Jumat, 11 Mei 2012

Cerpen " Rawan 3 Kuburan Hingga Robohnya Pohon Kami "


RAWAN 3  KUBURAN
HINGGA ROBOHNYA POHON KAMI
Hermawan Widodo

Kepuh adalah nama sebuah dusun mungil di daerah Bantul. Dusun Kepuh dikarunia lahan yang cukup untuk bersemayam bagi para manusia yang sudah bosan tinggal di muka bumi. Perut bumi Kepuh dengan suka rela, ikhlas, tanpa birokrasi sulit dan berbelit, menerima semua warga barunya tanpa memandang suku, agama, ras apalagi ideologi. Semua akan direngkuhnya dengan sungguh-sungguh. Begitu tulusnya perut bumi Kepuh dalam memperlakukan penghuninya, sehingga semua penghuni perut bumi Kepuh merasa kerasan. Belum pernah terdengar kabar, baik yang terang ataupun samar-samar, yang menyebutkan para penghuni perut bumi Kepuh, yang baru maupun lama, tidak betah dan kemudian migrasi, pindah ke tempat lain. Di dalam perut bumi Kepuh dijamin tidak akan ada kerusuhan yang memicu penghuninya resah dan pingin pindah. Tidak dijumpai teroris, yang kerjanya mengobral kengerian di seantero negeri. Tak ada tukang penagih hutang yang sanggup membuat nyawa melayang demi kembalinya pinjaman uang. Tidak ada demo amatir maupun profesional. Lahan itu tampak terasa damai, tenang, dan lengang.  Namun tempat itu bukanlah tempat tujuan yang menyenangkan, bahkan sangat dihindari oleh orang-orang yang masih ingin hidup seribu tahun.
Kepuh memiliki tiga lahan pekuburan yang memang difungsikan untuk makam, tempat mengubur mayat manusia. Satu lahan kuburan di Kepuh Lor, berada di pinggir sungai ujung barat dusun. Dua yang lain di Kepuh Kidul yang juga berada di pinggir sungai. Selain tiga kuburan formal itu, di seberang sungai Kepuh Lor ada lahan yang dikenal sebagai kuburan macan. Entah dari mana asal muasal nama seram itu. Yang jelas nama kuburan macan sudah menyatu dengan area seluas lapangan bola itu. Apakah di situ benar-benar ditanam jasad macan, atau binatang buas lainnya, tidak ada yang bisa dijadikan referensi. Hanya berdasarkan katanya orang tua, katanya tetangga, katanya si Badu, katanya si Budi, yang semua tidak jelas. Lahan cukup luas yang berada di atas bantaran sungai itu terdapat aneka tanaman dan buah-buaham yang bisa dipetik oleh siapa saja. Oleh siapa saja, karena tidak jelas juga siapa sesungguhnya pemilik kuburan macan tersebut.
Kuburan macan, meski tak ada mayat manusia ditanam, ternyata menebarkan aura seram. Aku pernah dibuat celaka karenanya. Saat sudah berada di puncak pohon, tiba-tiba saja batang pohon tempatku berpijak patah. Tak ayal tubuhku meluncur terbetot oleh kekuatan gravitasi bumi. Aku tertolong batang yang dilengkapi dengan ranting-ranting dan daun-daun. Laju tubuhku terhambat sehingga tidak langsung terhempas ke tanah. Meski panik aku mengambil keputusan radikal. Dalam posisi melayang, seperti naik gantole, dua tanganku memegang batang, dua kaki kutekuk untuk menyambut tanah di bawah. Usahaku berhasil. Batang itu mampu menyelematkanku. Dia berlaku laksana payung. Layaknya penerjun payung, tubuhku mendarat tepat di sawah berlumpur basah. Meskipun berlumuran lumpur, tubuhku tanpa lecet sedikitpun. Aku pulang penuh dengan lumpur, tanpa membawa sebijipun buah salam, yang hampir membuatku celaka. Sejak itu aku berusaha hati-hati ketika menaiki pohon di kuburan macan yang ternyata rawan itu.
