Rabu, 16 Mei 2012

Kepuh The Killing Field " Tragedi Pembunuhan Berencana "


KEPUH THE KILLING FIELD
“Tragedi Pembunuhan Berencana”
Hermawan Widodo

Kepuh merupakan sebuah dusun di daerah Bantul Jogjakarta. Tepatnya masuk Kelurahan Wirokerten, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Ada dua nama dusun Kepuh di Wirokerten. Dua dusun itu dipisahkan oleh sebuah sungai, anak sungai dari Gajah Wong. Konon kata orang-orang tua, sungai itu diberi nama Gajah Wong, karena dulu ada seorang pemuda yang menuntun gajah hanyut di sungai itu.
Ceritanya saat pemuda dan gajahnya menyeberang sungai, dia berujar,  “Sungai kok cuma dangkal begini”
Tiba-tiba tanpa diduga oleh sang pemuda, air sungai meluap dan menenggelamkan sekaligus menghanyutkan dia dan gajahnya.
Untuk memberikan peringatan (jawa : tetenger) sungai itu, kemudian diberi nama sungai Gajah Wong. Sampai sekarangpun, jika kami sedang menyeberang sungai Gajah Wong, tidak berani bilang atau bahkan sekedar dalam batin “sungainya dangkal”. Takutnya yang mbaurekso sungai Gajah Wong marah, kemudian menggelontorkan air bah yang mematikan, seperti yang dialami pemuda dan gajahnya.
Apakah cerita yang disampaikan kepada kami turun temurun itu benar, menurut Ebiet lebih baik tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. 
Dusun yang terletak di barat sungai adalah dusun Kepuh Kulon, sedangkan di timur sungai adalah Kepuh Wetan. Tiap dusun itu masih terbagi lagi menjadi sub dusun. Saya tidak mampu menjelaskan padanannya dengan baik. Tetapi gambarannya kira-kira begini. Kelurahan Wirokerten itu, terdiri dari dusun-dusun yang dipimpin oleh Kepala Dukuh dipanggilnya dengan sebutan Pak Dukuh. Dukuh itu terdiri dari beberapa RW. Di RW itu ada beberapa RT. Namun di luar struktural administratif itu, ada wilayah yang membagi dusun tersebut. Kepuh Wetan, dusun saya terdiri dari tiga wilayah yaitu Kepuh Lor tempat tinggal saya, Kepuh Kidul tempat tinggal sebagian saudara-saudara saya, dan Dolahan yang jaraknya dari Kepuh Lor hampir satu kilo meter, yang dibatasi oleh area sawah yang luas. Dalam wilayah itu bisa terdiri dari 2 RW atau lebih tergantung luasnya. Kepuh Lor terdiri dari 2 RW. Sedangkan dusun Kepuh Kulon wilayahnya terdiri dari Kepuh Kulon dan Kepuh Tegal. Kepuh Tegal terletak di sekitar bantaran sungai.
Meskipun memiliki nama sama, yaitu Kepuh yang berasal dari nama sebuah pohon, namun dua dusun Kepuh itu memiliki karakter yang berbeda. Kepuh Kulon memiliki nuansa religi yang lebih tinggi dibandingkan Kepuh Lor.
Di Kepuh Kulon sudah sejak lama berdiri masjid cukup besar. Seingat saya masjid itu ada sebelum saya lahir. Kemungkinan sudah ada sejak awal tahun tujuh puluhan. Masjid itu dikelola oleh pengurus Muhammadiyah tingkat desa yang kebetulan sebagian besar pengurus adalah warga Kepuh Kulon. Kantornya juga berada di dusun Kepuh Kulon, menggunakan salah satu rumah pengurus. Sedangkan Kepuh Lor tidak memiliki bangunan masjid. Kalaupun ada hanya berupa langgar yang menggunakan salah satu bagian rumah. Kebetulan di Kepuh Lor yang dijadikan langgar adalah bagian rumah dari mbah Kaji Wir yang merupakan adik dari mbah saya.
