Rabu, 16 Mei 2012

Sengatan Misterius Kupu-Kupu Malam


SENGATAN MISTERIUS KUPU-KUPU MALAM
Hermawan Widodo

Setiap sore di jalan-jalan kampung saya di Kepuh Lor, biasanya muncul kupu-kupu yang terbang liar. Habis bermain-main, sebelum kembali ke rumah, saya suka iseng nyampluki dengan tangan saya kupu-kupu yang terbang mendekat. Kadang kupu yang sedang tidak bernasib baik itu terkena pukulan tangan saya langsung jatuh. Biasanya mati, atau paling tidak dia akan menggelepar-menggelepar dan kesulitan untuk terbang lagi.
Suatu hari, saat saya pulang dari bermain, banyak kupu-kupu yang terbang di jalanan. Saya dengan bersemangat menampari kupu-kupu itu. Ada yang kena, banyak juga yang lolos. Saat tangan kanan saya mengenai kupu berwarna coklat dengan ukuran sedang, tiba-tiba tangan saya terasa sakit seperti tersengat lebah. Kupu itu lepas dari tangan saya dengan meninggalkan rasa nyeri. Sambil memegangi jari tengah tangan saya yang sakit, saya pulang ke rumah. Sampai di rumah, rasa sakit itu bukan hilang, justru semakin menjadi.
Saat melihat saya meringis menahan sakit dan memegang tangan, ibu bertanya dengan heran, ”Kenapa Wan?”
Saya jawab, “ Digigit kupu!”
Tentu jawaban itu tidak bisa dipercaya ibu. Lha wong kupu kok menggigit.
Setelah diperiksa ternyata jari tengah tangan kanan saya bengkak, dan sakitnya semakin tidak tertahankan. Rasanya senut-senut tidak karu-karuan. Saya sampai menangis gereng-gereng menahan sakit. Ibu kebingungan tidak tahu harus diobati apa. Bapaklah yang kemudian berinisiatif menanyakan obat digigit serangga kepada tetangga. Oleh Mbah Warno, tetangga depan rumah disarankan ke Kepuh Kidul ke rumah Mbah Wongso.
Saya digoncengkan motor oleh bapak menuju rumah mbah Wongso. Setelah memberikan prolog musibah yang menimpa saya, kemudian oleh simbah yang berpeci itu, tangan kanan saya dipegang. Sambil berdoa dia mengeluarkan batu akik warna hijau kemudian ditempelkan ke jari tengah saya yang bengkak. Batu akik sebesar kelereng jumbo itu, saat menyentuh jari tengah saya yang sakit, terasa dingin. Setelah beberapa saat ditempel dan dioles dengan batu akik hijau itu kami pulang.
Waktu itu memang sudah mulai reda sakitnya. Saya yakin akan segera hilang sakitnya begitu sampai rumah. Begitu sampai rumah, sakitnya muncul lagi dengan kadar nyeri yang sama. Kali ini saya tahan untuk tidak menangis. Saya bilang ke bapak kalau masih terasa sakit sekali. Bapak juga heran, tadi sudah tidak sakit kok sampai rumah kambuh.
Atas saran Mbah Warno lagi, bapak diminta kembali ke Kepuh Kidul. Ada orang lain yang juga memiliki akik ampuh katanya. Ternyata dia bapaknya Ponidi teman sekolah saya di SDN Mutihan III. Oleh bapaknya Ponidi, tangan saya yang sakit ditempelkan pada batu akik warna coklat sebesar kelereng normal. Jadi lebih kecil dibandingkan batu akik hijau milik Mbah Wongso.
Agak lama saya di rumah teman saya. Hingga sekitar jam sembilan jari saya masih terus ditempel dan digosok dengan akik coklat itu.  Karena sudah larut, oleh bapaknya Ponidi, bapak saya diminta membawa pulang akik itu. Nanti akik itu supaya ditalikan ke jari yang sakit dengan kain. Setelah pamitan kami pulang. Saya masih memegangi akik itu agar tetap menempel di jari yang bengkak. Rasa sakit memang agak berkurang.
Sampai rumah, bapak kemudian mencari sapu tangan, akik itu diikatkan di jari tengah saya. Karena sudah capai, saya pun beranjak tidur. Masih dengan menahan rasa sakit yang belum hilang, saya tertidur.
