Rabu, 16 Mei 2012

Sumur Berdarah


SUMUR BERDARAH
Hermawan Widodo

Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mutihan III yang berada di belakang balai desa Wirokerten, di dusun Glondong, merupakan sekolah yang umum bagi anak-anak Kepuh Lor dalam menempuh pendidikan dasarnya. Meskipun demikian ada beberapa anak Kepuh Lor yang memilih sekolah di kelurahan lain, di SDN Jambidan yang berada di timur kampung Kepuh Lor. SDN Jambidan berada di wilayah pemerintahan Kelurahan Jambidan. Wirokerten memiliki beberapa SD Negeri, tetapi tidak ada yang menggunakan nama Wirokerten. Baru saat Koco, adik saya yang bungsu masuk SD, berdiri SDN Wirokereten di dusun Wirokerten, sebelah selatan Kepuh Lor.
Saya masuk SDN Mutihan III, karena sekolah TK saya bersebelahan dengan sekolah itu. TK Pertiwi itu dikelola oleh pemerintah Kelurahan Wirokerten, sehingga begitu lulus TK, secara otomatis dimasukkan ke SD sebelahnya.
Meskipun ada banyak anak dari Kepuh Lor, baik laki-laki maupun perempuan, saya di sekolah malah tidak sering bermain dengan mereka. Saya di sekolah justru sering bermain dengan Isul yang berasal dari dusun Glondong. Dusun terdekat dari lokasi sekolah. Isul, panggilan dari Endro Sulastomo, adalah anaknya Pak Jito kepala SDN Mutihan III, sekolah kami.
Saya dan Isul hampir selalu bersama dalam kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah. Kami selalu bersama dalam kelompok belajar, latihan silat, hingga main petak umpet di Glondong. Meskipun dia anaknya Pak Jito, kepala sekolah kami, namun untuk urusan juara, dia tidak pernah bisa melampaui saya. Dia selalu jadi nomor dua setelah saya. Itu berlangsung saya hingga lulus dari sekolah dasar itu. Tetapi untuk urusan membuat kisruh, dia selalu pegang posisi tertinggi, saya selalu di bawahnya.
Saat saya kelas IV, sekolah kami membuat proyek pembangunan sumur, kamar mandi dan WC. Letak sumur dan kamar mandi itu berada di lorong sebelah selatan bangunan gedung SD. Lorong itu sebelumnya merupakan pemisah antara bangunan gedung SD dengan TK. Dengan adanya bangunan itu, maka bangunan gedung SD dan TK tersambungkan. Di depan lorong dibuatkan pintu, sehingga ketika akan masuk ke kamar mandi atau WC, harus melewati pintu itu.
Sumur yang digali mengeluarkan air yang sangat jernih. Galian sumur itu dipasangi cor-coran beton berbentuk lingkaran, dengan diameter kurang dari satu meter. Karena di atas sumur dipasang kaca transparan, sinar matahari mampu menembus air sebening kaca itu, hingga ke dasarnya. Air di sumur memiliki kedalaman sekitar 7-8 meter. Sedangkan permukaan air dari bibir sumur berjarak sekitar 5 meter.
Sebuah ember terbuat dari plat seng yang masih baru, dikaitkan pada tali yang terbuat dari karet ban, kemudian dilingkarkan pada sebuah kerekan di atas sumur. Kerekan itu dikaitkan pada kayu usuk bangunan. Kamar mandi dan WC dibuat berdampingan.
Kamar mandi dibuat tersendiri, terpisah dari WC. Jadi di dalam kamar mandi tidak ada WC. Kalau mau buang hajad partai besar dan mandi, harus masuk di dua kamar yang berbeda. Tidak bisa 2 in 1 seperti umumnya sekarang. Bangunan baru itu diberi atap asbes, kecuali di atas sumur dipasang kaca bening.