Kondisi ekonomi warga Kepuh Kulon dan Kepuh Lor juga berbeda. Sebagian besar warga Kepuh Kulon adalah pegawai pemerintah, sedangkan warga Kepuh Lor sebagian besar tani atau buruh tani. Hanya satu dua orang yang menjadi pegawai pemerintah. Salah satunya adalah bapak saya yang PNS kantor pajak, sebagai juru sita. Kondisi perekonomian yang seperti itu, berdampak pada tingkat pendidikan pemuda dan anak-anaknya. Anak-anak Kepuh Kulon sudah banyak yang kuliah.
Anak-anak Kepuh Lor sudah cukup senang dengan lulus SD. Setelah lulus SD kebanyakan ikut membantu orang tua menjadi tenaga buruh membuat bata merah. Sawah kas Desa yang berada di Kepuh Lor diolah menjadi bata merah. Banyak tobong-tobong bambu beratap daun tebu, dibangun untuk menampung bata yang siap dibakar. Di tobong itu, bata-bata dibakar hingga matang berwarna merah. Meski demikian ada juga yang melanjutkan ke SMP swasta. Umumnya mereka masuk ke SMP Eka Bakti, yang gedungnya masih meminjam gedung SDN Jambidan. Masuk sekolah siang jam 13.00 pulang sekitar jam 16.00.
Mereka tidak bisa masuk SMP negeri karena tidak lulus tes yang menjadi syarat masuk SMP negeri. Seangkatan saya, hanya ada dua anak yang sekolah di SMP negeri yaitu saya dan Sumiyar. Saya di  SMPN Baturetno, Sumiyar di SMPN Banguntapan 2 yang baru berdiri dan baru menerima murid untuk yang pertama kali. SMPN Banguntapan 2, masuk siang, gedungnya masih meminjam gedung SMPN Baturetno. Setahun kemudian SMPN Banguntapan 2 sudah memiliki gedung sendiri di Jambidan.
Anak yang sekolah di SMA negeri hanya saya saja dari Kepuh Lor. Saya sekolah di SMAN 5 Kotagede Jogja, sekolah paling favorit bagi lulusan SMP di daerah Bantul utara. Dalam catatan sejarah hingga tahun 1987, Kepuh Lor hanya empat orang yang pernah sekolah di SMAN 5. Empat orang itu adalah saya dan tiga anak-anak Mbah Kaji, Lek Darmo, Pak Moh dan Mas Gandung. Apalagi untuk kuliah.
Menurut catatan sejarah Kepuh Lor hingga tahun 1990, saya adalah satu-satunya yang kuliah di UGM. Pak Moh lulus SH dari UII. Lek Darmo tidak melanjutkan kuliah. Mas Gandung tidak mampu menembus ketatnya persaingan menuju kursi kuliah di PTN. Dia kuliah di APMD, sebuah akademi swasta, yang merupakan sekolahnya calon camat. Saya tidak paham mas Gandung lulus atau tidak. Yang jelas dia tidak pernah menjadi camat, bahkan jadi PNS pun tidak. Profesinya hingga sekarang sebagai MC untuk berbagai acara, dari hajadan pernikahan hingga sunatan.
Perilaku dan kebiasaan warga Kepuh Kulon dan Kepuh Lor dalam memperlakukan pendatang, khususnya anjing ada perbedaan. Binatang yang memiliki kesetiaan tinggi itu, jika masuk dusun Kepuh Kulon akan mengalami nasib yang tidak mengenakkan. Anjing-anjing itu akan diusir keluar dari dusun dengan berbagai cara, digertak, dilempar batu atau dengan cara-cara yang lain. Bagi warga Kepuh Kulon, yang penting anjing-anjing yang najis, tidak boleh masuk dusun yang kental nuansa religinya itu.
