Jumat, 11 Mei 2012

Kumala " Malaikat Penyejuk Jiwa "


 K U M A L A
Malaikat Penyejuk Jiwa
Hermawan Widodo

Tiba-tiba saja dia muncul. Seorang gadis yang masih benar-benar remaja. Taksiranku kurang dari 19 tahun. Namanya Kumala, lengkapnya Dwi Astuti Kumala Ningrum. Aku tidak tahu kapan dia menjadi bagian dari komunitas Madani ini. Namun kemunculannya cukup menyedot perhatianku. Dia selalu hadir di saat aku memberikan pengajaran-pengajaran kolektif. Aku yang cukup banyak bergaul dengan banyak perempuan, tidak menemukan padanan seperti dia. Badan tinggi semampai melebihi tinggi kebanyakan orang. Tidak tampak sedikitpun ada lemak berlebih, cenderung agak kurus, kesan tinggi semakin kentara. Kulit putih tampak dari jari-jari tangannya yang dihiasi cincin sederhana tetapi elegan. Kebanyakan perempuan bangga dengan kuku panjangnya yang penuh dengan cat warna-warni, namun makhluk cantik ini tidak. Wajahnya oval perpaduan Jawa-Arab dengan pipi yang selalu bersinar, dipadu hidung mancung. Bola matanya berbinar, dengan sorot mata tajam cukup membuat orang yang tidak memiliki segumpal mental cukup, akan langsung rontok dalam sekali tatap. Alisnya melintang tipis bertengger sempurna tepat di atas mata yang sorotnya memabukkan. Di bawah hidung mancung itu, bertengger dengan manis bibir tipis, yang selalu tampak segar merah merekah. Di balik bibirnya yang selalu menampilkan senyum menawan, terpajang dengan sempurna gigi-gigi putih berbaris rapi. Mereka dengan patuh berada pada posisinya, tanpa ada satu bijipun yang menonjol melebihi yang lainnya. Saat berbicara, mulutnya tak pernah terlalu lebar terbuka. Nadanya suaranya empuk, dengan intonasi yang enak dalam tangkapan indera dengar. Ada yang khas di tiap akhir kata. Suara desis terdengar sensual. Bagi yang berpikir ngeres mungkin terdengar erotis. Wajah nan ayu itu ditopang oleh leher jenjang, yang tak kalah putih dan mulusnya. Tetapi definisi cantik itu relative, sangat personal sehingga tidak bisa disamaratakan. Tergantung dengan referensi yang dimiliki, komunitas pergaulan, sudut pandang, dan tentu selera. Namun secara umum orang akan sepakat, Omas atau Mpok Ati itu, tidak lebih cantik dari Luna Maya. Tidak tahu kalau ada orang yang lebih gandrung dengan Mpok Ati daripada kepada Luna Maya. Mungkin oleh Andrea Hirata akan dimasukkan dalam kategori penyakit gila nomer 69 : lebih menyukai wanita tua jelek daripada wanita muda cantik.
Tanpa kusadari ternyata dia menjelma menjadi makhluk cantik yang selalu menghantuiku. Di mana aku berada, makhluk cantik itu juga selalu hadir, meski hanya sebatas bayangan imajiner. Aku tidak bisa lepas dari sosok makhluk cantik nan ayu itu, yang sepertinya memang dikirim khusus oleh Tuhan yang Maha Tahu, turun ke bumi untuk membuat suasana menjadi indah. Teman-teman di komunitas Madani tahu kalau aku mengagumi Kumala. Istriku juga tahu kalau aku senang dengan Kumala. Saat aku menceritakan bahwa di komunitas Madani ada gadis yang cantik kepada istriku, tanggapannya dingin saja. Ketika aku terus nerocos bahwa anak ini tinggi, semampai, putih dan cantik, dia baru bereaksi.
“Naksir ya?” sergapnya.
Aku gelagapan, “Nggak..nggak Mama lebih cantik!” jawabku spontan.
Istriku mendekat, “Kaya apa sih orangnya, kok Mas semangat sekali ceritanya.”
