Rabu, 16 Mei 2012

Nyuluh Pemburu Kersen


NYULUH PEMBURU KERSEN
Hermawan Widodo

Kami lebih mengenal lapangan udara Adisucipto dengan istilah Mbadhug atau Maguwo. Mendengar kata Mbadhug yang terbayang saat saya masih kecil adalah sebuah tempat di atas awan, tempat kapal terbang berhenti. Suatu definisi imajinatif, absurd jauh dari kenyataan. Namanya juga anak, kadang daya fikir dan nalarnya masih berbasis kira-kira.
Meskipun nama Mbadhug begitu lekat di telinga dan dekat secara geografis, tetapi saya belum pernah masuk ke tempat mendaratnya pesawat terbang tersebut. Saya juga tidak paham apa itu terminal 1 terminal 2 dan sebagainya. Terminal yang saya pahami adalah terminal Umbulharjo yang sekarang sudah pindah di Giwangan. Bahkan sampai umur saya nyaris 40 tahun ini belum pernah sekalipun saya naik pesawat.
Ketika kelas 1 SMP, saya mempunyai urusan dengan Mbadhug karena di sana ada kolam renang, tempat saya beberapa kali mandi. Istilah mandi saya rasa lebih tepat sebab memang saya tidak berlatih belajar teori maupun teknik berenang di sana. Kegiatan mandi di Mbadhug biasanya saya lakukan saat hari Minggu, libur sekolah.
Dengan bersepeda, saya dan beberapa teman kampung menuju kolam renang yang berada tidak jauh dari tempat landing pesawat militer Angkatan Udara. Adisucipto selain sebagai lapangan udara pesawat komersil, juga merupakan pangkalan militer AU, sekaligus kampus Akademi Angkatan Udara.
Berangkat dari rumah jam tujuh pagi, satu jam lebih baru sampai di lokasi. Setelah melewati beberapa blok asrama tentara AU, baru sampai di kolam renang. Kolam itu tidak begitu luas, berada di pinggir jalan dengan posisi di bawah bahu jalan. Kami harus jalan dulu menuruni semacam lereng yang agak landai. Di sebelah kolam tumbuh pohon beringin besar. Di samping pohon terdapat gua Jepang yang tidak begitu dalam. Menutut informasi teman saya yang tinggal di asrama AU, banyak sekali gua Jepang di area pangkalan militer.
Selain terdapat kolam renang, di Mbadhug juga ada pesawat-pesawat kuno yang sudah rusak. Pesawat jaman Jepang itu ditempatkan di beberapa lokasi. Kadang saat bermain, saya naik pesawat rusak itu dan bergaya mirip-mirip pilot. Pesawat semacam itu juga terdapat di kebun binatang Gembira Loka, yang ditempatkan di area bermain anak-anak sehingga dengan mudah dinaiki.
Mbadhug juga dikabarkan memiliki banyak sekali pohon kersen. Namun saya mengenal buah itu dengan nama talok. Buahnya kecil berwarna merah dan manis. Saya menyebutkan sebagai kabar karena memang belum pernah membuktikan dengan melihat langsung. Sudah menjadi kebiasaan kami, jika ada hal baru selalu ingin dibuktikan.
Saya, Agus dan beberapa teman berangkat ke Mbadhug selain mau mandi di kolam renang juga mau memburu kersen yang kabarnya banyak itu. Lokasi kerumunan pohon kersen itu ada di sebelah timur kolam renang, sekitar satu kilo meter. Dari kolam renang jika melihat ke arah timur nampak pepohonan yang rimbun. Katanya itu adalah kerumunan pohon kersen. Selesai mandi, kami berlima, saya, Agus dan tiga teman yang lain memacu sepeda ke arah lokasi pepohonan itu.
Kami berlima sampai di suatu jalan yang di sekitarnya sangat sepi dan tidak dijumpai bangunan maupun pepohonan lainnya. Betul-betul lapang. Di depan kami ada rambu bulatan merah disilang dan tulisan merah “Berbahaya Dilarang Lewat”. Kami masih belum paham maksud tanda itu, tiba-tiba dari atas arah barat terdengar suara gemuruh. Ternyata ada pesawat yang mau mendarat. Pesawat itu terasa begitu dekat, meskipun sebenarnya tempat mendaratnya masih jauh di timur dari posisi kami berdiri.