Berbeda dengan anjing yang masuk Kepuh Lor. Sang anjing akan mendapatkan perlakuan yang berbeda, meskipun tidak kalah sengsaranya. Bahkan bisa dipastikan anjing itu menemui ajal, jika tidak sedang dikawal ketat dewi fortuna. Anjing yang masuk ke Kepuh Lor akan mengalami nasib tragis, bukan karena terusir, namun karena memang sengaja dibunuh, untuk kemudian dimasak secara berjama’ah.
Warga Kepuh Lor, khususnya para pemuda cukup lihai menaklukkan anjing-anjing naas itu. Begitu terdeteksi ada anjing dari luar memasuki wilayah Kepuh Lor, barisan pemuda yang sudah terlatih khusus untuk misi itu, akan menggiring sang anjing ke lahan yang sudah disiapkan jebakan. Jebakan itu berupa sumur yang sudah disamarkan dengan daun-daun kering di atasnya, sehingga tidak nampak lubangnya. Jebakan tidak hanya dibuat di satu titik, namun di beberapa titik.
Tugas para pemburu adalah mengarahkan anjing pendatang ke salah satu jebakan yang paling dekat. Tahap ini paling menentukan, sebab jika anjing bisa lolos dari perangkap ini, dipastikan dia akan kabur sekabur-kaburnya dan kapok selama-lamanya untuk datang lagi ke Kepuh Lor.
Saat yang ditunggu itu ditandai dengan suara grubyuk, yang menandakan bahwa kurban sudah masuk jebakan.
Begitu terdengar suara itu maka spontan para pemburu akan berteriak kegirangan.
 “Tongseng!”
“ Sate!”
 Mereka sudah membayangkan pesta.
Babak selanjutnya adalah penentu dari tragedi pembunuhan yang direncanakan dengan sistematis terhadap anjing malang itu.
Konon katanya membunuh anjing yang akan dimakan dagingnya, tidak boleh dengan menyembelihnya. Saya tidak paham persis mengapa mesti begitu. Ada yang pernah bilang daging anjing yang enak adalah daging yang mengandung darah.
Saya pernah melihat tumpukan daging anjing yang belum dimasak, warnanya merah, ada bercak-bercak darahnya. Melihat tumpukan daging itu, terus terang saya merasa ngeri, perut menjadi mual dan ingin muntah.
Proses membunuh anjing yang sudah terperangkap dalam sumur, dengan cara menjeratnya, menggunakan tali. Tali yang sudah dibuat laso diturunkan dengan kayu atau bambu. Tali itu dipasangkan pada leher anjing yang sudah meringkuk di dalam sumur jebakan.
Proses ini agak susah karena sang korban pasti akan panik, meronta dan bergerak tanpa kendali. Jangankan anjing yang besar dengan tenaga kuat. Cacing saja pasti akan meronta ketika menghadapi marabahaya yang mengancam nyawanya. Tetapi karena ruang gerak anjing malang itu begitu sempit, jerat itu pasti akan masuk juga ke lehernya.
Begitu jerat masuk leher, dengan segera tali yang mematikan itu, ditarik oleh satu atau dua orang yang paling kuat tenaganya. Dengan sekuat tenaga mereka menariknya. Dengan sekuat tenaga pula anjing itu meronta-ronta. Gerakan liar anjing itu lama-lama semakin melemah karena nafas yang tersumbat oleh jerat, dan akhirnya mati sempurna setelah stok nafasnya habis. Tamatlah sudah riwayat anjing yang berani masuk wilayah Kepuh Lor, dan sempurnalah eksekusi yang terorganisir dan terencana dengan baik dan rapi itu. 
Meskipun mati dengan tragis, namun anjing itu mendapat tempat yang layak di hadapan warga Kepuh Lor. Dia akan menjadi menu utama sebagian besar warga Kepuh Lor. Ada panitia yang mendata dan mengumpulkan dana dari warga yang ingin menikmati sajian hot dog. Hot dog dalam makna yang sesungguhnya karena memang si dog itu akan dimasak sampai matang dengan berbagai bumbu pemanas semacam mrica dan sebagainya, hingga benar-benar hot.