Meskipun hanya berupa sumur, kamar mandi dan WC, bangunan baru itu merupakan tempat favorit saya dan Isul untuk bermain. Bahkan kami berdua pernah tidak masuk kelas, gara-gara keasyikan bermain air di situ. Tetapi entah oleh kekuatan apa, sehingga kami tidak pernah ditegur oleh guru saat itu. Mungkin disebabkan fakta bahwa Isul adalah anak kepala sekolah, diperkuat oleh fakta bahwa saya juara kelasnya, sehingga kami selalu bisa lolos dari jerat hukum Komisi Disiplin Sekolah, saat kebablasan dalam bermain air.
Yang dimaksud bermain air itu adalah mandi di sumur. Bukan sekedar menimba air dengan ember seng itu, kemudian dipakai mandi. Kami mandi di dalam sumur, benar-benar nyemplung ke dalam sumur.
Cara masuk ke dalam sumur, terlebih dahulu naik di bibir sumur, setelah itu badan diturunkan ke sumur dengan dua tangan menahan beban badan. Kaki dibentangkan hingga menjangkau tebing sumur. Setelah kaki cukup kuat menahan beban badan, dua tangan diturunkan untuk kemudian menjangkau lagi tebing sumur. Dengan menggunakan tangan untuk menahan badan, dua kaki diturunkan untuk kemudian menjangkau lagi tebing sumur. Langkah itu dilakukan hingga mendekati permukaan air sumur. Begitu kaki sudah menyentuh air, maka dengan serentak kaki dan tangan melepaskan tumpuan dari  tebing sumur. Byuur..., tubuhpun terhempas dalam air sumur yang dalam itu.
Saat di dalam sumur itu, saya pernah berusaha menjangkau hingga dasar sumur, namun tidak pernah berhasil. Dengan kedalaman sekitar 8 meter itu, saya sudah tidak mampu lagi untuk menahan nafas, sebelum kaki menyentuh dasar sumur. Isul juga belum pernah mampu melakukannya.
Di dalam sumur yang sempit itulah, saya dan Isul biasanya mandi sekaligus berenang untuk menahan tubuh agar tidak tenggelam. Saat itu tidak ada yang mengganggu, karena memang selama ini tidak ada yang tahu kalau kami nyemplung ke sumur itu untuk mandi. Gerakan underground itu terus berlangsung terus secara rutin, hingga sebuah kejadian yang berdarah-darah menghentikan gerakan bawah tanah kami.
Kronologisnya kira-kira begini. Seperti biasa, saya dan Isul bermain di dalam sumur. Waktu itu saya sudah cukup lama di dalam air, dan sudah merasa kedinginan. Saya ingin naik duluan keluar dari sumur. Isul masih tetap ingin bertahan di dalam sumur. Saya naik ke atas dengan teknik sama saat turun. Menggunakan tumpuan kaki dan tangan untuk menahan badan. Saat naik rasanya lebih mudah daripada saat turun.
Setelah di atas, saya kemudian memakai baju. Celana saya basah, karena dipakai waktu mandi di sumur. Waktu itu sudah di luar jam sekolah. Jadi saya bisa langsung pulang dengan celana basah itu. Saat mau beranjak menuju ke pintu keluar, saya melihat ember menggantung di kerekan. Biasanya tali timba dan ember, menggeletak di lantai dekat bibir sumur. Tetapi saya tidak begitu memperhatikan perbedaan posisi ember seng yang masih baru itu.
Saya berjalan menuju pintu keluar. Baru separuh jalan, saya mendengar suara reketek...reketek..., kerekan timba berputar. Saya menoleh ke belakang, dan melihat ember yang  menggantung di kerekan sudah meluncur ke bawah.
Bebepa detik kemudian saya mendengar Isul yang masih di dalam sumur berteriak dengan kerasnya, “ Aduuh…!!”
Saya berlari mendekat ke sumur dan langsung menengok ke bawah. Di dalam sumur saya melihat Isul memegang kepalanya. Saya melihat darah mengucur. Saya juga melihat ember seng yang dasarnya agak tajam itu berada di samping Isul.
Melihat kepala Isul berdarah saya teriak ke dia, “ Piye?”
Dia menjawab,  “Jariku hampir putus, waduh sakit pol!” 
Ternyata darah itu keluar dari jarinya, bukan dari kepalanya.
