Selasa, 16 Agustus 2016

DUNIA SAMIN



S

ebelum Pramoedya Ananta Toer menulis tetralogi Buru yang fenomenal, mungkin tidak banyak orang yang tahu tentang sosok Tirto Adhie Soerjo alias Minke. Menurut data terbaru yang dihimpun penerbit, Minke alias R.M. Tirto Adhie Soerjo adalah adalah anak dari penarik pajak di Bojonegoro, cucu Bupati Blora, dan cicit Ong Kadut, Bupati Lasem yang Chinese. Selain itu, diketahui pula dia pernah menjadi menantu Sri Sultan Hamengkubuwana VIII. Berkat usaha dan kerja keras Pramoedya Ananta Toer, dibantu data dari para mahasiswa ketika dia mengajar di Universitas Res Publica, orang mulai mengenal nama Tirto sampai akhirnya presiden keenam (yang diakui secara resmi) Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menganugerahi dia gelar pahlawan nasional pada Hari Pahlawan, 10 November 2006.

Ada sebuah cerita menarik di balik penganugerahan gelar pahlawan nasional di Semarang itu. Yudhi Sancoyo, yang ketika itu menjabat Bupati Blora, pada acara itu, ketika bersalaman dengan SBY, setelah diberi tahu yang bersalaman dengannya adalah Bupati Blora, segera saja bertanya tentang Tirto Adhie Soerjo. Namun sang bupati justru geleng-geleng karena sama sekali tidak mengetahui tentang tokoh dari daerah yang dia perintah itu.

Gimana sih? Masa bupati nggak tahu tokoh dari daerahnya sendiri?” Mungkin itulah sindiran yang dikatakan dalam hati kecil SBY.

Setelah kembali ke Blora, segera saja Yudhi Sancoyo mengerahkan anak buah dari Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Blora untuk mencari buku Sang Pemula ke Perpustakaan Pataba. Karena ketika itu buku sedang dipinjam Saudari Lies dari Desa Tutup, segera saja mereka memburu bak teroris.

“Tim pemburu” itu ditemui oleh sang adik, karena Lies sedang di Jogja. Adik Lies yang tidak tahu apa-apa ketakutan karena “disergap” oleh “segerombolan berpakaian hijau”. Setelah menjelaskan tujuan mereka, akhirnya buku Sang Pemula pun dapat “ditangkap” dan diserahkan kepada sang bupati.

Beberapa waktu kemudian, kembali datang orang suruhan Bupati ke Perpustakaan Pataba, kali ini sopirnya. Dia disuruh meminjam buku Bumi Manusia, Arus Balik, dan Arok Dedes. Namun karena buku Sang Pemula belum dikembalikan, Soesilo Toer selaku penanggung jawab Perpustakaan Pataba tidak meminjamkannya.

“Kembalikan dulu buku Sang Pemula,” katanya.

“Bapak nggak percaya pada saya?” kata sang sopir.

“Kembalikan dulu buku Sang Pemula,” jawab Soesilo Toer kukuh.

Sang sopir kembali menemui Bupati dengan tangan hampa dan menceritakan apa yang terjadi. Tidak lama kemudian sang sopir kembali ke Perpustakaan Pataba memberikan berita duka tentang hilangnya buku tersebut.

“Saya tidak mau tahu, pokoknya kembalikan buku itu,” kata Soesilo Toer.

Menurut cerita sang sopir, anak Bupati yang kuliah di Universitas Indonesia Jakarta sudah mencari buku itu. Namun gagal. Entah bagaimana ceritanya, dari mana mendapatkannya, akhirnya buku Sang Pemula kembali. Namun hasil “kloning” alias fotokopi.

***

Selain Tirto Adhie Soerjo, ada banyak tokoh lain dari Blora yang telah tenar. Sebut saja Harya Penangsang pada zaman Kerajaan Demak, Marco Kartodikromo dan Samin Soerosentiko pada zaman penjajahan Belanda dan tentu saja Pramoedya Ananta Toer. Khusus untuk Samin Soerosentiko, belakangan ini Pemerintah Kota Blora gencar mempromosikan namanya sebagai pahlawan nasional. Namun hal itu masih terkendala masalah data kelahiran dan kematiannya yang abu-abu. Bahkan mungkin untuk mewujudkan ambisi itu, Pemerintah Kabupaten Blora sudah membangun sebuah gedung khusus bernama Gedung Samin Surosentiko di Jalan Pemuda, di mana terpampang gambar Samin Soerosentiko dalam ukuran besar.

