Kamis, 10 Mei 2012

Pataba Press Buku 2 " Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa "


H U T A N
Ulin Nimah (Blora)

Warnamu begitu hijau
Dengan burung-burung terbang di atasmu
Kau begitu memukau
Dengan desau suara merdumu

Kau jantung duniaku
Kau nafas buanaku
Kau surga singgasana
Bagi semua yang bernyawa

Hutan…
Kau hutanku, hutan kebanggaanku
Takkan kubiarkan kau hancur
Takkan kubiarkan manusia menjarahmu
Akan kujaga kau slalu di hidup dan matiku

* * *

Nama Penulis           : Ulin Nimah
Sekolah                     : MTs Miftahul Ulum Karangtengah Blora
Judul                                    : Hutan (puisi)

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@




MISTERI UANG SAMPAH
Sakti Mahardika (Blora)

Empat makhluk yang masih berdetak jantungnya serta kembang kempis paru-parunya angkat kaki dari kubus kayu bersisi 5x5 meter, beratap genting oplosan yang berornamenkan ating hitam serta putih. Kaki-kaki telanjang mereka terkuas oleh cat air berwarna coklat tanah yang melumer karena hujan tadi malam. Udara di awal hari yang masih penuh dengan oksigen masuk di kedua hidung mereka. Di antara embun pagi dingin yang mulai menguap, mereka berjalan beriringan di jalan setapak menuju jalan di depan sana yang lebih lebar. 
Meninggalkan kediaman dengan tas-tas besar di punggung saat api raksasa baru mengintip di garis timur. Mungkin mereka ingin pergi liburan. Atau bisa jadi mau pindah rumah, tetapi rasanya juga tidak. Karena setiap pagi mereka melakukan itu. Biasanya orang yang berangkat pagi secara rutin itu untuk berangkat bekerja. Tetapi apa perkerjaan mereka?
Jika melihat riwayatnya, Ana sudah tidak bersekolah sejak tamat SD setahun lalu. Tanto apalagi, ia sudah ditolak lima SMA, karena sifat tangan panjangnya. Sedangkan pak Tarno dan bu Sukinah jelas tidak bekerja sebagai pedagang, karena mereka selalu pergi ke timur, sementara pasar ada di sebelah barat mereka tinggal.
Tanda atin itu terjawab, ketika mereka berhenti sejenak di bawah lampu penerangan jalan. Tas-tas besar yang ada di punggung mereka ternyata bukan ransel atau koper, namun tas yang terbuat dari anyaman ating yang biasa dibawa oleh para pemulung ke TPA di timur ating. Mereka ternyata pemulung yang mengais sampah untuk mendapatkan barang-barang yang bisa diuangkan.
“Pak sudah tiga tahun kita di sini. Tetapi bukan menjadi kaya justru semakin miskin,” kata bu Sukinah kepada pak Tarno sambil duduk-duduk di pinggir gunungan sampah. Mereka menunggu datangnya truk-truk sampah pembawa rezeki hari itu.
“Iya bu, saya juga menyesal, kenapa kita pergi ke Jakarta jika di sini...” belum selesai pak Tarno berucap sudah disambar oleh Ana.
“Jika di sini hanya jadi pemulung. Padahal ibu dan bapak kan sudah janji, kalau kita pergi ke Jakarta akan bisa beli rumah, mobil dan baju bagus. Iya kan mas?” sahutan itu juga ditujukan kepada kakaknya.
“Ya! Sebetulnya saya juga tidak sudi tinggal di gubug reyot kayak begitu. Makan hanya tiga sendok, tidur di atas kardus, setiap hari kerjanya mengambil sampah. Kalau tahu dari dulu, saya tidak akan ikut. Lebih baik hidup di desa, bisa ketemu Hastuti setiap hari. Di sana juga belum ada lelaki yang bisa menandingi kegantengan saya. Tapi, di sini saya juga masih ganteng kok. Buktinya masih banyak cewek yang melirik saya.”
“Sayang lirikan itu bukan karena tertarik, tetapi karena jijik. Ha..ha..ha..Kasihan jangan terlalu GR mas.”
Pak Tarno dan keluarganya meninggalkan desanya di Wonogiri karena terinspirasi keberhasilan tetangganya yang bekerja di Jakarta. Ladang mereka dijual untuk biaya berangkat ke Jakarta, meninggalkan sebuah rumah yang sederhana. Di Jakarta mereka tinggal di rumah kontrakan dan mendirikan usaha. Pak Tarno menjadi tukang potong rambut dan bu Sakinah sebagai penjual nasi soto. Usaha itu berhenti ketika rumah itu digusur. Ana masih sempat menyelesaikan sekolah hingga tamat SD. Sedangkan Tanto DO dari SMA tiga bulan menjelang ujian karena kedapatan mencuri dua HP, satu jam tangan dan sejumlah uang dari tas teman wanitanya. Ada keinginan untuk pulang ke desa, namun uang mereka sudah tak punya, habis untuk biaya hidup di Jakarta.   
Dua puluh menit sudah lewat, belum ada satupun truk sampah yang masuk TPA Bantargebang. Sambil menunggu, keluarga itu duduk berbaris memanjang. Dibantu penerangan lampu 5 watt dari pos penjaga, mereka asyik mencari kutu dan uban. Sungguh asyik ritual itu bagi mereka. Selang beberapa lama ating tiga truk dari arah timur. Barisan pemulung yang lain sudah siap-siap menanti truk itu berhenti. Begitu berhenti dan menumpahkan muatan sampah, mereka dengan lincah memunguti benda-benda yang masih memiliki harga, dimasukkan ke dalam karung-karung mereka.
Terik mentari mulai menyengat kulit. Tidak terasa sudah lima jam pak Tarno dan keluarganya berkubang dalam sampah. Tanto telah memenuhi lima karungnya. Itu belum sesuai dengan kemampuannya setiap hari minimal tujuh karung. Pak Tarno baru mendapatkan empat karung, sedang bu Sukinah baru dua karung. Yang meningkat justru hasil pungutan Ana, sudah mampu mengumpulkan satu setengah karung. Biasanya ia tidak mampu memenuhi satu karung, karena keseringan berteduh, khawatir kulitnya hangus terbakar. Padahal dari sejak lahir kulitnya sudah hitam legam serta kusam, sewarna dengan rel kereta.
“Hei Tanto, itu ada truk yang ating lagi!” kata pak Tarno.
“Itu pak, Ana. Dia kan baru dapat satu karung lebih sedikit. Nih lihat aku sudah dapat lima karung. Tapi sayangnya tak satupun gadis-gadis di sana itu yang mau mendekat,” jawab Tanto yang langsung disambut tawa keluarganya oleh lelucon garing itu.
“Ha..ha..ha..! Mas, mas..kamu itu bagaimana to. Ya jelas mereka tidak ada yang mau. Lima karung kok sampah. Kalau lima karung isi emas atau uang, pasti mata dan kaki mereka langsung tertuju mas, ting…ting…ting…” sahut Ana sambil berjalan menuju truk sampah yang baru ating.
Hari itu Ana sepertinya mendapat hoki. Saat mengais-ngais sampah yang baru ating, ia melihat sebuah amplop besar yang di luarnya terdapat stempel BI. Pertama melihat ia begitu kaget, tetapi kemudian senyuman lebar merekah di wajahnya, setelah secara perlahan meremas dan meraba isi amplop itu.
“Mas..mas Tanto, sini!” teriak Ana sambil mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi.
“Ada apa sih, kerja sendiri saja tidak becus. Baru sebentar sudah panggil-panggil, pakai tangan kiri lagi.” Tanto malas bangun dari tidur santainya.
“Sudah To, sana datangi adikmu. Siapa tahu dia butuh apa-apa.” Bu Sakinah member perintah.
Nasihat ibunya cukup mujarab. Sebandel-bandelnya Tanto, ia tetap nurut di depan ibunya. Ia segera menghampiri adiknya yang ada di tengah tumpukan sampah.
“Manggil pakai tangan setan, tangan kananmu mana?”
“Eit, tunggu dulu mas, sabar. Aku punya kejutan besar!” Ana menyembunyikan tangan kanannya di balik badannya.
“Apa? Kejutan apa? Paling Cuma boneka bekas atau sepatu butut yang kamu dapat.” Rasa ingin tahu Tanto mulai muncul, meskipun ia tetap saja meremehkan adiknya.
“Haa! Sepatu butut. Boneka bekas. Itu sudah biasa mas. Ini benar-benar luar biasa. Mau tahu? Ini dia!” Tangan kanan yang menggenggam amplop itu ia angkat tinggi-tinggi.
“Apa itu? Sini, sini!” Tanto langsung merebut amplop itu.
“Itu uang mas. Uang dari BI. Tadi kutemukan di dalam kardus itu.” Ana menunjuk sampah kardus di dekatnya.
“Iya Na, ini uang beneran. Saya kan ahlinya. Diraba saja sudah terasa jumlahnya. Kira-kira ini 100 jutaan.” Tanto mengacungkan amplop itu pada adiknya.
 “Wah 100 juta! Kita bisa kaya nih. Bisa beli boneka, baju, parfum emas dan juga nyalon. Pasti nanti penampilanku berubah ating menjadi Dian Sastrowardono, eh Wardoyo, Wardono kan pacar pertamaku saat kelas tiga SD. Wah senangnya.” Ana mulai dengan khayalannya.
“Sebaiknya kita simpan saja uang ini berdua. Ibu dan bapak jangan sampai tahu. Nanti kalau mereka tahu, pasti kita disuruh mengembalikan, ating kan!” jawab Tanto sambil menyembunyikan amplop itu di perutnya, diselipkan pada kolor celana butut yang dipakainya.
Kini punggung-punggung mereka sudah bisa tersenyum kembali. Karung serta keranjang berisi sampah telah mereka gadaikan. Perjalanan pulang terasa lebih ringan walau kantong celana ada sedikit pemberat.
Lambung yang hampa, kini sudah diisi dengan sebungkus nasi lauk tempe ating dan sambal terasi di warteg bude Ngatiyem dekat rel kereta. Dua gelas es the agak manis ternyata tak cukup memadamkan bara api di lidah mereka berempat. Sampai-sampai Tanto berlari-lari dan loncat-loncat seperti kutu kepanasan. Ia lupa bahwa di celana kolornya terselip amplop uang dari BI. Karena tingkah gila Tanto itu, amplop BI akhirnya jatuh ke tanah dan diketahui oleh pak Tarno dan istrinya.
“Tanto, apa itu?” atin pak Tarno.
“Nggak pak, nggak pa..pa..kok.” Tanto dan Ana bingung disertai takut setengah mati. Kedua kaki pun siap tancap gas untuk menghindari interograsi lebih jauh dari pak Tarno.
”Hei tunggu, kalian jangan lari!” sembur pak Tarno mencegah Tono dan Ana kabur. Pak Tarno berusaha mengejar mereka. Namun rangkaian panjang kereta api Argo Lawu menghentikan langkah pak Tarno. Tanto dan Ana sudah lenyap dari pandangan.  
Setelah lepas dari kejaran pak Tarno, akhirnya Tanto dan Ana memberanikan diri untuk pulang. Amplop dengan stempel BI itu masih tersegel rapat. Tanto dan Ana belum berani membukanya. Sampai-sampai amplop itu basah karena keringat bau dari perut Tanto.
Hari menjelang petang. Merah langit barat mulai menghitam. Lampu-lampu berwarna dari dalam tembok-tembok beton yang menjulang tinggi di belakang perkampungan mulai menyala. Kumandang adzan magrib nyaring terdengar di telinga. Pak Tarno dan bu Sukinah bergegas pergi ke mushola dekat rumah pak RT. Tanto dan Ana bisa masuk rumah dengan leluasa. Kesempatan ating. Kini saatnya mereka melihat isi harta karun dari gunungan sampah itu. Detak jantung serasa menggoyang tubuh, aliran darah terasa lebih deras. Mata sudah tak sabar untuk melihat kilauan uang-uang kertas itu.
“Mas, ibu dan bapak sudah pergi. Ayo cepat kita buka!” Anasudah  tidak sabar.
“Tunggu sebentar Na, kita harus melakukan dengan pelan-pelan agar uangnya tidak sobek.” Tanto dengan pelan membuka amplop itu.
“Naa, sekarang sudah terbuka. Ayo cepat hitung uangnya mas.” Ana menggoyang tangan kakaknya.
“Iya sebentar. Ini dia!” sambil menumpahkan isi amplop di atas meja. Mereka berseru histeris. Mereka menari berjoget sambil menangis bak  kesurupan. Tangisan lebih-lebih menggila. Rauangan dan ratapan sama bunyinya, tapi lain artinya. Dibalik kertas uang kemerahan ratusan ribu itu tertera jelas tulisan uang mainan (*)
Nama Penulis           : Sakti Mahardika
Sekolah                     : SMAN SBBS Sragen Jawa Tengah
Judul                                    : Misteri Uang Sampah