Warga yang berminat diminta iuran untuk kebutuhan memasak sesuai pesanan. Bapak adalah salah satu langganan yang didatangi panitia untuk diminta iuran dan jenis masakan yang dikehendaki. Setelah matang biasanya diantar ke rumah menu sesuai yang dipesan. Umumnya dimasak tongseng, namun ada juga yang memesan sate.
Meski demikian tidak semua terlibat dalam pesta daging anjing itu. Salah satu yang pasti tidak ikut adalah mbah Kaji Wir. Apa kata dunia jika seorang haji ikut-ikutan pesta daging panas itu.
Sebelum dimasak, sang anjing harus dikuliti dulu. Lahan yang digunakan untuk mengolah anjing yang sudah tak bernyawa itu, menjadi berkeping-keping daging, adalah kebun kosong di bantaran sungai. Tubuh anjing diikat di antara dua pohon. Posisi kepala di bawah. Ada salah satu warga yang sudah dianggap berkemampuan baik untuk tugas rumit itu. Dia dibantu satu dua orang sebagai asisten. Yang lain hanya nonton.
Suatu ketika saya pernah menyaksikan saat anjing dalam proses dikuliti. Mulanya biasa saja. Proses berjalan seperti yang sudah-sudah. Tetapi tanpa diduga, anjing yang sudah digantung dengan posisi terbalik itu tiba-tiba mengeluarkan suara aneh.
 “Aauuu…!”
Suara itu keras sekali. Mendengar suara seram itu kami semua semburat, lari terbirit-birit ketakutan menjauh dari lahan horror itu. Tak ketinggalan, yang berkewajiban terhadap keberlangsungan proses pengulitan anjing juga ikut lari.
Bagaimana kami tidak takut? Anjing yang sudah pasti mati, dijerat dengan tali, sudah digantung dalam posisi terbalik, ternyata masih mampu menyalak. Mungkin itu auman terakhirnya sebagai protes perlawanan atas perlakuan terhadap dirinya yang di luar batas perikebinatangan. Atau anjing itu merupakan anjing jadi-jadian, tidak ada yang tahu.
Yang jelas setelah aura horror itu reda, proses menguliti anjing malang itu dilanjutkan. Tubuhnya dipotong-potong hingga siap untuk dimasak.
Suatu ketika masakan tongseng jamu atau sengsu (akronim dari tonseng asu/anjing) sampai di rumah. Tongseng itu adalah pesanan bapak. Meskipun bapak sering pesan, namun saya belum pernah sekalipun ikut makan. Saya paham daging anjing haram. Bapak juga melarang saya ikut makan. Bapak melakukan itu, katanya untuk solidaritas, toleransi dan damai antara warga Kepuh Lor.
Sepandai-pandai tupai meloncat, sekali-sekali gagal juga. Serapat-rapat daging disimpan akhirnya termakan juga. Dan saya adalah korbannya.
Saya tidak tahu, pada Minggu siang itu ada pembunuhan berencana yang sukses terhadap anjing malang yang masuk wilayah Kepuh Lor. Sore hari habis bermain, begitu sampai rumah karena perut lapar, saya langsung menyambar lauk daging di meja makan. Daging itu meskipun rasanya aneh, agak pedas-pedas, terasa enak. Menu daging itu habis tanpa sisa bersama nasi yang masih hangat.
Saya baru merasa ngeh dengan menu istimewa yang baru saja saya habisi itu, ketika bapak pulang dari rumah tetangga. Setelah ke belakang, bapak menghampiri meja makan, sepertinya mencari sesuatu.
Saya bertanya kepada bapak, “Mencari apa Pak?”
Bapak tidak menjawab, malah ganti bertanya kepada saya. Pertanyaan itu laksana sambaran geledek di siang bolong yang sedang tidak hujan, “ Kamu makan daging di meja makan, Wan?”
Dengan sangat tegas kujawab, “ Ya Pak!”
