Rabu, 16 Mei 2012

Pra Ebtanas " Tragedi Gerombolan Nasi Bungkus/PKI "


PRA EBTA NASIONAL
“ Tragedi Gerombolan Nasi Bungkus/PKI “
Hermawan Widodo

SMPN Baturetno Banguntapan Bantul, menjelang akhir ujian nasional yang dulu dikenal dengan EBTANAS, mengadakan les tambahan bagi seluruh siswa kelas tiga. Les dilakukan siang hari setelah selesai jam sekolah. Siswa tidak pulang, namun menunggu jadwal les di sekolah yang dimulai jam dua siang.
Pelaksanaan les untuk siswa ini benar-benar dipersiapkan secara matang. Selain guru yang memberikan tambahan bimbingan belajar sesuai dengan bidang studinya, logistik berupa konsumsi pun disiapkan. Jadi siswa tidak perlu membawa bekal makan, karena pihak sekolah sudah menyiapkan makan untuk siswa.
Betul-betul pengorbanan yang patut mendapat apresiasi. Betapa ribetnya para guru yang tanpa pamrih itu harus menjadi relawan masak bagi sekitar 103 siswa. Suatu pekerjaan yang tidak ringan untuk menopang pelaksanaan les, yang rencananya berlangsung satu bulan.
Upaya keras dan ikhlas para guru demi siswanya, ternyata tidak mendapatkan respon yang semestinya dari siswa.
Hari pertama pelaksanaan les itu, konsumsi yang diberikan berupa nasi bungkus. Tiap kelas mendapatkan jatah nasi bungkus sesuai jumlah siswa. Dalam hal distribusi nasi bungkus ini, sama sekali tidak timbul masalah. Para ketua kelas mampu mengatur distribusi dengan baik kepada semua siswa di kelasnya.
Persoalan timbul ketika siswa yang lapar itu mulai membuka jatah makanan dalam bungkus. Setelah beberapa suap menelan nasi bungkus, sebagian siswa kemudian meletakkan nasi bungkus itu. Mereka tidak melanjutkan makan. Satu siswa mengeluh nasinya keras. Siswa lain menyahut dan mengamini. Satu siswa lagi berteriak lauknya tidak enak. Siswa yang lainnya juga menyahut mengiyakan. Akhirnya terbentuk jama’ah yang memiliki kesamaan pemahaman, bahwa nasi bungkusnya keras dan lauknya tidak enak.
Reaksi yang kemudian muncul terhadap nasi bungkus, sungguh tidak terduga. Jika sebatas tidak memakannya dan kemudian membuangnya secara diam-diam ke tempat sampah, itu masih sangat wajar.
Sisa nasi bungkus atau bahkan yang masih utuh, tetapi sudah dibuka itu, tidak dibuang di tempat sampah. Mereka digantung di sembarang tempat yang memungkinkan untuk menggantungkan bungkusan nasi yang tak berdosa, tetapi naas itu. Jadilah aksi parade nasi bungkus yang menggantung di tiap sudut sekolah. Bungkusan nasi itu menggantung di ranting pohon akasia, di atas tumbuhan tetehan, di sela-sela tulisan SMPN Baturetno, di tiang bendera, di pintu kelas, di tower air, bahkan bungkusan nasi yang malang itu terdampar juga di kamar mandi dan WC.
Suatu pemandangan yang benar-benar tak terduga. Itu hasil dari aksi demo yang juga tidak terencana, sporadis dan anarkhis meskipun tidak sampai menimbulkan efek merusak. Yang ditimbulkan hanya rusaknya pemandangan di area kampus SMPN Baturetno.
Ulah siswa berseragam putih biru yang nekat itu, tentu membuat shock para guru. Saya sempat melihat Bu Ani, mantan wali kelas saya dulu di kelas IA menangis di salah satu ruang kelas. Beliau adalah guru pelajaran PKK, yang juga sekaligus sebagai kepala biro logistik yang bertanggung jawab terhadap pemenuhan konsumsi siswa peserta les. Pantas jika beliau yang paling shock atas ulah siswa-siswanya tak tahu berterima kasih itu.
Beberapa guru umumnya ibu-ibu menampakkan wajah dengan ekspresi yang susah diinterpretasikan. Kecewa, marah, nelongso dan lainnya mengumpul dalam satu wajah.