########################################################################


ASAL – USUL KALIMATI
Mohammad Budi Utomo (Blora)

Di sebuah desa terdapat sungai yang diberi nama sungai Kalimati. Sungai Kalimati berasal dari sebuah legenda. Jaman dahulu kala ada ular yang terdampar di sungai itu. Sungai itu sangat besar dan arusnya sangat deras. Ia menjadi sarana transportasi dan irigasi warga setempat yang tinggal di dekat sungai.  Karena aliran sungai itu warga menjadi makmur dan sejahtera.
Suatu hari tiba-tiba aliran sungai yang deras itu berhenti dan penduduk panik. Sampai bertahun-tahun air belum muncul dari sungai itu. Kondisi itu diperparah dengan oleh hujan yang tidak pernah turun sama sekali. Akibatnya tumbuhan mulai mati. Penduduk kebingungan karena tidak mendapatkan air. Mereka minum air yang ada meskipun sangat kotor, sekedar untuk menghilangkan haus. Mereka pergi ke rumah pak lurah, menanyakan penyebab hilangnya air.
“Pak lurah, bagaimana ini, sudah tidak ada air lagi” teriak mereka kepada pak lurah.
“Maaf, saya juga tidak tahu penyebabnya” jawab pak lurah.
“Tapi bagaimana, kami sudah tidak memiliki bahan makanan dan air lagi” teriak penduduk. Karena tidak mendapatkan solusi, mereka meninggalkan rumah pak lurah. Mereka berusaha mencari-cari yang bisa dimakan dan juga diminum. Lama-lama mereka menjadi pengemis di jalan-jalan. Pak lurah sedih melihat warganya begitu menderita. Dia hanya berharap ada orang atau siapa saja yang bisa memecahkan persoalan warganya.
Suatu hari ada seorang pemuda, Joko namanya berjalan melewati jalanan di mana penduduk itu sedang mengemis.
“Maaf pak, mengapa bapak mukanya pucat sekali?” tanya Joko.
“Karena saya sudah berhari-hari tidak makan. Desa kami dilanda kekeringan. Sungai yang biasanya mengalirkan kehidupan bagi kami sekarang tidak ada lagi airnya. Tidak diketahui penyebabnya” jelas pengemis.
Joko kemudian memberikan sebagian bekalnya kepada pengemis itu yang diterimanya dengan senang hati.  Kemudian Joko meneruskan perjalanan. Dia merasa belum begitu paham terhadap penjelasan pengemis tentang kondisi desa itu. Dia bermaksud menemui pak lurah. Ketika sampai di rumah pak lurah, dia langsung ditemui oleh pak lurah.
“Ada apa nak, apa yang bisa saya bantu?” tanya pak lurah.
“Saya hanya ingin tahu kondisi desa ini yang katanya kekeringan, ” jawab Joko.
“Iya nak. Kami juga tidak tahu apa penyebabnya tiba-tiba saja sungai yang airnya melimpah itu kering.”
“Bolehkah saya melihat-lihat kondisi sungai itu? Siapa tahu saya bisa membantu memecahkan masalah ini.”
“O silahkan.”
Joko kemudian pergi ke sungai yang kering. Di perjalanan dia berhenti di bawah pohon besar yang dianggap angker oleh warga. Joko melihat seorang nenek yang sedang menangis. Namun hanya Joko saja yang melihatnya, sedangkan warga lainnya tidak melihat nenek itu.
“Mengapa nenek menangis?”
“Saya sudah dua hari tidak makan nak!”
Joko kemudian memberikan bekal makanan yang dibawanya. Nenek itu menerimanya dan makan dengan lahapnya.
“Nek, sebenarnya saya mau menanyakan tentang sungai yang semula airnya melimpah, tiba-tiba bisa kering itu sebabnya apa?”
“Begini nak. Dulu ada seekor naga yang sedang bertapa di sungai itu. Karena lama bertapa maka naga itu mengeras dan menjadi batu yang menyumbat aliran sungai.”
“Bagaimana supaya sungai ini bisa mengalirkan air lagi nek?”
“Kelak kamu akan bertemu dengan wanita cantik yang akan membantumu.” Setelah berkata demikian nenek itu hilang dari pandangan, dicari ke sana ke mari tidak ada lagi.
Joko kemudian berjalan kembali menelusuri sungai. Di tepi sungai dia bertemu dengan seorang wanita yang bernama Wulandari. Wanita cantik itu ingin membantu Joko menemukan naga yang bertapa. Hingga di suatu tempat Joko melihat ada sisik yang sangat besar. Joko  mengambil sisik yang besar itu dan melanjutkan perjalanan. Joko dan Wulandari menemukan sisik lagi namun ukuran lebih kecil.
Tiba-tiba nenek tua yang pernah ditemui Joko kembali muncul. Nenek itu memberikan petunjuk kepada Joko agar mencari tujuh sisik untuk bisa menghidupkan naga itu lagi. Dengan susah payah akhirnya Joko dan Wulandari mampu menemukan tujuh sisik yang dimaksud nenek. Kemudian mereka mencari tempat di mana naga itu bertapa. Naga itu sudah menjadi batu. Satu-satu sisik itu ditempelkan ke tubuhnya. Saat sisik terkecil dilekatkan di bagian ekor, tiba-tiba sisik-sisik naga itu mengeluarkan cahaya terang. Mereka kaget dan menutup matanya dengan tangan karena silau oleh cahaya itu. Ketika mereka membuka mata, di depannya sudah berdiri seorang laki-laki yang gagah.
“Terima kasih nak. Kalian telah membebaskan aku.”
“Anda siapa?”
“Saya adalah raja yang dikutuk menjadi naga karena berbuat semena-mena kepada rakyatku. Aku kemudian bertapa di sungai ini untuk bisa kembali menjadi raja. Bertahun-tahun aku bertapa hingga sebagian sisik-sisikku lepas. Tanpa sisik lengkap aku tidak bisa berubah wujud lagi menjadi manusia.”
“Sebagai ungkapan rasa terimakasihku, kalian akan kubawa ke kerajaanku dan kuangkat sebagai anak.” Tiba-tiba saja, Joko dan Wulandari sudah berada di istana yang indah.
Sejak itu sungai kembali mengalirkan air yang mampu menghidupi warga. Sungai itu kemudian diberi nama Kalimati. (*)