Berbeda dengan kuburan macan yang rawan, kuburan Kepuh Lor menyajikan sensasi yang lain. Sebagai lahan yang semestinya menebarkan aura horor, kuburan Kepuh Lor bagi warga di dusunku bukanlah tempat yang mesti dijauhi. Kuburan Kepuh Lor tampak bersih, tertata rapi, tak ada bangunan-bangunan di dalamnya. Dulu di dalam kuburan terdapat banyak bangunan rumah-rumah kecil yang disebut dengan cungkup. Cungkup dibangun oleh keluarga yang cukup kaya untuk melindungi batu nisan di atas jasad kerabatnya yang ditanam di dalamnya. Perubahan aturan tentang tata kuburan, menjadi alasan seluruh bangunan di dalam kuburan dibongkar, menyisakan nisan-nisannya saja. Sewaktu masih ada cungkup-cungkup itu, aku sering bersembunyi di dalamnya saat bermain petak umpet. Tempat yang tidak akan dijangkau oleh siapapun yang tidak memiliki stok nyali berlebih. Jangankan masuk ke cungkup, sedang baru masuk ke pintu gerbang kuburan saja, nyali sudah dibikin rontok.
Hilangnya cungkup-cungkup itu, memudarkan aura horor kuburan. Tingkat keseramannya sirna bersama robohnya cungkup-cungkup yang dilibas habis. Kuburan tampak rata, hampir seragam. Yang menonjol adalah pohon duwet raksasa yang tetap beridiri tegak di tengah kuburan. Pohon raksasa itu bagaikan raja penguasa tunggal kuburan. Pohon yang buahnya membuat lidah membiru jika dimakan itu, sangatlah besarnya. Dibutuhkan empat lingkaran tangan orang dewasa untuk mampu memeluk utuh batang pohonnya. Buah yang dihasilkan betul-betul berbeda dari kebanyakan. Buah yang sudah matang dapat mencapai sebesar jempol kaki orang dewasa, warna hitam legam, rasanya sungguh manis. Mungkin karena asupan gizi pohon duwet itu berasal dari protein kelas tinggi, fosil-fosil jasad makhluq paling unggul, yang terus menerus ditambah, dan tidak pernah dikurangi.
Ketika pohon duwet tiba musimnya berbuah, kuburan itu akan menjelma laksana ajang wisata. Anak-anak hingga remaja, yang muda maupun tua, laki atau perempuan berkumpul di area persemayaman jasad para leluhur tersebut. Mereka berusaha mendapatkan buah duwet istimewa. Mereka yang bernyali tinggi, berlomba memanjat pohon raksasa itu. Mereka yang tidak memiliki cukup nyali, harus puas menanti buah itu jatuh ke tanah untuk kemudian dipungutnya. Untuk naik pohon super jumbo itu, tidak bisa dengan mendekapkan tangan pada batang atas kemudian dengan kaki menumpu batang bawahnya. Dekapan kedua lengan tidak akan cukup menjangkau diameter pohon. Langkah mudah dengan menggunakan tangga. Tetapi menggunakan tangga bukanlah cara elegan untuk menggapai pohon menantang itu. Dan tangga itupun tidak pernah bertengger di pohon duwet kebanggan warga Kepuh. Ada cara menaklukkan pohon duwet dengan heroik. Ada benalu yang tumbuh di cabang pertamanya. Benalu yang sudah menahun, melekat dan menghisap kehidupan pohon pemurah itu. Tumbuhan parasit itu menjulurkan akar-akarnya yang panjang dan kokoh, hingga mendekati permukaan tanah. Akar-akar itu yang kemudian difungsikan layaknya tambang, untuk memanjat pohon duwet. Dua tangan memegang akar benalu, dua kaki menginjak dan menumpu pada batang utama pohon. Layaknya sedang melakukan rock climbing, tangan dan kaki bergerak setahap demi setahap, setapak demi setapak, meski perlahan akan sampai atas, mencapai cabang yang pertama. Setelah melampaui cabang itu, selanjutnya bisa leluasa untuk memanjat dan mengambil segala yang ada di pohon itu. Cabang-cabang setelahnya tidak lagi besar, sehingga mampu didekap dengan tangan.
