Rabu, 16 Mei 2012

Nyaris Menangis di Parangtritis


NYARIS MENANGIS DI PARANGTRITIS
Hermawan Widodo

Kumpulan pemuda Kepuh Lor menyelenggarakan karya wisata ke pantai Parangtritis dengan mengendarai sepeda ontel bersama. Sekitar 60 orang ikut piknik yang harus bemodalkan okol kuat itu. Bagaimana tidak, untuk sampai ke pantai Parangtritis kami harus mengenjot sepeda ontel sejauh lebih dari 50 km, menempuh rute perjalanan yang tidak mudah.
Jam delapan pagi, kami sudah berangkat konvoi bersepeda. Butuh waktu lebih dari tiga jam untuk sampai tempat tujuan. Karena dilakukan secara berjama’ah, perjuangan itu terasa tidak begitu berat. Rasanya senang saja.
Saya tidak ngontel sendiri, namun diboncengkan oleh Karno. Karno adalah anak dari Mbah Yoso, tetangga yang biasa diandalkan oleh keluarga saya dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah. Umur Karno dengan saya terpaut jauh, lebih dari 10 tahun. Adiknya Karno, namanya Nurdi adalah teman saya bermain. Nurdi dengan saya ada selisih lebih dari 5 tahun.
Sepeda yang dipakai adalah sepeda jengki merk Phoenik milik saya. Jadi perjalanan selama lebih tiga jam itu, saya tidak begitu capai. Rasanya cuma pantat jadi bebal, akibat kelamaan duduk di jok belakang tanpa ganjel sedikitpun. Karno yang ngontel jengki itu juga tidak nampak capai. Dia malah kadang ngepot ke sana-sini menggoda peserta lain. Yang digoda tentunya cewek. Tetapi harus saya akui cewek-cewek di Kepuh Lor menurut pandangan saya tidak ada satupun yang bening.
Memasuki perbukitan Siluk Panggang, para peserta nampak kesulitan mengendalikan sepeda. Dapat dimaklumi, karena memang medan turun naik dengan kondisi jalan beraspal yang juga tidak mulus, penuh lobang. Medan sulit tersebut bagi Karno bukanlah sesuatu yang berat. Dia dengan gayanya masih melaju dengan stabil dan masih juga menggoda peserta lain dengan kepotannya. Sekitar jam 11 kami sudah memasuki area pantai Parangtritis. Semua peserta mampu finish secara aman, tidak ada yang mengalami hambatan.
Panitia mengatur posisi semua sepeda peserta. Kami istirahat untuk makan. Panitia menyediakan nasi bungkus. Selesai makan, acara bebas. Semua menikmati keindahan pantai selatan itu secara bergerombol. Ada juga yang berduaan.
Karena saya masih kecil, baru kelas 5 SD, maka saya bermain sendirian. Saya sebenarnya sering diajak bermain bersama oleh cewek-cewek yang lebih tua dari saya. Tetapi karena saya anggap mereka tidak satupun yang bening sehingga saya tidak tertarik. Saya lebih senang bermain sendiri.
Meskipun sendiri, jika butuh sesuatu saya tinggal minta ke mbak-mbak itu, mereka dengan senang hati pasti langsung memberi. Ada yang selalu mengawasi saya, Lek Jilah namanya. Jika ada apa-apa dia duluan yang mendekati dan memenuhi apa yang saya butuhkan. Lek Jilah selama ini sering membantu di rumah Mbah Kaji Wir, adiknya mbah saya. 
Melihat ombak dan pengunjung yang mandi di laut, saya jadi ingin mandi. Memakai kaos model monyet warna merah dan celana pendek hijau, saya mendekati pantai. Di bibir pantai banyak yang hanya berani menyentuh air saat ombak datang, namun tidak yang berani mandi.
Saya masuk ke laut dengan cara berjalan perlahan ke arah yang berlawanan dengan datangnya ombak. Saat ada ombak datang saya merunduk. Begitu ombak sudah melewati tubuh saya, saya muncul lagi. Saya bertahan berenang di laut yang berjarak sekitar 10-15 dari bibir pantai. Di posisi itu masih banyak orang lain berenang. Sebenarnya bukan berenang, hanya bertahan untuk tidak tenggelam, dengan cara kaki digerak-gerakkan untuk menahan tubuh.