Waktu itu aku hanya mampu mendeskripsikan dengan kata-kata. Aku tidak tahu bagaimana istriku merekonstruksikan rupa makhluk yang kuceritakan itu, dalam benak dan pikirannya.
Saat kutunjukkan foto Kumala yang kutemukan di sekretariat komunitas Madani, istriku bilang, “Cantik banget dia Mas, orang mana?”
“Orang sini saja,” jawabku singkat.
Ternyata istriku tidak marah. Istriku memang bukan saja tercantik di dunia, namun juga hebat luar biasa. Hatinya tak mudah terbakar oleh rasa yang tidak semestinya. Dia begitu dewasa banget. Ketika ada pertemuan bersama, dan di situ ada Kumala, istriku menghampirinya. Kulihat istriku berbincang akrab. Mungkin karena sesama wanita cantik hingga mudah akrab. Saat pulang istriku bilang bahwa Kumala memang cantik.
Aku menggoda, “Mama nggak cemburu?”
Mendengar itu istriku mencubit pinggangku.
“Kalau dia secantik itu ya tidak bikin cemburu lah, pantas kalau orang kagum. Kalau Mas seneng sama dia wajar. Kecuali seneng sama Surtinah pembantu tetangga sebelah, itu baru ngaco, tidak waras. Tapi awas kalau macam-macam ya!”
“Iya.Iya..Mama itu bagiku istri satu-satunya. Istriku yang tercantik di dunia. Tapi boleh to seneng pada makhluk cantik itu?”
Istriku tak menjawab, malah mencubit lagi pinggangku lebih keras.
“Dasar laki-laki, semua yang cantik dimauinya!”
Aku hanya tertawa, istriku menambah lagi cubitannya.
Aku mengagumi Kumala dengan cukup memandangnya saja, tak lebih dari itu. Dan itu sudah lewat sekian tahun yang lalu. Setelah itu aku tidak pernah jumpa dengan Kumala entah sudah berapa lama. Ada rasa kangen, ingin kembali memandangnya. Kemudian tiba-tiba saja peristiwa naas itu menimpaku. Rombongan mobil yang kutumpangi bertabrakan dengan mobil lain di Pemalang. Aku, anakku, dan penumpang lain menjadi korban dalam kecelakaan maut itu. Untung tidak satupun nyawa melayang. Suatu mukjizat bagiku, mengingat kondisi mobil yang betul-betul ringsek. Cukup lama aku terkapar tanpa daya di rumah sakit. Aku tidak mampu berbuat apa-apa. Istriku dengan setia mendampingiku selama di ruang pesakitan itu. Sahabat-sahabat bergantian datang memberi support. Tapi dari sekian orang yang datang, satu makhluk ciptaan Tuhan yang kuharapkan kehadirannya tidak tampak di antara mereka. Tiap-tiap mereka datang berombongan, kucari-cari makhluk cantik itu. Ya Kumala, aku berharap dia hadir di antara mereka. Nyatanya dia tidak pernah ada. Akupun sudah pupus berharap. Bagaikan si pungguk merindukan bulan. Aku pasrah kepada nasib yang sudah digariskan. Selamat tinggal makhluk cantikku. Maafkan segala salah dan khilafku.
Tetapi kadang memang Tuhan memiliki skenario sendiri, ketika tiba-tiba di senja yang temaram selepas maghrib. Saat istriku baru saja selesai membersihkan badanku, dan aku selesai sikat gigi. Tanpa diduga datang makhluk yang sudah kuhapal betul. Makhluk itu berjalan mendekat bed di mana aku terkurung selama ini. Aku kucek-kucek dua mataku memastikan bahwa ini bukan mimpi. Benar, fenomena ini nyata bukan maya. Makhluk cantikku itu tiba-tiba saja sudah hadir di hadapanku. Dia sekarang menjelma menjadi malaikat yang cantik jelita. Sungguh aku dibuatnya terpana. Mulutku menganga, namun segera ditutup oleh istriku. Kemudian istriku mencium pipiku seraya berbisik di dekat telinga, “Tuh pujaanmu telah datang membezoek.”