Aku pernah mencoba nyali naik pohon raksasa itu. Dengan penuh percaya diri, kupegang akar benalu yang menjalar. Dua tangan kujulurkan ke atas mengenggam erat akar. Dua kaki sejajar menapak batang. Dalam posisi itu, tangan kanan meraih akar yang lebih tinggi, dengan tangan kiri memegang erat akar untuk menahan badan. Setelah memegang erat akar dengan tangan kanan, kaki kiri bergerak menapak batang lebih tinggi selangkah. Selanjutnya tangan kiri melepaskan genggaman, untuk kemudian meraih akar yang lebih tinggi lagi. Setelah terpegang kuat, kaki kanan menapak batang lebih atas. Langkah itu harus dilakukan dengan hati-hati, yakin betul pegangan serta tumpuan kuat. Ketika hampir mencapai cabang utama, sekitar empat meter lagi, tiba-tiba kakiku terlepas dari tumpuan. Saat kaki kanan hendak menjangkau tumpuan lebih atas, kaki itu tidak mampu menumpu, sehingga kaki kiri juga terlepas dari tumpuan karena tidak kuat menyangga beban tubuh. Badanku menggelantung di atas pohon hanya berpegang akar benalu. Saat itu nyawaku betul-betul bergantung pada kekuatan akar tanaman parasit itu. Tampak di bawah berjajar rapi nisan-nisan para penghuni perut bumi kuburan Kepuh Lor. Hawa ngeri langsung menyergap jantung dan hati. Alangkah tragis, hidup harus berakhir karena terjatuh dari pohon, tubuh terhempas menimpa batu nisan. Meskipun takutnya lebih dari setengah mati, aku tidak berteriak-teriak minta tolong. Kalaupun berteriak, saat itu tidak ada orang yang sedang berada di kuburan. Yang ada hanyalah penghuni tetap rumah masa depan. Jika mereka yang menolong, tamat sudah riwayatku.
Dengan susah payah aku mencoba menumpukan kaki pada batang utama pohon itu. Karena grogi diliputi rasa takut, ketika kaki sudah menyentuh batang itu, malah terpeleset lagi. Kejadian berulang-ulang, sampai tanganku kesemutan mempertahankan pegangan pada akar benalu. Kesemutan pertanda kekuatan pegangan sudah melemah, goyah, dan kemudian akan terlepas. Jika itu terjadi, bayangan ngeri sebelumnya pasti akan terwujud. Tubuh meluncur ke bawah dan langsung diterima batu nisan hitam itu dengan sempurna. Hancurlah tubuhku satu-satunya ini. Aku tak mau bernasib begitu. Dengan sisa kekuatan tangan, kuayunkan akar itu untuk mendekat ke batang pohon dan menumpukan dua kaki sekaligus. Swiing…teps! Dua kakiku sepenuhnya tertumpu pada batang. Dalam posisi badan tertekuk, aku mencoba meraih pegangan yang lebih atas untuk kemudian menumpukan kaki naik. Nafas terengah-engah, detak jantung bergemuruh, peluh berhamburan tak mau berhenti mengucur begitu aku mencapai cabang utama. Aku duduk dengan kaki menjulur ke bawah, tangan mendekap cabang, mata memandang ke bawah. Masih tersisa kengerian melihat nisan-nisan itu. Bersyukur aku tidak menjadi warga barunya. Tidak semua benalu merugikan, aku terselamatkan olehnya saat bergelantungan.
