Rabu, 16 Mei 2012

Karate Kantong Gandum


  KARATE KANTONG GANDUM

Hermawan Widodo


Sejak kecil saya sudah senang dengan olah raga beladiri. Alasannya sederhana, yaitu saya senang melihat orang bisa berkelahi, ciat-ciat dan menang. Nampak gagah, heroik dan macho, benar-benar laki-laki. Selain itu juga pengaruh dari film-film adu jotos baik lokal maupun dari luar.
Film dari luar kebanyakan film Mandarin. Film yang isinya jotosan terus, sehingga  banyak teman yang menjuluki sebagai film Chino ngamuk. Film laga lokal umumnya dibintangi oleh mantan atlet beladiri. Yang terkenal adalah Barry Prima, Advent Bangun, George Rudy dan lainnya. Sedangkan pemeran film Chino ngamuk yang sering saya lihat adalah Liu Tek Hua yang kemudian jadi Andy Lau, Ti Lung, Chen Lung yang menjadi Jacky Chan, Samo Hung dan lainnya.
Bruce Lee sebagai king of kungfu, malah belum pernah saya tonton filmnya di bioskop. Tahun ‘80an film-film Bruce Lee sudah tidak beredar lagi di bioskop. Saya melihat aksi bintang film pertama Tiongkok yang mampu menaklukkan Amerika dan dunia itu di video. Kebetulan rental video cukup lengkap menyediakan film-film Bruce Lee. Semua film Bruce Lee sudah saya lihat. Dialah idola untuk urusan jotosan ini.
Selain pengaruh dari luar, sebenarnya secara genetik saya memiliki darah pendekar. Pak Tuwo, sebutan untuk mbah dalam keluarga saya, baik dari bapak maupun ibu merupakan orang-orang yang memiliki skill mumpuni dalam hal adu jotos itu. Utamanya bapaknya ibu, selain sebagai tokoh ketoprak pada jamannya, dia adalah seorang pendekar, pelatih pencak silat bahkan memiliki padepokan perguruan silat dengan murid yang banyak. Nama besarnya sudah sering saya dengar dari cerita banyak orang. Meskipun sudah cukup berumur Pak Tuwo masih cukup energik. Badannya masih langsing. Untuk urusan adu jotos, meski sudah dimakan usia, Pak Tuwo masih ditakuti.
Pernah suatu ketika adik saya Igun berkelahi dengan temannya. Karena kalah, temannya itu mengadu kepada bapaknya. Bapaknya kemudian menghadang Igun saat pulang sekolah dan melakukan intimidasi disertai kekerasan. Igun menangis dan berjalan pulang. Sampai di rumah ditanya oleh Pak Tuwo. Igun waktu itu memang tinggal bersama Pak Tuwo, tidak bareng dengan saya dan adik-adik di rumah sendiri. Igun mengadu kalau habis dihadang oleh bapak temannya yang kemarin berkelahi dengannya. Dijelaskan oleh Igun, kalau orang itu rumahnya Druwo desa sebelah. Mendengar itu Pak Tuwo langsung mengambil sepeda, Igun diboncengkan dan langsung memacu sepeda menuju Druwo.
Sampai Druwo Pak Tuwo langsung  menemui dukuhnya. Pak dukuh yang sudah mengenal Pak Tuwo tentu kaget melihat kedatangan Pak Tuwo yang tidak biasanya. Lebih kaget lagi ketika Pak Tuwo minta warganya yang baru saja memukul Igun dihadirkan mau diajak jotosan sesama orang tua. Di hadapan Pak Dukuh, Pak Tuwo marah-marah. Melihat kegaduhan itu banyak warga yang ikut merubung. Dari situ baru diketahui siapa yang baru saja memukul Igun. Seorang laki-laki masih muda datang membawa belati.
Melihat itu Pak Tuwo langsung mendamprat ,“Orang tua hanya berani melawan bayi. Sini kamu, hadapi orang tua ini, kalau sudah bosan hidup!”
Ternyata orang itu tidak takut, “Saya tidak takut dengan seorang tua bangka!”
