Rabu, 16 Mei 2012

Apapun Musibahnya Honda Biangnya


APAPUN MUSIBAHNYA HONDA BIANGNYA
Hermawan Widodo

Saya dan Agus satu level saat duduk di kelas 2 SMPN Baturetno. Sebenarnya saya dan dia beda tingkat. Tahun kelulusannya dari SD Mutihan III Wirokerten Banguntapan, lebih duluan satu tahun dibandingkan saya. Tetapi saya dan dia beda kelas, saya di kelas 2C sedangkan dia 2A. Setahun kemudian saat kelas 3 baru kami sama-sama di kelas 3A.
Saya dan Agus sering sekali bermain bersama-sama. Kebersamaan itu sudah berlangsung sejak SD. Dia ikut di rumah Mbah Kaji Wir. Rumah Mbah Kaji dengan rumah saya hanya berjarak 10 meter, hanya terpisah oleh kebun kosong. Jadi intensitas ketemu cukup tinggi. Kebersamaan itu banyak melahirkan kejadian-kejadian yang cukup membuat geleng-geleng kepala orang tua.
Salah satu kejadiannya adalah saat saya dan dia goncengan menggunakan motor Honda 70 yang saat ini biasa disebut motor capunk. Ada juga yang menyebut dengan Si Pitung. Mungkin maksudnya motor pitung puluh. Motor bebek warna merah itu memang menjadi andalan kami ke mana-mana. Minggu pagi sekitar jam 10, kami meluncur ke selatan ke arah Bantul. Tujuan utama ke pantai di daerah Bantul. Kami berniat menyusuri pantai hingga Parangtritis. Di Bantul pantai yang cukup dikenal adalah Samas dan Parangtritis.
Kami ingin menyusuri pantai dari Bantul barat hingga pantai Parangtritis di Bantul timur. Suatu niat yang mulia dan terdengar heroik. Padahal saat itu saya belum pernah membaca Che Guevera yang melakukan tour menggunakan sepeda motor. Jangankan membaca bukunya, mendengar namanya juga belum.
Dari Kepuh, desa tempat kami mukim selama ini, kami mengambil jalur utama Jalan Bantul, menuju Palbapang. Perjalanan dari Kepuh hingga Palbapang dengan motor capunk merah itu sekitar 90 menit. Maklum bukan sembarang motor. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa dan berani mengendarai si pitung itu. Bukan karena saking bagusnya, namun karena serba memprihatinkannya motor itu, sehingga seingat saya hanya Agus saja yang biasa mengendarai. Orang lain tidak ada yang mau. Tidak mau repot karena kemungkinan mogok amat sangat besar sekali.
Dari Palbapang kami kemudian menuju ke pantai terdekat. Saya tidak tahu pantai apa namanya, yang pasti masih di bawah kekuasaan Ratu Kidul. Satu kawasan dengan pantai selatan. Pantai selatan merupakan pantai yang memiliki pasir bagus. Pantai berpasir lembut bersih dengan gunung-gunung pasirnya yang khas, yang hanya ada di Parangtritis. Gunung pasir yang tampak seperti padang pasir yang sering muncul di film-film jazirah Arab.
Setelah istirahat beberapa saat di pinggir pantai, saya dan Agus mulai menjalankan misi besar yaitu menyusuri pantai hingga Parangtritis. Dengan semangat yang masih meluap, si pitung digenjot dan segera memacu langkahnya. Kuda Jepang yang sudah dimakan umur itu merayap di atas gundukan pasir basah. Kami berusaha menjaga jarak dengan air laut. Menurut teori paling sederhana sekalipun, motor butut itu akan langsung KO jika terendam air laut.
Probabilitas kejadian itu sangat besar, sehingga Agus harus selalu fokus pada jalan depan, sedangkan saya di belakang memposisikan diri sebagai navigator. Saya bertugas mengamati posisi air laut, sehingga mampu menempatkan laju kendaraan pada jalur yang aman. Dengan cara begitu si pitung mampu berjalan sesuai dengan harapan.
