Jumat, 11 Mei 2012

Perjumpaan Tanpa Sengaja Dengan Pramoedya Ananta Toer


PERJUMPAAN TANPA SENGAJA
DENGAN PRAMOEDYA ANANTA TOER
Hermawan Widodo

Tanggal 30 April 2012, adalah peringatan 6 tahun meninggalnya penulis besar asal Blora, Pramoedya Ananta Toer. Meskipun ia adalah seorang penulis yang diakui oleh dunia internasional, namun bangsanya sendiri masih banyak yang belum mengenalnya. Saya termasuk salah satu dari orang Indonesia yang tidak mengenal penulis yang berkali-kali menjadi nominator pemenang Nobel itu.
Harus saya akui, sejak masuk sekolah dari TK hingga SMA, saya sama sekali belum pernah mendengar nama Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena saya yang kurang pergaulan, jarang membaca, sehingga tidak pernah mengetahui dunia luar, selain lingkup tembok sekolah yang terbatas.  Seingat saya, guru-guru Bahasa Indonesia yang sedikit mengajarkan tentang sastra tidak pernah sekalipun menyinggung namanya. Nama-nama yang sudah populer semacam Idrus, Sanusi Pane, Amir Hamzah dan lain-lain, masih terekam dalam ingatan.
Setelah masuk Perguruan Tinggi pada pertengahan tahun 1990, saya baru mendengar nama Pramodeya Ananta Toer dari omongan teman-teman. Kejaksaan Agung waktu itu melarang buku ‘Jejak Langkah’ yang dianggap membawa ideologi komunis. Itulah kali pertama saya mendengar nama Pramoedya Ananta Toer.
Namun karena saya tidak belajar di fakultas sastra, politik atau hukum, maka kasus itu hanya beberapa saat, kemudian lenyap dari perhatian saya. Waktu itu SDSB dan Sudomo lebih banyak menjadi topik pembicaraan. Kemudian kasus Arswendo Atmowiloto dengan jajak pendapatnya di tabloid Monitor. Disusul dengan kasus dibredelnya majalah langganan mahasiswa, Tempo oleh penguasa. Nama Pramoedya masih belum ‘nyantel’ di pemikiran saya.
Ketika Budiman Sujatmiko membuat PRD , partai baru di luar tiga partai yang sudah ada, saya kembali membaca nama Pramoedya di media. Nama itu tetap masih belum masuk dan menjadi perhatian saya. Sampai kemudian terjadi huru-hara di Jl. Diponegoro yang mengakibatkan deklarator PRD itu masuk bui, nama Pram seolah malah hilang dari ingatan saya.
Setelah hampir satu dekade sejak saya mendengar kali pertama nama Pram, secara tidak sengaja saya menemukan Pram justru di rumah mertua saya. Saya tidak ingat persisnya, namun sangat mungkin pada akhir tahun 1998. Ketika saya sedang mencari kipas untuk anak saya yang kegerahan, saya melihat fotokopian dijilid yang cukup tebal. Saya tidak tahu itu milik siapa, namun patut diduga itu milik kakak ipar saya yang pernah kuliah di fakultas filsafat, satu kampus dengan saya di Bulaksumur Jogja. Fotokopian itu tidak ada sampulnya, hanya ada tulisan jejak langkah. Saya tertarik, dan saya ambil ‘buku diktat’ yang cukup tebal itu. Saya buka halaman pertama ada tulisan ‘Jejak Langkah’ dan Pramoedya Ananta Toer. Saya langsung buka halaman tengahnya. Saya menduga, diktat itu berisi teori-teori politik. Ternyata isinya cerita. Dari dua halaman yang sempat saya baca, menggambarkan kondisi kota Surabaya tempo dulu. Saya tidak melanjutkan membaca karena saya tidak tertarik dengan ‘buku diktat’ foto kopian itu. Saya sudah ‘kadung mblenger’ dengan diktat-diktat kuliah yang membosankan. Pramoedya Ananta Toer dan diktat itu pun langsung lenyap dari pikiran saya.
Pertengahan tahun 2005, saya lolos dari maut karena laka lantas, meski akibatnya mengharuskan saya  berlama-lama bengong di rumah. Saat itulah saya mencari-cari kesenangan untuk membunuh jenuh yang menghinggapi tubuh tanpa daya. Pertama yang saya buru adalah kaset rock era ’70-‘80an. Pink Floyd, Led Zeppelin, Genesis, Deep Purple dan yang lain menemani indera dengar saya sehari-harinya. Ketika kuping sudah sering digelontor musik-musik cadas kesayangan, ganti indera mata yang minta dilayani. Saya baca-baca apa yang bisa dibaca. Kebetulan waktu itu lagi heboh buku ‘Laskar Pelangi’ Andrea Hirata. Saya nitip teman untuk dibelikan buku itu. Saya dapat bajakannya seharga dua puluh ribu rupiah. Meski dengan kondisi kertas buram dan penjilidan yang amburadul, saya dibuat terpingkal-pingkal olehnya.