Melihat demo siswa yang begitu anarkhis, tentu para guru harus mengambil langkah radikal. Namanya guru, para beliau tetap menempatkan siswa bagai anaknya sendiri. Bertingkah apapun tetap diberikan kasih sayang yang tidak pernah berkurang.
Langkah kepala sekolah yang waktu itu dijabat sementara oleh Pak Santosa, mengubah pelayanan konsumsi siswa dengan cara prasmanan. Suatu langkah pelayanan yang tak pernah pudar dari para pejuang tanpa tanda jasa. Bukti bahwa para guru memiliki komitmen yang sangat tinggi demi keberlangsungan pendidikan anak didiknya.
Maka pada hari berikutnya, acara makan, setelah selesai jam sekolah dipusatkan di laboratorium. Nasi, sayur, lauk dan piring serta sendoknya diletakkan di meja praktikum. Kursi-kursi ditata di meja-meja permanen yang terletak di semua sisi laboratorium.
Suatu strategi yang sangat jitu. Demo anarkhis para siswa sehari sebelumnya langsung bisa dipadamkan. Mereka dengan tertib dapat digiring menuju laborat untuk mendapatkan jatah makan.
Entah kebetulan atau memang disengaja, menu makan siang saat itu menurut saya cukup enak. Kami mengambil sendiri nasi, sayur dan lauknya. Nasinya tidak lagi keras, sayurnya berkuah segar, ditambah lauk sepotong ayam goreng. Sangat signifikan untuk mengisi perut yang memang sudah waktunya minta diisi.
Ternyata menyelesaikan persoalan tidak bisa lepas dari urusan hal ihwal kebutuhan perut. Strategi memenuhi kebutuhan perut inilah yang kemudian mampu menopang kegiatan les tambahan belajar bagi semua siswa, dapat berjalan normal.
Pelaksanaan les berjalan dengan baik. Semua mengambil peran masing-masing. Guru memberikan les sesuai bidangnya. Siswa menerima tambahan pelajaran meski sambil mengantuk.
Persoalan baru muncul kembali, saat kelas saya IIIA sedang mendapatkan pelajaran PSPB. Waktu itu Bu Niken guru PSPB memberikan lembar latihan soal pra ebta. Kami menerima soal-soal itu dan kemudian mengerjakannya.
Selesai mengerjakan, lembaran soal dikembalikan lagi kepada guru. Ternyata ada satu lembaran soal yang tidak kembali. Saat itu kami sama sekali tidak paham jika ada lembaran soal yang hilang. Baru saat Bu Niken mengatakan ada satu soal yang belum kembali, kami jadi saling berpandangan dengan rasa heran. Sebab kami semua merasa sudah mengembalikan.
Gophel selaku ketua kelas memerintahkan mencari dan menggeledah tas masing-masing. Tetapi meskipun seluruh ruang kelas sudah disisir dan tas juga sudah dikeluarkan isinya, lembaran soal yang dimaksud tidak ditemukan.
Sebenarnya kami tidak mengerti mengapa selembar kertas soal itu menjadi begitu penting. Bagi kami selembar soal itu tidaklah begitu berarti. Sebagian besar dari kami sudah memiliki buku kumpulan soal ebta/ebtanas yang banyak beredar di shooping center Gondomanan.
Tetapi ternyata bagi Bu Niken hal itu menjadi masalah serius. Sangat serius malah.
Kasus hilangnya latihan soal pra ebta itu sampai ke guru BP. Guru BP adalah guru yang identik dengan urusan murid-murid bermasalah. Pak Darno guru BP yang berbadan kurus dan bertampang tirus  itu langsung turun ke kelas dan melakukan investigasi. Pak Darno menanyai kami satu per satu dan diminta menjawab dengan jujur.
Selama sekitar satu jam melakukan litsus di kelas kami, hasilnya nihil. Tidak ada satupun dari kami yang mengaku membawa dan atau menyembunyikan lembar soal itu. Karena tidak ada yang mengaku, oleh Pak Darno selaku guru BP, kasus itu akan disampaikan kepada kepala sekolah.
Ketika Pak Darno sudah selesai dengan upaya investigasinya, Bu Niken masuk ke ruang kelas kami lagi.