Selaku majikan yang sehari-hari bergelut dengan si pitung, Agus paham persis kekuatan hambanya itu. Dia tidak memaksakan diri dengan memacu si pitung terlalu kencang. Dia geber dengan lamban bahkan mungkin sangat-sangat lamban. Kondisi medan memang memberikan permakluman. Pasir lembut yang senantiasa membenamkan ban menjadikan laju roda sangat terhambat.
Setengah jam perjalanan, kami belum jauh meninggalkan tempat kami start. Perkiraan baru sekitar lima kilo kami menyusuri pantai itu. Kami istirahat dulu untuk kembali mendinginkan si pitung yang sepertinya sudah kepayahan.
Sepuluh menit kemudian kami mulai  jalan lagi. Baru lima menit berjalan dengan jarak tempuh sekitar 20 meter tiba-tiba si pitung berhenti. Ban depan ambles ke dalam pasir, tak mampu digerakkan. Dalam kondisi tanpa daya itu, tidak diduga ombak laut selatan datang menerjang.
Si pitung yang sudah setengah tak sadar tidak mampu mengelak dan pasrah saat saat diterjang ombak laut selatan. Dia langsung terendam air asin sekujur badannya, si pitung KO seketika, tidak mampu bangkit. Begitu melihat kondisi si pitung, kami langsung menyadari bahwa kami benar-benar dalam situasi yang tidak menguntungkan. Jauh dari penduduk, di tengah-tengah padang pasir, tak akan ada orang yang mendengar jika kami minta tolong. Hanya Ratu Kidul mungkin satu-satunya makhluk yang mendengar jika kami berteriak sekuatnya. Itupun jika Ratu Kidul belum mati, karena konon katanya dia sudah menjadi pacar Panembahan Senopati ratusan tahun silam.
Melihat posisi si pitung saat diterjang air laut, pasti air garam itu masuk sampai ke posisi-posisi strategis. Benar saja, hampir seluruh area kaburator dan mesin terendam air garam bercampur pasir lembut. Melihat kondisi hambanya yang memelas itu Agus angkat tangan. Namun kami terbiasa tidak langsung menyerah. Dengan alat yang ada di jok motor, busi dibuka, kaburator dibersihkan. Hasilnya nihil. Mesin sama sekali tidak mau diajak kompromi, mati total.
Langkah satu-satunya adalah mendorongnya kembali ke tempat kami start. Dan itu bukan pekerjaan mudah, menuntun motor di padang pasir. Waktu sudah menjelang ashar. Kami berdua mendorong si pitung dengan tenaga yang ada. Agus di depan pegang stang, saya pegang jok mendorong dari belakang.
Dua jam kami menyusuri pantai dengan tertatih. Kemudian kami belok ke jalan utama. Kami berharap ada bengkel di situ. Hasilnya juga nihil. Tidak ada bengkel. Kami terus mendorong motor menyusuri jalan. Kami bertanya kepada orang yang kami temui di pinggir jalan, bengkel yang ada di sekitar situ. Dia memberi tahu ada bengkel di ujung jalan, namun jika sore tutup. Memang saat itu hampir maghrib, wajar jika bengkel sudah tutup.
Sampai di Palbapang, Agus ingat bahwa ada teman  bapaknya di sekitar jalan itu. Maka dia kemudian mencari teman bapaknya itu, dan alhamdulilah ketemu. Agus menemui bapak itu dan bilang bahwa dia adalah anaknya Pak Darmo Kepuh. Dia juga bilang jika motornya rusak, dan tidak ada bengkel buka. Oleh teman bapaknya, yang bernama Pak Narto itu, disarankan untuk dibengkelkan besok saja. Dia minta agar kami menginap di rumahnya, karena jika pulang sudah tidak ada angkutan. Angkutan baru akan ada lagi subuh. Kami tidak punya pilihan lain selain menuruti saran Pak Narto.