Saya tergerak untuk mencoba ke laut yang lebih jauh dan dalam, menuju ke selatan. Menggunakan teknik yang sama, merunduk saat ombak datang, perlahan-lahan saya mulai meninggalkan bibir pantai. Karena fokus menghadang ombak yang datang, saya tidak memperhatikan jarak saya dengan pantai. Begitu ada ombak saya menyelam, beberapa saat kemudian muncul kembali. Saat muncul posisi saya secara otomatis bergeser ke arah selatan, menjauh dari pantai.
Hal itu saya lakukan dengan sangat tenang dan senang. Ada rasa bangga saat tubuh dilalui ombak. Namun begitu saya membalikkan badan ke arah utara, ke arah pantai, saya sangat terkejut. Ternyata saya sudah sangat jauh meninggalkan pantai. Di kiri kanan saya yang tadinya banyak orang berenang, sekarang sudah tidak ada lagi. Mereka berada jauh di utara dekat pantai, hanya kelihatan seperti orang-orangan bertubuh mungil dari posisi saya sekarang. Artinya saya sudah benar-benar jauh sekali meninggalkan pantai.
Pada saat itu saya merasa sangat kecil. Di sekeliling saya hanya terhampar birunya air laut. Melihat ke timur sama air saja adanya, ke barat sama saja. Memandang ke selatan justru yang nampak gulungan ombak yang akan menerjang. Saya panik, ingin menangis rasanya. Saya betul-betul nyaris menangis. Muncul kekhawatiran tenggelam.
Diperparah dengan kaos warna merah dan celana hijau yang saya pakai. Katanya ada pantangan memakai pakaian dengan warna tertentu. Yang saya ingat warna hijau adalah termasuk pantangan. Dianggapnya menyaingi Ratu Kidul, sehingga bisa diambil olehnya dijadikan sebagai pengikutnya. Kepanikan saya semakin menjadi mengingat itu. Kaki saya juga sudah mulai terasa tidak enak, capai bergerak terus menahan berat tubuh agar tidak tenggelam.
Saat kepanikan mencapai puncak, tiba-tiba ombak besar datang. Reflek saya adalah menyelam menghindari ombak. Begitu ombak lewat saya muncul. Saya lupa, jika saya menyelam saat ombak datang berarti saya justru semakin menjauh dari pantai.
Menyadari itu saya tambah panik. Saya melihat orang-orang di pantai itu sudah sangat jauh sekali rasanya. Rasa takut sudah menyergap diri saya sepenuhnya. Saat sedang kalut-kalutnya, tiba-tiba ombak besar datang lagi. Tidak mau mengulangi kesalahan sebelumnya, saya melompat menyambut ombak itu dengan tubuh saya. Byaar..ombak menyapu tubuh saya.
Saat diterjang ombak itu saya berusaha untuk tetap dalam posisi yang terkontrol. Saya berusaha untuk tidak tenggelam. Ternyata ombak itu tidak sampai di pantai. Namun saya sudah senang karena sudah menjauh dari tengah laut. Posisi saya sudah di tempat awal saya berenang. Banyak orang yang lain berenang di sekitar itu. Sambil menata nafas dan juga hati, saya tetap berenang menjaga tubuh agar tidak tenggelam.
Begitu muncul ombak lagi saya langsung sambut ombak itu dengan tubuh saya. Tak berapa lama saya sudah terdampar di bibir pantai. Saya berjalan keluar dari air laut menuju pantai. Kaki rasanya kesemutan. Mungkin wajah saya nampak pucat saat itu. Namun karena tertutup oleh warna kulit yang beku kedinginan jadi tidak begitu nampak.
Yang pasti hati saya sudah kecut sekali. Lepas dari laut saya duduk di bawah gubuk yang banyak berdiri di sepanjang pantai. Saya oleh lek Jilah diberi roti dan teh hangat dalam plastik. Rasanya nikmat sekali saat itu. Jika saya terseret ombak laut selatan, pasti saat itu saya sudah tidak bisa makan roti dan minum teh lagi.
Peristiwa itu tidak saya ceritakan kepada yang lain. Pakaian yang melekat di tubuh basah semua oleh air asin. Rasanya lengket di badan. Saya mandi ke pancuran air payau dari rumah penduduk. Saya samarkan kejadian tragis tadi dengan bermain-main di pegunungan pasir, sambil mengeringkan pakaian yang basah. Tak berapa lama kaos dan celana saya sudah kering. Sengatan matahari di pantai sangat cepat menguapkan air.