Dengan marah guru yang menurut ukuran kami lumayan cantik dan bertubuh montok itu, memberikan ultimatum dengan perkataan yang cukup keras, “ Kalian ini sama dengan PKI !! “
Suatu cap yang biasa distempelkan kepada para pembangkang pemerintah Orde Baru. Mungkin kami, anak-anak kelas IIIA saat itu dianggapnya sebagai gerombolan pembangkang oleh ibu guru pengajar pelajaran sejarah itu. Meskipun Bu Niken terlihat begitu marahnya, namun bagi kami tidak begitu berpengaruh, karena memang setelah itu kami pulang.
Keesokan hari ketika masuk kelas, tema pembicaraan kami masih seputar hilangnya lembar soal itu. Obrolan kami cukup panjang dan lama, yang tanpa kami sadari ternyata tidak ada guru yang masuk untuk mengajar di kelas IIIA.
Namanya juga gerombolan setan merah, PKI versi Bu Niken, kami tidak begitu mempermasalahkan ketidak hadiran guru di kelas IIIA, justru kami malah senang karena jam kosong. Kondisi itu berlalu hingga bel berbunyi tanda jam istirahat pertama.
Saya dan Gophel, yang nama lengkapnya Rafael Agus Prabowo ketua kelas IIIA, saat akan membaca KR yang ditempel di samping ruang guru, tanpa sengaja membaca tulisan pengumuman di ruang guru.
Tulisan itulah yang menjawab mengapa tidak ada guru yang masuk ke kelas kami pagi itu. Isi tulisan yang diparaf oleh Pjs kepala sekolah itu begini : KELAS IIIA UNTUK SEMENTARA WAKTU TIDAK DIBERIKAN PELAJARAN HINGGA PERMASALAHANNYA SELESAI. SUPAYA MENJADIKAN PERHATIAN SEMUA GURU.
Ternyata kelas kami mendapatkan skorsing hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Saya dan Gophel tidak jadi membaca KR, langsung kembali ke kelas. Tidak berapa lama kemudian bel berbunyi tanda jam istirahat pertama berakhir. Semua siswa masuk kelas. Begitu juga kelas IIIA semua siswanya masuk kelas.
Saya tidak tahu ada skenario apa antara Gophel dan Diana yang kami panggil Kuning itu. Sebenarnya mungkin maunya orang tuanya diberi nama Diono sebagaimana umumnya nama orang Jawa. Namun karena dalam akte tanda lahirnya ditulis dengan huruf “a” sehingga jadilah Diana.
Diana adalah seorang cowok berperawakan sedang, anak dusun Wotgaleh Berbah Sleman. Jawa tulen, tetapi bermata sipit dan berkulit agak kuning mirip-mirip Cina. Itulah asbabnya dia mendapatkan panggilan Kuning.
Diana tampil ke depan kelas. Kemudian dia pidato macam-macam tentang latihan soal yang hilang itu. Dia singgung juga tentang ultimatum bu Niken bahwa kelas IIIA gerombolan PKI dan sebagainya. Terus terang saya ta’jub melihat Diana mampu berorasi di depan kelas. Suatu kemampuan yang tidak saya duga sebelumnya. Sebab jika saya maju ke depan kelas bisa dipastikan selalu keringatan karena nervous yang luar biasa.
Lha ini, Diana ngoceh panjang lebar, dengan mimik, gesture, dan intonasi suara bermacam-macam. Kadang marah dengan mata mendelik, kadang sedih dengan wajah menunduk. Intinya dia ingin memastikan apakah ada teman-teman di kelas IIIA yang mengambil soal itu.
Dari nada suaranya saya tahu dia mencurigai seseorang. Dan orang itu adalah Sulimawan anak Mbawuran Pleret, teman saya sejak kelas IA. Saya dan dia pisah di kelas II, dia IIA saya di IIC.
Diana betul-betul menekan Sulimawan dengan pertanyaan yang langsung ke sasaran, apakah mengambil, berani sumpah dan sebagainya. Agus, suadaraku dari Kepuh juga mendapatkan pertanyaan dan tekanan yang sama dengan Sulimawan.
Akhirnya semua mendapatkan pertanyaan, apakah mengambil dan menyembunyikan soal itu. Sudah bisa diduga, hasilnya nihil, tidak ada satupun yang mengaku.