“ Itu tongseng asu Wan!” bapak menimpali dengan suara rendah penuh penyesalan.
Thueenk! Saya kaget sekali mendengarnya, meskipun suara bapak tidak keras.
Tetapi mau bagaimana lagi, nasi sudah membubur, telah masuk dalam perut secara sempurna dan dalam proses menjadi calon tahi. Ada rasa menyesal, namun ada juga rasa senang, karena saya menjadi tahu rasa daging anjing itu seperti apa.
Setelah insiden yang menyangkut keyakinan aqidah itu, saya selalu menanyakan ke ibu, daging apa yang tersaji di meja. Hikmahnya, setelah kejadian itu, jika di Kepuh Lor terjadi ada pembunuhan berencana terhadap anjing yang masuk wilayah kami, bapak tidak pernah ikut memesan sengsu lagi. Bapak juga sudah mulai belajar dan mengerjakan shalat.
Pembunuhan berencana kepada anjing yang masuk wilayah Kepuh Lor sudah menjadi tradisi, bahkan mungkin trade mark, yang merupakan kearifan lokal Kepuh Lor. Tetapi pembunuhan berencana terhadap manusia, yang bukan seekor anjing juga pernah dilakukan oleh warga Kepuh Lor.
Waktu itu sedang gencar-gencarnya dilaksanakan operasi terhadap preman, yang lebih dikenal dengan istilah petrus, penembakan misterius. Menurut kabar yang beredar, banyak preman-preman lokal yang tiba-tiba raib tak diketahui rimbanya.
Salah satu preman yang cukup ditakuti waktu itu adalah Liwung. Dia tinggal di dusun Kertopaten, masih di wilayah Kelurahan Wirokerten. Kertopaten jaraknya tidak sampai satu kilo meter dari Kepuh Lor. Meskipun dia seorang preman yang hampir membuat semua orang mengkeret nyalinya, namun ada orang yang berani menghadapi dia satu lawan satu. Orang itu adalah Lek Jud paman saya.
Lek Jud adalah adik bapak yang paling berandalan diantara adik-adik yang lain. Meskipun juga mendapat sebutan preman namun Lek Jud  tidak kriminal. Dia hanya suka berkelahi dan di tubuhnya terdapat beberapa tato.
Saat ada turnamen bola volley antar club yang diselenggarakan oleh pemuda Kepuh Lor, Liwung berbuat gaduh. Karena dia preman, tidak ada yang berani dengan dia. Namun begitu Lek Jud datang ke Kepuh Lor, Liwung yang saat itu sedang petentang-petenteng langsung ditantang satu lawan satu.
Waktu itu di genggaman tangan Lek Jud bukan pisau atau pentungan, tetapi botol penuh isi bensin, yang baru saja dibelinya untuk mengisi tangki motor yang bensinnya kosong. Ternyata tantangan Lek Jud tidak ditanggapi. Liwung kemudian pergi meninggalkan arena turnamen.
Saya kira Liwung cukup cerdas tidak meladeni tantangan Lek Jud. Meskipun secara kasat mata dia sendirian, namun warga Kepuh Lor semua siap sedia di belakangnya. Lek Jud sudah membulatkan niat, jika Liwung berani melawan akan dikepruk dengan botol penuh bensin itu, kemudian akan dibakarnya hidup-hidup. Namun peristiwa dramatis itu urung terjadi.
Meskipun Liwung tidak jadi mati dibakar oleh Lek Jud, selang beberapa hari kemudian ada kabar yang beredar yang menyebutkan dia diciduk oleh aparat dan raib tidak jelas rimbanya. Ada bisik-bisik yang menyebutkan Liwung dimasukkan luweng.
Luweng adalah istilah untuk gua bawah tanah di wilayah Gunungkidul. Gua itu berupa lobang yang di dalamnya ada sungai bawah tanah yang bermuara di pantai selatan. Kedalaman gua itu lebih dari 15 meter. Persis di bawah lobang itu terdapat batu hitam besar.