Setelah mandi tanpa ganti baju, kami kemudian sholat magrib. Selesai sholat kami disuruh makan. Waktu makan itulah timbul rasa khawatir saya, karena tadi saat berangkat tidak pamitan ibu. Meski kadang saya juga tidak pamitan saat pergi, namun tidak sampai nginap seperti sekarang. Kalaupun menginap pasti orang tua tahu di mana saya menginap. Saya sudah biasa menginap di rumah teman sejak SD.
Saat kekhawatiran itu saya sampaikan ke Agus dia juga merasakan hal yang sama. Sebenarnya persoalan itu tidak sulit jika punya telpon. Namun sarana komunukasi itu masih langka. Jangankan HP, telpon rumah yang konvensionalpun masih jarang yang punya. Jikapun ada, di rumah kami juga tidak ada telpon. Sebenarnya ada cara untuk menyampaikan keberadaan kami kepada orang tua, yaitu melalui radio atau koran. Tetapi itu bukan solusi yang cerdas, yang tidak perlu diuraikan di mana letak ketolololannya.
Tiba-tiba terlintas di benak saya koramil. Waktu mendorong motor itu kebetulan kami melewati kantor koramil. Agus dan saya naik sepeda mendatangi koramil itu. Sesampai di kantor koramil, kami menemui petugas piket.
Dengan bahasa tertatih-tatih saya menceritakan kejadian yang saya alami sejak awal hingga sampai koramil itu. Adapun maksud dan tujuan saya adalah, meminta pertolongan kepada bapak koramil itu, untuk memberikan kabar saya kepada orang tua di rumah.
Tentu bapak koramil yang berpangkat kopral dua itu kaget mendengar permintaan saya. Namun saya tahu bahwa di tiap-tiap koramil memiliki jaringan komunikasi melalui HT. Maksud saya adalah koramil ini mengabarkan kondisi saya ke koramil Banguntapan, kemudian nanti salah satu tentara dari koramil Bnaguntapan menyampaikan ke rumah Udin yang hanya berjarak kurang dari 50 meter dari kantor koramil Banguntapan. Biar Udin nanti yang akan ke rumah saya untuk menyampaikan kepada orang tua saya di Kepuh.
Sebuah skenario yang agak berbelit dan membuat tambahan pekerjaan bagi bapak-bapak tentara. Tentu saja upaya kami tidak mulus. Banyak dari tentara yang lagi piket itu justru menggojlok saya dan Agus dengan berbagai pernyataan yang sudah sering kami dengar. Ungkapan yang biasa disampaikan oleh orang tua yang sedang jengkel kepada anaknya.
Setelah mendapatkan ceramah cukup bahkan menurut kami panjang lebar, kamipun dipersilakan pulang. Bapak-bapak itu berjanji akan menyampaikan berita tentang kami ke koramil Banguntapan, sesuai permintaan kami.
Kami kembali ke rumah Pak Narto. Setelah sedikit ngobrol, saya dan Agus beranjak tidur, karena besok subuh kami harus siap-siap naik angkutan untuk kembali ke Kepuh. Kami berdua tidur di ranjang tanpa kasur, dengan sarung sebagai selimut. Hawa malan itu lumayan dingin. Tanpa menunggu lama kami sudah bablas mendengkur.
Seperti dijanjikan empunya rumah, sebelum subuh kami sudah dibangunkan. Setelah sholat subuh, kami pamitan dan tidak lupa minta maaf serta terima kasih kepada tuan rumah atas segala keramahan dan servisnya. Pak Narto mengantar kami hingga jalan raya. Tanpa menunggu lama angkutan pun sudah di depan mata. Kami naik mobil colt Mitsubisi.
Angkutan itupun meluncur ke arah utara. Selama 30 menit perjalanan tanpa hambatan. Sebelum jam 6 pagi kami sudah sampai di pertigaan Grojogan. Kami turun, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki, karena dari situ ke rumah saya tidak ada akses angkutan umum. Jarak ke rumah kami sekitar  4 km. Setelah melewati Sampangan, kami potong kompas menembus Kepuh Tegal.