Nama Penulis           : Mohammad Budi Utomo
Sekolah                     : SMPN 4 Blora Jawa Tengah
Judul                                    : Asal-Usul Kalimati

************************************************************************



ANAK PESISIR
Novita Ambriana (Sulawesi Selatan)

Matahari sebentar lagi terbenam. Seorang anak laki-laki dan perempuan yang tampak kumal sedang asyik memandangi matahari terbenam dari bibir pesisir.
“Matahari kalau mau terbenam indah sekali ya?” kata anak perempuan itu kepada anak yang laki-laki.
“Iya, tetapi kalau siang dia panas sekali. Sudah kulitku hitam dibuat hitam lagi olehnya.”
“Tetapi kita mesti bersyukur, karena dia aku bisa melihat kamu di dunia ini. Tanpanya semua berada dalam kegelapan.”
“Rimba, kamu akan terus berada di sampingku kan?”
“Maksud kamu?”
“Maksudku, kamu tidak akan pernah meninggalkanku seperti matahari dan rembulan yang selalu terbenam.”
“Ehm, bagaimana ya?”
“Rimba..”
“Tidak akan. Kamu kan sahabatku.” Kata Rimba sambil mencolek hidung anak perempuan itu. Tidak terima diperlakukan seperti anak kecil dikejarnya Rimba.
“Dara, ayo kejar aku!” teriak Rimba kepada Dara, nama perempuan itu.
Perilaku mereka saat itu masih polos dan lugu. Yang ada di benak mereka saat itu hanyalah bermain. Mereka tidak pernah menduga bahwa suatu saat nanti mereka akan mengalami nasib yang berada di luar dugaan mereka sebelumnya.
Lima tahun telah berlalu semenjak kejadian di bibir pesisir saat itu. Anak laki-laki dan perempuan itu kini telah tumbuh menjadi remaja yang sudah duduk di bangku kelas sebelas. Dini hari mereka telah memulai perjalanan ke sekolah dengan mengendarai sepeda. Meski kondisi keuangan keluarga mereka kurang mampu, namun mereka berusaha dan berdoa agar dapat bersekolah dan mempunyai harapan merubah nasib mereka dan keluarga mereka kelak.
“Dara, ayo cepat. Aku ada jadwal membersihkan hari ini, kalau aku terlambat bisa dimarahi guru.”
“Iya, Rimba, ini juga mau cepat-cepat kok!”
Dara meningkatkan laju sepedanya, berusaha untuk mengejar Rimba. Kemudian muncul niat jahil Dara.
“Rimba yang di sana itu apa ya?” kata Dara sambil menunjuk asal.
“Yang mana?”
“Yang itu tuh!” kata Dara sambil mengayuh sepedanya sekuat tenaga dan meninggalkan Rimba di belakang. Menyadari dikerjai Dara, Rimba menggenjot sepedanya sekuat tenaga pula mengejar Dara.
Hari ini ada rapat di sekolah, sehingga murid-murid dipulangkan lebih awal. Rimba dan Dara segera mengambil sepedanya dari parkir dan segera meluncur keluar dari area sekolah.
“Rimba, kamu mau ke pantai sekarang?” tanya Dara
“Iya, mau ikut jadi kuli juga?”
Meski Rimba dan Dara dari keluarga kurang mampu, namun karena prestasi dan juga kegigihan mereka sehingga mereka mampu melanjutkan sekolah hingga tingkat menengah atas.
“Huh, tidak usah ya!  Mendingan bantu ibu jual kue di pasar!”
“He..he..he..kamu kan anaknya lemah, jadi tidak kuat kerja yang berat.”
“Oh ya? Siapa bilang aku lemah. Biarpun aku cewek, aku bisa sama kuatnya dengan cowok.”
“Memangnya kamu cewek? Kok aku tidak tahu ya. Aku kira selama ini kamu cowok” kata Rimba sambil melajukan sepedanya menjauh dari Dara.
“Rimba, awas kamu. Kujitak kamu kalau dapat!”
Mereka melajukan sepedanya masing-masing, berkejar-kejaran.
Kondisi ekonomi keluarga Rimba yang kekurangan membuat Rimba terpaksa ikut bekerja untuk membiayai sekolahnya. Dia menjadi kuli di pesisir sepulang sekolah. Setiap hari dia menunggu kapal nelayan yang membawa ikan-ikan segar yang akan dilelang di pasar ikan yang tidak jauh dari pesisir.
“He Rimba, kamu tidak sekolah?” tanya ayahnya.
“Sekolah kok, tapi gurunya rapat,  jadi pulang lebih cepat.”
“Oh..ya sudah segera ganti baju, pekerjaan sudah menunggu.”
Ayahnya juga menjadi kuli di pesisir itu. Meskipun kuli kasar, namun ayahnya memberikan perhatian dan kasih sayang  yang cukup kepada keluarganya. Hari ini Rimba berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Meskipun hanya mendapatkan Rp.20.000,- tiap harinya, namun itu sudah cukup membantu keluarganya.
Saat matahari terbenam adalah saat yang dinantikan oleh Rimba. Dia benar-banar menikmati momen itu. Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang gadis yang berdiri di dermaga. Gadis itu sepertinya juga sedang menikmati saat-saat terbenamnya matahari. Mata Rimba tidak bisa berpaling dari gadis itu. Gadis yang cantik menurut Rimba.
Esok harinya Rimba dan Dara mengayuh sepedanya ke sekolah.
 “Kemarin, aku melihat bidadari di pesisir.”
“Bidadari? Di mana?”
“Di pesisir sedang melihat matahari terbenam.”
“Cantik?”
“Namanya bidadari pasti cantik lah.”
Sore menjelang, Rimba dan Dara datang ke pesisir. Saat pulang sekolah Rimba sudah janjian akan mengajak Dara untuk datang ke pantai melihat gadis cantik yang disebut Rimba sebagai bidadari.
“Mana bidadarinya?” tanya Dara.
“Itu!” kata Rimba menunjuk gadis yang sedang berdiri di tempat kemarin.
“Ayo ke sana!” kata Dara.
“Untuk apa. Di sini saja.”
“Kenalan.” Kata Dara sambil menyeret tangan Rimba menuju ke tempat gadis itu berdiri.
“Hai, lagi nunggu matahari terbenam ya?” kata Dara kepada gadis itu.
Mendengar suara Dara, gadis itu menoleh.
“Kamu bicara dengan saya ya?” tanya gadis itu.
“Iya. Kenalkan nama saya Dara.” Katanya sambil mengacungkan tangan.