Istriku keluar ruang memberi kesempatan aku berdua dengan Kumala. Seluruhnya tampak indah dipandang mata. Menutup rambutnya, kerudung yang digelung dengan asesoris pilihan. Ada kalung kecil melingkari lehernya yang jenjang putih mulus. Dua anting elegan bertengger di telinganya. Gelang berhias mutiara melingkar di tangan kanannya menambah elok penampilannya. Pakaian yang dikenakan belum pernah kulihat sebelumnya. Semua terpadu dengan sempurna. Keindahan yang tersaji tiada tara. Sungguh Kumala bagaikan malaikat yang turun dari surga, datang khusus di bangsal ini. Kecantikkannya mampu memberikan daya magis luar biasa. Jiwaku termotivasi untuk segera bangkit, sembuh dari sakit, keluar dari bangsal sial pembawa sengsara. Tidak banyak kata-kata, hanya sorot matanya memandangku lembut meneduhkan. Harapanku yang sudah pupus, terpenuhi lebih dari yang kuminta. Kumala hadir dengan segenap auranya yang luar biasa.
Ketika dia duduk di samping bed, banyak pengunjung yang lewat menyempatkan diri untuk menengok malaikat cantik itu. Para perawat tidak ketinggalan memanfaatkan waktunya ketika mengontrol aku untuk sekedar melihat dari dekat, Kumala yang sungguh memikat. Hidungku jadi megar.
Pasti mereka akan berkata dalam hatinya, “Ini orang kok dijenguk oleh seorang perempuan cantik sekali.”
Aku biarkan saja pikiran-pikiran mereka dalam hati itu.
Kujawab juga dalam hati, “Baru tahu kamu semua. Inilah makhluk cantikku yang kutunggu kedatangannya. Sekarang dia hadir bagaikan malaikat dengan keindahan sempurna.”
Bagai tahu jawaban dalam hatiku, mereka bergumam dalam hati, “Pak Wid ini hebat, temannya banyak, istrinya cantik, yang jenguk tak kalah cantiknya.”
Dalam hati aku tertawa,” Haa..Haa..jangan salahkan aku kalau istriku cantik, dan yang di hadapanku sekarang malaikat super cantik yang baru saja turun dari kahyangan.”
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Istriku sudah masuk dalam ruangan. Kumala berdiri mendekatiku, kemudian mengenggam tangan kananku. Dengan lembut dia berkata “Cepat sembuh Pak. Kumala pamit pulang.”
Aku hanya tertegun, tak menjawab apa-apa. Tangannya kugenggam erat. Sebelum kulepaskan tangannya yang lembut itu, aku hanya berucap pendek ”Terimakasih.”
Kumala kembali memandangku dengan tatapan yang sungguh menyejukkan. Hatiku terasa membumbung. Sakitku bagaikan lenyap melayang saat itu. Tidak kurasakan apapun. Andaikan saat itu ada sebutir kelapa besar atau sebongkah batu jatuh menimpa kepalaku, mungkin aku tidak akan merasakannya. Kumala berdiri menghampiri istriku. Mereka berpelukan dan berciuman pipi kiri dan kanan. Kudengar istriku mengucapkan kata terima kasih. Kumala hanya mengangguk. Kuikuti setiap jengkal geraknya. Dia menengokku, kemudian berjalan menuju pintu. Istriku mengiringi di belakangnya. Sebelum keluar dari pintu ruang itu, Kumala membalikkan badannya dan kembali memandangku. Mataku beradu pandang dengan matanya yang bagaikan mutiara. Kesejukan kembali mengalir ke pembuluh darahku, menyirep rasa sakit di sekujur tubuhku.
“Assalamu alaikum,” ucapnya lirih sebelum dia benar-benar hilang dari pandanganku.