Saat ember seng pembawa bencana itu meluncur ke bawah disertai suara kerekan berputar, Isul sempat melihatnya. Secara reflek tangannya langsung mengambil posisi melindungi kepala. Sehingga yang jadi sasaran empuk, tempat jatuhnya ember berdasar agak tajam yang meluncur kencang dari atas adalah jari-jari tangan kanan yang berada di atas kepala. Masih untung hanya jari-jari yang tertebas benda agak tajam yang meluncur dengan kecepatan tinggi itu.
Saya berteriak ke dia, “Bisa naik tidak?”
Dia jawab dengan tegas, meski lemah : “Bisa!”
Saya minta dia segera naik. Dengan menahan sakit, itu nampak dari raut wajahnya yang memelas, Isul berusaha naik ke atas. Usaha naik dari kubangan sumur itu menjadi sangat sulit dan berat. Karena yang semestinya mengandalkan tangan dan kaki, saat itu Isul hanya mengandalkan kaki dan tangan kirinya untuk tumpuan. Darah masih terus mengucur dari jari-jarinya.
Saya ingin sekali membantu dia segera sampai ke atas, namun tidak bisa, karena memang tidak tahu bagaimana caranya. Menggunakan tali, khawatirnya malah menjerat lehernya. Menggunakan ember jelas tidak cukup untuk menampung badan Isul yang cukup subur. Mencari tangga untuk turun tidak ada, harus pinjam dulu di kelurahan. Jadi saya pasrah saja, sambil berdoa semoga Isul selamat sampai atas.
Setelah dengan bersusah payah dan menahan sakit itu, Isul mampu mendekati bibir sumur. Sampai di situpun saya tidak bisa membantunya. Isul harus bisa melampaui bibir sumur untuk kemudian meloncat ke lantai. Itu harus dilakukan sendiri, tidak bisa dibantu, jika salah langkah malah bisa menjadikannya terjengkang, terjatuh kembali ke dalam sumur berdarah itu. Akhirnya Isul sampai di atas dengan selamat.
Dia masih memegangi tangan kana dengan tangan kirinya. Ada luka menganga di dua jarinya yang masih mengalirkan darah segar itu. Saya bantu dia menuju ruang guru. Waktu itu masih ada beberapa guru yang belum pulang termasuk kepala sekolah. Melihat anaknya basah tanpa baju dan berdarah, Pak Jito dan guru yang lain kaget.
“Kena apa itu, tanganmu sampai berdarah-darah?”
Isul menjawab, “Kejatuhan ember!”
Pak Jito kemudian mengambil sapu tangannya dari sakunya celananya. Dibantu guru yang lain, luka itu dibersihkan. Salah satu guru mengambil obat merah di kotak obat, kemudian diteteskan ke luka itu. Saat itu betadin belum diproduksi, semua luka gores cukup diberi obat merah. Setelah cukup diobati dengan obat merah itu, baju Isul yang saya bawa, saya serahkan dan kemudian dipakainya. Isul kemudian diboncengkan bapaknya dengan motor pulang ke Glondong, sedangkan saya pulang ke Kepuh Lor bersepeda.
Setelah peristiwa berdarah-darah itu, saya dan Isul tidak pernah nyemplung ke sumur pembawa petaka itu lagi. Saya dan dia sepertinya kapok, tidak mau mengulang lagi kejadian yang  berdarah-darah. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya kejatuhan ember juga. Sepandai-pandai menyimpan pelanggaran, akhirnya terbongkar juga. Tak peduli dia anak kepala sekolah, tak pandang dia juara kelas, yang berbuat salah pantas mendapatkan ganjaran yang setimpal. Meskipun yang salah berdua, rupanya Allah masih sangat sayang kepada saya, sehingga cukup Isul yang dijadikan sebagai wakil untuk memberikan peringatan kepada kami.
Sampai sekarang sumur berdarah itu masih ada, dan tetap difungsikan sebagai sumber air untuk TK Pertiwi Wirokerten dan SDN Mutihan III. Ketika ada yang berlatih sepak bola di lapangan bola samping gedung sekolah, para pemain juga memanfaatkan sumur itu untuk bersih-bersih selesai latihan. (*)