Rabu, 16 Mei 2012

Batu Hitam Berdarah


BATU HITAM BERDARAH
Hermawan Widodo

Saat berumur sekitar 6 tahun, menurut penuturan ibu, saya nakalnya minta ampun. Harus saya akui, bahwa saya memang nakal.
Urusan mengambil jambu tetangga sayalah biangnya. Menunggu lengahnya mandor tebu, kemudian masuk area perkebunan tebu dan membabat tebu itu sebanyak-banyak, hampir tiap minggu saya lakukan.
Pergi tanpa pamit, dengan bersepeda pulang-pulang sudah tanpa sepeda karena lupa menaruhnya, merupakan hal biasa. Hari berikutnya ada tetangga datang membawakan sepeda saya yang tertinggal di halaman rumahnya.
Membuat keributan saat sholat taraweh di bulan Ramadhan, saya tidak pernah absen. Mengganggu cewek lewat dengan melempari buah jambu, hingga mereka marah-marah, hampir tiap hari terjadi.
Jika saya sakit dan dibawa ke dokter Rohadi untuk disuntik, pasti dokter yang masih ada ikatan saudara jauh itu, saya cubiti tangannya untuk mencegah jarum suntiknya menyentuh pantat saya. Bahkan saya tendang hingga jarum suntik itu jatuh ke lantai. Kalau sudah begitu, biasanya bapak turun tangan, dengan langkah ekstrem mengikat kaki dan tangan saya menggunakan kain.
Waktu itu saya sudah kelas 1 SD, di SDN Mutihan III Wirokerten Banguntapan Bantul. Pagi-pagi saatnya persiapan masuk sekolah, saya malah asyik menggambar di rumah bagian depan. Yu Mur pernah mengajari saya menggambar.
Ada yang tidak tepat dalam menyebutkan saudara. Beberapa saudara disebut tidak sebagaimana mestinya. Adiknya bapak yang perempuan semestinya dipanggil Bu Lek, namun kami memanggilnya dengan Mbak. Pak Lek dengan Mas. Budhe dengan Yu. Saya tidak biasa memanggil Pak Dhe, karena kebetulan bapak saya adalah anak laki-laki tertua di keluarga Marto Dimulyo. Ibu juga anak tertua dari keluarga Darmo Suwito. Kakek disebut Pak Tuwo, dan nenek dipanggil Mbok Tuwo.
Tidak ada mbah dalam keluarga inti. Kakek dan nenek tidak mau dipanggil mbah, tidak mau dianggap sudah mbah-mbah, tua dan pikun. Adik atau kakak dari kakek dan nenek baru kami memanggilnya dengan sebutan mbah. Yu Mur itu mestinya dipanggil Bu Dhe.
Saat itu mestinya harus persiapan masuk sekolah, mandi makan dan lainnya, tetapi saya masih asyik sendiri menggambar bunga. Dengan kertas buram yang dibawa bapak dari kantor, saya membuat corat-coret yang masih sangat sederhana. Gambar bunga dengan tangkai di dalam pot. Karena baru gambar itu yang diajarkan oleh Yu Mur. Gambar semacam itu terus saya buat. Sampai kemudian ibu muncul di belakang saya, menyuruh saya mandi dan segera berangkat sekolah.
Namun saya selaku anak yang dengan reputasi kenakalan cukup handal, seruan ibu itu kuanggap angin lalu. Saya meneruskan menggambar bunga itu. Ibu kembali ke dapur, saya masih asyik sendiri. Di dekat saya ada kacang rebus, sisa tadi malam di panci plastik. Melihat saya tidak ada reaksi positif, ibu datang lagi dan mengulangi perintahnya.
Saya bergeming, dan tetap dengan keasyikan saya sendiri, menggambar. Tentu sikap saya memancing kemarahan ibu. Dengan gaya khas seorang ibu, maka keluarlah sabda darinya bla.bla.bla..Hingga kemudian ibu mengeluarkan sabda terakhir, “ Kalau tidak mau sekolah saya buatkan surat untuk gurumu”
Saya masih bergeming. Reputasi saya sebagai anak nakal harus saya jaga sepenuh jiwa. Apapun ancaman ibu, saya tidak takut. Semakin ditekan, justru saya semakin kuat melawan.