Jam 3 sore ba’da ashar, kami meninggalkan pantai. Dalam perjalanan saya baru menceritakan peristiwa di laut tadi kepada Karno. Mendengar saya hampir tenggelam di laut, Karno kaget. Dia tidak tahu kalau saya mandi di laut sebegitu jauhnya meninggalkan pantai. Saya pesan kepada dia supaya tidak menceritakan hal itu kepada ibu atau bapak.
Sejak saat itu saya kapok mandi di laut lagi. Apalagi sudah ada papan pengumuman yang dipasang di pantai dengan tulisan besar-besar  warna merah : DILARANG MANDI DI LAUT. BERBAHAYA!!!.
Ternyata mandi di Parangtritis masih saya lakukan setelah kejadian itu. Meskipun tidak benar-benar mandi. Hal itu saya lakukan saat saya ikut latihan bela diri di Porbika. Porbika selain memberikan ilmu beladiri gabungan antara karate, yudo dan lainnya juga memberikan pelatihan tenaga dalam. Latihan itu dimaksudkan untuk mampu menggali tenaga inti yang tersimpan di dalam tubuh.
Saya pernah mendapatkan porsi latihan itu. Dengan posisi duduk pelatih memberikan latihan pernapasan. Kami harus mengambil napas, menahan dan mengeluarkan napas dari hidung sesuai dengan aba-aba yang diberikan pelatih. Waktu itu kami dilatih menyalurkan tenaga dalam ke sebuah batu.
Batu itu kami genggam, kemudian kami melakukan olah napas. Setelah selesai ritual pernapasan itu, jika berhasil maka batu itu sudah “isi”. Batu berisi itu memiliki kekuatan mampu menahan pemegangnya dari rasa sakit akibat pukulan dan lainnya. Batu itu juga memiliki daya sembuh, mungkin mirip batu ajaibnya Ponari. Pokoknya batu kali yang sebelumnya biasa saja itu, setelah disalurkan tenaga dalam kepadanya akan menjadi tidak biasa alias luar biasa.
Kami diwanti-wanti oleh pelatih agar memperlakukan batu itu dengan semestinya. Menaruh di tempat yang baik, tidak di sembarang tempat dan sebagainya. Semacam benda keramat, tetapi tidak sampai harus diberi sesaji kembang setaman, kemenyan dan lainnya.
Saya pernah membuktikan keampuhan batu itu. Selesai latihan dengan tangan menggenggam batu, Limpung teman latihan yang lain, memukul saya di bahu kanan dengan keras. Ternyata saya merasa sakit. Namun karena dilihat orang banyak, saya bilang tidak sakit. Saya tahan rasa sakit untuk diri sendiri. Gantian saya membalas memukul dengan sekerasnya ke bahu Limpung. Saya tidak tahu dia merasakan sakit atau tidak. Yang jelas saking kerasnya pukulan, justru tangan saya yang terasa sakit. Tetapi saya yakin bahu dia juga tidak kalah sakit dibandingkan tangan saya. Mungkin dengan alasan sama dengan saya, Limpung juga menyembunyikan rasa sakit itu.
Di rumah batu itu saya perlakukan dengan baik. Batu itu saya simpan di salah satu laci almari makan, dan tidak pernah saya sentuh lagi hingga tidak diketahui kebaradaannya kini.
Suatu ketika Porbika mengadakan latihan bersama. Pelatih yang merupakan anggota garnizun itu mengumpulkan semua anak didiknya. Mereka datang dari Tempel Sleman, dan dari Potorono tempat saya ikut latihan selama ini.
Dengan menggunakan tiga truck, kami diberangkatkan ke tempat latihan. Berangkat dari balai desa Potorono jam 8 pagi, menuju Parangtritis. Perjalanan dari Potorono hingga pantai Parangtritis sekitar 2 jam. Jalur yang kami tempuh melawati jalur barat. Tidak melewati Imogiri. Dari Pojok Beteng Wetan, ke selatan masuk ke jalan Parangtritis. Jalur itu memang lebih jauh, namun kondisi jalan lebih datar. Berbeda jika menempuh jalur Imogiri-Siluk yang harus melewati jalan-jalan di daerah perbukitan. Jalannya turun naik, kadang curam, kadang landai.
Sampai di pantai Parangtritis, kami kemudian mengambil posisi berjajar menghadap pantai. Latihan yang dipimpin langsung oleh guru besar itu tidak banyak melakukan gerakan-gerakan kombinasi. Latihan yang dilakukan hanyalah gerakan-gerakan dasar yang lebih dimaksudkan untuk pemanasan.