Itu pertemuanku dengannya yang pertama dan terakhir selama kurang lebih seratus hari aku menjadi pesakitan. Selama itu istriku yang menjadi nyawaku. Tanpanya mungkin aku sudah tumbang. Tetapi memang ada motivasi kuat untuk bisa kembali bangkit oleh kehadiran malaikat yang tak terduga itu. Pulang ke rumah aku masih harus banyak di atas ranjang. Hanya pagi dan sore aku keluar untuk berjalan-jalan dengan penyangga. Sekedar untuk menggerakkan badan dan membuang bosan seharian terkurung di dalam rumah. Aku berharap Kumala datang menjengukku di rumah. Harapan yang agak mengada-ada tentu. Tetapi sepertinya Tuhan memang terlalu sayang padaku. Apa yang kuharapkan, meski jauh dari kenyataan, terwujud oleh kuasaNya.
Sore itu aku berjalan-jalan di trotoar jalanan yang agak ramai. Dari arah berlawanan kulihat sebuah sepeda motor mendekat. Aku agak minggir menghindari, kalau-kalau sepeda motor itu remnya blong. Aku tidak mau mengalami kecelakaan lagi untuk yang kedua kali. Sepeda motor itu berhenti persis di depanku. Penumpang berhelm dengan penutup kaca kemudian turun. Ternyata dia seorang wanita. Aku agak heran, namun aku merasa mengenal sosok yang masih mengenakan helm berkaca gelap itu. Begitu helm itu dibuka, dan menampakkan wajah, seketika aku terkesima. Ternyata Kumala, sang malaikat yang hanya sekali membezoekku di rumah sakit. Dia tiba-tiba sudah ada di depanku lagi. Tuhan memang Maha Misterius. Aku yang tidak lagi berharap bisa bertemu, malah dipertemukan di trotoar pinggir jalan. Dia berjalan mendekatiku yang masih belum pulih benar kesadarannya dari rasa shock. Cara berjalannya begitu anggun. Dia membawa plastik kresek putih. Begitu di depanku dia acungkan tangannya yang lembut. Kuraih tangannya untuk kujabat dengan erat.
“Bagaimana kabarnya Pak?” sapanya.
“Alhamdulillah. Ya seperti ini sekarang. Tetap disyukuri apapun kondisinya,” aku berusaha tegar di hadapannya.
“Maaf, tidak bisa menengok ke rumah. Kumala belum tahu rumahnya yang mana?” ungkapnya kemudian.
Dengan bersemangat kusampaikan kepada Kumala alamat rumah kontrakanku lengkap dengan arah-arahnya, warna cat rumah, dan tanda-tanda lain yang memudahkan untuk mencarinya.
 “Ya,kapan-kapan nanti Kumala ke rumah,” ungkapnya yang di telingaku bagaikan suara dari surga.
Aku betul-betul tersanjung malaikat cantikku mau datang ke rumah. Dia serahkan plastik kresek warna putih itu kepadaku.
“Ini kolak buatan Kumala, tidak tahu enak atau tidak.”
Kresek isi bungkusan kolak itu kuterima dengan hati berbunga-bunga.
“Terima kasih. Tidak mampir ke rumah sekarang?” ucapku berharap.
“Sudah menjelang maghrib. Kapan-kapan saja saya berkunjung.”
Setelah menjabat tangan, dia kembali ke sepeda motornya, menstaternya kemudian melaju meninggalkanku yang masih termangu sambil membawa plastik kresek putih isi kolak buatan Kumala. Begitu Kumala sudah hilang dari pandangan, aku bergegas pulang. Rasanya kaki melangkah lebih ringan. Plastik kresek isi kolak kupegang erat, takut terjatuh. Plastik kresek itu bagiku benda yang sangat berharga. Saat itu aku akan membela mati-matian dengan tongkat penyanggaku, jika ada orang yang berniat jahat maupun tidak jahat, yang ingin mengambil kresek putih isi kolak itu. Bagiku tas kresek itu adalah simbol dari Kumala itu sendiri. Di dalamnya ada kolak buatan tangannya sendiri. Di dalamnya ada hatinya kurasa. Di rumah kolak itu kumakan bersama istriku. Istriku sepakat bahwa rasa kolak itu sangat enak. Manis, ada gurih dan aroma nangka yang khas. Bahkan seandainya kolak itu rasanya asin sekalipun, aku akan merasakannya sebagai manis. Rasa itu berhubungan dengan perasaan. Jika sedang sakit, gule masakan enak favoritku akan terasa hambar di lidah. Namun kata Gombloh tahi kucing pun serasa coklat ketika hatinya sedang kasmaran.
