Rabu, 16 Mei 2012

Si Pitung Jelajah Gunung


SI PITUNG JELAJAH GUNUNG
Hermawan Widodo

Saat kelas 2 SMP, saya dan Agus menggunakan capunk atau si pitung andalannya kembali mengadakan perjalanan ke luar kota. Lokasi yang dituju adalah  Tawangmangu Karanganyar Jawa Tengah sebelah timur kota Solo.
Rencana awal yang akan berangkat 5 orang yaitu saya, Agus, Wiwit dari Kepuh, ditambah Wuri dan Edi dari Glondhong. Semua masih saudara. Wiwit dan saya adalah sepupu. Wiwit adalah anaknya Mbak Jazim, adiknya bapak persis. Wuri dan Edi adalah sepupunya Agus, anak dari pak dhenya. Jadi secara kekerabatan antara saya dan Agus, lebih jauh dibandingkan dengan Agus dan mereka berdua. Demikian juga antara saya dan Wiwit lebih dekat kekerabatannya dibandingkan dengan saya dan Agus.
Ketika saya bertiga menghampiri Wuri dan Edi di Glondhong, menjelang detik-detik akhir keberangkatan, Wuri dan Edi tidak jadi ikut. Sebenarnya dengan hanya bertiga, sudah hampir dibatalkan tour itu. Namun karena sudah terlanjur pamitan pada ibu, saya, Agus dan Wiwit memutuskan tetap berangkat bertiga. Tentu setelah memberikan ceramah panjang lebar kepada Wuri dan Edi yang membatalkan rencana di detik-detik akhir. Isi ceramahnya adalah tentang kesetia kawananan, tepatnya kesetia saudaraan.
Kami bertiga berangkat dari Glondhong dengan dua motor. Agus sendirian mengemudikan si pitung merah andalannya, saya dan Wiwit goncengan mengendarai motor Honda Astrea 800 hitam.
Start jam 5 sore, langsung meluncur ke arah timur, masuk jalan Wonosari terus ke timur hingga Piyungan, belok ke utara sampai candi Prambanan, baru masuk jalan Solo. Di Prambanan kami berhenti di warung pinggir jalan, makan gorengan dan teh panas.
Habis maghrib perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan Solo. Laju motor dipacu tidak terlalu kencang, Klaten lewat, Delanggu terus, Solo masuk. Kami berhenti dan istirahat sebelum masuk Karanganyar. Sholat isya’ di sebuah masjid pinggir jalan, kemudian minta ijin kepada penjaga masjid untuk menginap di masjid. Tentu dengan basa-basi pertanyaan dari mana mau ke mana dan sebagainya. Yang jelas karena capai, sekitar jam 9 malam lewat sedikit, kami bertiga sudah tertidur.
Hawa yang dingin ternyata mampu menembus selimut jaket dan sarung. Beberapa kali saya terbangun dan merasakan dinginnya malam menusuk tulang.  Sebelum jam 4 subuh saya bangun, kemudian membangunkan Agus dan Wiwit. Saya ajak mereka untuk segera cuci muka karena sudah ada jama’ah masjid yang hendak sholat subuh.
Selesai sholat, kami sempat mandi secukupnya sebelum melanjutkan perjalanan. Mandi yang benar-benar dingin luar biasa. Begitu siap kami pamit kepada penjaga masjid, disertai basa-basi terimakasih.
Perjalanan dari masjid hingga Tawangmangu ditempuh sekitar 2 jam. Sepanjang perjalanan menuju Tawangmangu, banyak sawah di kanan kiri jalan. Tanpa hambatan berarti kami bertiga sampai juga di pintu masuk obyek wisata Tawangmangu. Yang dimaksud dengan hambatan yang berarti itu bukan berarti kami lancar jaya dalam perjalanan. Dengan modal motor Honda bebek ’70 an jelas dibutuhkan banyak keberanian dalam mendaki area pegunungan hingga mencapai pintu masuk.
Jalan yang dilalui memang turun naik dengan kiri kanan jalan adalah pegunungan yang dipenuhi pohon-pohon besar. Di sepanjang jalan banyak orang yang memberikan bantuan bagi mobil yang tidak kuat melaju dalam tanjakan. Saat mobil sudah dalam limit mendekati mogok, maka dengan sigap orang-orang yang standby di kiri kanan jalan segera memasang ganjel tepat di bawah ban sebagai penghalang agar mobil tidak melaju mundur. Selama perjalanan kami tidak hanya menemukan satu mobil yang mengalami nasib naas itu. Ada beberapa mobil yang mengalami kejadian yang sama. Jadi meskipun si pitung tertatih-tatih, perjalanan tersebut kami kategorikan tanpa hambatan berarti.
Meskipun sudah berada di pintu gerbang masuk kawasan wisata Tawangmangu, kami tidak masuk. Kurang paham apa pertimbangan saat itu, namun faktor dana sepertinya yang mendorong kami memutuskan hal itu. Sebagai gantinya kami bertiga membeli sate kelinci dan lontong yang memang banyak dijajakan di sekitar lokasi itu. Karena belum sarapan, sate kelinci dan lontong langsung habis dan terasa enaknya. Perut terisi, pikiran terang muncul ide untuk melanjutkan perjalanan.