Ada rasa takut juga membayangkan jika tiba-tiba pesawat yang mendarat itu jatuh dan menabrak kami. Namun rasa takut dan ragu langsung hilang begitu melihat tukang pencari rumput naik sepeda melintasi jalur itu. Kami berlima memacu sepeda dengan kencang melintasi jalur terlarang. Setelah melewati area terlarang itu, kami sudah mendekati lokasi tumbuhnya pohon-pohon kersen. Dari tempat kami mengayuh sepeda memang nampak semacam perkebunan kersen. Belum sampai ke tempat yang kami tuju, tanpa disadari kami melewati pos tentara.
Tentu saja petugas jaga berseragam loreng itu langsung mencegat kami. Begitu mendapat aba-aba berhenti dari tentara, kami seketika berhenti. Suatu kondisi yang tidak pernah kami duga sebelumnya. Sebab menurut informasi, kersen-kersen itu boleh diambil sesukanya.
Sepeda kami jatuhkan, karena semua tidak ada jagrangnya. Seorang tentara berpangkat kopral menghampiri kami. Karena paklik saya polisi, saya tidak begitu takut dengan tentara.
Seorang kopral dengan galak bertanya,  “Mau kemana?”
Kami jawab, “Nyari kersen!”
Dengan lebih galak dia membentak, “Anak mana kamu, opo ra ngerti nek ora oleh lewat kono?!” sambil menunjuk jalur yang tadi kami lewati.
Kemudian tanpa dapat memberikan pembelaan dia langsung menetapkan vonisnya dalam bentuk 3 perintah : 1. Sana pulang! 2. Ambil pentil ban sepedanya taruh di meja!, dan 3. Jangan pernah ke sini lagi!! 
Perintah yang langsung kami laksanakan tanpa reserve. Dengan tangan-tangan kami sendiri, kami ambil pentil ban itu. Tentu dengan terlebih dahulu mengeluarkan sampai habis seluruh angin yang ada di dalam ban. Kemudian satu per satu, sepuluh potongan karet pentil itu kami letakkan di meja jaga.
Tanpa menoleh lagi kami langsung kabur dengan menuntun sepeda yang sudah tanpa karet pentil dan kempes total itu. Kami menengadah ke atas, memastikan tidak ada pesawat yang akan mendarat sebelum kami melewati lagi jalur terlarang yang telah membuat kami sial. Setelah yakin, kami berlari dan istirahat di kolam renang.
Di tempat itulah baru kami sadari betapa konyolnya nasib kami. Terbayang betapa nanti capeknya menuntun sepeda ke tempat tambal ban. Untungnya sebelum keluar dari jalan besar, di blok O ada tukang tambal ban yang cukup baik hati mau menyediakan potongan karet pentil sejumlah sepuluh buah, termasuk dengan anginnya.
Saya tidak peduli harus membayar berapa, yang penting sepeda bisa segera dinaiki. Perjalanan yang menimbulkan kerugian besar, kersen satupun tidak didapat, malah sepuluh pentil hilang disita tentara. Sebuah misi memburu kersen yang gagal total.
 Urusan buru memburu sepertinya bagi saya tidak ada satupun yang berujung menyenangkan. Pengalaman memburu ikan di malam hari yang dikenal dengan nyuluh juga selalu berakhir tidak enak. Saya tidak mengerti mengapa disebut dengan nyuluh, kok bukan mencari ikan di malam hari. Memang saat berburu ikan di malam hari itu menggunakan lampu, biasanya petromak atau senter sebagai suluh untuk menerangi. Mungkin itu asbabul nuzulnya penyebutan nyuluh untuk aktifitas mencari ikan di malam hari.
Saya pertama kali nyuluh saat diajak Lek Sur, bersama adiknya Slamet. Dengan modal petromak kami menyusuri area persawahan. Saya kira mencari ikan itu di sepanjang sungai, ternyata hanya di sawah. Yang dicari juga bukan ikan, namun keong dan belut. Keong banyak dijumpai teronggok begitu saja di tepi-tepi sungai. Tinggal mengambil saja kemudian dimasukkan ember. Sangat mudah.