Sampai sungai yang membelah Kepuh Wetan dan Kepuh Kulon, kami melewati jembatan di atasnya, kemudian kami berpisah. Agus pulang ke rumahnya di Kepuh Kidul, saya ke rumah di Kepuh Lor. Lima menit saya sampai rumah. Di teras depan rumah sudah menunggu ibu dan Mbah Wondo. Mungkin bapak sudah berangkat kerja.
Baru melangkah masuk teras, saya mendengar Mbah Wondo berkata ke ibu, “Tidak perlu dimarahi, biar anaknya cerita sendiri”
Saya kemudian bilang kalau menginap di Bantul karena motor mogok. Saya juga bilang sudah memberi kabar Udin supaya mengabari rumah. Tetapi tidak ada orang yang sampai ke rumah untuk memberi tahu kondisi kami di Bantul. Rupanya penjelasan saya bisa diterima. Namun sepertinya faktor Mbah Wondo, adiknya mbah yang paling bungsu yang mempengaruhi, sehingga ibu tidak marah kepada saya. Kemudian saya disuruh mandi dan hari itu saya tidak masuk sekolah. Surat ijin baru saya serahkan wali kelas hari berikutnya dengan alasan yang paling universal, sakit.
Itu adalah bencana pertama bersama Honda.
Bencana yang senada juga saya alami karena Honda. Sabtu malam Minggu, saya betiga dengan Agus dan Hartono berangkat ke pantai Parangtritis. Rencana awal mau menginap di pantai dan menunggu terbitnya matahari. Kami goncengan bertiga dengan satu motor Honda GL warna hitam. GL itu biasa dipakai Pak Darmo untuk berangkat ke kantor kecamatan tempatnya mengabdi sebagai PNS selama ini.
Setiap melakukan perjalanan, kami memang tidak ada persiapan khusus. Yang penting jalan, membawa bekal uang secukupnya. Urusan selanjutnya dipikir sambil jalan. Bertiga dengan persiapan seperti itu, kami berangkat ke Parangtritis.
Meluncur dari Kepuh Kidul rumahnya Agus, jam delapan malam. Perjalanan ditempuh dengan santai. Saat itu sedang tidak dalam momen hari khusus, sehingga lalu lintas jalan tidak begitu ramai, sangat sepi malah. Sampai perempatan Jejeran, Honda GL belok selatan ke arah makam Imogiri, tempat bersemayamnya jasad para raja Jogja dan Solo. Pertigaan Imogiri kami belok kanan menuju Siluk. Sepuluh menit berikutnya kami sudah melewati jembatan kali Opak, belok kanan memasuki jalan di lereng-lereng perbukitan Siluk-Panggang.
Perjalanan di malam hari itu, kami tidak dibantu sama sekali oleh terang bulan. Saya tidak tahu tanggal berapa, apakah masih muda atau sudah terlalu tua sehingga bulan tak kelihatan. Yang jelas kegelapan malam itu hanya disuluh oleh lampu motor saja. Empat puluh menit kami menyusuri jalan turun naik itu, hingga kami sampai di Kretek, tembusan jalan raya Parangtritis. Belok kiri kami menyusuri jalan raya, sepuluh menit kemudian kami sudah masuk pintu gerbang obyek wisata pantai laut selatan.
Sampai di pantai yang berpasir lembut itu kami tidak menjumpai turis domestik maupun asing yang berada di situ. Rasanya memang aneh, malam-malam lepas jam sepuluh jalan-jalan di pantai kalau bukan orang yang kurang pekerjaan. Kami bertiga duduk-duduk beralaskan koran yang ada di sekitar situ. Mungkin bekas dipakai orang yang berwisata sore hari sebelumnya. Sambil ngobrol bermacam-macam tema, kami terus melewati malam.
Sekitar jam dua belas tengah malam, Agus mengajak kami ke gua Langse. Gua itu berada di sebelah timur Parangtritis, sudah masuk kawasan Kabupaten Gunungkidul. Jika berjalan kaki butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai gua di bibir pantai itu. Gua yang terletak persis di bawah tebing itu memang cukup menantang untuk dikunjungi. Kami sudah beberapa kali ke sana. Di gua itu pula seniman asal Pati, Ragil Suwarno Pragola Pati raib jasadnya, hingga sekarang belum diketahui keberadaannya.