Waktu berjalan terus dari jam ke hari, dari hari ke minggu dan dari minggu ke bulan tanpa henti. Setelah momen kolak di trotoar pinggir jalan itu, aku kembali tak mendengar kabar Kumala. Sayup-sayup kudengar dia pergi ke ibu kota atau ke luar Jawa, tak begitu jelas. Aku hanya berharap dia baik-baik saja. Tetapi kembali Tuhan mungkin memiliki keinginan sendiri untuk makhluknya. Aku mendengar kabar yang tidak mengenakkan tentang Kumala. Kudengar kabar samar-samar, Kumala telah bergaul terlalu jauh dengan orang yang tidak kupahami siapa. Ada rasa galau, tidak terima dan cemburu hebat yang menyergap seluruh jiwaku. Meski begitu aku berusaha untuk menenangkan pikiranku dan hatiku yang kacau balau. Aku berusaha menempatkan diri sebagai seorang dewasa yang harus mampu berpikir jernih. Dari berita yang berkembang kucoba untuk mereka-reka bagaimana malaikatku saat itu. Kumala nun jauh di sana berjumpa dengan seorang muda yang tentu memiliki segala hal yang dikehendaki oleh tiap gadis. Wajah cakap, tubuh atletis, pendidikan cukup, dari keluarga ekonomi mapan, pergaulan luas dan modern. Orang muda yang dengan pengalamannya mampu membuat gadis yang diharapkan tunduk padanya. Kumala yang sedang tumbuh dalam mengarungi kehidupan, mendapatkan seorang muda yang bisa memberikan pengalaman baru. Pengalaman yang mungkin selama ini tabu. Jangankan dilakukan, sedang melihatnya saja tidak. Namun memang sesuatu yang dilarang itu, merangsang untuk mencoba melihat, melakukan dan membuktikan. Orang muda itu mampu, dengan pengalamannya membimbing Kumala pada pengalaman-pengalaman baru  yang selama ini tak didapatkannya di komunitas Madani. Pengalaman yang awalnya menakutkan, meragukan untuk dilakukan, hingga akhirnya menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pengalaman yang kemudian ingin terus diulang. Aku memahami betul hal itu. Aku tidak mau egois berharap Kumala sempurna seperti harapanku. Saat itu aku hanya sangat berharap ada penolakan dari Kumala ketika orang muda itu berusaha mengajaknya. Aku hanya berharap Kumala berkata tidak, menjelang detik-detik kejadian itu. Meskipun aku yakin berteriak tidak, sekeras dan sekuat apapun, tidak akan mampu menghentikan kejadian yang sudah digariskan itu. Dua orang berbeda jenis, dalam kondisi seperti itu hanya dapat menjalani bimbingan birahi yang tidak disadari telah menguasainya.