Beberapa detik tidak ada reaksi dari gadis itu, hingga akhirnya gadis itupun mengulurkan tangan. Namun anehnya uluran tangan itu tidak mengarah ke Dara melainkan ke sisi yang lain. Dara segera tanggap dan menjabat tangan itu.
“Oh maaf, nama saya Gadis saya… maaf ya saya tidak bisa melihat kamu.”
Dara dan Rimba kaget mengetahu hal itu.
“He..he..kamu pasti kaget mengetahui aku buta. Ternyata aku berbakat acting ya. Sejak keluargaku pindah di tempat ini sudah ada 30 orang yang mengira aku bisa melihat. Lucu ya!” kata Gadis dengan riang sambil tertawa. Dara dan Rimba jadi ikut tertawa. Tetapi sesaat kemudian Gadis berhenti tertawa.
“Kamu ke sini tidak sendiri ya?” tanya Gadis.
“Oh ya. Kenalkan ini Rimba sahabatku!”
“Hai aku Rimba.” Kata Rimba tanpa diminta.
“Gadis! Kelihatannya kalian baik. Maukah jadi temanku?” tanya Gadis.
“Tentu saja. Kamu ke sini kalau tidak melihat matahari terus apa?”
“Aku mau mencium udara pasisir!” kata Gadis.
“Mencium udara pesisir?” tanya Rimba tidak mengerti.
“Iya. Aku kan tidak bisa melihat. Jadi hanya mencium aromanya saja.”
“Kamu bisa menciumnya? Aneh, aku tidak bisa menciumnya,” kata Dara.
“Itulah keadilan Sang Pencipta. Kalian punya mata jadi bisa memandang keindahannya. Sedang aku hanya memiliki hidung dan telinga yang lebih peka dari kalian. Karena itu aku bisa mendengar selembut-lembutnya ombak dan seharum-harumnya aroma pesisir.”
 Mereka menghentikan pembicaraan sesaat untuk menikmati kekuasaan Pencipta dengan peristiwa terbenamnya matahari yang diganti oleh munculnya rembulan. Seorang lelaki bertubuh tegap seumuran dengan ayahnya Rimba menghampiri mereka dengan wajah ramah.
“Gadis, kamu dengan siapa?” tanya lelaki tegap itu yang ternyata ayah Gadis.
“Oh ayah sudah datang. Kenalkan yah ini Dara dan Rimba. Mereka adalah teman baruku.”
Setelah berkenalan, Gadis dan ayahnya beranjak pergi meninggalkan Dara dan Rimba. Rimba menatap Gadis sampai punggung gadis itu tak tampak lagi.
“Seperti katamu, dia betul-betul cantik.” Kata Dara.
Rimba hanya mengangguk dan tersenyum. Dara yang tidak terlalu senang melihat kejadian itu, langsung beranjak meninggalkan Rimba. Ditinggal Dara, Rimba segera menyusul Dara dan mulai menjahilinya.
Semenjak perkenalan tempo hari, Rimba semakin sering datang ke tempat itu. Kini ia menjadi lebih dekat dengan Gadis. Setiap ada kesempatan selesai bekerja, Rimba segera menemui Gadis. Menurut penilaiannya, Gadis adalah sosok yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Semenjak mereka dekat, tanpa disadari Dara yang selama ini bersama Rimba tiba-tiba saja lenyap. Dara merasa Rimba semenjak dekat Gadis, menjadi jauh dengannya. Dia tidak begitu senang melihat Rimba berduaan di pesisir dengan Gadis. Semenjak itu Rimba sering terlambat ke sekolah, dan saat pulang juga ingin selalu cepat-cepat. Kondisi tersebut menyebabkan Dara jatuh sakit. Sudah tiga hari Dara dirawat di rumah sakit karena sakitnya itu. Saat Rimba mengetahui Dara di rumah sakit, dia langsung ke rumah sakit menjenguk Dara.
“Kenapa kamu datang ke sini? Kamu kan sudah punya teman dekat yang baru sekarang.” tanya Dara melihat kedatangan Rimba.
“Maaf Dara, selama ini aku memang salah karena tidak memperhatikanmu.”
“Sudahlah. Kamu pergi saja. Aku tidak suka melihatmu di sini.” Dara sebenarnya rindu sekali dengan Rimba. Hanya kelakuan Rimba selama ini membuatnya sangat kecewa.    
“Maaf Dara, aku tidak bermaksud menjauh darimu.”
“Sudahlah..,aku tidak mau dengar!” kata Dara sambil menangis.
Melihat Dara begitu, Rimba menyerah dan meninggalkan Dara sendiri.
Hari itu Rimba menghabiskan waktunya untuk menyesali perbuatannya selama ini. Dia berjalan-jalan di pesisir sendirian. Tiba-tiba dia menangkap sosok gadis yang dikenalnya. Dia menghampirinya.
“Hai Gadis!”
Mereka berjalan kemudian duduk-duduk di atas pasir.
“Gadis, aku mau menyampaikan sesuatu. Maukah kamu mendengarnya?”
“Tentu, kita kan berteman.”
Rimba kemudian menceritakan kondisi Dara yang sakit, juga pertemuannya dengan Dara saat menjenguk di rumah sakit.
Mendengar cerita itu, Gadis merasa tidak enak dengan Dara. Maka dia merencanakan sesuatu untuk memulihkan hubungan Rimba dengan Dara.
Sore itu Dara sedang di atas kursi rodanya dan berkeliling sekitar rumah sakit. Tiba-tiba Rimba datang dari belakang dan mendorong kursi roda itu kabur dari rumah sakit menuju pesisir yang jaraknya tidak begitu jauh. Dara sebenarnya kesal dengan ulah Rimba. Namun begitu sampai di pesisir dan menyaksikan pemandangan indah saat-saat menjelang terbenamnya matahari, hatinya jadi senang. Lebih-lebih saat terdengar alunan lagu dari Gadis yang disiapkan khusus untuknya, hatinya jadi luluh, matanya melelehkan air mata. Melihat itu Rimba memeluk Dara.
“Maafkan aku ya.”
“Iya. Namun jangan pernah tinggalkan aku lagi ya.”
Akhirnya persahabatan mereka terjalin kembali. Namun setelah itu, Gadis tidak pernah muncul lagi di pesisir seperti biasanya. Ayahnya pindah tugas ke Jakarta. Rimba merasa kehilangan dan berharap bisa bertemu dengan Gadis lagi. Entah mendapat inspirasi dari mana, Rimba kemudian menulis surat dan dimasukkan ke dalam botol. Botol berisi surat lalu dilemparkannya ke laut, dengan harapan siapa tahu botol itu sampai ke tangan Gadis. Namun Rimba tidak tahu kapan surat dalam botol itu akan sampai ke tangan Gadis, yang telah menyelinap di hatinya. (*)