Ketika sudah bertengger pada cabang utama pohon raksasa, nyaliku sudah habis, rontok berhamburan ke bawah, bersamaan saat aku bergelantungan mengundi nasib hidup dan mati tadi. Meski sudah dekat ke tempat buah duwet itu bersemayam, namun pikiranku tidak terarah pada duwet matang hitam legam sebesar jempol itu. Yang kupikirkan justru bagaimana bisa turun dengan aman dan selamat, utuh sampai di bawah. Sebuah perjuangan yang tidak kalah susahnya daripada saat naiknya.
Setelah nafas sudah mulai teratur, aku mencoba turun dengan berpegang pada akar benalu. Kaki kuturunkan ke bawah, untuk mencoba mencari tumpuan pada batang utama. Celakanya belum begitu jauh menuruni batang pohon, kakiku terpeleset. Berjarak lima meter dari permukaan tanah kuburan, tubuhku saya menggelantung. Aku nekat. Aku pandang ke bawah, rasanya tidak terlalu jauh. Aku nekat. Dengan perhitungan cermat saya lepaskan tangan dan meluncur ke bawah. Gedebug…kakiku  tidak dalam posisi sempurna. Meskipun kaki sudah kutekuk saat meluncur, namun tekukan itu tidak mampu menahan badan sepenuhnya. Tubuhku terjengkang, berguling-guling, dan berakhir saat membentur nisan hitam besar dekat pohon. Tempurung kaki kananku mendapatkan ganjaran dari sang nisan. Darah mengucur deras. Sambil meringis menahan sakit aku berdiri. Ada rasa nyeri di kaki yang berlumuran darah. Berjalan dengan tertatih, pohon lamtoro kudekati, daunnya yang muda kupetik. Kukunyah, , kemudian kutempelkan di tempuruh yang terluka. Kuambil lagi daun secukupnya untuk membersihkan darah. Upaya darurat itu cukup meredakan rasa nyeri dan menghentikan darah yang mengucur. Meskipun masih ada bercak-bercak darah di kaki kanan, aku berjalan keluar dari area kuburan yang masih menyimpan kerawanan itu. Aku tak pernah ceritakan ini kepada teman-teman di Kepuh Lor. Bisa remuk harga diriku, jadi bahan ploncoan di gardu ronda.
Sampai rumah ibu tidak marah melihatku datang berjalan pincang. Baginya sudah biasa aku pulang dalam berbagai keadaan.
Ibu hanya bertanya, “Kenapa Wan?”
Jawaban klise namun aman, “Jatuh!”
“Bersihkan, ambil obat merah, kemudian cuci tangan dan makan!”
Yes, ibu yang sempurna dan sungguh bijak.
Kuburan di Kepuh Kidul beda lagi. Di dalamnya juga ada pohon yang sangat besar. Bukan pohon duwet seperti di Kepuh Lor, tetapi pohon yang dikenal dengan pohon jangkang atau puh. Itulah mengapa dusun itu disebut Kepuh. Kuburan di Kepuh Kidul aura seramnya sangat kuat. Saat mbah Mangku meninggal, kuburnya di dekat tembok pagar. Banyak karangan bunga ditempatkan di dekat pusaranya. Karangan bunga yang tidak lazim bagi sebagian besar warga Kepuh. Karangan bunga yang masih berjajar itu menumbuhkan aura menakutkan bagiku. Ketika melewati jalan setapak di pinggir kuburan itu sepulang sekolah, pasti bulu kudukku langsung tegak. Aku berusaha membuang pandangan dari karangan bunga yang didominasi warna ungu itu. Aku selalu mempercepat langkah, bahkan berlari untuk bisa segera meninggalkan area kuburan. Kondisi itu terus berlangsung hingga karangan bunga itu rontok dimakan hujan dan panas, tinggal rangka bambunya saja.
Berbeda dengan kuburan di Kepuh Lor yang sering dijadikan ajang bermain. Kuburan di Kepuh Kidul tidak tersentuh oleh orang tua apalagi anak-anak. Kuburan itu benar-benar terjaga aura keseramannya.