Pagi subuh saya terbangun, dan tanpa saya sadari sudah tidak terasa sakit lagi di jari tengah saya. Batu akik masih menempel dalam balutan sapu tangan bapak. Begitu melihat saya bangun dan tidak merasakan sakit lagi, akik yang masih terikat di jari saya dilepas oleh bapak. Sebelum berangkat ke kantor, bapak membawa akik itu dan mengembalikan ke Kepuh Kidul.
Hingga sekarang saya kurang begitu senang jika melihat kupu yang berwarna coklat. Kupu-kupu yang terbang menjelang malam itu pernah membuat saya kesakitan sepanjang malam karena sengatannya.
Sengatan beracun oleh binatang juga saya alami setelah insiden sengatan kupu-kupu malam liar itu. Itu berawal dari kebiasaan kami yang selalu ingin mencoba dan mengetahui sesuatu yang baru.  Bagi kami hal itu adalah sebuah tantangan yang harus dilakukan.
Waktu itu saya mendengar cerita bahwa di Segoroyoso Pleret ada sebuah gua, yang di dalamnya terdapat sumber air. Segoroyoso adalah salah satu desa yang dilewati oleh Jendral Sudirman dan pasukannya semasa perang gerilya. Terdorong oleh rasa penasaran, saya dan Agus ingin melihat dan membuktikan.
Kali ini kami tidak mengandalkan capunk merah Honda 70 milik Agus. Kami hanya bersepeda sejenis BMX. Mirip-mirip saja, karena memang bukan sepeda BMX. Sebuah sepeda mini yang sudah dicopot sana-sini hingga minimalis sekali.
Berangkat dari Kepuh pagi hari sekitar jam sembilan. Melewati Pleret terus ke selatan masuk Kedaton, ke timur hingga melewati jembatan yang melintasi sungai Opak. Sungai ini konon merupakan semacam jalan tol bagi para tentara penguasa laut selatan ketika kirab menuju gunung Merapi. Bagi sebagian masyarakat Jogjakarta, gunung Merapi, Laut Kidul dan sungai Opak adalah tiga elemen yang sangat penting. 
Dari atas jembatan, nampak aktifitas penduduk sekitar yang sedang mencuci dan menjemur kulit. Kulit dari binatang berkaki empat seperti kuda atau sapi yang sudah dipotong kecil-kecil. Kami menyebutnya dengan krecek. Krecek biasanya dimasak dicampur dengan potongan daging atau daging giling yang berbentuk bulat-bulat kecil. Masakan yang disebut dengan sambel krecek itu merupakan jenis masakan yang saya sukai. Tetapi biasanya hanya dimasak ketika sedang memiliki hajad baik pernikahan, sunatan atau lain.
Setelah melewati sungai, kami menyusuri jalan di sisi perbukitan. Hanya beberapa menit kami berhenti, kemudian kami meletakkan sepeda di kebun pinggir jalan. Saya dan Agus menyeberang jalan dan berjalan kaki naik mengikuti jalan setapak. Tidak memerlukan waktu lama untuk sampai di lokasi yang dimaksud.
Gua yang dikabarkan orang itu memang benar adanya. Di depan kami ada sebuah lobang besar menyobek dinding bukit. Lobang gua itu berbentuk setengah lingkaran, semacam penggaris busur yang dipakai untuk menentukan besarnya sudut. Cukup besar. Saya mendongak ke atas tidak kurang dari sepuluh meter tingginya. Kami berdua mendekat. Kemudian mencoba melihat ke bawah. Saya tidak mampu menerka kedalamannya, hanya nampak samar-samar kilauan air. Dari sisi dinding tebing, ada semacam tangga yang memang diperuntukkan untuk turun.
Agus mengajak saya turun. Namun entah mengapa saat itu nyali saya benar-benar raib. Saat saya melihat ke bawah itu, saya melihat asap putih yang tiba-tiba muncul dari bawah goa. Saya sayup-sayup juga mendengar suara-suara yang tidak jelas. Entah Agus melihat dan mendengar itu atau tidak. Yang jelas asap putih dan suara itu yang mencegah saya untuk turun. Agus turun sendirian. Saya melihat dari atas Agus menuruni tangga itu satu per satu.
Sekitar sepuluh menit kemudian dia berteriak, “Wan, mudhun mrene adus!”
Saya menjawab berteriak, “Emooh...!”