Dalam usaha membantu mengangkat tokoh Samin Soerosentiko itulah, kami sebagai penerbit yang peduli dan ingin memajukan nama Blora, menerbitkan buku ini. Pemuatan nama Samin bukan untuk menjelek-jelekkan, melecehkan, menghina, ataupun merendahkan Samin Soerosentiko beserta para pengikut yang dikenal dengan Sedulur Sikep. Soesilo Toer sebagai penulis buku ini juga merupakan pengagum sekaligus peneliti Samin. Bahkan Soesilo Toer membuat tesis yang menyatakan Mahatma Gandhi dengan ajaran Ahimsa mencontek dari Samin Soerosentiko. Tesis yang dia buat berdasarkan logika bahwa Mahatma Gandhi belajar di Inggris, bersamaan waktu dengan “pembuangan” Samin Soerosentiko ke Sawahlunto. Berita soal pembuangan Samin Soerosentiko ke Sawahlunto diberitakan oleh surat kabar Belanda di Jakarta yang juga terbit di Belanda. Dan, bukankah Belanda dan Inggris hanya dipisahkan oleh Selat La Mash yang hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar seperempat jam dengan speedboat? Berdasarkan materi, analisis, dan logika itulah Soesilo Toer berani membuat pernyataan tersebut.

Bukan itu saja, Mastoer, bapak Soesilo Toer, juga pengagum, pengikut, dan bahkan mengimplementasikan gaya bicara Samin. Hal itu dapat kita simak ketika Mastoer yang memiliki sejumlah utang, saat ditagih oleh piutang asal Rembang, menolak membayar dengan alasan uang pinjaman dibuat mendirikan sekolah dan sekolah itu ditutup oleh Jepang. Jadi seharusnya bukan kepada Mastoer mereka menagih utang itu, melainkan kepada Jepang. Dan dia menang, karena memang ilmu gertak itulah salah satu kelebihannya.

Buku Dunia Samin I sebelumnya terbit dengan judul Suka-Duka si Pandir pada tahun 1963 oleh N.V. Nusantara-Bukittinggi-Djakarta dan mendapatkan sambutan baik di masyarakat. Itu menunjukkan buku tersebut ditulis sebelum Soesilo Toer berangkat ke Uni Soviet pada 1962.

Buku Dunia Samin II ditulis ketika sang penulis, Soesilo Toer, menempuh pendidikan di Uni Sovyet. Hal itu dapat kita lihat pada akhir naskah buku tersebut yang tertulis Leninskii Prospyekt, Moskwa, 26 September 1964.” Itu berarti dua tahun setelah dia belajar di sana.

Sementara Dunia Samin III baru ditulis setelah sang penulis keluar dari penjara Orde Baru selama lima setengah tahun. Itu dapat kita lihat pada akhir tulisan ini, yang tertulis Jakarta, 3 Januari 1979 Jalan Multikarya 16 Utankayu.” Itu berarti buku ini diselesaikan ketika sang penulis tinggal bersebelahan dengan kakak perempuannya, Koesaisah. Ketika itulah sang penulis berada pada masa jaya sebagai pengangguran berat. Selain buku Dunia Samin III, ada juga beberapa buku lain yang dapat diselesaikan ketika itu, seperti Komponis Kecil (terbit Juli 2015), Anak Bungsu, Pesta Sekolah, Serigala, Indra Tualang alias Doktor Kopi dan beberapa tulisan lain tentang dunia yang tidak bisa dilepaskan dari hidupnya: sejarah, pendidikan, dan ekonomi, serta tentu saja tentang Pramoedya Ananta Toer yang kemudian dikumpulkan kembali dan diterbitkan dengan judul Pram dalam Kelambu (terbit Februari 2015) dan Pram dalam Bubu (terbit April 2015).

Pada kesempatan ini, penerbit menerbitkan ulang buku Dunia Samin secara utuh dan lengkap sejak buku pertama sampai ketiga. Jadi, dengan demikian, kita dapat memperbandingkan alam pikiran Soesilo Toer sebelum ke Uni Soviet, ketika di Uni Soviet, dan setelah dari Uni Soviet. Tidak lupa kami sertakan pula pengantar penulis untuk buku Dunia Samin I yang belum sempat cetak ulang. Penerbit berharap, penerbitan buku akan makin mengangkat nama Samin Soerosentiko khususnya dan Blora umumnya. Selain itu juga sedikit-banyak merehabilitasi nama Samin Soerosentiko dan para pengikutnya yang bagi sebagian kalangan (masih) dianggap sebagai penjahat, orang aneh, pemberontak, pengemplang pajak, blandong hutan, dan sebagainya. Karena, sebenarnya suku Samin adalah kelompok masyarakat yang baik atau semacam Robin Hood Jawa, seperti kata Soesilo Toer ketika menilai Samin Soerosentiko.


Blora, 26 Februari 2016, 23:20