Jumat, 11 Mei 2012

Mbah Balung " Nulung Nggawa Penthung "


Kearifan Lokal Blora
MBAH BALUNG
“Nulung Nggawa Penthung”
Hermawan Widodo

Ngapa mrene, ora ngerti awak kesel, malah padha teka njaluk pijet!” katanya keras dengan wajah kereng.
Itulah ungkapan pertama yang akan diterima pesien saat datang ke rumahnya. Rumah kayu khas Blora, di sebuah dusun yang tak kurang dari 20 km jauhnya di sebelah barat pusat kota Blora, arah ke kota Purwodadi. Orang hanya menyebutnya sebagai mbah Balung, karena kemampuannya dalam membenahi tulang yang bermasalah. Siapa nama sebenarnya, pria yang umurnya lebih dari setengah abad itu, juga entah. Namun warga di kecamatan Tunjungan dan sekitarnya, cukup dengan menyebutkan nama mbah Balung, akan ditunjukkan orang yang dimaksud.
Mata selalu melotot, dengan cambang cukup tebal menjadikan wajahnya tampak  sangar. Wataknya keras, bicara asal lepas, tanpa menghiraukan respon orang yang menjadi lawan bicara atau yang mendengarnya. Itu menjadi cirinya. Orang-orang yang sudah mengenalnya akan sangat mahfum. Namun akan sangat berbeda bagi orang yang baru pertama datang ke rumahnya. Mereka yang bernyali ciut akan dibuatnya rontok, pulang tanpa mendapatkan pelayanan apapun. Saya pernah mengalami itu. Begini ceritanya.
Beberapa waktu yang di hari Sabtu siang sebelum dzuhur, berbekal informasi sekedarnya, saya dan seorang teman berboncengan motor dari Kunden ke Tunjungan. Memang benar, hanya dengan menyebut nama mbah Balung, orang yang kami tanya akan memberikan arah ke rumahnya. Butuh waktu tiga puluh menit lebih untuk mencapai rumahnya.
Saat menyampaikan tujuan ingin pijat, seorang perempuan yang sudah agak tua menjelaskan,” Bapak baru saja tidur. Tadi pasien baru pada pulang. Nanti ba’da ashar baru dilayani lagi. Atau besok pagi ke sini sebelum jam tujuh. Setelah jam tujuh bapak pergi ke sawah.”
Karena harus menunggu tiga jam lebih, kami putuskan pulang dan kembali besok pagi saja. Hari berikut Minggu pagi setelah subuh, saya berangkat sendirian ke rumah mbah Balung. Sampai rumahnya, di ruang tamu sudah ada dua orang duduk di kursi tamu sambil menghadapi segelas kopi. Satu orang berjenggot, dan memakai peci hitam. Saya menduga dia adalah mbah Balung. Satu orang lagi berkaos putih dan bercelana pendek. Saya salami orang yang berpeci, kemudian orang satunya. Ketika orang yang berpeci itu menanyakan sakit apa, saya jelaskan kalau tangan kanan sering kesemutan dan mati rasa, perut kembung tiap pagi bangun tidur. Saya tidak menjelaskan kondisi tulang saya.
Orang yang berkaos putih di sampingnya berdiri, kemudian berkata (ngglendheng),”Wong weteng kembung kok digawa mrene. Gawa rumah sakit. Dikirane kene ana obate!
Dia keluar entah ke mana. Orang yang berpeci diam saja.
“Sudah biasa begitu mas. Biarkan saja. Dia sedang mengeluarkan sapinya,” katanya setelah orang berkaos putih itu keluar.
Saya bertanya, “Itu tadi mbah Balung?”
Orang itu mengangguk, “Dia keponakan saya. Memang begitu wataknya.”
Setelah lima belas menit, tiba-tiba orang berkaos putih yang ternyata mbah Balung itu keluar dari rumah dalam, ”Kowe mrene arep ngapa?”
Saya jawab mau pijat kaki. Dengan suara keras mbah Balung menyuruh saya masuk ruang prakteknya. Saya disuruh mencopot semua pakaian saya, kecuali celana dalam dan menggunakan sarung yang sudah tersedia. Saya tidur tengkurap di ranjang. Tanpa berkata-kata mbah Balung mulai mengerjai saya. Dia memijat semua bagian tubuh saya. Yang paling lama bagian kaki kanan yang pernah dipasang plat karena kecelakaan hebat lima tahun yang telah lewat. Bagian tempurung dikocak-kocak. Memang akibat kecelakaan itu, kaki kanan saya tidak bisa untuk nekuk. Lama-lama kegarangan mbah Balung kendur, dengan suara pelan dia memberikan aba-aba kepada saya untuk mengubah posisi badan saya, untuk memudahkan pemijatan. Hampir tiga puluh menit saya dipijat. Pijatannya tidak sakit seperti kalau saya pijat selama ini.
Selesai pijat, mbah Balung tidak lagi garang. Sambil duduk di ruang tamu, dia banyak bercerita. Salah satunya adalah bagimana dia mendapatkan ilmu itu.
“Tengkorak yang dipajang di rumah sakit itu tidak sama dengan tengkorak yang sesungguhnya,” katanya.
Dulu, belasan tahun lalu, ketika dia menggali kubur untuk orang yang mati, tiba-tiba di dekatnya telah ada tengkorak menggeletak.