Aku hanya termangu, antara ingin tahu dan rasa malu. Terus terang sejak kabar yang sampai ke telingku secara sayup-sayup itu, aku malu ketemu Kumala. Ada rasa enggan. Ada yang sudah berubah pada diri Kumala. Aku hanya ingin tahu bagaimana dia, namun aku tidak ingin ketemu Kumala. Aku masih simpan nomernya, namun aku tidak pernah mencoba menghubungi Kumala. Dengan iseng dan tentu sangat ngawur, kucoba telusuri keberadaan Kumala di internet. Saat kuketik lengkap nama Dwi Astuti Kumala Ningrum, yang kudapatkan malah pernyataan mungkin yang anda maksud Astuti. Aku hanya geleng-geleng mendapatkan informasi ini. Kuanggap mbah Google ini gendeng. Mauku mencari Kumalaku, yang disajikan data Astutinya Gito Rollies. Mungkin mbah Google juga menganggapku sableng, mencari orang yang tak terkenal kok di internet. Mestinya ke pasar-pasar, bertanya kepada para penjual sayur, atau ke terminal bertanya kepada kondektur. Begitu mungkin maunya mbah Google. Aku tidak kalah sengit, jika mbah Google tidak mengenal Kumalaku yang cantik jelita, berarti dia goblok, matanya buta minimal rabun, atau buta warna. Tetapi ada benarnya juga saran itu. Aku mulai mencari tahu keberadaan Kumala ke pasar-pasar, bertanya kepada tukang penjual sayur, penjaga toko, tukang obat keliling hingga tukang parkir. Tidak ada dari mereka yang tahu siapa itu Kumala. Ada yang bilang Kumala berada di pojok pasar, ternyata itu nama kucing milik bos toko emas di pojok pasar itu. Penelusuran di pasar-pasar nihil tanpa hasil. Aku mencoba ke terminal, menanyakan kepada sopir bus, sopir angkot hingga tukang ojek. Kepada para kondektur hingga pengamen yang turun naik bus juga kutanyakan, apakah tahu Kumala. Jawabannya hampir semua sama, dengan gerakan geleng kepala. Kumala sudah betul-betul tidak ada. Jangankan orangnya, jejaknya saja tidak terlacak.
Hingga suatu ketika Marjono, salah seorang kawan mengajakku ke rumah salah seorang koleganya. Ketika masih termangu di depan pintu, aku kaget oleh pintu yang tiba-tiba terbuka itu. Lebih kaget lagi ketika melihat sosok yang baru saja membuka pintu. Aku tidak percaya. Mataku kukucek, jariku kupitek untuk memastikan aku tak sedang mimpi. Belum sadar benar, keluar dari mulutnya suara yang juga sudah sangat melekat di gendang telingku.
“Mari silakan masuk. Kakak sedang keluar sebentar menjemput anaknya.”
Ternyata dia Kumala. Tak ada yang berubah darinya, hanya tubuhnya tampak berisi, lebih gemuk dan segar. Aku bagai kerbau dicocok hidungnya, mengikuti dari belakang masuk ruang tamu. Kumala menawari minum. Sebentar kemudian Kumala sudah muncul membawa dua gelas berisi teh hangat. Langsung kuminum teh itu untuk mengurangi rasa grogi yang sudah menggerogoti hatiku. Lidahku mulai kelu. Penyakit laten langsung menyergap begitu dekat dengan Kumala. Kosa kataku hilang, aku tidak mampu bicara. Aku malah sibuk memandangi Kumala yang lama tak kujumpa. Aku ingin meresapi malaikatku hingga ke dalam lubuk hati paling dalam. Mataku terus memandangnya. Ketika Kumala juga mengarahkan pandangannya kepadaku, mataku beradu pandang dengan matanya yang bagai kejora. Sesaat kemudian Kumala menunduk, membuang pandangan ke arah luar melalui pintu. Dari dialognya dengan Marjono, dapat sedikit kuserap informasi, Kumala sekarang sudah sendiri. Suaminya sudah tidak ada lagi. Usaha peninggalan suaminya dikelola oleh adik suaminya. Dia memilih kembali tinggal di kota kelahirannya. Mendengar isi dialog itu, terus terang hatiku teriris, begitu trenyuh mendengar perjalanan nasibnya. Saat kakaknya datang, dan keperluan dengan Marjono sudah cukup, kami pamit pulang. Aku genggam erat tangan Kumala saat pamitan. Kupandangi wajahnya. Kumala tersenyum sangat manis. Pandanganku nakal, dari wajah turun ke bawah, leher, dada hingga perut yang sekarang nampak lebih gemuk berisi. Kumala mengiringi hingga halaman depan. Aku pandangi sekali lagi Kumalaku yang ayu itu. Dia tetap tersenyum. Aku merasa bahagia saat itu. Aku pulang dengan perasaan yang luar biasa. Hatiku gembira ria, girang gemirang campur aduk.