Meski lisannya menyatakan tidak takut, ternyata dia tidak segera menyerang Pak Tuwo. Dia hanya memainkan belatinya. Belati bergagang hitam itu diputar-putar dengan tangan kanannya. Saat orang itu akan menyerang Pak Tuwo, justru orang-orang yang berkerumun itu menjadi ketakutan. Mereka tanpa dikomando mendekati orang itu dan berusaha meringkusnya.
Mereka berteriak,  “Kamu berani melawan Mbah Darmo, sakali gebrak modar kamu. Sudah pulang saja, dia bukan tandinganmu!”
Meski memberikan perlawanan, namun orang itu mampu juga dibawa menjauhi arena.
Setelah orang itu pergi, Pak Dukuh kemudian meminta maaf atas ulah warganya. Dia mohon Pak Tuwo tidak meladeni orang itu, biar warga Druwo yang memberikan pelajaran. Pak Tuwo bisa menerima, namun hatinya masih gonduk juga.
Dengan tegas dan keras dia bilang ke dukuh itu, “Biar tuwa jika ular welang, bikin mati sekali gigit!”
Pada hari yang lain, saat pak Tuwo pulang malam-malam dari Kepuh ke Saman, tanpa disangka Pak Tuwo dicegat oleh tiga orang di tengah jalan. Begitu melihat ada yang menghalangi laju sepedanya, Pak Tuwo meminggirkan sepeda itu kemudian meletakkan di pinggir jalan. Dia datangi tiga orang itu dengan gaya pendekar.
Begitu mendekat Pak Tuwo langsung menyalak, “Maumu apa menghalangi jalan orang tua?”
Tiga orang itu kaget saat orang yang dicegatnya justru mendatangainya. Lebih kaget lagi ternyata yang dicegatnya itu adalah Darmo Dalimun Saman. Mereka langsung mengkeret.
Dengan merendah bilang, “Eh mbah Darmo. Dari mana malam-malam Mbah?”
“Dari mana-dari mana, dengkulmu mlocot!” semprot Pak Tuwo kepada begundal yang mengahalangi jalannya itu.
Itu kejadian saat Pak Tuwo sudah berumur tujuh puluh tahunan. Sepak terjang Pak Tuwo saat masih muda lebih heboh lagi, yang akan saya ceritakan dalam bab tersendiri. Saat meninggal Pak Tuwo umurnya lebih dari 80 tahun. Meskipun Pak Tuwo adalah pendekar yang disegani, namun dia tidak mau mengajari, melatih dan menurunkan ilmu silatnya kepada saya. Padahal saya adalah cucu laki-laki pertamanya, cucu kesayangannya.
Saya ikut berlatih beladiri pertama kali, waktu kelas 4 SD. Saat itu ada tetangga yang umurnya beberapa tahun lebih tua dari saya, Harjiu namanya, biasa dipanggil Gedud. Dia sudah ikut berlatih karate di Kotagede. Karena baru awal dan masih sangat bersemangat berlatih, maka dia memiliki rasa pede tinggi sebagai karateka tingkat Taman Kanak-Kanak.
Baru beberapa bulan berlatih dia sudah mengajak anak-anak  berumur di bawahnya, termasuk saya untuk dilatih karate. Latihan karate dilakukan di lapangan volley dekat rumah saya. Lapangan volley yang ada di Kepuh Lor saat itu meminjam kebun milik Mbak Jazim, bulik saya.
Hari itu, Sabtu malam Minggu, kami berkumpul di lapangan itu. Cukup banyak yang ikut  sekitar 15 anak, semua sepantaran  saya. Malam itu bulan tidak menampakkan dirinya. Saya dan anak-anak lain dibariskan dengan jarak sekitar 1 meter. Gedud yang agak kekar itu, kemudian mengajarkan pemanasan. Setelah itu dia mengajarkan gerakan-gerakan dasar karate.
Dia memberikan contoh gerakan yang kemudian kami tirukan, mulai dari kuda-kuda, pukulan dan tendangan. Dengan gaya mirip-mirip pelatih beneran, Gedud memberikan aba-aba dengan teriakan lantang , “Kuda-kuda, cu dang cu ki…!”