Kami bertiga berangkat keluar dari pantai menuju ke arah timur. Namun baru sekitar satu kilo perjalanan, saya bilang ke Agus untuk berhenti dulu. Saat berhenti saya bilang ke Agus, baiknya tidak usah ke gua Langse, sudah malam pulang saja. Tidak tahu mengapa saat itu ada perasaan malas untuk berjalan di kegelapan malam menuju gua yang konon tempat semedinya Panembahan Senopati itu. Pinginnya pulang saja. Tidak tahu juga mengapa mereka berdua menurut, tidak yang protes ketika saya provokasi begitu. Akhirnya kami atret, ambil arah ke barat untuk kembali pulang.
Sampai pertigaan Kretek kami ambil ke kanan menyusuri jalan di pinggir perbukitan. Lima belas menit menyusuri jalan turun naik itu, saya merasakan ada hal yang tidak beres dengan motor Honda GL yang kami kendarai. Suaranya mulai mbrebet-mbrebet seperti kehabisan bahan bakar. Dan benar saja tidak sampai lima menit setelah gejala awal, motor GL yang kami tumpangi bertiga berhenti kehabisan bensin.
Saat itu kami berada di jalan di antara perbukitan, jauh dari permukiman. Perkiraan waktu itu mendekati jam 1 malam, saatnya orang sudah terlelap dibuai mimpi. Begitu motor berhenti dan upaya menolong secara darurat dengan cara memiringkan tangki bensin tidak bisa, maka Agus selaku driver menuntun Honda GL itu. Hartono di belakangnya mendorong, sedangkan saya berjalan di sampingnya. Kami bertiga berjalan melewati area pertegalan yang ditanami ketela. Menyusuri jalan turun naik, perjalanan sudah lima belas menit belum menemukan rumah penduduk. Setelah mengatur napas Agus berjalan lagi.
Sepuluh menit kemudian kami menemukan gedung sekolah SD. Di sebelah gedung SD itu ada rumah namun gelap. Hartono berjalan mendekati rumah itu kemudian mengetuknya. Beberapa kali ketukan, tidak ada respon dari empunya rumah. Hampir lima menit Hartono mencoba mengetuk pintu, tetap tanpa hasil. Ada kemungkinan rumah itu memang tidak berpenghuni.
Usaha pertama gagal. Kami bertiga kembali mendorong motor mencoba mencari rumah yang lain. Ketika kami mulai berjalan, saya menoleh ke belakang. Secara samar saya menangkap seberkas cahaya api. Saya menduga itu bara api dari ujung rokok yang digerakkan. Posisi berkas cahaya itu agak jauh dari saya berdiri saat itu. Saya bilang ke Agus, ada orang di belakang. Agus menoleh namun dia tidak melihat apa yang saya lihat.
Tanpa mempedulikan apa yang saya lihat, kami bertiga bergegas meninggalkan tempat itu. Rasa was-was sudah mulai muncul saat itu. Posisi kami bertiga ada di tengah bulak. Kami tidak tahu seberapa jauh dari perkampungan. Agus menuntun Honda GL itu dengan lebih cepat. Saya dan Hartono mengikuti dari belakang. Kilatan api di belakang kami ternyata juga ikut bergerak.
Hartono sambil berlari mendekat ke Agus berkata pelan memberi tahu kalau ada orang di belakang mengikuti. Agus menoleh ke belakang, saat itu memang nampak oleh kami bertiga kilatan api yang bergerak-gerak. Saya menduga itu tidak hanya satu orang. Tanpa kami duga Agus melarikan motor itu. Kami berdua juga ikut berlari.
Terus terang saat itu terbayang di benak saya alangkah naasnya kalau kami bertiga dirampok. Motor dibawa, kami kemudian diikat atau bahkan mungkin dibuang di perbukitan atau tragisnya lagi dibunuh dan dibiarkan di pinggir jalan. Membayangkan tragedi yang akan menimpa itu, saya miris bahkan mungkin saja hampir menangis. Saya termasuk anak yang kuat untuk tidak menangis menghadapi masalah. Saat itu saya hanya pada tahap hampir menangis, nyaris, namun belum dan memang saya tidak sampai menangis.