Suatu ketika ada tiga orang dari luar Kepuh yang masuk area kuburan itu. Tidak ada yang memperhatikan apa yang mereka lakukan. Mereka hanya hilir mudik di dekat pohon jangkang yang besar itu. Ada yang membawa galah, ada juga yang membawa semacam golok. Ada yang berjongkok mengamati sesuatu dalam batang pohon yang bolong tengahnya itu.
Orang baru memberikan perhatian ketika ada asap mengepul dari bawah pohon jangkang. Ternyata mereka berusaha memancing musang yang masuk ke dalam lobang pohon jangkang. Musang-musang yang bersembunyi, bahkan mungkin bersarang di situ, diasapi dengan belerang yang dibakar di dalam lobang. Batang pohon besar yang berlobang itu, dengan cepat menyala dan menimbulkan asap. Kulit batang yang kering di tengah pohon, dari bawah hingga atas, mudah sekali tersulut api. Tanpa butuh waktu lama, api sudah berkobar-kobar. Mereka tidak saja mendapatkan asap, bahkan sumber asap yang besar diperolehnya. Diterpa angin sore yang cukup kencang, api itu semakin membesar, menyala-nyala liar. Tiga orang asing itu panik, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka sama sekali tidak menduga ulahnya mendatangkan api yang begitu besar, seperti api unggun saat kemah pramuka.
Pohon jangkang raksasa itu, walau tampak besar, namun tengahnya bolong dari bawah hingga sampai cabang utama. Diameter yang sangat besar menjadikannya tetap kukuh berdiri sekian puluh-puluh tahun. Kulit di dalam itu kondisinya kering. Ketika api menyala, maka kulit dalam itu terbakar, dari bawah merambat ke atas. Saat api berkobar besar, warga Kepuh berdatangan. Dengan ember mereka mengambil air dari sungai dekat kuburan. Berember-ember air diguyurkan ke sumber api. Butuh waktu cukup lama untuk menaklukkan si jago merah, sampai akhirnya api yang menyala di bawah pohon itu padam. Tiga orang asing pembawa heboh itu kemudian digelandang ke kantor kelurahan. Aku tidak tahu bagaimana nasibnya. Yang jelas nasib pohon jangkang yang dianiaya hebat oleh tiga begundal itu belum berakhir.
Api di bawah memang sudah padam, namun asap ternyata masih mengepul, keluar dari lobang atas pohon. Pemandangannya mirip asap yang mengepul keluar dari cerobong pabrik gula Madukismo. Api yang padam hanya di bagian bawah, yang terguyur air. Sedangkan kulit-kulit pohon di atasnya tidak tersentuh air. Kulit itulah yang masih terus menyala, dan mengeluarkan asap. Waktu sudah menjelang magrib. Warga mulai mengundurkan diri untuk menjalankan wajibnya, yang waktunya hanya sebentar itu.
Selepas magrib, ternyata api tidak surut justru semakin membesar. Namun kobaran api tidak lagi nampak, karena dia berada dalam lobang. Yang nampak adalah, warna merah membara dinding pohon, di dalam lobang bagian bawah. Air yang tadi diguyurkan segenap warga, sudah menguap oleh panas ratusan derajat celcius. Praktis kulit pohon itu pun menjadi kering hingga bagian dalam, oleh panas api yang menyala-nyala. Dalam kegelapan menjelang malam, lobang yang memerah itu, tampak sangat menakjubkan. Meskipun dalam kengerian, ada keindahan di sana. Lobang bagian atas, bukan lagi asap yang menyembul, namun butiran-butiran api kecil membara berhamburan. Keluarnya butiran api itu, ditandai dengan suara wuss..., kemudian plar…, api laksana kunang-kunang berwarna merah membara semburat beterbangan. Puncak keindahan dibalik kengerian, yang menebarkan ancaman bahaya besar.