Dia kaget, kemudian dia berkata kepada sang tengkorak,” Mohon ampun mbah, sampeyan saya buat praktek. Kalau sampeyan orang sakti maafkan saya, kalau orang biasa juga maafkan saya.”
Tengkorak itu kemudian ditata, dan diikat bagian-bagian yang lepas dengan rumput. Setelah utuh dia bungkus kemudian ditimbun di lubang yang dia gali sebelumnya untuk si mati. Sejak itu, dia memiliki kemampuan menolong orang yang bermasalah dengan tulang. Umumnya karena kecelakaan. Namun bukan masalah tulang saja yang bisa ditangani. Ketika ada orang lumpuh datang, dia pijat pada bagian-bagian tertentu, selang beberapa saat orang itu bisa berdiri dan berjalan lagi. Banyak orang datang ke rumahnya untuk mendapatkan pelayanannya. Bukan saja dari Blora, banyak juga dari luar Blora, bahkan dari luar Jawa Tengah. Dari gaya bicaranya ketika bercerita, saya bisa menyimpulkan bahwa karakternya memang begitu. Dia akan meledak-ledak justru kepada orang yang baru datang.
Itu terbukti ketika kemudian ada orang yang datang mau pijat. “Opo meneh iki, ora reti wong awak kesel!” semprotnya kepada orang itu.
Orang itu diam saja. Melihat gelagat itu, saya kemudian pamit dan menyerahkan amplop kepada mbah Balung.
Kamis pagi, empat hari kemudian, saya ke rumahnya lagi untuk pijat yang kedua kali. Sampai rumahnya masih sepi. Saya duduk dulu di dipan yang ada di teras. Sepuluh menit saya duduk, tiba-tiba mbah Balung muncul.
Seperti biasa dia langsung bicara dengan suara keras dan wajah sangar, “Prei. Aku pingin leren!”
Dia kemudian meninggalkan saya. Merasa sudah paham wataknya, saya masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi tamu. Betul saja, tak berapa lama, mbah Balung masuk ke ruang tamu.
Sambil berdiri dia bilang, “Wis diomongi nek prei kok ngeyel. Mbok tok bayar sak milyar aku emoh. Aku butuhe sepuluh milyar!”
Mbah Balung kemudian pergi lagi. Saya diam saja, dan tetap duduk di kursi tamu. Saya masih yakin wataknya memang begitu. Ibaratnya, dia itu nulung tetapi membawa pentung. Jadi kalau mau mendapatkan pertolongannya, jangan takut dengan pentungnya.
Mbah Balung muncul lagi, namun dia duduk di amben yang agak jauh dari kursi tempat saya duduk.
Sambil memegang rokoknya mbah Balung langsung berkata dengan sangat keras,” Kowe arep ngopo? Wes diomongi nek prei. Takon karo wong-wong pinter kono!”
Saya menjawab dengan pelan, “Pijat mbah.”
Yang terjadi selanjutnya mbah Balung justru marah-marah menggunakan bahasa Jawa ngoko kasar. Karena saya yakin wataknya begitu, saya hanya menjawab nggih..nggih..saja, sambil sesekali tersenyum.
Mbah Balung berujar lebih keras, yang sangat mungkin terdengar hingga rumah sebelah, “ Iki uwong, wis diomongi kok ora iso. Diomongi temenan malah ngguya ngguyu. Muleh kono. Iso muleh ora! Nek ra muleh tak amper gelas tenan! Nek ngene iki setanku metu!”
Untung waktu itu di dekat mbah Balung tidak ada gelas. Dia kemudian berdiri dan meninggalkan saya lagi. Saya hanya diam, dan menunggu untuk dipanggil lagi kemudian dipijat.
Dari ruang tamu saya masih mendengar mbah Balung berbicara, “Nek pencen uwong, diomongi yo ngerti.”
Saya masih termangu di ruang tamu. Tiba-tiba ada seorang lelaki membawa parang masuk ke rumah mbah Balung. Dia melihat saya dan mengangguk.
Saya mendengar suara mbah Balung berbicara dengan orang itu, “Wong iku omongono.”
Lelaki kemudian bertanya kepada saya yang masih duduk di ruang tamu, “Bapak mau pijat?”
Saya hanya mengangguk.
“Sekarang libur pak, lain kali saja.”
Saya terdiam oleh jawaban tak terduga itu. Sekarang saya baru tahu ternyata hari itu libur, tidak menerima pasien. Kemudian saya berdiri dan pamit kepada lelaki itu. Mbah Balung sudah tidak terdengar suaranya lagi. Ketika duduk di atas jok motor sebelum meninggalkan rumah mbah Balung, saya juga baru menyadari, ternyata mbah Balung tadi benar-benar marah. Ketika mbah Balung mencak-mencak, saya anggap itu bagian dari watak. Saya membenarkan pepatah kreasi saya sendiri, bahwa mbah Balung itu nulung nggawa penthung. Untung saya belum sempat benar-benar dipenthung oleh mbah Balung. Meski begitu, lain waktu saya akan datang lagi ke rumahnya untuk minta dipijat. Saya masih yakin, karakter dan watak itulah yang menjadi ciri khasnya, trade marknya. Mbah Balung merupakan salah satu potensi kearifan lokal Blora, seorang praktisi sangkal putung, yang mampu menata kembali tulang-tulang yang berserakan. (Wan/Blora)