Nama Penulis           : Novita Ambrina
Sekolah                     : SMAN 1 Bulukumba Sulawesi Selatan
Judul                                    : Anak Pesisir

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@


PENGHUNI DANAU
Rosalina Wahyuningih (Blora)

Di suatu daerah terpencil, terdapat sebuah danau yang besar. Di dekat danau terdapat desa yang bernama Kedungkerang. Desa itu luas, hutannya rindang namun jarang penduduknya. Suatu ketika Tono dan Slamet, warga Kedungkerang ingin mencari ikan di danau besar tersebut. Mereka masuk ke dalam danau. Saat sedang sibuk mencari ikan, tiba-tiba Tono berteriak “Pergi, pergi jangan ganggu aku!”
Slamet yang agak jauh begitu mendengar teriakan Tono langsung mendekatinya.
“Ada apa Ton?”
“Tadi ada seekor buaya mau menggigitku!”
Namun tiba-tiba tanpa diduga oleh Tono dan Slamet, muncul buaya putih besar dari danau.  Buaya itu menyerang Tono dan Slamet. Mereka terkejut oleh serangan mendadak itu. Slamet mengambil sebatang kayu dan siap memukulnya. Namun tiba-tiba buaya itu telah berubah wujud menjadi manusia.
“Aku adalah penunggu danau ini. Mengapa kamu berdua mengganggu tidurku? Sekarang aku lapar dan butuh makan. Aku ingin kalian menjadi santapan dan tumbal bagiku!”
Mereka ketakutan mendengarnya, dan berusaha melarikan diri mencari selamat. Namun Tono kurang cepat sehingga dapat diterkam oleh manusia yang sudah berubah lagi menjadi buaya putih yang ganas. Tono menjadi santapan buaya itu.
Slamet yang selamat, terus berlari sambil berteriak-teriak minta tolong. Slamet berlari hingga desa Kedungkerang, yang membuat warganya kaget.
“Ada apa Met, kamu kok lari-lari ketakutan?” tanya warga beramai-ramai.
“Tadi di danau ada buaya putih sangat besar. Buaya itu memangsa Tono sebagai tumbalnya!” jawab Slamet masih dengan ketakutan.
“Sebaiknya kita ke pak lurah!” kata salah seorang warga.
Mereka beramai-ramai ke rumah pimpinannya itu. Sampai di rumah pak lurah, Slamet yang sudah tidak lagi ketakutan menceritakan kejadian bersama Tono di danau tadi.
“Pak lurah, ini tidak bisa dibiarkan. Bisa habis warga sini dimakan buaya itu!“ kata salah satu warga.
“Kita harus mencari sesajen. Dan saya akan bertanya kepada mbah Wiro tentang penghuni danau itu,” jawab pak lurah.
Pak lurah pergi menemui mbah Wiro dan mendapatkan penjelasan mengenai penghuni danau berupa buaya putih itu. Menurut mbah Wiro, buaya putih itu dulunya adalah pendekar yang melakukan pemujaan kepada setan. Dengan kesaktiannya dia malah membunuh gurunya sendiri. Sebelum mati, gurunya mengutuk muridnya yang durhaka menjadi buaya putih, yang sekarang menghuni danau besar dekat desa itu.
“Bagaimana cara menghadapi buaya itu biar tidak mengganggu warga desa lagi?”
“Tidak ada yang bisa mengalahkan buaya putih itu. Namun agar warga desa aman, sebaiknya memberinya sesajen saat bulan purnama. Dan jangan memakai pakaian warna putih saat memberi sesajen.” Jelas mbah Wiro.
Pak lurah kemudian mengumpulkan warganya dan diberi penjelasan mengenai buaya putih penghuni danau. Mereka diminta menyiapkan sesajen dan tidak memakai pakaian putih saat bulan purnama.
Saat bulan purnama warga Kedungkerang sibuk menyiapkan sesajen. Mereka patuh dengan perintah pak lurah, semua warga menyiapkan sesajen dan tidak memakai pakaian putih. Semua sesajen itu ditempatkan di pinggir danau. Tidak berapa lama muncullah buaya putih penunggu danau. Buaya itu menghabiskan seluruh sesajen yang ada di pinggir danau.
“Hai kalian semua. Aku adalah penguasa danau ini. Siapapun yang datang ke danau ini akan menjadi santapanku. Aku tidak akan masuk ke desamu jika kamu memberi sesajen tiap bulan purnama.”
Sejak saat itu, warga Kedungkerang selalu membuat sesajen untuk buaya penghuni danau setiap bulan purnama. Mereka juga tidak berani masuk ke danau, takut menjadi santapan buaya putih itu. Namun buaya itu juga menepati janjinya tidak masuk ke desa Kedungkerang untuk mencari mangsa.      
Waktu tarus berjalan. Desa Kedungkerang sekarang sudah makmur. Semua yang ditanam dapat dipanen dengan hasil yang melimpah. Bahkan mereka mampu menjadikan salah satu bukit yang dimilikinya menjadi tempat yang indah sebagai lokasi wisata. Lokasi wisata itu diberi nama Bukit Penkerang. Sejak saat itu Bukit Penkerang menjadi tujuan wisata karena panoramanya yang indah dan udaranya yang bersih sejuk segar.
Suatu ketika rombongan anak-anak SMP sedang berwisata di bukit itu. Meraka tampak senang sekali menikmati pemandangan yang indah di bukit itu. Namun ada dua orang yaitu Rani dan Toni yang justru menjauh dari anak-anak yang lain. Mereka lebih senang berjalan-jalan berduaan tanpa menghiraukan teman-temannya. Mereka sedang asyik berpacaran. Maka mereka mencari tempat yang menurutnya aman. Melihat danau yang agak jauh dari bukit, Rani dan Toni mendekati danau itu. Mereka duduk-duduk di pinggir danau sambil bermain-main air danau. Mereka asyik bercanda bergembira berpacaran berduaan. Tanpa disangka oleh mereka, tiba-tiba muncul buaya putih dari danau yang langsung menyambar mereka berdua. Tubuh mereka diseret buaya menuju danau. Mereka sempat berteriak minta tolong, sebelum mereka tenggelam dalam danau dan tidak pernah muncul lagi. Teriakan mereka ternyata didengar oleh guru dan teman-temannya. Namun sudah terlambat. Rani dan Toni sudah menjadi santapan buaya putih. Mereka telah menjadi tumbal.
Selaku orang yang paling bertanggung jawab, pak lurah hanya mampu berkata, “Maaf, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Memang dilarang bermain di sekitar danau. Itu sudah menjadi kesepakatan kami dengan penghuni danau!”
Sejak kejadian itu danau yang besar itu diberi nama danau Berpenghuni Abadi. Di pinggir danau telah dipasang papan besar sebagai pengumuman bertuliskan BERBAHAYA. DILARANG BERMAIN-MAIN DI DEKAT DANAU INI.(*)

Nama Penulis           : Rosalina Wahyuningsih
Sekolah                     : SMPN 2 Blora Jawa Tengah
Judul                                    : Penghuni Danau

######################################################################



ISTRI SEORANG DUTA
Mahardika Prihati Yuda (Sumatera Selatan)