Menurut kabar yang beredar, mereka yang dimasukkan ke goa itu, matanya ditutup, tangannya diikat, digiring hingga mendekati lobang kemudian didorong. Dalam kondisi mata tertutup dan tangan terikat di belakang, mereka satu persatu jatuh meluncur ke sungai bawah tanah itu. Bukan air yang menerima tubuh mereka, namun batu hitam besar yang super keras. Hanya orang-orang sekelas Ontorejo yang mungkin bisa selamat.
Begitu tubuh terhempas ke batu hitam sekeras pualam, air sungai yang sangat deras segera menyambut dan menghanyutkan tubuh remuk itu menuju samudera nan luas, Samudera Hindia.
Teman saya saat menyusuri gua itu, pernah menemukan beberapa tengkorak berupa batok kepala yang tidak sempat hanyut terbawa arus sungai. Tengkorak batok kepala itu tersangkut di antara bebatuan besar.
Sebenarnya Lek Jud yang pernah akan menghabisi Liwung juga menjadi target aparat untuk diciduk. Namun karena kakak iparnya, Pak Parjo suami Mbak Jazim adalah seorang polisi, Lek Jud bisa lolos dari cidukan. Lek Jud meninggal secara wajar karena serangan jantung di umur yang belum genap 40 tahun.
Akhir bulan Agustus, seperti biasa di Kepuh Lor diadakan pementasan seni tradisonal ketoprak untuk memeriahkan peringatan 17an Agustus. Sebelum acara utama pementasan ketoprak, diawali terlebih dahulu dengan acara pentas seni yang lain berupa menyanyi dan menari.
Jam sepuluh saat pementasan ketoprak dimulai, ada sesuatu yang ganjil. Penonton yang tadinya memenuhi pelataran Mbah Arjo, nampak sangat berkurang. Kerumunan itu bergerak meninggalkan tempat pementasan ketoprak, secara bergelombang dan bertahap. Gelombang masa itu ternyata menuju ke jalan yang terletak di tengah area persawahan antara Dolahan, Wirokerten, Kepuh Lor dan Jambidan.
Ada kabar yang beredar bahwa malam itu Garnizun akan menyerahkan preman kepada masyarakat. Animo masyarakat khususnya warga Kepuh Lor ternyata begitu menggelora, sehingga rela meninggalkan arena pentas ketoprak. Bapak saya yang penghobi ketoprak saja turut dalam arus masa itu.
Kerumunan orang yang tak terhitung dari berbagai dusun sudah berkumpul di sepanjang jalan yang jauh dari pemukiman penduduk itu.
Tepat tengah malam mobil truck tentara datang. Dua orang kemudian diturunkan. Dua orang yang sudah pasti preman itupun berhadapan dengan kerumunan orang yang sudah memiliki tekad untuk menghabisi. Saat sudah turun ternyata preman itu sudah cukup dikenal : Bagong dan Sempu.
Ketika ada yang menyapa, “Ee kamu Gong!”
Dia menjawab dengan lemah dan pasrah, “Iya Pak, ampun Pak”
Tetapi preman satunya Sempu hanya diam saja. Berbeda dengan Bagong yang sudah rontok nyalinya melihat masa begitu banyak, Sempu terlihat cukup tegar. Sempu ini adalah preman dari Banjardadap.
Perlu dipahami bahwa Kepuh Lor dan Banjardadap hanya dipisahkan oleh satu petak sawah. Orang Kepuh Lor sudah sangat mengenal Sempu, demikian juga sebaliknya. Meskipun dia memiliki nama tenar di dunia preman, namun dia tidak pernah berbuat kriminal mencuri atau yang lain di daerah sekitar tempat tinggalnya. Daerah operasionalnya jauh dari kampung halamannya.
Bahkan tiga hari sebelum malam penghabisan itu, Sempu masih sempat bermain di rumah saya. Saya melihat dia jagongan akrab dengan bapak di teras depan rumah. 
