Sang Cahaya Penyambung Nyawa, istri tercinta. Juga kepada malaikat-malaikat kecilku yang sekarang sudah mulai membesar : Uzan, Ian, Yupi dan gendhuk tercantik Tazkia. Catatan-catatan ini untuk kalian. Hanya sebatas mencatat yang dapat aku perbuat untuk mendokumentasikan penggalan-penggalan kisah hidup. Sekecil apapun itu, aku yakin akan memberikan manfaat.
Catatan ini terdiri dari beberapa ceceran persitiwa yaitu :
·         Kepuh The Killing Field “Tragedi Pembunuhan Berencana”
·         Tragedi Gerombolan Nasi Bungkus/PKI
·         Ketoprak Sayembara “Mayat Hidup Lahir Dalam Kubur”
·         Nyaris Menangis di Parangtritis
·         Batu Hitam Berdarah
·         Sengatan Misterius Kupu-Kupu Malam
·         Sumur Berdarah
·         Nyuluh Pemburu Kersen
·         Foto Keluarga
·         Karate Kantong Gandum
·         Apapun Musibahnya Honda Biangnya
·         Si Pitung Jelajah Gunung
·         Listrik Masuk Kampung
·         Nonton Konser I “Beatles Sukses Raksasa Godbless”
·         Nonton Konser II “Rock Siang Bolong Setengah Gila”

Jika dalam catatan ini ada nama-nama yang saya cantumkan, itu memang untuk menjaga keotentikan dokumen perjalanan hidup saya. Mohon maaf jika kurang berkenan. Silakan gunakan hak-hak yang sewajarnya untuk membantah catatan ini dengan tulisan pula. 
Terimakasih

Kudus-Blora-Bantul, 16 Mei 2012
Hermawan Widodo