Tak tahu dari mana ilham itu muncul. Tiba-tiba saja nama Pramoedya Ananta Toer terlintas di pikiran saya. Saya ingin membaca bukunya. Dari media yang saya baca, saya tahu Pramoedya Ananta Toer telah meninggal. Dari media pula, saya jadi tahu karya yang paling terkenal adalah ‘Bumi Manusia’. Saya ingin membaca buku itu. Upaya pinjam ke sana-sini tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya minta teman yang kebetulan di Jakarta membelikan. Teman saya kaget ketika mendapati harganya di Gramedia, sembilan puluh delapan ribu, hampir seratus ribu. Demi teman dia terpaksa belikan juga. Tentu saya dengan suka cita menerimanya.
Buku cukup tebal dengan sampul muka gambar andong dan penumpang dua wanita itu begitu berharga bagi saya. Pertama karena memang harganya yang selangit, selebihnya karena itu buku Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali saya pegang. Saya mendapatkan buku itu tahun 2008, tepat sepuluh tahun kemudian, setelah saya menemukan tanpa sengaja ‘diktat foto kopi jejak langkah’ di rumah mertua. Dari buku itu, saya baru tahu bahwa ‘Bumi Manusia’ adalah seri pertama ‘Tetralogi Buru’. Seri berikutnya adalah ‘Anak Semua Bangsa’, ‘Jejak Langkah’ dan ‘Rumah Kaca’.
Sejak itulah saya mulai memburu buku Pram. Tentu saya mengandalkan jasa teman-teman, karena saya masih belum berdaya ke mana-mana. Saya tidak sekaligus mampu mendapatkan ‘Tetralogi Buru’. Setelah ‘Bumi Manusia’ secara bertahap justru saya mendapatkan ‘Bukan Pasar Malam’, ‘Larasati’ dan ‘Jalan Raya Pos Jalan Daendels’ dari teman lain di Jakarta. ‘Anak Semua Bangsa’ kemudian saya dapatkan dari teman di Semarang. Ketika saya sudah bisa berjalan, adik saya di Jogja membelikan ‘Jejak Langkah’ dan ‘Gadis Pantai’. Seri terakhir ‘Tetralogi Buru’ saya dapatkan dari kolega yang lain, beberapa hari menjelang lebaran Idul Fitri tahun 2010. Meskipun semua buku itu harganya selangit, namun saya sepeserpun tidak pernah keluar uang. Mereka membelikan untuk saya. Saya tidak tahu mereka suka atau tidak dengan Pram dan buku-bukunya. Namun yang jelas mereka suka dengan saya, karena dengan rela membelikan buku itu untuk saya.
Buku yang saya peroleh dengan uang saya sendiri adalah ‘Arok Dedes’. Itupun tidak murni, karena saya mendapatkannya dengan barter. Pemilik kios buku di Rembang, tertarik dengan kaos yang saya pakai. Dia minta kaos itu. Sebagai gantinya saya mendapatkan salah satu buku Pram, yang katanya pesanan orang, namun lama tidak diambil. Kaos saya beli seharga empat puluh ribu, sedang bandrol harga buku itu, tujuh puluh ribu. Kalau dihitung, saya malah mendapat untung tiga puluh ribu.
Ketika saya ke Blora, saya malah mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang saya duga. Saya bisa berjumpa dengan salah satu adik kandung Pramoedya Ananta Toer, Soesilo Toer secara tidak sengaja pula. Saya betemu dengan doktor lulusan Rusia itu di Masjid Agung Blora. Sejak itulah saya lebih mengenal Pram, dari sosok sederhana yang menjadi penanggung jawab rumah masa kecil Pram di Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora. Sejak itu pula saya berproses kemudian bersenyawa, hingga saya merasa menjadi bagian dari Pataba, perpustakaan nirlaba yang dikelolanya. Perpustakaan liar yang memiliki cita-cita mulia. Membangun budaya membaca dan budaya menulis di kalangan masyarakat Indonesia.
Selain berjumpa dengan Pramoedya Ananta Toer tanpa sengaja, saya berjumpa dengan tidak sengaja pula, tokoh sepuh yang saya sebut dengan mutiara dari Blora itu. Saya hanya sempat berjumpa dengan Pram melalui buku-bukunya, justru setelah Pram tiada.(*)

Kudus, Ba’da Magrib 6 Mei 2012