Tetapi malam itu semua semangat pertemanan sudah tidak ada, putus sama sekali. Yang ada ialah semangat untuk menghabisi, membunuh preman yang selama ini membuat resah. Dan itu didukung, bahkan difasilitasi oleh aparat berseragam hijau.
Bapak belum paham siapa preman yang diturunkan. Begitu mendekat, bapak saya melihat Sempu, kebetulan Sempu juga melihat bapak. Seketika semangat bapak langsung drop. Kepala bapak menjadi kelu, kaki dan tangan terasa kaku. Keringat dingin menyergap. Bapak memiliki riwayat jantung yang kurang baik.
Bapak berkata kepada Sempu, “Kamu to?”
Sempu menjawab dengan sopan, “Nggih Pak. Sempu nyuwun pangapunten”
Bapak menjawab, “Yo”
Setelah itu bapak bergegas meninggalkan lokasi yang bakal menjadi ladang pembantaian itu. Bapak pulang ke rumah, tidak tega membayangkan Sempu menjadi bulan-bulanan masa hingga ajal. Dan betul saja, malam itu terjadi pembunuhan yang direncanakan dengan matang terhadap dua orang pria yang divonis sebagai preman.
Bagong sekali gebug langsung KO. Dia tidak bangun lagi ketika kemudian orang-orang bergantian menghujani tubuhnya dengan tangan kosong atau isi. Berbagai benda tumpul dari mulai kayu, besi hingga batu menimpa tubuhnya yang sudah tidak berdaya.
Berbeda dengan Sempu. Meskipun secara fisik lebih kecil, namun ternyata dia sangat tangguh. Entah memiliki ilmu apa sehingga berbagai benda keras yang menimpa tubuhnya tidak cukup merobohkannya. Dalam kondisi terkulai dan bersimbah darah dia masih terus mendesis-desis cukup keras, meskipun mulutnya tidak mengeluarkan kata-kata. Desisan itu menandakan masih ada hawa hidup bersemayam di tubuhnya.
Massa yang menyaksikan itu semakin bersemangat untuk segera menghabisi Sempu. Ternyata Sempu cukup mampu bertahan. Namun pertahanan Sempu yang begitu tangguh itu berakhir juga dengan pukulan maut yang menimpanya.
Ketika kerumunan orang itu masih sibuk menghujani pukulan ke tubuh Sempu, tampillah kemudian dua warga tertangguh dari Kepuh Lor. Dua orang itu adalah Mbah Bodin dan Mbah Yoso yang diyakini memiliki “bekal”. Dibantu oleh dua warga yang lain, membalikkan tubuh Sempu.
Tubuh Sempu yang sudah tanpa daya itu, kakinya dipegangi digantung ke atas oleh dua orang. Dalam posisi kepala menggantung ke tanah, Sempu masih terus mendesis-desis. Mbah Bodin berdiri tegak membelakangi tubuh Sempu, yang kedua kakinya dipegang dua orang itu. Dua tangan Mbah Bodin memegang pipa besi baja sebesar lengan sepanjang satu meter yang biasa digunakan untuk memecah bata merah.
Mbah Yoso jongkok menghadapi wajah sempu. Tangan Mbah Yoso mengelus wajah Sempu yang sudah hancur bersimbah darah. Sepertinya Mbah Yoso merapalkan sesuatu.
Ajaib, suara desisan Sempu yang tadi keras melawan, kemudian menjadi agak pelan. Sempu mampu tertundukkan oleh rapalan Mbah Yoso. Kemudian Mbah Yoso berdiri, memberikan isyarat kepada Mbah Bodin yang sedari tadi sudah siap.
Mbah Bodin mengangkat pipa besi itu dengan dua tangannya yang kekar. Sekuat tenaga pipa besi diayunkan tepat di selangkangan Sempu. Prees!