Saya di atas sendirian menunggu Agus yang masih di bawah gua. Ada perasaan yang tidak enak saat saya memandang gua itu dari tempat saya duduk. Mungkin karena sendirian di bawah, Agus segera naik tidak jadi mandi. Apakah dia juga takut saat di bawah, saya tidak mengetahuinya. Sampai di atas saya melihat Agus ngos-ngosan.
Dari keterangan Agus, di bawah gua memang ada sumber air semacam kolam yang kemudian dibuat sekat-sekat untuk mandi dan keperluan lain. Di bawah katanya gelap. Saat melihat ke atas yang nampak hanya lobang yang mengalirkan sinar matahari. Namun sinar itu tidak sampai bawah, sehingga di dasar gua tetap gelap. Kami menuruni bukit dan kembali ngonthel sepeda BMX mirip-mirip itu menuju sungai Opak.
Sampai di sungai Opak, saya mengajak Agus untuk mandi. Saat itu sungai Opak sedang tidak meluap sehingga air nampak jernih. Saya tidak tahu mengapa jika melihat sungai, ada dorongan yang sangat kuat untuk terjun dan mandi di sungai itu. Padahal jika dilihat dari topografinya, sungai Opak lumayan dalam.
Ada palung sungai yang mengalirkan airnya dari Merapi ke laut selatan. Palung itu memiliki kedalaman sekitar lima meter. Dalam kondisi normal, jika ingin mandi kita harus turun dulu di bibir palung, kemudian baru meloncat ke air. Namun jika air meluap, maka palung itu akan terendam semua. Kiri kanan palung selebar lima meter juga terendam. Jadi sungai yang mengalirkan air dari gunung Merapi itu lebarnya mencapai lima belas meter bahkan lebih. Saya pernah mandi di sungai Opak dalam kondisi sungai yang seperti itu.
Setelah meletakkan sepeda dan melepas kaos, dengan masih bercelana pendek saya dan Agus langsung masuk ke sungai. Berendam di air yang mengalir cukup deras. Di pinggir sungai saya melihat ada batang pisang yang tersangkut. Lebih dari tiga batang yang hanya berputar-putar di pinggir sungai. Saya dan Agus kemudian mengambilnya dan menjadikannya sebagai pelampung. Dua tangan memegang ujung batang depan, badan di atas batang, kaki di belakang bergerak mendayung menjadikan kami leluasa mengarungi arus sungai. Ternyata batang pohon pisang itu selain membuat saya senang, juga menjadikan sumber malapetaka.
Sedang asyik mendayung pelampung, tiba-tiba tangan kiri  saya terasa sangat sakit. Sakit oleh suatu sengatan yang tidak saya ketahui oleh binatang apa. Yang jelas tulunjuk kiri saya sakitnya luar biasa. Batang pisang saya lepaskan, kemudian dengan sekuat tenaga saya berenang menepi.
Begitu sampai di tepi saya berteriak ke Agus, “Gus aku dientup kalajengking!”
Hanya asal berteriak menyebut kalajengking. Soalnya saya tidak tahu binatang apa yang kurang ajar itu. Saya pegangi tangan kiri saya yang terasa kaku. Agus setelah sampai di dekat saya, mengambil sapu tangan dan mengikat lengan kiri saya dengan sapu tangan itu. Diikat begitu tangan saya terasa semakin kaku. Tangan kiri saya tidak bisa saya luruskan. Sakit itu semakin menjadi. Rasanya senut-senut tidak karuan. Sakitnya setara dengan sengatan kupu-kupu malam gila yang pernah saya alami sebelumnya.
Dalam kondisi tangan dibebat, saya mengambil sepeda dan mengendarainya dengan satu tangan kanan. Tangan kiri tidak mampu menjangkau stang karena tidak dapat diluruskan. Sambil menahan sakit saya terus menggenjot sepeda. Ternyata setelah sakitnya mencapai puncak, grafiknya kemudian menurun, sakitnya mulai reda. Ketika sampai di Jambidan, dusun sebelah timur Kepuh Lor rasa sakit itu sudah sangat berkurang. Tangan juga sudah mulai tidak begitu kaku lagi.
Sampai rumah meski masih sedikit ada rasa nyeri, namun sudah tidak saya rasakan. Hingga sekarang saya masih belum mengetahui jenis binatang apa yang menyengat saya. Namun demi sebuah gengsi dan biar terlihat gagah, saya mengklaimnya sebagai sengatan kalajengking. Padahal yang sebenarnya sengatan itu masih misterius hingga saat ini. (*)