Ibu masuk ke rumah dalam, mengambil secarik kertas dan ballpoin. Ibu menulis surat kepada guru saya. Saat menulis itu, ibu sambil membacakan isi suratnya. Isinya kurang lebih begini : Bu guru, ini Mawan sudah tidak mau sekolah lagi, maka tidak usah diberi pelajaran. Biar Mawan bermain saja tidak usah sekolah.
Mendengar isi surat yang sengaja dibaca dengan keras itu, saya jadi terusik. Saya bereaksi. Saya berdiri meninggalkan kertas-kertas yang saya gambari bunga itu. Surat tulisan tangan ibu itu saya ambil dan saya sobek-sobek.
Melihat sikap saya, ibu marah dan bilang, “Gampang, surat bisa ditulis lagi. Kalau kamu tidak mau sekolah ya sudah”
Ibu pergi, namun kacang rebus yang ada di dekat saya, diambil dan dilemparkan ke kepala saya. Waktu itu saya diam saja, namun hati saya sangat marahnya. Ibu meninggalkan saya, mengambil sapu lidi, kemudian menyapu halaman sebagaimana biasa dilakukan di pagi hari. Kemarahan saya belumlah reda, masih tersimpan membara di dada hingga ke kepala.
Ibu di halaman sedang menundukkan badan, memegang sapu lidi, menunaikan kewajiban sebagai ibu rumah tangga membersihkan lingkungan rumah.
Saya beranjak dari tempat saya duduk. Saya keluar dari ruang depan, menuju halaman rumah. Entah setan mana yang hinggap di jiwa dan jasad saya saat itu. Seolah dibimbing oleh setan gentayangan, saya mengambil batu yang tergeletak di tanah. Batu hitam legam sekepal itu saya lemparkan ke arah ibu yang masih menunduk menyapu. Lemparan sporadis, asal lempar dengan tenaga penuh itu ternyata sampai ke posisi ibu. Batu keparat itu, tepat mengenai dahi ibu.
Saya mendengar ibu berteriak, “Aduh!”
Sambil memegang dahi, ibu mendongak. Saya melihat darah merah mengucur deras dari dahi ibu. Begitu melihat darah yang mengalir hingga ke leher itu saya menjadi panik. Saya lari entah ke mana saat itu, yang jelas menjauh dari ibu. Saya hanya sempat melihat ibu berjalan menuju teras sambil memegang dahinya dengan darah sudah membasahi tangannya. Saya masih sempat melihat ibu ditolong oleh Mbah Kaji dan Mbak Jazim.
Ending kejadian itu saya tidak paham. Apakah kemudian saya dimarahi habis-habisan oleh bapak, atau saya disetrap, atau bahkan mungkin saya dikurung di kamar gelap, saya tidak tahu. Saya lupa, seperti ada sesuatu yang hilang di memori saya.
Sudah saya usahakan mengingat dengan keras sekeras-kerasnya, namun saya tetap tidak mampu merangkainya. Mestinya saya bertanya ke ibu terlebih dahulu sebelum menulis ini. Namun belum sempat saya tanyakan.
Tetapi apapun endingnya, yang jelas itu merupakan kejadian tragis ibu atas ulah saya. Untuk itu meskipun sudah lewat puluhan tahun silam, saya meminta maaf dengan sesungguhnya kepada ibu. Saya belum pernah secara lisan dan jantan meminta maaf atas kejadian itu kepada ibu.
Mungkin ibu sudah sejak dulu memaafkan saya. Entah nanti saya cukup memiliki keberanian atau tidak untuk melakukannya. Namun ulah yang tidak pantas ditiru oleh anak yang baik, sholeh dan berbakti kepada orang tua, utamanya ibu itu, adalah bagian dari masa kecil saya yang super nakal.
Ulah itu begitu membekas di hati saya. Namun bagi ibu ulah saya itu membekas selamanya di dahinya. Sampai sekarang masih nampak meski samar, bekas terjangan batu hitam berdarah penuh laknat itu, di dahi ibu tercinta. (*)