Selesai pemanasan kami diminta untuk saling memegang sabuk teman yang lain. Dengan posisi berjajar, tangan kanan saya memegang sabuk teman di kanan saya, sedangkan tangan kiri saya memegang sabuk teman di kiri saya. Demikian juga sabuk saya dipegang oleh dua orang di kiri dan kanan saya. Pelatih memberikan aba-aba untuk maju menuju bibir pantai.
Kami maju hingga mencapai air laut. Pelatih yang memunggungi laut selatan itu kemudian memberi aba-aba untuk maju lagi. Kami maju hingga air laut merendam kami sebatas pusar. Pelatih terus memberi aba-aba supaya maju. Kamipun terus maju, dan saat ada ombak datang, diperintahkan untuk merunduk. Ombak melewati kami. Pelatih masih memberi aba-aba untuk terus maju. Kami juga terus maju, dengan teknis merunduk jika ombak datang.
Saat saya menengok ke belakang ke arah utara, ternyata kami sudah jauh meninggalkan pantai. Melihat orang-orang di pantai nampak kecil seperti boneka. Kemudian ketika datang ombak, pelatih meminta kami untuk menyambutnya. Maka blarr…kami terbawa ombak hingga ke tepi pantai. Formasinya sudah berantakan karena tangan kami saling terlepas dari sabuk teman yang dipegang sebelumnya.
Keluar dari laut, kami istirahat dan makan jatah dus yang disediakan panitia. Konsumsi berisi nasi dan lauk serta air minum. Selesai makan dan istirahat secukupnya, latihan yang sesungguhnya baru dimulai. Latihan itu adalah uji ketahanan fisik dengan melakukan long march dari pantai Parangtritis hingga Imogiri. Kami harus berlari sejauh sekitar 25 kilo meter jarak Parangtritis-Imogiri. Itulah sebenarnya porsi latihan kami saat itu.
Tanpa alas kaki dan baju seragam karate masih basah, kami berlari meninggalkan pantai Parangtritis. Jalur long march tidak menempuh jalur yang kami lalui saat berangkat. Rute long march ini melalui jalur Siluk-Imogiri. Jalan turun naik dan berbatu kami lalui dengan kaki telanjang. Sudah pasti kaki rasanya sakit. Saya jadi ingat pesan bapak sesaat sebelum berangkat supaya memakai sepatu. Tetapi masak bersepatu. Karateka kok bersepatu, seperti atlet lari marathon saja. Meskipun dengan kaki sakit saya terus berlari. Saat itu tekad saya ingin berlari hingga Imogiri.
Memang pos pemberhentian ada di Imogiri. Namun ternyata lima kilo perjalanan rasanya saya sudah mau habis. Kaki semakin sakit untuk menapak, sementara napas sudah ngos-ngosan. Jalan satu-satunya adalah naik ke truck yang menjadi penjaring di belakang kami. Saat saya naik truck sudah ada beberapa teman yang sudah berada di situ. Artinya saya bukan orang pertama yang bertekuk lutut di hadapan medan yang tidak bersahabat itu.
Di atas bak truck saya bisa duduk-duduk sambil minum dan juga makan cemilan. Saya melihat teman-teman yang masih kuat tetap berlari. Namun sedikit demi sedikit mereka juga memilih naik ke truck. Sepenglihatan saya tidak ada yang terus berlari hingga Imogiri. Sebelum masuk Siluk, semua sudah terangkut dalam truck. Maka acara berlari diganti menjadi acara naik truck.
Dengan truck itu kami meluncur hingga ke lapangan Karangsemut. Di lapangan Karangsemut kami berhenti. Saat itu sudah mendekati ashar. Kami melakukan latihan gerakan-gerakan kombinasi. Selesai latihan ringan itu kami istirahat. Waktu istirahat diisi dengan makan. Selesai makan rangkaian kegiatan latihan hari itu ditutup di lapangan Karangsemut.
Setelah penutupan kami kembali naik truck, kemudian meluncur ke balai desa Potorono bagi truck yang mengangkut siswa asal Potorono. Sedangkan yang berasal dari Tempel Sleman, mereka langsung dibawa menuju Sleman, tidak mampir ke Potorono tempat pemberangkatan latihan hari itu. Menjelang maghrib baru sampai di Potorono. Sholat maghrib sebentar di mushola balai desa. Sampai rumah hampir Isya’. Badan rasanya capek semua. Selesai mandi, makan kemudian shalat Isya’, saya langsung masuk kamar dan tidur mendengkur sampai pagi.(*)