Jumat, 11 Mei 2012

Pertemuan Penghabisan "Sepenggal Kisah Bersama Pramoedya Ananta Toer"


PERTEMUAN PENGHABISAN
“Sepenggal Kisah Bersama Pramoedya Ananta Toer”

Benee Santosa *

Hampir saja aku lupa dengan penggalan perjalanan hidupku yang sangat berkesan. Itu semua karena aku tenggelam oleh kesibukan sebagai konsekuensi menjadi “kuli”. Namun tiba-tiba ingatanku muncul, sehingga membuatku ingin menuliskannya. Ya, akhir bulan April yang tidak akan pernah aku lupa untuk selamanya.
Aku dan keluargaku (bapak dan ibu) pindah ke Blora, menempati rumah peninggalan eyangku, Mastoer. Rumah di Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora itu merupakan rumah masa kecil Pramoedya Ananta Toer, pakdheku. Sejak rumah itu ‘didandani’, Pram sering datang ke Blora. Mungkin ia ingin bernostalgia dengan masa kecilnya di rumah itu.
Saat pindah ke Blora, usiaku 13 tahun. Aku pindah dari SMPN 13 Bekasi ke SMPN 5 Blora. Sebenarnya aku bisa masuk sekolah favorit. Namun, ternyata SMPN 5 memiliki hubungan historis dengan keluargaku yang tidak bisa dipisahkan. Tanah yang ditempati SMPN 5 Blora, adalah tanah milik Mastoer, eyangku. Sampai sekarang prasasti untuk menghormati jasa Mastoer, masih berdiri tegak di depan gedung sekolah.
Siapa Pramoedya Ananta Toer, sudah banyak yang menuliskan. Seperti apa karya-karyanya juga sudah banyak yang memahaminya. Khalayak juga mengerti, sudah berapa kali ia menjadi nominator peraih Nobel. Meski Nobel itu tak pernah ia terima hingga akhir hayatnya 30 April 2006, enam tahun lalu. Aku tidak mau menuliskan tentang hal itu. Yang ingin kutuliskan adalah pertemuanku yang terakhir dengan pakdheku itu.
Awal tahun 2006, Pram dan keluarganya berziarah ke Blora. Ia menginap ‘di rumahku’, rumah masa kecilnya. Pram tidak pernah mau tinggal di hotel, setelah rumah masa kecilnya ‘disulap’ oleh bapak menjadi seperti sekarang. Ada bangunan semacam paviliun kecil di samping rumah utama, menjadi peristirahatan Pram untuk menikmati hari-harinya di Blora.
Setelah beberapa hari tinggal di Blora, Pram ingin kembali ke alamnya, Bojong Gede. Seperti biasa, sebelum berangkat istri Pram, ‘ninggali sangu’ untukku. Anak-anaknya yang juga keponakanku turut melakukan hal yang sama. Cukup banyak ‘tinggalan’ yang kukantongi saat itu. Ritual itu sudah menjadi tradisi di keluarga Pram kepadaku.
Kejadian yang tidak biasa adalah, ketika Pram hendak menaiki mobilnya. Ia membuka tas pinggang yang dikenakan, kemudian mengambil selembar uang bergambar I Gusti Ngurah Rai. Uang pecahan itu mau diserahkan kepadaku, namun jarak Pram denganku berdiri agak jauh. Dengan sigap bapak yang kemudian ‘menyerobot’ uang itu, dan menyerahkan kepadaku. Kejadian itu tentu membuat kaget, namun membahagiakanku. Pram selama ini tidak pernah memberi ‘tinggalan’ uang kepadaku. Pertanda atau firasat apakah ini?
Beberapa bulan setelah itu, kami mendapat kabar Pram sakit dan dirawat di rumah sakit. Bapak langsung berangkat ke Jakarta. Aku dan ibu tidak ikut, karena aku harus menyiapkan diri untuk ujian nasional. Beberapa hari kemudian, kami mendengar berita yang sangat mengejutkan. Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia. Kami mendengar berita itu dari wartawan yang datang ke rumah. Setelah memberi kabar duka itu, sang wartawan malah mewawancarai ibuku tentang saat-saat terakhir Pram di rumah Blora.
Aku dan ibuku kemudian menyampaikan kabar duka itu kepada adik Pram yang nomer tiga, yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Sepulang dari rumah budhe, siaran tivi sudah banyak yang mengabarkan meninggalnya Pram. Ternyata sang wartawan yang datang ke rumah Jl. Sumbawa 40, membawa kabar yang benar. Rupanya lembaran uang bergambar I Gusti Ngurah Rai itu ucapan selamat tinggal dari Pram kepadaku, dengan maksud supaya aku juga gemar menulis.
Esok paginya aku mengikuti ujian nasional, dalam kondisi masih diselimuti duka atas meninggalnya Pram. Seorang guru yang sedang bertugas menjaga ujian, bertanya kepadaku, “Ben, sudah dengar kabar atau belum?” Aku menjawab singkat, “Sudah.” 
Kini Pram telah pergi, namun ia akan tetap hidup di hatiku, juga di hati para pengagumnya. Karya tulisnya sebagai anak-anak rohaninya akan abadi, karena menulis adalah jalan menuju keabadian. Akupun ingin abadi. Untuk itu aku ingin menulis. Namun saat ini aku hanya ingin membayar hutangku pada diriku sendiri, dan juga kepada Pram. Maka sepenggal kisah pertemuan penghabisanku dengan Pram, ‘tinggalan’ terakhirnya yang ingin kuabadikan. Meski aku tidak begitu lama hidup bersama Pram, namun ia akan selalu hidup abadi yang tak dapat terhapus dari sejarah hidupku.

*Benee Santosa, adalah anak dari Soesilo Toer, yang berarti keponakan penulis kelahiran Blora, Pramoedya Ananta Toer