Jumat, 11 Mei 2012

Baratayuda "Perang Haq-Batil Atau Perang Dipaksakan?"


Lembar Budaya
B A R A T A Y U D A
Perang Haq-Bathil atau Perang Dipaksakan?
Hermawan Widodo

Beberapa pertanyaan iseng yang berkaitan dengan baratayuda, belum saya dapatkan jawabannya baik yang iseng atau serius. Saya yakin pertanyaan-pertanyaan itu pasti akan dianggap konyol. Pertanyaan dari orang yang tidak mengerti kenthang kimpule cerita baratayuda versi Jawa. Namun untuk memuaskan keisengan saya, apapun anggapannya, akan saya terima dengan lapang dada, dan tangan terbuka, demi mendapatkan jawabannya.

·         Bagaimana hirarki kekuasaan di kahyangan itu?
Yang saya dengar dari uraian dalang Ki Hadi Sugito saat semalam suntuk mengudara di radio PTDI, pimpinan tertinggi kahyangan adalah Bethara Guru. Namun dalam berbagai cerita, Bethara Guru dikisahkan sering berbuat salah. Semar yang yang berani menegurnya. Bethara Guru hanya tunduk ketika pemomong Pandawa itu marah-marah kepadanya. Demikian juga Semar akan selalu manthuk-manthuk di hadapan Hyang Pada Wenang. Siapakah Hyang Pada Wenang ini, diakah sang penguasa mutlak,yang  tak ada lagi kekuasaan di atasnya?

·         Mengapa perseteruan harus diselesaikan dengan perang?
Ketika Kresna menjadi duta untuk menyelesaikan urusan Pandawa dan Kurawa, mengapa sebagai manusia yang dianggap waskitha, ia tidak mampu menyelesaikan misi itu dengan win-win solution? Saya hanya mendengar cerita dari ki dalang, waktu itu antara kubu Duryudana dan Yudisthira tidak sedang dalam kondisi perang. Duryudana dan bala kurawa hidup aman di kerajaannya, Yudistira dan saudaranya juga sudah menempati wilayah merdeka yang aman. Apa yang diperebutkan dalam perang itu? Alangkah indahnya jika keluarga barata itu bisa hidup rukun damai sejahtera bersama rakyat di negara masing-masing yang berdaulat.

·         Pendawa benar, Kurawa salah?
Saya benar-benar awam tentang miqdar al haq untuk menimbang kebenaran Pandawa dan Kurawa ini. Jika pihak Kurawa salah, di sana berdiri Bhisma, tokoh yang bagi saya tidak perlu disangsikan lagi dalam menegakkan kebenaran. Ada Salya, juga ada Karna dan Durna meski yang ini agak kontroversi.  Juga si bule Baladewa, di pihak mana dia selama perang berkecamuk?
Kresna pasti berdiri di belakang Pandawa. Namun dari tokoh ini, saya malah sering mendengar dari uraian ki dalang strategi-strateginya dalam memenangkan perang. Yang klasik adalah strategi Kresna membohongi Durna tentang kematian anaknya. Kresna dengan lihai memasang Gatutkaca untuk menghadapi senjata ampuh Karna. Kresna dengan sengaja memberitahu titik kelemahan Suyudana, saat Bima duel adu gada dengan raja Hastina itu. Kresna dengan kesaktiannya menutup matahari, sehingga Arjuna yang sudah putus asa bisa memenuhi janjinya membunuh musuhnya sebelum matahari tenggelam. Itu semua adalah strategi licin Kresna dalam perang besar itu. Saya tidak berani menyebutnya dengan sebagai strategi licik, tetapi jelas kotor, menodai jiwa perwira yang berani konsekuen dan menjunjung kejujuran.

·         Perang demi apa-untuk siapa?
Menurut ki dalang, Kresna harus mengendalikan perang sesuai dengan kitab yang baku, skenario para dewa. Karenanya tokoh-tokoh yang diyakini bakal mengganggu jalannya perang sesuai skenario, harus disingkirkan dulu. Ontorejo, Ontoseno dan Wisanggeni yang super sakti harus mati sebelum perang dimulai. Empunya senjata nenggala disingkirkan, meski tidak dimatikan. Kresnakah yang berambisi? Atau dewa-dewa kahyangan yang tidak mau kompromi?
Jalannya peperangan yang begitu dahsyat sudah dipahami. Tetapi setelah perang usai, yang terjadi tidaklah seperti semangat ketika memulai. Yudistira tidak lagi berselera menjadi raja. Dia lebih sedih kehilangan saudara-saudaranya. Dua ibu yang anak-anaknya berseteru dan saling bunuh, selesai perang justru dengan guyup rukun menyingkir ke dalam hutan ditemani Widura. Tragis, tak berapa lama kemudian, ketiganya tewas terbakar di dalam hutan. Tak kalah tragis adalah seluruh nasib kawula Kresna, habis tak tersisa, saling bunuh sesama bangsanya sendiri. 
Untuk apa perang itu? Sungguh pilu kalau hanya sekedar untuk memenuhi nadzar yang begitu sangar, keramas dengan darah saudaranya sendiri. Atau alangkah rendahnya makna perang jika sebatas untuk melampiaskan dendam.

Namun itulah penggalan-penggalan kisah yang menyisakan pertanyaan saya. Meski ki dalang sudah semalam suntuk membeberkan ceritanya, jawaban itu tidak saya temukan hingga tancep kayon.

** Hermawan Widodo **
Bakule Kacang “Nyamleng” Kunden Blora