Meskipun Diana garang di depan kelas, namun saya dengan Zuni yang duduk berdampingan semeja, malah ngomong sendiri. Zuni, teman sekelas saya ini, cewek Kotagede berkulit putih namun bertubuh lumayan subur.
Saya dan dia memang tidak begitu mempedulikan akting Diana. Saya dan dia asyik sendiri, ngomong dengan bisik-bisik dekat telinga, sambil sesekali menahan tawa. Ketika saya sesekali meperhatikan Diana, dia berusaha tidak memandang ke arah kami.
Ketika acting itu berakhir Diana keluar kelas. Tak lama kemudian dia masuk lagi, dengan muka basah habis dibasuh air. Mungkin dia keringatan juga berbicara lama di depan kelas.
Tanpa terasa, bel berbunyi lagi tanda jam istirahat kedua. Karena sudah tahu bakal tidak mendapatkan pelajaran, maka kami tenang-tenang saja. Saya, Qusman, Udin jajan ke warung Pak Bon. Diana menyusul.
Dia langsung misuh-misuh ke saya. Katanya ketika dia di depan kelas ceramah, dia berusaha tidak melihat ke meja saya dan Zuni itu, alasannya dia tidak tahan, pasti akan tertawa melihat ulah saya dan Zuni. Padahal tugasnya dia harus marah-marah di depan kelas. Maka wajar jika dia berusaha untuk tidak melihat saya dan Zuni, dengan cara membuang muka jika pandangan matanya hampir sampai ke meja kami berdua.
Saya yang dikomplain hanya cengar-cengir. Saya bilang ke Kuning, mestinya bilang dulu kalau mau marah-marah, jadinya kami serius mendengarkannya.
Kuning malah tambah ngedumel, “ Ora ngrasakke gorokanku sampai kering, ngadeg sikil nganti pegel, malah wong loro kui mung cekikak cekikik, kurang ajaaar….!!”
Melihat dia uring-uringan kami malah jadi ngakak berjamaah. Tetapi dengan lapang dada saya beri dia pujian atas acting dadakannya itu. Jika nanti ada lowongan pemain figuran saya sarankan supaya mendaftar dan ikut seleksi, pasti lolos.
Dua jam pelajaran terakhir, karena pasti kosong, saya main ke rumah Udin yang tidak jauh dari sekolah. Waktu itu ada Elvi dan Zuni yang juga bersama-sama ke rumah Udin.
Di tempat Udin, kami diambilkan kelapa muda juga ada cemilan. Sambil menikmati segarnya air kelapa muda dan cemilan, Udin memutar tapenya. Terdengar alunan Beatles dari kaset saya yang dipinjam Udin beberapa hari sebelumnya. Kaset bajakan itu dulu saya beli dari shooping.
Mendekati jam sekolah usai, saya , Udin, Zuni dan Elvi kembali ke sekolah untuk mengikuti les. Kemungkinan untuk les apakah akan ada guru yang mengajar, kami juga belum paham.
Saatnya makan siang menjelang les, tanpa dikordinir semua siswa kelas IIIA tidak ada satupun yang ke laborat untuk mengambil jatah makan. Saya yakin haqul yakin bahwa tak ada provokatornya. Kami bergerombol di beberapa titik. Namun tidak ada yang beranjak. Ada beberapa guru yang menghimbau kami untuk makan, namun semua bergeming.
Sampai saatnya les, kami juga masuk kelas. Pak Yanto, guru bahasa Indonesia kemudian masuk kelas dan  mempertanyakan mengapa siswa kelas IIIA tidak ada yang mau makan. Waktu itu Fajar nDut yang dipanggil ke depan. Saat ditanyakan mengapa tidak mau makan. Dengan jawaban spontan yang tidak disetel, Fajar menjawab sudah menjadi kesepakatan, karena IIIA diskorsing maka semua siswa tidak makan. Jika melanggar kesepakatan akan dicubiti  tubuhnya oleh anak-anak seluruh kelas. Suatu jawaban yang cerdas. Padahal sebenarnya tidak ada kesepakatan itu. Semua hanya improvisasi Fajar sendiri.
Kemudian Pak Yanto mendata dan menanyakan satu per satu dari kami, apakah mau makan. Entah siapa yang mulai mencairkan suasana, namun akhirnya kami mampu dibujuk dan kemudian digiring ke laborat untuk makan.