Berbeda dengan belut. Dia berada di tanah sawah. Ada yang bergerak ada juga yang diam. Belut tidak bisa langsung ditangkap karena begitu licin. Meskipun sudah dipegang tangan namun tanpa kita sadari belut itu sudah lepas dari tangan. Namanya juga belut, sudah diakui dunia kelicinannya, meskipun belum terdaftar secara paten. Jadi jika ada ungkapan selicin belut sangat pas adanya. Apalagi jika kemudian ditambah oli, bagai belut kecemplung oli, luar biasa licinnya. Dibutuhkan tehnik dan keahlian khusus untuk mampu memegang belut, hingga belut benar-benar tidak bisa lepas dari cengkeraman.
Tetapi seserius saya belajar, saya belum mampu memegang belut hidup tanpa terlepas dari tangan. Maka langkah radikal yang diktempuh, begitu melihat belut di tanah langsung ditebas dengan pisau hingga mati. Kalau sudah mati, jelas lebih mudah memegangnya.
Perjalanan menyusuri sawah itu kurang lebih dua jam. Biasanya jam 9 malam, nyuluh disudahi untuk kemudian mengolah hasil yang sudah diperoleh. Tahap inilah yang bagi saya tidak mengenakkan, karena harus berhadapan dengan darah, kotoran dan sebagainya. Setelah bersih masih harus dimasak dengan dikukus atau digoreng sesuai keinginan. Biasanya belum sampai tahap memasak, saya sudah KO ngantuk luar biasa dan kemudian tertidur karena capek.
Jika beruntung saya akan dibangunkan untuk diajak makan. Jika tidak ada yang membangunkan, tidur saya berlanjut sampai pagi, sehingga tidak sempat ikut makan. Kalaupun dibangunkan, kemudian ikut makan, rasanya juga tidak enak karena nafsu makan kalah bersaing dengan nafsu ngantuk. Apalagi kalau kemudian dimakan paginya, sudah tidak ada selera sama sekali. 
Jika nyuluh dilakukan pada malam hari, saya bersama teman-teman sebaya, Limpung, Agus dan Pomo juga pernah memburu ikan di siang hari. Sehingga aktifitas memburu itu tidak bisa disebut dengan nyuluh karena tidak membawa suluh. Kami menyusuri sepanjang anak sungai Kepuh, dari mulai hulu di ujung dusun hingga prapatan mendekati dusun Jambidan.
Meskipun dengan penuh semangat dalam memburu ikan, namun sudah lebih dari dua jam tidak satu ekorpun ikan yang didapat. Di sela putus asa itu datang Mbah Yoso membawa seekor musang yang sudah mati. Oleh Mbah Yoso hewan buas itu diberikan kepada kami. Dengan semangat 45 kami pulang membawa musang itu dan mengklaimnya sebagai hasil buruan kami.
Sepanjang jalan hingga sampai rumah Limpung banyak orang yang menanyakan dari mana dapat musang, tentu disertai rasa kagum. Dengan dada membusung kami menjawab serempak di prapatan. Rasanya kami saat itu merupakan pemburu heroik yang mampu menangkap musang. Bukan pekerjaan gampang menangkap musang, apalagi oleh anak-anak umur 10 tahunan.
Sampai rumah Limpung langsung dibetheti dan diolah. Lagi-lagi dalam tahap ini saya menemui masalah. Bukan karena terlalu lama menunggu, karena proses ini lebih cepat dibanding dengan mengolah keong dan belut. Masalahnya adalah begitu sudah matang dan disajikan di piring untuk dimakan, selera makan saya langsung hilang. Mencium baunya saja, saya langsung eneg. Ada aroma yang tertolak oleh indra hisap saya. Ditambah dengan ingatan pada wujud binatang semula berupa musang. Semakin menguatkan ketidak seleraan saya pada sajian daging di depan saya.
Saya tidak makan masakan musang yang sudah matang hingga saya pulang. Saya tidak menyesal, tidak makan hasil buruan bersama-sama itu. Saya hanya senang menikmati hiruk pikuk memburunya, bukan menikmati hasilnya.