Fenomena itu dikuatkan oleh aura magis dan suasana mistis. Di balik fenomena yang menakjubkan yang mengkhawatirkan itu, dari dalam lobang pohon yang sedang terpanggang, terdengar suara-suara aneh. Suara yang berasal dari dunia yang lain. Masing-masing indra dengar warga yang berkumpul di sekitar kuburan, menangkap suara yang berbeda. Ada yang mendengar suara rintihan. Yang lain mendengar suara mengaum mirip suara harimau, suara ringkikan kuda, bahkan suara gamelan. Ada juga yang mendengar suara tangisan atau tertawa bahkan marah-marah. Suara itu mirip laki-laki tua, ada juga perempuan bahkan anak-anak.
 Semakin malam suasana semakin mencekam, namun panoramanya juga semakin tampak indah. Waktu hampir mendekati tengah malam, Pak Dukuh memerintahkan salah seorang warga untuk segera mengevakuasi keluarga yang rumahnya berada persis di sebelah barat kuburan. Rumah itu satu-satunya yang bangunan berpenghuni manusia hidup di dekat kuburan Kepuh. Aku tidak tahu bagaimana keluarga itu bisa memiliki tanah, persis berbatasan dengan kuburan.
Hampir semua warga dari Kepuh berkumpul di luar pagar tembok kuburan, menyaksikan fenomena buatan yang tidak bakal terulang lagi. Butiran-butiran api terus berhamburan, bertebaran tersapu angin ke berbagai arah. Hawa di sekitar kuburan meski di pertukaran malam menuju hari berikutnya itu yang mestinya dingin, terasa hangat, bahkan mungkin sudah cenderung panas.
Persis di tengah malam jam 00 lebih sedikit, terdengar suara kretek-kretek dari dalam pohon. Api sudah sedemikian menggerogoti tubuh pohon raksasa tua, simbol dusun Kepuh. Batang yang rapuh, sudah berupa setengah arang berdiri, tidak sanggup lagi menahan beban pohon jangkang. Suara kretek-kretek semakin keras terdengar, disusul oleh suara krak..keras sekali. Pohon jangkang yang tadi siang tampak gagah perkasa itupun roboh, tumbang menerjang tembok pagar kuburan sisi barat. Tertimpa pohon raksasa bermasa sangat berat itu, tembok hancur, bata berhamburan.
Orang-orang melonjak kaget, spontan meneriakkan takbir Allah Akbar! Allah Akbar! Pekikan itu tidak manghentikan laju tumbangnya pohon jangkang, hingga rebah ke tanah, persis di depan rumah yang penghuninya sudah dievakuasi sebelumnya. Namun tak ayal, bagian depan rumah itupun hancur oleh terjangan batang dan ranting pohon yang rebah tanpa daya di pekarangannya. Tak terbayangkan jika penghuninya masih berada di dalam rumah itu, terlelap dalam belaian mimpi. Jika bukan karena mu’jizat, dapat dipastikan tidak akan bangun lagi, berada dalam belaian sang maut yang dibawa oleh pohon raksasa tumbang.
Warga yang tadinya panik dan berteriak Allahu Akbar, semburat berlari menuju dalam kuburan untuk melihat langsung ending drama sesiang hingga tengah malam itu. Batang pohon yang tumbang itu ternyata masih menyisakan bara. Sebagian warga mengambil air dengan ember, menyiramkan ke batang yang masih panas itu. Bara yang tersiram air menimbulkan suara kress..kress..keras, lama-kelamaan melemah hingga kemudian padam. Yang tertinggal hanyalah kepulan asap dan batang pohon yang menghitam. Itulah akhir dari perjalanan hidup simbol warga Kepuh. Jika di tahun ‘50an ada cerita Robohnya Surau Kami, di Kepuh ada kisah Robohnya Pohon Kami. (*)

** Hermawan Widodo **
Lahir di Bantul Jogjakarta, 15 Februari 1972.
Sekarang sedang belajar membaca dan menulis,
di Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) Blora.