Ternyata itu adalah pertemuan yang butuh waktu sangat panjang untuk dapat diulang. Berkali-kali aku sengaja ke rumah kakaknya, dengan harapan ketemu dengan Kumala, tetapi selalu tidak ada. Kumala sudah kembali ke rumah orang tuanya di lereng gunung Muria. Aku mendengar kabar entah dari mana sumbernya yang menyebutkan Kumala melahirkan. Mendengar kata melahirkan aku kaget bukan alang kepalang. Kapan hamilnya, dengan siapa. Sebuah pertanyaan kalut dan naif. Aku lupa bahwa Kumala pernah menjadi istri orang. Aku juga tidak begitu menyadari ada perubahan di tubuh Kumala, terutama perutnya yang agak gemuk saat ketemu di rumah kakaknya sekian bulan lalu. Sungguh aku dibuat kelimpungan memikirkannya. Lebih kelimpungan lagi ketika aku juga tidak punya daya apa-apa. Aku tidak mampu berbuat sekecil apapun untuk malaikatku itu. Aku serasa di atas bukit yang tinggi, ketika Kumala sedang berada di ujung jurang. Aku menyesali diriku yang seperti itu. Aku malu. Saking malunya akupun tidak berani menengoknya sekedar untuk melihat keadaannya. Aku ingat bagaimana ketika aku terkapar di rumah sakit, malaikatku hadir membawa kesejukan di jiwaku. Sementara ketika dia sedang seorang diri dalam kondisi seperti, aku malah menjauhi. Sungguh aku menyesal luar biasa dalam. Maafkan aku Kumala. Mungkin engkau tidak bakal pernah memaafkanku. Atau malah mungkin engkaupun tak pernah menganggap aku ada. Aku tak tahu misteri jawaban itu. Hanya dirimu sendiri yang tahu, dan yang di Atas sana. Yang jelas aku merutuki ketidakmampuanku, entah sampai kapan.
Aku melupakan ketidakmampuanku dengan menenggelamkan diri dalam rutinitas. Aku berusaha tidak mencari tahu bagaimana kondisi Kumala kini. Aku betul-betul ingin menguburnya. Mengubur yang paling dalam hingga tidak lagi tampak di permukaan. Karena kemunculannya hanya akan menyembulkan lagi rasa penyesalanku yang paling dalam. Tetapi entah mengapa, timbul juga hasrat untuk sekedar mendengar kabarnya. Aku mencoba membuka memori HP bututku. Kucoba menulis SMS dengan HP bututku itu. Hai bagaiamana kabarnya? Di ujung kalimat setelah titik, kububuhi inisial Wid. SMS itu terkirim, berdasarkan laporan dari HPku. Aku menunggu-nunggu balasan. Lama tak ada respon apa-apa pada HPku yang sudah sangat merana itu. Tak ada dering khas super jadul tanda SMS masuk. Menit berlalu. Jam pun telah lewat. Akhirnya siang sudah menuju malam, dan hari pun sudah berganti. SMS balasan itu tidak kunjung datang. Namun aku tidak kapok hanya sekali itu mengirimi Kumala SMS. Setiap ada kesempatan aku selalu mengirim dia SMS. Kalimatnya sama, persis tak kuubah sedikitpun. SMS yang sudah kukirim, kukirim lagi dan lagi.
Hingga suatu ketika usahaku yang ngotot itu membuahkan hasil. Dari HP bututku satu-satunya itu terdengar nada dering khas. Saat dengan malas kubuka SMS masuk, yang muncul adalah nama Tut Kumala.
Aku berteriak, “Yes!”
Dengan buru-buru kubuka SMS dari malaikatku yang sudah lama kutunggu.
Isinya singkat saja : “Alhamdulillah baik.”