Saya juga pernah bareng-bareng mencari ikan, dengan teman SD dari desa Glondong. Waktu itu ada Isul, Odin dan kakaknya Tarom, dan satu lagi teman yang paling tua Peyek panggilannya. Isul saat ini menjabat sebagai Lurah di Wirokerten. Odin sudah almarhum, beritanya karena gigitan ular. Sedang Tarom dan Peyek, saat ini saya belum paham keberadaannya.
Sebenarnya kegiatan utamanya bermain saja. Tetapi karena Peyek mau mencari kayu bakar, jadinya kami turut membantu dengan tujuan utama tetap bermain. Ketika sampai di salah satu sungai yang airnya tidak mengalir, Peyek mengajak untuk mencari ikan. Maka dengan memanfaatkan getah rejenu yang beracun, kami buat ikan-ikan itu pusing dan naik ke permukaan air. Saat itulah kami mengambil ikan-ikan yang pingsan itu. Sambil asyik mengambil ikan, kami selingi dengan omongan dan ejek-ejekan.
Ternyata olok-olok itu berkembang panas. Terjadi saling olok antara Tarom dan Peyek. Pertikaian omongan itu terus memanas hingga tak terkendali, dan terjadilah pertikain fisik. Dengan gerak cepat, Tarom dipegang oleh Peyek, kemudian dijatuhkan dan dibenamkan dalam air. Tentu saja Tarom megap-megap. Kami yang masih anak-anak hanya mampu melihat, tidak bisa berbuat apa-apa. Untungnya Peyek tidak berlanjut emosinya. Melihat Tarom megap-megap dia lepaskan cengkeramannya, dan menghempaskannya.
Sambil masih menahan marah dia bilang, “Kalau bukan tetangga dan masih kecil sudah tak habisi!”
Akhir dari aktifitas mencari ikan yang sangat tidak mengenakkan. Ikan tidak didapat, malah perkelahian yang terjadi. Kami pulang bersama, tanpa membawa ikan-ikan yang sudah terkumpul. Tarom dan Peyek tidak saling sapa selama perjalanan. Sejak itu saya tidak mau lagi diajak mereka untuk mencari ikan di Glondong.
Peristiwa tidak mengenakkan juga saya alami ketika berhadapan dengan penyuluh kodok. Saat itu ba’da Isya’ saya terasa mau ke belakang. Karena biasa buang hajad di sungai, saya mengambil sepeda dan mengontelnya ke sungai di Kepuh Kidul dekat gardu ronda.
Ketika saya sedang menikmati ritual berjongkok membuang hajad, ada orang yang sedang nyuluh kodok lewat di depan saya. Orang yang nyuluh kodok itu memiliki performa yang khas. Tutup kepala dilengkapi dengan senter, membawa tongkat panjang yang ujungnya ada senjata tajam semacam trisula kecil, dan ember atau sejenisnya untuk menampung kodok. Kodok hijau yang dicari para pemburu itu, untuk dimasak menjadi swike kodok atau jenis masakan yang lain.
Saat orang itu melintas, tanpa sadar perpaduan mulut dan bibir saya mengeluarkan bunyi ciet.ciet seperti suara kodok yang sedang sakaratul maut. Mendengar suara yang mirip-mirip kodok, orang itu berhenti, kemudian mengarahkan senter dan senjatanya ke arah saya. Saya kaget mak jenggirat, disertai rasa takut.
Sambil marah orang itu menghardik, “ Ciet.ciet pingin tak sunduk koyo kodok iki!”
Tentu saya takut sekali. Bahkan rasa takut juga menghinggapi si pisang kuning sehingga tidak mau keluar. Nafsu be’ol saya langsung sirna akibat intimidasi kejam itu. Saya tidak jadi bernafsu untuk buang hajad.
Untung orang itu hanya menggertak saja, kemudian pergi. Terbayang jika orang itu benar-benar menjadikan saya laksana kodok, hii ngerii. Saya pulang dalam kondisi yang belum lega. Kesimpulannya adalah, tidak ada enaknya berurusan dengan segala hal yang berhubungan dengan  menyuluh ini.(*)