Saya dan anak-anak lain bergerak sesuai aba-abanya sambil berteriak,  “Yaech!”
Karena latihan dilakukan di malam hari tanpa penerang alam maupun buatan, gerakan yang kami lakukan tidak bisa dikontrol akurasinya. Yang penting keras berteriaknya, maka sudah dianggap benar.
Ternyata latihan karate model seperti itu tidak berlangsung lama. Saya hanya ikut sekali itu saja, untuk selanjutnya tidak pernah ikut lagi. Anak-anak lain juga, tidak ada yang melanjutkan latihan karate tanpa pola itu.
Kelas 5 SD saya diajak Isul, teman sekelas saya, berlatih bela diri pencak silat tapak suci di Kotagede. Latihan tapak suci itu dilakukan malam hari. Pertama ikut latihan, karena saya tidak punya seragam latihan, saya dipinjami celana silat warna putih oleh Odin. Sebenarnya tidak ada seragam khusus, yang penting memakai celana silat dan berkaos.
Kami bertiga, saya, Isul dan Odin berangkat dengan bersepeda, bersama-sama dari rumah Isul di Glondong. Tempat latihan yang dituju ada di utara kantor pos Kotagede. Di sebelah show room HS Silver, kerajinan perak khas Kotagede, masuk gang ke timur. Ada sebuah aula seluas sekitar 150 meter persegi di samping  rumah. Di tempat itu sudah ada beberapa orang yang juga akan ikut latihan silat.
Tak berapa lama datang seseorang yang ternyata adalah pelatih. Orangnya masih muda, kulit kuning, rambut lurus dan berbadan kurus, tidak nampak layaknya jagoan berantem. Pelatih langsung mengajak memulakan latihan dengan berdoa, kemudian pemanasan sebentar dan dilanjutkan latihan jurus.
Setelah mempelajari beberapa jurus, kami kemudian duduk membuat lingkaran. Saat itu sesi latihan full body contac, yaitu berlatih adu jotos. Dua orang diminta berdiri kemudian memberi hormat pada pelatih dan berantemlah mereka. Gabrus..gabrus..gabrus..adu jotos itu berlangsung sekitar 5-10 menit. Tergantung pelatih menghentikan keduanya dari aksi adu jotos dan adu tendang itu.
Saya sudah was-was menghadapi sesi ini. Bagaimana tidak, baru datang  sekali latihan, sudah dihadapkan pada sesi adu jotos beneran. Tetapi saat itu saya sudah meniatkan diri untuk nekat dan menyiapkan  jurus pamungkas berupa jurus mengamuk, obral pukul dan tendang. Pokoknya harus bisa memukul atau menendang, meskipun saya nanti akan menerima pukulan atau tendangan lebih banyak. Saya tidak mau menjadi kambing congek yang dengan mudah dipukul tanpa balas. Widji Thukul mungkin terinspirasi oleh tekad saya ketika dia meneriakkan slogannya yang legendaris: “Hanya satu kata. Lawan!”
  Ternyata latihan itu hanya berlangsung untuk 3 pasang saja. Setelah 3 kali  diperagakan adu jotos oleh 6 orang, sesi itu diakhiri dan sekaligus menutup latihan perdana saya di Kotagede.
Saya berlatih tapak suci di Kotagede ini, juga tidak berlangsung lama. Tidak sampai 5 kali saya ikut latihan. Berhentinya saya dari berlatih pencak silat khas Muhammadiyah itu, karena latihan dilakukan pada malam hari. Selesai latihan, sudah mendekati jam 10 malam. Saat itu di Kepuh Lor belum ada listrik, maka jam selarut itu sudah sangat gelap. Sementara untuk pulang dari Glondong ke Kepuh Lor harus lewat area sawah yang luas. Timbul kemudian penyakit  klasik saya ialah malas. Penyakit itu menyerang dengan sangat sitematis. Mula-mula, sekali tidak ikut latihan. Berikutnya tidak ikut lagi, hingga latihan itu tidak saya ikuti lagi, sampai akhirnya berhenti total dengan sempurna.
Meskipun sudah tidak ikut latihan lagi, namun celana silat milik Odin yang saya pinjam belum saya kembalikan, tetap saya simpan dalam kondisi bersih.