 Sudah tiga bulan ini gerimis tidak datang, apalagi hujan. Sungai Komering kian surut. Hanya satu dua perahu motor yang lewat. Itupun tidak cepat. Mungkin baling-balingnya bisa tersangkut di dasar sungai. Tetapi kini sampan justru banyak berlalu-lalang, baik untuk anak-anak sekolah menyeberang maupun penduduk yang menjaring ikan, di pagi siang maupun malam hari. Itu dilakukan sepertinya dengan tanpa harapan. Ikan semakin sulit didapatkan.
Seminggu lagi batas waktu yang dijanjikan suamiku. Justru dalam seminggu inilah waktu terasa begitu lama, seakan-akan waktu berbalik berbulan-bulan ke belakang. Akankah dia pulang minggu ini seperti yang dijanjikan? Malu rasanya di usia seperti ini aku harus mengenang masa lalu, masa-masa kami masih remaja. Segalanya terasa indah, tidak ada beban apa pun. Sampai menjelang pernikahan, mulailah tampak ada masalah di sana sini.
Kami menyadari, kondisi keluarga kami pas-pasan. Bukan kami saja yang kondisinya seperti itu, bahkan ada yang jauh di bawah kami. Namun ada kebanggaan tersendiri bagi calon pengantin, yang juga merupakan beban. Bagaimanapun kondisi ekonomi kami, pernikahan harus selalu dilaksanakan dengan pesta. Ada organ tunggal atau bahkan dangdutan, menyiapkan tenda-tenda dan hidangan yang pantas sehingga tidak memalukan di mata tetangga. Bukan menjadi rahasia, untuk melaksanakan pesta yang meriah, hutang menjadi tumpuan, bahkan tanah dan sawah bisa menjadi jaminan pegadaian. Demikian pula yang terjadi pada keluargaku. Setelah pesta usai, yang menanti adalah kerja, kerja dan kerja membanting tulang untuk membayar semua yang sudah dikeluarkan. Meskipun semua tulang dibanting sepanjang waktu, namun tidak akan mampu membayar biaya pesta itu. Bahkan untuk sekedar mencukupi kebutuhan sehari-hari sudah pantas untuk disyukuri. Bagi mereka yang menjadi pegawai negeri, gaji bulanan itupun akan selalu tersedot untuk menutup hutang-hutang yang menumpuk pasca pesta. Bagi kami itu tidak aneh, sudah biasa, meskipun masih pahit rasanya.
Karena kondisi itu, tidak aneh jika sebagian dari kami khususnya yang laki-laki berniat menjadi seorang  duta.  Niat itu bahkan didukung oleh orang tua dan mertuanya. Sebenarnya ibu sudah lama menganjurkan agar menjadi duta. Aku tahu suamiku dalam lubuk hatinya tidak rela menjadi duta. Namun sifat orang tua dan mertuaku yang  pemaksa, mengharuskan suamiku mengikuti kemauan mereka.
Aku ingat kembali bagaimana ibuku dulu membuat daftar permintaan keperluan pengantin perempuan untukku dari kang Singadikane calon suamiku. Padahal keluargaku tahu persis bagaimana keluarga calon besan. Amat sangat berat bagi mereka memenuhi semua permintaan ibuku itu. Namun bagi keluarga calon besan, semua permintaan itu adalah tantangan yang harus dipenuhi dengan segala daya upaya. Martabat dan gengsi menjadi taruhan. Maka pada saat pernikahan, dengan bangga keluarga kang Singadikane membacakan permintaan keluargaku menjelang akad nikah.
“ Ikan bawal di pemancingan
 Ditanam orang di air bersih
Inilah bawaan yang dapat kami haturkan
Sebagai tanda ucapan terima kasih
Dirangkai bunga uang lima juta, seperangkat pakaian istri mulai dari sepatu sampai tusuk sanggul, seperangkat tempat tidur, beraneka makanan ringan, kapur sirih, dan seperangkat pakaian untuk bapak dan ibu calon mertua”.
Demikian utusan kang Singadikane berujar lantang penuh wibawa dan kebanggaan. Tepuk tangan pun bergemuruh, dari keluargaku maupun keluarga kang Singadikane.
“ Ikan bawal di pemancingan
 Ditanam orang dibuat pindang
Kami terima ini bawaan dengan penuh kegembiraan
Kiranya pihak keluarga menerima dengan hati yang tulus dan senang
Baiklah, kami terima bawaan ini dengan segala kegembiraan hati kami sekeluarga”.
Demikian wakil dari keluarga kami menyambut pantun sambil menerima segala bawaan yang diserahkan rombongan keluarga kang Singadikane. Tepuk tangan kembali mengisi rumahku di pagi itu, setelah itu baru dilangsungkan prosesi akad nikah.
Ya, dua puluh tahun peristiwa itu telah berlalu. Kini kami sudah dikaruniai dua anak, perempuan dan laki-laki. Sulung perempuan kini sudah duduk di bangku SMU kelas III dan adiknya kelas II SMP. Kami berusaha menjarangkan kehamilan. Kami menyadari  kondisi ekonomi  yang sulit. Penghasilan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan memaksakan untuk membayar biaya sekolah dua anak.
“Aku hanya minta doa dari kamu agar aku berhasil dan selamat sampai kembali pulang. Aku akan memberi batas waktu paling lama tiga bulan saja.” Suamiku berkata pada suatu malam sambil menghembuskan lintingan rokok. Aku hanya diam saja saat itu.
Akhirnya niat suamiku menjadi duta disepakati seluruh keluarga dan mertuaku. Kedua keluarga menyiapkan syukuran untuk keberangkatan suamiku. Tentu dengan pinjam sana sini. Bukan aneh di kampungku, bila ada yang mau menjadi duta dilangsungkan syukuran terlebih dulu. Pak RT, pak lurah, pak camat dan beberapa polisi diundang dalam syukuran itu.
“Mohon doa dari kerabat keluarga, handai taulan, sanak famili dan seluruh masyarakat di kampung ini, agar saya dalam berusaha lancar dan berhasil nanti,” kata suamiku tanpa harus menjelaskan usaha apa yang akan dilakukan nanti. Mereka pasti sudah tahu bahwa suamiku akan menjadi seorang duta. “Insya Allah, jika berhasil nanti saya akan membantu pembangunan masjid atau jalan di kampung kita!”
Aku sendiri tidak tahu pasti apa sebenarnya yang akan dilakukan para duta di kampungku ketika mereka mintar ke Singapura, Malaysia, Brunei, Hongkong, Thailand atau entah ke mana lagi. Dari isu yang kudengar, mereka ada yang menjadi agen asuransi kemudian melarikan uang itu setelah dapat banyak. Ada yang melakukan hipnotis dengan bujuk rayu kata-kata, ada yang menukar tas yang sama dengan calon korban, dan entah apa lagi. Yang pasti kata orang, para duta itu tidak ada yang terang-terangan maling terlebih merampok. Mereka juga punya pantangan menyakiti korban. Tapi entahlah.
Dulu, di kampungku pernah ada yang membawa pulang uang sebanyak satu milyar hanya dalam waktu dua minggu. Pernah juga ada yang membawa uang seratus juta setelah dua bulan mintar.  Namun pernah juga ada yang tidak berhasil setelah tiga atau empat bulan pergi. Dari yang kudengar, para duta itu kebanyakan berhasil membawa pulang uang sekurang-kurangnya puluhan juta rupiah. Dari hasil ngeratak  ada yang mampu membangun rumah, membeli kendaraan, naik haji, membangun masjid , jalan kampung atau menjadi bos lebak lebung.
Itu semua tentu saja kabar baiknya. Tentang kabar yang tidak baik, aku pun pernah mendengar. Mang Akip misalnya, sejak lima tahun yang lalu sampai sekarang belum pernah pulang. Kabarnya dia ditangkap di Malaysia dan dihukum mati di sana. Terdengar kabar bahwa dia masih dipenjara. Entah mana yang benar.
Ada lagi mang Udin, kabar yang tersiar sejak tahun lalu, katanya dia ditembak polisi Interpol di Singapura. Kawan-kawan duta-nya yang lain tidak bisa mengambil jenazahnya karena faktor keamanan. Apakah aku pun harus kehilangan kang Singadikane seperti raibnya mang Akip atau mang Udin? Sebagai istri tentu aku tidak mau hal itu terjadi. Namun sebagai istri duta aku pun harus siap menghadapi hal itu bila Tuhan menghendaki demikian.
Untuk menjadi seorang duta jelas tidak gampang. Di samping harus memiliki pegangan khusus, baik dari kiai maupun dari dukun, harus mampu berpenampilan intelek dan perlente. Sebab kebanyakan para duta tidak sama dengan penyamun. Mereka pantang beroperasi di negeri sendiri. Ada semacam hukum tak tertulis yang membuat mereka berpantang seperti itu. Di antara mereka, ada yang memang beroperasi sendiri, namun ada juga yang berkelompok antara dua sampai lima orang. Yang beroperasi sendiri jelas berusaha dengan segala trik dan kemampunnya. Namun bagi yang kelompok, mereka memiliki tugas masing-masing. Ada yang bertugas mengecoh calon korban, ada juga yang bertugas meta, yang biasanya telah berangkat terlebih dahulu ke daerah atau negara sasaran.
Kini tak terasa malam kian larut. Bulan yang sabit dihalangi awan tipis. Bau amis sungai Komering terasa khas. Maklum airnya surut. Hujan belum juga mau turun. Jika musim begini, anak-anak pun berani berenang dan berkecipak di tengah sungai yang lebarnya kurang lebih lima puluh meter itu. Padahal jika musim penghujan atau musim pasang, air sungai akan meluberi tanggul dengan kedalaman sampai lima meter. Sehingga tak heran air kadang merambah sampai ke jalan raya atau kolong-kolong rumah penduduk yang panggung. Kalau sudah begini, maka lalu lintas sungai terasa hidup. Biduk-biduk dan perahu bermotor kembali berseliweran. Bong-bong yang berderet tidak lagi menghadirkan kekumuhan. Dan di malam hari lampu-lampu memantul dari rumah penduduk menari-nari berwarna-warni di atas riak air seperti tarian gaib. Demikian juga keramba-keramba penduduk yang berisi ikan patin atau belida, akan semakin sering dipanen dengan hasil yang melimpah, meskipun resiko harga akan jatuh.
Aku tak tahu, apakah Tuhan akan merestui kerja suamiku sebagai seorang duta. Aku hanya memohon pada Tuhan agar suamiku pulang dengan selamat. Itu saja! Dan aku berdoa kepada Tuhan agar hujan segera turun, biar air meluberi sungai, meluberi lebak lebung, dan rawa-rawa kembali berbunga dengan kilauan teratainya yang beraneka.(*)
Catatan :
Bawaan (disebut juga gawan) : segala sesuatu yang dibawa mempelai laki-laki untuk keluarga mempelai perempuan sesuai dengan permintaan.
Bong : istilah mandi, cuci, kakus penduduk yang dibuat seperti rakit. Bisanya terapung di tepian sungai.
Duta : istilah untuk orang di Kayuagung, OKI, Sumsel yang berusaha/pergi ke luar negeri mencari uang banyak dengan trik-trik khusus. Misalnya dengan cara menukar tas kosong dengan tas korban yang bentuk, bobot dan ukuran sama. Ada juga yang mencegat korbannya di perjalanan. Di beberapa Negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia dikenal dengan istilah Duta Kayuagung, selama beroperasi mereka pantang menyakiti korban, hanya merampas hartanya saja. Mereka pantang beroperasi di wilayah atau negeri sendiri.
Keramba : kotak-kotak anyaman bambu tempat memelihara ikan (sistem perikanan terapung), biasanya berukuran panjang 2,5-3 meter, lebar 1,5-2 meter dan tinggi 0,5-1 meter.
Keratak : istilah kasar untuk julukan duta
Lebak lebung : sistem pengolahan daerah perairan untuk budidaya perikanan, khususnya sungai atau lebak yang biasanya dikuasai oleh seorang bos lebak lebung/tengkulak. Sistem lebak lebung ini biasanya dilelang untuk umum.
Meta : seorang duta yang tugasnya khusus menyelidiki segala sesuatu tentang calon korban dari awal hingga akhir (ibarat intel untuk duta)
Mintar/ngeratak : proses berusaha /beroperasi sebagai duta/keratak.
Pintaan : sejumlah uang yang biasanya diminta pihak mempelai perempuan kepada pihak mempelai laki-laki. (**)