Pada saat kami sekelas bergerak ke laborat dan melewati kelas lain, kami mendengar suara teriakan cemohan dari mereka, “Huu...”
Tentu mereka memiliki persepsi tentang kelas IIIA yang sok gaya, tidak mau makan, dan lainnya. Tetapi saat itu kami cuek saja. Memang kelas IIIA berbeda dengan kelas yang lain. Siang itu kelas kami mampu ditundukkan. Meski begitu kami juga belum mendapatkan les tambahan hingga saatnya pulang.
Pagi hari berikutnya seperti biasa kami hanya duduk-duduk saja. Hari itu hari Sabtu, jam pertama semestinya olah raga. Waktu terjadinya kasus hilangnya soal pra ebta, guru olah raga Pak Sujadi tidak masuk, maka beliau tidak memahami skorsing yang diterima kelas IIIA.
Dengan sudah berpakain olah raga Pak Jadi masuk kelas dan memerintahkan kumpul ke lapangan. Padahal kami tidak ada yang membawa seragam olah raga. Ghopel selaku ketua kelas merasa wajib untuk menyampaikan ke Pak Jadi, kalau kelas IIIA diskorsing. Pak Jadi kaget.
Ternyata Pak Jadi belum sempat membaca pengumuman di board ruang guru. Begitu membaca pengumuman yang terpampang jelas itu, maka serta merta beliau tidak jadi mengajar olah raga. Mundur teratur. Itu korban pertama dari guru atas skorsing yang kami terima.
Korban yang lain menimpa wali kelas IIIA Pak Manto, yang juga guru seni rupa dan elektronik. Begitu mendengar kasus yang menimpa kelas IIIA dan juga sanksi yang diberikan kepala sekolah, Pak Manto kemudian jatuh sakit dan tidak masuk sekolah.
Siang kami menggelar rapat kilat memutuskan untuk menengok wali kelas kami. Yang menjadi utusan waktu itu saya, Gophel, Usman, Udin. Ada juga siswa perempuan yang ikut namanya Rini Astuti, anak Kemasan Wiroketen. Salah satu cewek tercantik ke kelas IIIA versi saya, dan sekaligus sudah lama saya taksir meskipun dengan diam-diam.
Minggu pagi kami berangkat ke rumah Pak Manto di daerah Gedongkuning. Kami belum ada yang pernah ke rumahnya. Setelah bertanya ke bebarapa orang, kami temukan rumahnya.
Beliau menemui kami masih dengan sarung. Memang dari raut wajah nampak jika sedang sakit. Kemudian kami serahkan oleh-oleh buah yang kami bawa.
Ghopel mewakili kami menyampaikan permintaan maaf atas ulah anak-anak kelas IIIA yang membuat Pak Manto tidak nyaman. Ghopel juga mengharapkan Pak Manto segera sembuh dan kembali mengajar. Dalam obrolan setelah tujuan inti kami sampaikan, kami juga menjelaskan dan meyakinkan bahwa di antara kami betul-betul tidak ada yang mengambil lembar latihan soal pra ebta, sumber malapetaka itu. Setelah semua dapat kami jelaskan secara gamblang, kami pamitan untuk pulang.
Hari Senin, seperti biasa upacara bendera pada jam pertama. Kepala sekolah selaku pembina upacara tidak menyinggung masalah kelas IIIA dalam amanatnya.
Namun selesai upacara, pelajaran matematika sudah ada guru yang masuk dan mengajar di kelas IIIA. Tidak ada pembicaraan apapun tentang kejadian sebelumnya. Bu Ana menjelaskan pelajaran matematika seperti biasanya, dengan kata-kata yang khas dan monoton  yang sudah menjadi ciri khasnya : “Ya Tidak”.
Usut punya usut ternyata tulisan yang beberapa hari sebelumnya terpampang di board ruang guru sudah tidak ada, sudah bersih dihapus. Jadi secara otomatis skorsing untuk kelas IIIA sudah berakhir.
Tanpa penjelasan, tanpa pembelaan. Persis seperti nasib para tapol PKI yang juga tanpa prosedur apapun. Ditangkap, dipersalahkan, dihukum, dibebaskan. Sudah hanya begitu saja. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.