Benda super keras itu membentur tubuh empuk Sempu. Seketika Sempu diam. Tak ada jeritan, tak ada lenguhan, pun desisan sebagai bentuk perlawanan terakhirnya itu terhenti. Sempu betul-betul terdiam dan mati. Preman tangguh itu menemui ajal di tangan dua orang tangguh Kepuh Lor yang satu klub ronda dengan saya.
Mbah Bodin dan Mbah Yoso adalah orang yang mungkin mengetahui titik lemah Sempu. Orang menyebutnya sebagai titik pengapesan. Jadi dipukuli sampai hancur sehancur-hancurnyapun, jika titik pengapesannya belum tersentuh, maka dia akan tetap hidup. Itu yang terjadi pada diri Sempu.
Meskipun sosok Sempu cukup dekat dengan warga Kepuh Lor, namun malam itu hidupnya harus berakhir dengan tragis di tangan orang-orang Kepuh Lor sendiri. Orang-orang yang dikenal olehnya semasa hidup.
Setelah dua preman itu betul-betul game, kemudian tubuhnya dinaikkan kembali ke atas truck. Tak butuh waktu lebih dari menit, tanpa perlu kata pengantar ataupun kata pamitan, petugas berseragam hijau itu membawa preman yang statusnya sudah berubah menjadi mayat itu menjauh dari ladang pembantaian. Entah dibawa ke mana tubuh-tubuh yang sudah tidak berbentuk itu. Begitu truck sudah tidak nampak, secara bergelombang masa yang baru saja melampiaskan nafsunya itu bubar dengan membawa cerita masing-masing.
Pagi hari saat melewati ladang pembantaian itu, masih nampak bekas-bekas aktifitas dramatis semalam. Rumput-rumput yang tergilas pijakan kaki, darah yang mengering masih menyisakan bau amis.
Kejadian yang mengukuhkan bahwa Kepuh Lor bukan saja jago membunuh anjing, namun juga mampu membunuh preman. Ya preman, manusia yang mungkin dianggap memiliki perilaku yang tidak jauh dengan anjing. Dan sudah menjadi tradisi bagi warga Kepuh Lor, bahwa anjing harus dihabisi, untuk kemudian berpesta.
Itulah Kepuh Lor, tempat saya lahir, menjalani sebagian waktu tinggal, memperoleh pengajaran, bergaul dan bermasyarakat. Setelah menikah, sebentar saja tinggal di Kepuh Lor yang di sana saya tumbuh dan membesar.
Tahun 1994, saya pindah rumah tidak lagi tinggal di Kepuh Lor. Bapak saya meninggal tahun 1997, karena serangan jantung yang tiba-tiba menyergapnya sesaat setelah selesai sholat dhuhur di mushola kantornya.
Kemudian gempa maha dahsyat memporak porandakan Jogjakarta. Tak luput Kepuh Lor juga diratakan dengan tanah oleh kekuatan alam super hebat itu. Sekian ratus nyawa orang melayang, nenek saya salah satunya, meninggal hari itu. Igun. adik saya persis, tempurung kaki kanannya pecah hancur remuk.
Tahun 2007 beberapa hari menjelang Idhul Adha, Igun menyusul bapak yang sepuluh tahun sebelumnya meninggal. Penyakit hipertensi yang hinggap cukup lama tak mampu lagi dibendungnya. Igun meninggal masih sangat muda belum lagi genap 32 tahun.
Ibu sekarang tinggal di rumah pusaka Kepuh Lor. Di rumah itu tinggal juga Igit adik saya yang lain bersama istri dan anak-anaknya. Adik saya yang bungsu Koco, tinggal di Jakarta.
Selepas tamat ikatan dinas di STAN dia ditempatkan kantor pajak Jakarta. Setiap bulan dia pulang ke rumah pusaka sekaligus menjunguk ibu tercinta.
Uzan anak saya yang sulung sekarang tinggal di rumah pusaka atas permintaan ibu untuk menemaninya. Sepertinya sudah menjadi tradisi di keluarga saya, cucu tinggal serumah dengan mbahnya.