Nama Penulis           : Mahardika Prihati Yuda
Sekolah                     : SMAN 3 Unggulan Kayuagung Sumatera Selatan
Judul                                    : Istri Seorang Duta

*************************************************************************


H U J A N
Nanda Yayang Rasyid Prandira (Jogjakarta)

Hujan mengguyur bumi, sungguh tak menyenangkan buat sebagian orang. Tetapi untukku tidak masalah, hari Minggu ini mau hujan atau tidak, seperti biasa kuputuskan untuk bermalas-malasan di rumah. Sekedar baca-baca komik, nonton tv atau apalah. Mungkin kegiatan di hari Minggu seperti itu terasa membosankan, namun bagiku justru mengasyikkan. Aku lebih suka membaca komik daripada sekedar keluar bermain dengan teman-teman. Memang sifatku agak pendiam, cenderung tertutup untuk masalah-masalah pribadi. Sampai-sampai salah satu temanku kesal, gara-gara aku tidak pernah curhat padanya. Aku malas membagi kisah hidupku pada orang lain.
Bagi sebagian orang Senin mungkin hari yang tidak disukai. Aku tidak benci namun juga tidak suka, biasa saja. Saat masuk kelas aku langsung duduk dan diam di kursiku. Aku melirik teman sebangkuku sedari tadi senyum-senyum terus. Tampak sedang berbahagia hari ini.
“Sa, aku senang banget deh.” Kata Lala mengagetkanku.
“Sa, pendengaranmu masih normal kan, kok diam saja?” katanya kemudian ketika aku tak menanggapinya.
“Ya!” jawabku malas.
“Kalau normal, berarti kamu dengar aku ngomong kan?”
“Ya”
“Kamu ini, jawabnya iya, iya terus.”
Lala terlihat kesal, aku cuma diam  dan kemudian beranjak dari kursiku pergi keluar kelas.
“Sasa!” teriak seorang cowok yang sudah sangat kukenal suaranya.
Dia kak Rio yang dulu aku jatuh hati banget padanya. Rasa itu membuatku patah hati dan sakit hati. Dia yang mengaku masih sendiri ternyata sudah punya pacar. Meski aku merasa sakit, namun masih ada perasaan aneh saat bertemu dengannya.
“Sa, kakak punya komik baru, mau pinjem?”
“Mmm, boleh tuh” jawabku. Entah di depannya sikapku jadi berubah. Sungguh aku serba salah, mati gaya jika berhadapan dengan dia.
“Ya sudah besok kakak bawa ya”
“Oke” jawabku sambil tersenyum.
“Senyumnya manis deh. Ya sudah kakak ke kelas dulu ya!”
Hari Selasa yang cerah, tetapi hatiku tidak begitu. Seperti biasa, begitu masuk kelas aku langsung duduk.
“Sa, kamu tahu gak?” Lala mengawali pagi ini dengan nerocos.
“Gak!” jawabku singkat.
“Aku jadian sama Adit!”
“Oh..”
“Kok hanya oh?”
“Selamat ya!” kataku dengan senyum agak kecut.
“Iya, terima kasih ya”
“Ya”
“Ih…, kamu kok nyebelin banget sih Sa!”
Aku melirik Lala. Pikirku ini anak aneh. Baru saja senang jadian, sekarang ganti marah-marah.
“Sasa, ngomong dong!”
“Apa?”
“Sasa!” teriak Lala yang malah membuatku makin sebal.
“Sasa, seharusnya kamu senang, kalau temanmu senang. Jawab La!”
“Ya, aku senang”
“Iya, tetapi ekspresimu itu tidak seperti orang senang”
“Aku senang tetapi tidak tahu cara menunjukkannya”
“Memang benar ya kata teman-teman, kamu ini aneh”
Wah anak ini bicaranya sudah membuat kupingku agak merah.
“Kamu sakit hati, aku bilang kamu aneh? Jawab Sa!”
“Iya!”
“Kalau kamu sakit hati, kenapa gak ngomong. Kenapa kamu tidak mau ngomong apa yang mau kamu omongkan?”
Aku sudah marah, namun aku tetap diam.
“Kamu hanya diam, aku gak tahu perasaan kamu sekarang bagaimana, senang atau sebaliknya”
“Jadi mau kamu apa!” aku sudah tidak tahan untuk bicara.
“Kamu sadar gak sih, aku selalu berusaha menjadi sahabat kamu, tetapi kenapa kamu seakan gak mau tahu. Kamu itu memang nyebelin banget”
“Udah deh, maksud kamu ngomong panjang lebar itu apa?”
“Aku mau kamu berubah. Mau menceritakan apa yang ingin kamu ceritakan”
“Cukup La, aku memang begini dan jangan paksa aku menjadi orang lain!”
Aku segera pergi dari hadapan Lala. Aku masuk toilet. Aku terdiam, dan air mataku perlahan mulai mengalir. Sudah lama aku tidak menangis. Sudah lama aku tidak peduli dengan perkataan orang. Tetapi omongan Lala terasa mengganggu. Apa aku terlalu menyebalkan sehingga teman-teman tidak suka dengan sikapku. Kalau memang begitu, aku mau berubah. Aku sadar aku hanya memikirkan diriku sendiri, tidak peduli perasaan orang lain. Aku akan berubah. Aku hidup bukan untuk membuat kesal orang lain. (*)