Di peta yang sebelumnya dibaca, sebelah timur Tawangmangu terdapat telaga Sarangan. Maka kami memutuskan untuk meneruskan sampai telaga Sarangan. Terus terang waktu itu kami sama sekali buta dan memang belum pernah ada yang sampai telaga Sarangan. Namun mendengar kata telaga Sarangan sudah sering. Lokasinya secara administrasi sudah masuk kabupaten Ngawi Jawa Timur.
Turun dari pintu masuk Tawangmangu, berbekal penjelasan dari orang yang kami jumpai di jalan, kami menyusuri jalan ke arah timur, ke telaga Sarangan. Rute menuju ke Sarangan ternyata lebih sulit dibandingkan saat naik ke Tawangmangu. Tanjakan yang curam, dan kelokan tajam sangat sering kami lalui. Tentu kondisi itu menjadikan si pitung harus bekerja sangat-sangat keras. Saking ngototnya dalam usaha itu, knalpotnya harus copot yang berakibat suara yang keluar sangat keras mirip gergaji mesin, tidak karu-karuan. Masih untung ada kawat, sehingga knalpot itu diikat dengan kawat, mampu sedikit berkurang bisingnya.
Setelah hampir 3 jam berjuang, akhirnya sampai juga kami di telaga Sarangan. Perjalanan ini masuk kategori sangat tidak lancar. Kami masuk ke lokasi wisata telaga Sarangan dan istirahat menikmati pemandangan di pinggir telaga sambil makan dan minum.
Waktu itu ingin rasanya naik kuda yang banyak ditawarkan para pemilik kuda. Namun terus terang kembali duwit yang menentukan. Tidak ada keberanian sekedar menawar untuk naik kuda. Akhirnya kami hanya duduk-duduk di pinggir telaga. Ternyata hanya duduk-dudukpun ada capeknya. Sekitar jam 2 siang setelah benar-benar jenuh di situ, kami putuskan untuk pulang. Dengan perhitungan kasar waktu untuk perjalanan pulang, Sarangan-Tawangmangu 3 jam, Tawangmangu-Solo 2 jam, Solo-Jogja 2 jam. Jadi jika berangkat jam 2 siang sampai rumah paling cepat jam 9 malam.
Agus kembali dengan si pitung yang knalpotnya sudah diikat dengan kawat, saya dan Wiwit berboncengan. Pengemudi motor saat pulang gantian saya yang di depan, Wiwit yang gonceng.
Terus terang saya belum biasa bahkan tidak pernah mengendarai motornya Wiwit. Jadi terasa kaku dan butuh penyesuaian. Saat di turunan yang cukup tajam, saya agak grogi. Motor agak oleng ke kiri. Padahal ada orang yang sedang berdiri di pinggir jalan memegang sabit mau mencari rumput. Motor yang saya kendarai hampir-hampir menyerempet orang itu. Hanya tinggal beberapa centimeter saja. Yang terbayang saat itu adalah kaki saya nyerempet sabit orang itu. Andaikan itu terjadi, pasti kaki saya putus atau paling tidak akan mengalami luka sangat-sangat parah. Untungnya kejadian itu tidak sampai menimpa saya dan Wiwit.
Begitu memahami kondisi itu, Wiwit kemudian ambil alih kemudi, saya kembali gonceng di belakang. Sebenarnya itu yang saya harapkan. Saya mengemudikan motor itu karena terpepet. Pertama karena kasihan melihat Wiwit sejak kemarin yang di depan. Kedua juga ada unsur ingin memacu adrenalin dan  merasakan sensasi melaju dengan motor di area yang menantang itu. Kenyataannya saya tidak begitu mampu mengendalikan laju motor. Daripada saya membahayakan diri saya dan Wiwit, maka keputusan bijak jika saya di belakang saja.
Si pitung tidak seperti saat berangkat, dia mengalami kesulitan mengikuti ritme tanjakan dan turunan medan. Sering terdengar dia batuk-batuk, yang sangat jelas dari suara knalpotnya. Beberapa kali Agus harus turun untuk sekedar membenahi kembali knalpotnya yang diikat secara darurat itu. Namun secara umum, perjalanan dapat dilalui dengan selamat. Sampai Tawangmangu, motor kami pacu lagi menuju Solo.
Sekitar jam 7 malam kami sampai di Solo, kemudian istirahat setelah hampir 5 jam menggeber si pitung. Biasa warung angkringan jadi tumpuan. Teh panas dan gorengan jadi langganan. Tidak lama kami istirahat, perjalanan dilanjutkan. Agus sejak dari Solo lebih sering berhenti untuk kembali mengikat knalpotnya. Namun begitu sesudah sampai Prambanan, dia putus asa. Knalpot yang sudah berulang kali copot itu dia masukan tas, dan si pitung melaju tanpa knalpot yang memadai. Tentu suara yang ditimbulkan sangat tidak merdu, orkes gergaji mesin terdengar sepanjang perjalanan. Meski begitu si pitung tetap digeber hingga sampai Kepuh, mungkin Agus sudah kadung mangkel.
Meleset dari prediksi, kami sampai Kepuh sudah jam 11 malam, 2 jam terlambat dari perkiraan. Kami cukup senang karena selamat sampai rumah, meskipun si pitung tidak dapat diselamatkan knalpotnya. Kami tiba di rumah sudah larut malam, karena sebelumnya sudah pamit kalau mau pergi ke Tawangmangu, bapak ibu tidak mempermasalahkan. (*)