Jumat, 11 Mei 2012

Menjawab Artikel Baratayuda Perang Haq-Batil Atau Perang Dipaksakan


SIAPA PUN TAK BERHAK
MERANCANG NASIBNYA SENDIRI *
Soetarmin Purwo S. Dono

Saudara Hermawan Widodo, dalam tulisannya (Kilas Fakta edisi 10 januari 2012) melontarkan beberapa pertanyaan yang menggelitik saya untuk menjawabnya. Pertanyaan itu meliputi : - Bagaimanakah hirarki kekuasaan di kahyangan, - Mengapa perseteruan harus diselesaikan dengan perang, - Apakah Pendawa benar, Kurawa salah, - Perang baratayuda demi apa, untuk siapa, - Kresnakah yang berambisi atau para dewa yang tidak mau kompromi.
Hirarki kekuasaan di kahyangan dikaitkan dengan perang baratayuda jawabannya pada lakon ‘Kresna Gugah’. Pihak Pandawa dan Kurawa telah mendapatkan wahyu atau petunjuk, siapa saja yang mampu membangunkan Kresna yang berubah wujud menjadi raksasa dari pertapa tidurnya, maka dialah yang akan menjadi pemenang dalam perang. Sebenarnya raksasa yang sedang pertapa tidur itu adalah jasmani Kresna. Sedangkan ruhani/sukmanya masuk ke ruang kerja Bethara Guru dan Bethara Narada. Sebelum dua dewa ini membuat skenario perang baratayuda, Kresna menyelinap di bawah meja Bethara Guru. Bethara Guru yang berbicara, sedangkan Bethara Narada yang mencatatnya. Ketika skenario baru selesai ditulis, dan tinta belum lagi ditutup, tiba-tiba datang Arjuna menghadap. Melihat kedatangan Arjuna, Kresna yang berada di bawah meja turut menyambutnya. Maka tumpahlah tinta itu membasahi skenario perang yang baru saja ditulis. Namun Kresna memiliki keistimewaan sehingga ia mampu menghafal seluruh skenario itu, sejak awal hingga akhirnya.
Kresna bertanya kepada Arjuna, apa permintaannya dalam perang baratayuda ini? Arjuna menjawab supaya para Pandawa unggul dalam peperangan. Mendengar itu, Kresna kaget, dan menanyakan kembali, lalu bagaimana dengan anak-anak dari Pandawa. Arjuna juga mohon anak-anak Pandawa semua selamat. Hal itu tidak mungkin terjadi karena seorang ksatria hanya boleh berkata sekali, tidak berubah-ubah, sabda ratu tan kena wola-wali.
Perang baratayuda terjadi atau tidak, kuncinya ada pada Suyudana. Jika Suyudana rela menyerahkan kerajaan kepada yang memiliki hak, bahkan hanya separonya saja, maka perang tidak akan terjadi. Kresna sebagai duta resmi Pandawa tidak mampu menyadarkan Suyudana. Sehingga membuat keputusan, mempertahankan kerajaan dalam kekuasaannya dengan perang. Setelah Kresna tidak mampu ‘mengalahkan’ Suyudana, untuk mengembalikan kerajaan kepada Pandawa, Kresna tidak langsung kembali, namun mengunjungi Kunti, ibu para Pandawa. Kresna mengajak Kunti ke Amarta. Sebelum pergi ke Amarta, Kunti bertemu dengan Karna, anak hasil hubungan gelapnya dengan Dewa Surya. Kunti membujuk Karna untuk berpihak dengan Pandawa. Namun Karna tidak mau karena sudah merasa berhutang budi banyak kepada Kurawa. Dia merasa memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk membelanya. Meskipun resikonya harus berhadapan dengan saudara-saudaranya sendiri seibu. Untuk itu kepada Kunti, Karna berjanji siap mati dalam perang itu untuk kemenangan Pandawa.
Ketika perang baratayuda akhirnya terjadi, Karna tanding melawan Arjuna. Karna dapat dikalahkan oleh Arjuna dengan senjata andalannya Pasopati. Saat lakon ‘Karna Tanding’ ini, Kresna banyak memberikan wejangan kepada Arjuna. Pelajaran itu disebut dengan Astha Brata (8 pengajaran).
Dr. GAJ Hazea dalam tulisannya yang kemudian digubah oleh Mangkudimejo dalam bahasa Jawa ‘Kawruh Asalipun Ringgit Sarta Gegepokanipun Kaliyan Agami Ing Jaman Kina’ menyebutkan, Prabu Jayabaya berkehendak menggambar para leluhurnya. Setelah selesai kemudian disebut dengan wayang purwa. Pembuatan gambar dimiripkan para dewa, para manusia di awal jaman. Hal itu dilakukan kira-kira pada tahun 861 saka atau 1339 masehi. Menurut catatan dari tulisan Jawa kuno menyebutkan adanya pertunjukan wayang sudah dilakukan pada 400 tahun sebelum masehi. Yaitu ketika ‘kepercayaan yang dianut sebagian besar bangsa Melayu Plinesia’ belum tercampur dengan agama Brahma atau Budha. Orang Jawa masih melaksanakan kepercayaannya sendiri.
Pada buku Negarakertagama halaman 72 baris 1-5 disebutkan Lohgawe berlayar ke tanah Jawa mencari orang bernama Ken Arok dengan ciri-ciri tangan panjang melebihi lututnya, rajah telapak tangan kanannya cakra, kirinya tutup kerang. Lohgawe menemukannya di desa Taloka. Ketika Raja Dandang Gendhis bersumpah tidak dapat dikalahkan kecuali oleh Bethara Guru, maka Ken Arok mengambil nama-nama Bethara Guru disaksikan oleh para pendeta. Namun ketika pengaruh Hindu sudah menurun, Tuhannya orang Jawa asli kemudian muncul lagi ditempatkan di atas posisi Tuhannya orang Hindu yaitu Sang Hyang Toga/Sang Hyang Pada Wenang/Sang Hyang Tunggal. ‘Beliau’ hanya seorang diri, di atas para dewa yang dikepalai oleh Bathara Guru.
Pada awalnya, wayang bertangan menyatu dengan tubuh. Namun kemudian berkembang, wayang kulit memisahkan tangan antara bahu dan lengannya. Kecuali Bethara Guru saja yang masih memakai tangan dan bahu menyatu dengan tubuhnya. Hal itu dimaksudkan untuk mengingat karya jaman Mataram pertama.
Demikian sedikit yang dapat saya sampaikan untuk mencoba menjawab tulisan saudara Hermawan Widodo. Atas perhatiannya disampaikan terimakasih. Mohon maaf jika kurang berkenan.


 Soetarmin Purwo S. Dono, penulis buku ‘Wedha Sanyata Seputar Islam’
Tinggal di Desa Bangkle Kota Blora
* Dikutip dari judul tulisan Dr. Soesilo Toer, PhD