Kelas 6 saya diajak Limpung ikut latihan beladiri di Balai Desa Potorono. Dengan bekal celana milik Odin dan kaos saya berangkat bersama Limpung ke Balai Desa Potorono. Sebelumnya mampir ke Dusun Balong untuk menyambangi Sulis, kerabat Limpung yang sudah mendaftar duluan. Nama perguruan itu Porbika, akronim dari Persatuan Olah Raga Beladiri Karate. Pendiri dan guru besarnya adalah anggota garnizun Kodim Sleman. Perguruan itu pusatnya di Sleman, sedangkan di Potorono adalah cabangnya.
Waktu latihan pertama hanya ditanyakan namanya dan kemudian diminta langsung ikut latihan. Saat itu ada sekitar empat puluh orang, kebanyakan laki-laki, hanya sedikit yang perempuan. Pelatihnya adalah Darno dan kakaknya dari Nggandu Berbah serta Hardi dari Potorono. Ada teman berlatih yang sampai sekarang masih saya ingat, Kelik panggilannya, anaknya Pak Lurah Potorono, yang sekolah di SMPN Baturetno, tempat saya sekolah kemudian.
Latihan yang diajarkan, dasarnya adalah karate, namun perguruan ini bukan hanya mengajarkan karate. Berbagai seni beladiri seperti judo, jiu jitsu bahkan gulat digabungkan dan diajarkan. Makanya di ujung sabuk ada tulisan kajigawa yang maknanya karate, jiu jitsu, gulat dan yudo. Rasanya kok tidak pas akronim itu. Biarlah namanya juga akronim, mau disingkat apa saja tidak akan ada yang protes.
Tahap awal adalah gerakan dasar semacam kuda-kuda, cara menggenggam tangan, memukul dan menendang. Setelah itu baru diberikan latihan jurus yang disebut dengan jurus dan kombinasi. Jurus satu diajarkan pertama, kemudian jurus dua dan seterusnya. Setelah jurus baru diajarkan kombinasi satu, kemudian kombinasi dua dan seterusnya. Saya tidak bisa membedakan antara jurus dan kombinasi, sebab sepertinya sama saja.
Oh..nya, sebelum latihan itu ada ritual berdoa. Kami duduk bersila berjajar. Pelatih di depan menghadap kami. Kemudian kami mengatur pernapasan dengan mengambil dan membuang napas dalam-dalam. Setelah itu kemudian berdoa menurut keyakinan masing-masing. Saya kira semua Islam, karena saat itu non muslim jarang ada di antara kami. Selesai berdoa kami kemudian berdiri dengan cara meloncat dari posisi duduk dan berteriak dengan keras , “Yeach..!!”. Itu ritual yang selalu saya ingat.
Suatu saat ada acara di Kelurahan Potorono, kami dilibatkan untuk menjadi pengaman sekaligus pendamping sisi kiri dan kanan pembicara di panggung. Tidak tahu apa alasannya, kami mesti naik di panggung mendapingi para bapak yang sedang pidato. Meski begitu rasanya juga bangga, menggunakan uniform beladiri dan berdiri tegak di belakang kanan dan kiri pejabat desa, mirip ajudan presiden saat pidato.
Saat kami persiapan di aula balai desa, kami duduk untuk berdoa dan selesai berdoa kami berdiri meloncat dan berteriak , “Yeach!”
Tentu aksi kami membuat kaget orang-orang yang berekerumun di balai desa Potorono. Mereka langsung menoleh dan melihat kami. Sepertinya mereka kagum kepada kami. Wah saat itu rasanya  melambung dan ge er.
Suatu ketika setelah beberapa kali ikut latihan, saya mengalami nasib apes oleh akibat celana silat yang sudah buluk dan lapuk milik Odin. Saat itu latihan yang diajarkan adalah melakukan tendangan. Saya selalu bersemangat untuk latihan jenis ini. Hal itu, karena sejak saya ikut pertama kali latihan sudah mendapatkan pujian dari pelatih untuk gerakan yang mengandalkan kaki ini.