Aku lega membacanya. Ternyata Kumala baik-baik saja. Dan yang lebih penting dia mau menjawab SMSku. SMS dari Kumala itu tetap kusimpan dan tidak kuhapus. Sejak itu aku berusaha selalu menanyakan kabarnya dengan bantuan teknologi SMS. Meski lebih sering tak dibalasnya. Jikapun dibalas hanya singkat, dua tiga kata saja. Padahal aku menulis berkalimat-kalimat, bahkan mungkin beralinea-alinea.
Suatu ketika aku memiliki keberanian yang muncul tiba-tiba. Aku ingin ke rumah Kumala di lereng gunung Muria itu. Aku ingin melihat keadaannya. Mungkin sekali sudah sangat terlambat. Namun pepatah bijak lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali berbuat. Aku tekadkan ke rumah Kumala dengan mengajak Jihan. Kuajak dia ke salah satu warung menthok goreng kesukaannya. Saat masih di warung makan itu, aku mengirim SMS kepada Kumala. “Bolehkah aku mampir ke rumah?”
Kutunggu jawaban dari Kumala. Lama tak ada nada dering khas tanda SMS masuk. Hingga satu porsi nasi dan sepotong menthok goreng hampir habis, tak ada balasan dari Kumala. Aku sudah tidak berharap bisa ke rumahnya. Mungkin memang aku tak boleh ke sana. Ketika sendok terakhir nasi masuk ke mulut, tiba-tiba saja nada dering khas yang kutunggu-tunggu itu berbunyi. Kubuka SMS dari Kumala “Silahkan. Saya di rumah”.
Aku tersenyum, hatiku lega. Aku bakal ketemu Kumala, makhluk cantik itu, malaikatku. Kujadikan SMS Kumala itu sebagai alibi kepada Jihan untuk kuajak mampir ke rumahnya. Tentu dia tak bisa berkutik lagi. Sogokan menthok goreng satu porsi cukup membuatnya manut-manut saja.
Tidak sampai lima belas menit sepeda motor yang kami tumpangi sudah berada di depan rumahnya. Kuketuk pintunya yang tertutup. Hatiku deg-degan. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Tiba-tiba saja sudah berdiri di depanku, seorang perempuan yang sudah pernah sangat kukenal. Namun aku terkejut ketika melihatnya. Aku seratus persen yakin, dia memang Kumala. Tetapi kenapa badannya begitu kurus. Sekelebat ingatanku melayang pada Kumala sekian tahun lewat, saat dia duduk di barisan paling depan ruang pengajaran. Saat dia menjengukku sendirian di rumah sakit. Juga saat dia membukakan pintu ketika aku bertandang ke rumah kakaknya. Kumala yang berkelebat dalam memoriku, sangat berbeda jauh dengan Kumala yang saat ini di hadapanku. Aku kaget saat Kumala mengajak masuk. Dengan agak gugup aku melangkah dan duduk di kursi tamu. Kumala masuk ruang sebelah dan kembali sudah membawa dua gelas sirup dan toples snack. Tiba-tiba ada suara tangis anak kecil. Kumala permisi untuk menggendong bocah itu. Dalam gendongannya bocah itu diajak menemuiku. Bocah laki-laki kecil itu adalah anaknya. Berkulit putih bersih, wajah cakep, menurun dari wajah ibunya. Aku tidak tahu bagaimana wajah ayahnya. Tidak lama aku di rumahnya. Karena pasti aku akan gagap di hadapannya. Aku sudah merasa cukup bisa mengetahui kondisi Kumala terkini. Kondisi yang membuatku sangat terpukul. Aku tidak siap menerima malaikatku sekarang begitu. Badannya sangat kurus, wajah tirus dengan mata cekung. Kumala pasti telah begitu menahan beban berat yang amat sangat selama ini. Dan itu ditanggungnya sendirian. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Tidak juga aku, yang justru menjauh di saat Kumala bergumul dengan masalah sangat pelik. Aku hanya bisa kembali merutuki diriku. Penyesalan yang sudah pasti tidak berarti.

Blora, tengah malam 10 Juli 2011