Sambil terus berlari dan menoleh ke belakang, tiba-tiba Agus berteriak , “ Wan, bedhile disiapke. Nek nyerak tembak wae, mati rapopo! “
Saya kaget, kapan membawa bedhilnya. Namun reflek saya cukup bagus untuk mampu menangkap maksud Agus.
Dengan berteriak  saya menjawab , “Yo! Ngko nek nyerak tak tembake ndhase!”
Hartono juga ikut teriak , “Nek mrene tak babate!”
Ternyata ide kreatif Agus mempu membangkitkan nyali kami. Sambil terus berlari dialog yang kami bangun adalah masalah senapan dan pedang. Maksudnya biar yang di belakang mendengar bahwa kami bertiga tidak bertangan kosong. Ada senapan dan pedang yang siap digunakan oleh ahlinya.
Namun orang-orang di belakang itu juga terus memburu kami, dan semakin mendekat. Tahu-tahu saja mereka sudah berada di depan kami, tiga orang berkalung sarung dan membawa pentungan.
Tiga orang yang salah satunya masih memegang rokok menyala itu kemudian bertanya kepada kami, “Kenapa dik, mogok motornya?”
Ternyata mereka tidak seperti yang kami duga. Mereka adalah warga di lingkungan itu yang kebetulan sedang keliling. Mendengar pertanyaan mereka, kami berkurang ketegangannya.
Agus menjawab, “Bensin habis pak!”
“ Di sini tidak ada warung yang jual bensin. Jalan terus sekitar 1 kilo dari sini ada warung. Ketok saja jika tutup. Mungkin masih ada bensin” terang bapak yang lain panjang lebar. Penjelasan itu melegakan dan sekaligus menguapkan seluruh ketegangan kami. Kami menyampaikan terima kasih kepada mereka. Sebelum pergi salah seorang menambahkan petuah : “Hati-hati dik jalan malam-malam di tempat begini. Di sini masih banyak gendruwo yang senang menggangu pejalan kaki.”
Selesai berkata begitu mereka tertawa bersama, tetapi kami yang menjadi kecut lagi.
Benar saja setelah berjalan sekitar seribu meter, ada warung di samping jalan. Warung itu sudah tutup. Ternyata bapak-bapak yang mengejar kami tadi benar. Yang tidak terbukti adalah omongan tentang gendruwo yang gentanyangan. Seperti yang dipesankan untuk mengetuknya jika tutup. Hartono mengetuk pintu. Hanya dengan tiga ketukan, sudah ada respon. Keluar dari balik pintu bapak-bapak setengah baya bersarung dan membawa senter.
Hartono berkata pelan, “Tumbas bensin.”
Lelaki itu kembali masuk ke rumah. Dia keluar lagi dan sudah membawa satu botol isi bensin dan saringannya. Agus segera membuka tutup tangki bensin. Tak butuh satu menit bensin dalam botol sudah masuk tangki.
Hartono bilang : “Dua liter pak.”
Dia masuk lagi, dan keluar lagi sudah membawa satu botol bensin.
Mendapatkan bensin itu rasanya kami sudah terbebas dari himpitan masalah besar. Setelah membayar dengan uang pas dan ucapan terima kasih, kami melanjutkan perjalanan pulang. Membutuhkan beberapa genjotan untuk menghidupkan Honda GL pembawa musibah itu.
Begitu mesin hidup saya segera naik, kemudian diikuti Hartono di belakang saya. Motor dipacu dengan cepat, tahu-tahu sudah masuk perempatan Jejeran. Belok kanan berhenti dekat lapangan bola Wonokromo di warung hik pinggir jalan. Habis beberapa gorengan dan teh panas, Honda GL digenjot lagi.
Tak sampai lima belas menit kami sudah sampai di Kepuh Kidul. Kami bertiga tidur di mushola depan rumah, hingga adzan subuh terdengar.  (*)