Saking semangatnya saya melakukan tendangan itu dengan melemparkan kaki tinggi-tinggi. Saat itu saya betul-betul pol menendangnya. Dalam posisi kaki di atas, tanpa diduga terdengar suara preet..week..persis dari selangkangan saya.
Tentu semua yang sedang konsentrasi menendang itu mencari sumber suara. Dan sayalah sumbernya. Celana naas milik Odin itu sobek sesobek-sobeknya persis di selangkangan. Karuan semua tertawa berjama’ah tanpa bisa dibendung lagi. Saya yang jadi obyek tertawaan, menjadi merah padamlah mukanya. Beruntung, saat itu saya masih menggunakan celana dobel, berupa celana pendek warna hijau.
Celana pendek itu yang mampu menahan malu saya, sekaligus menahan isi celana, untuk tidak melesat keluar. Tak terbayang jika saya tidak memakai celana dobel, atau malah sama sekali tidak memakai celana dalam. Jika itu terjadi pada jaman sekarang, sudah terkena pasal UU Anti Pornografi, delik aduan mempertontonkan anggota tubuh yang tidak semestinya, di tempat umum.  
Meskipun sudah terlanjur malu, saya tetap ikut latihan dengan celana sobek itu hingga selesai. Tak butuh satu menit pasca latihan, celana sobek pembawa malu itu saya lepas, kemudian saya buang tanpa harus merasa kehilangan. Saya pulang hanya bercelana pendek hijau penyelamat itu dan kaos oblong bergambar si Unyil.
Sehari kemudian saya minta uang kepada ibu untuk membuat celana karate yang benar. Ukuran benar saat itu adalah berbahan kantong gandum, yang dijahit oleh tukang jahit di pasar Pleret. Mesin jahit yang dipakai masih menggunakan mesin jahit yang cara kerjanya dengan memutar roda di samping kanannya dengan tangan, sehingga mampu menggerakkan jarum jahit. Mungkin saat ini sudah sangat jarang dijumpai mesin jahit model itu. Sebagian besar sudah menggunakan tenaga listrik untuk menggerakkannya, atau yang lebih modern, mesin Juki.
Murid yang berlatih karate bersama saya sebagian besar memakai seragam karate berbahan kantong gandum. Hanya satu dua orang yang memakai seragam karate berbahan kain tebal dan bagus buatan pabrik yang hanya dapat dibeli di toko khusus olah raga. Satu dua orang itupun adalah pelatih. Bahkan ada pelatih yang memakai seragam kantong gandum.
Saya hampir saja memiliki dan memakai seragam karate berbahan bagus itu. Saat saya sudah SMP, saya tidak latihan lagi di Porbika. Saya bosan latihan karate, dan ingin belajar bela diri jenis yang lain, tae kwon do. Olah raga tendang pukul asal Korea itu, mampu membuat saya kesengsem, khususnya gerakan tendangan melingkar. Saya sering melihat aksi Barry Prima si Joko Sembung mengakhiri musuh-musuhnya di film dengan tendangan yang mematikan itu.
Jauh-jauh dari Kepuh Lor saya naik sepeda onthel menuju Gondomanan. Gedung olah raga yang terletak persis di sebelah barat perempatan Gondomanan itu menjadi area latihan berbagai jenis olah raga. Saya bertanya ke sekretariat, prosedur mendaftar dan ikut latihan. Oleh seorang pemuda yang berbadan besar, dijelaskan untuk uang pendaftaran Rp.5.000,- dan uang seragamnya Rp.25.000,- sejumlah Rp.30.000,-. Bayangkan uang SPP saya di SMPN Baturetno saja, hanya Rp.300,- per bulan. Untuk bisa ikut latihan tae kwon do, saya harus menyiapkan duwit setara dengan 100 bulan bayar SPP. Terlampau amat sangat mahal.
Seketika nafsu saya menjadi tae kwon doin lenyap. Kenyataan itu membuat saya patah arang. Saya mutung. Sejak itu saya tidak mau lagi belajar bela diri, apapun bentuknya. Kesempatan memakai seragam tae kwon do yang bagus, yang hanya dapat dibeli di toko khusus olah raga, juga lenyap. Saya sudah tidak minat lagi. Titik. (*)