NamaPenulis            : Nanda Yayang Rasyid Prandira
Sekolah                     : SMPN 1 Wates Kulon Progo Jogjakarta
Judul                                    : H u j a n

********************************************************************


MALAIKAT PENYAPU BERAS
Christina Puspaning Tyas (Banjarnegara)

Panas terik matahari sudah menusuk kulitnya selama bertahun-tahun. Kulit yang dulu kencang, putih dan sehat kini telah berubah menjadi kering, keriput dan hitam. Kehidupan yang dialami sangat berat. Rasa haus dan lapar setiap hari menghantui. Setiap hari ia menyusuri sepanjang jalan di pasar itu, bukan untuk berbelanja atau jalan-jalan. Yang ia lakukan adalah mengumpulkan beras, butir demi butir yang dipungutnya dari jalan.
Pagi-pagi ia keluar dari gubug reyotnya, membawa potongan kaleng yang dibuatnya menjadi sorok, sapu lidi yang sudah sangat pendek karena ausnya dan tas karung kecil. Tanpa bekal makanan, hanya karena tekad mendapat beras yang cukup untuk kebutuhan hari itu ia susuri jalan yang itu-itu juga. Tidak ia hiraukan terik yang menyengat kulitnya. Tidak juga rasa haus dan lapar yang menderanya. Saat panas sudah mencapai titik tertinggi ia berteduh sekalian istirahat di sela-sela kios. Saat haus dan lapar menyerang dia hanya telan ludahnya kembali untuk membasahi kerongkongannya. Yang ia hiraukan adalah bagaimana ibunya yang sendirian di gubug reyot hari ini bisa makan.
Tidak tinggi harapan Marsinah, perempuan penyapu beras itu. Hanya bagaimana bisa makan sekali setiap harinya. Bukan makan tiga kali seperti umumnya orang-orang yang mampu. Setelah seharian berjalan mengais beras di tempat-tempat yang selama ini menjadi area kerjanya, ia akan pulang. Beras 3 kilo ia bawa pulang. Beras itu harus dipilah terlebih dahulu untuk bisa dimasak. Banyak tanah, pasir bahkan kerikil yang menyatu dengan beras itu. Harus diayak untuk memisahkan benda-benda tidak layak makan itu dari beras yang akan dimasak. Tidak ada kompor gas atau minyak tanah, hanya potongan ranting atau kayu-kayu bekas bangunan yang dijadikan sebagai sumber apinya. Hanya ada panci yang sudah tak berbentuk lagi untuk tempat menanak beras. Sambil menunggu beras itu matang, ia membeli lauk dengan uang dua ribu perak hasil penjualan kaleng plastik yang dikumpulkannya setiap sore. Setelah sejak pagi mencari butir-butir beras di jalan, Marsinah sorenya masih turun ke jalan mengumpulkan kaleng-kaleng plastik bekas. Ya, ada dua profesi yang digelutinya. Meski beda yang dipungut, namun sebutannya tetap sama pemulung juga. Sekarung kaleng plastik bekas hanya dihargai dua ribu perak, uang yang selalu dipakainya untuk membeli sayur dan lauk.
“Saya ikhlas melakukan pekerjaan ini, karena halal. Saya bangga dapat menghidupi ibu saya sampai sekarang dengan apa yang saya lakukan. Yang penting adalah bagaimana saya dan ibu saya mampu bertahan hidup hari ini. Sedangkan untuk besok, biarlah itu menjadi urusan Tuhan.”
Sebuah pemahaman yang matang dari seorang Marsinah. Meskipun setiap hari harus berjuang hanya sekedar untuk sesuap dua suap nasi, namun dengan ikhlas ia jalani. Ia syukuri apa yang diberikan Tuhan kepadanya setiap harinya. Ia tidak terlalu hirau dengan bagaimana makan hari esok. Marsinah yakin Tuhan pasti akan selalu membuka jalan jika hanya sekedar untuk makan. Namun satu hal yang membuatnya kadang nelangsa adalah tentang rumah. Marsinah ingin sekali memindah ibunya ke tempat yang layak. Sebuah rumah sangat-sangat sederhana yang ia gambarkan. Bukan rumah mewah seperti yang dilihatnya saat ia sedang menunaikan tugasnya sebagai pemulung. Banyak rumah mewah berdiri di pinggir jalan besar, atau di lahan-lahan tertentu yang disiapkan sebagai area perumahan mewah.
“Dari dulu, saya sangat ingin memberikan tempat tinggal yang layak untuk ibu saya. Sekarang saya baru mampu memberinya gubug reyot yang sebentar lagi juga ambruk. Entah kapan cita-cita itu bisa terwujud. Saya ingin, di masa tuanya ibu dapat tenang, tinggal di rumah yang tidak bocor saat hujan, tidak panas saat terik menyengat, dan mampu menahan hawa dingin dari udara malam. Hanya itu yang saya panjatkan doa kepada Tuhan.”
Cerita Marsinah mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dalam kondisi apapun. Ia adalah malaikat bagi ibunya, meskipun hanya dengan menjadi penyapu beras di sepanjang jalan. Mampu menjalani dengan semua masalah yang sedang dihadapinya. Tetap yakin bahwa rencana Tuhan pastilah sudah digariskan, manusia sebatas melakoninya. Keikhlasan adalah kunci itu semua. (*)

Nama Penulis           : Christina Puspaning Tyas
Sekolah                     : SMKN 1 Bawang Banjarnegara Jawa Tengah
Judul                                    : Penyapu Beras Berhati Malaikat

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@


BERTEMPUR MELAWAN KEGELAPAN
Ida Ayu Amara Kanaka (Bali)

Jauh di dalam hutan Lunae ada sebuah desa kecil bernama Mauro Ilio yang penduduknya dikenal sangat hebat dalam  menggunakan ilmu sihir. Banyak yang mencoba mencari desa itu untuk mempelajari sihir lebih mendalam tetapi tidak ada satu orangpun yang bisa menemukannya. Setiap orang yang mencoba mencarinya setelah tiga hari keluar hutan akan menjadi sangat kurus sehingga tulangnya kelihatan. Sedangkan untuk mencoba menemukan desa itu dengan sihir jahat, maka tulang-tulangnya akan ditemukan dalam tumpukan rapi setelah tujuh hari dan tulang lengannya terdapat tanda bintang. Selama bertahun-tahun tidak ada lagi orang yang berani mencari desa itu atau bahkan mendekati hutan Lunae.
Sementara itu di desa Mauro Ilio pada tanggal tujuh di bulan ke tujuh, anak ketujuh dari tujuh bersaudara lahir. Ia adalah bayi laki-laki lucu yang diberi nama Vis yang berarti kekuatan. Rambutnya hitam, matanya hijau, kombinasi yang aneh. Tujuh penyihir paling tua, bijaksana dan kuat di desa itu datang untuk menyelamati kedatangan si bayi. Mereka semua mengatakan hal yang sama setelah mendengar namanya.
“Jaga anak ini baik-baik, kelak dia dan seorang temannya akan menjadi penyihir yang kekuatannya lebih besar daripada kekuatan semua penyihir di rumah ini digabung”
Seminggu kemudian seorang bayi lahir di rumah tetangga Vis. Kali ini adalah bayi perempuan yang cantik. Bayi itu dinamai Sol yang berarti matahari. Bayi itu rambutnya coklat indah, mata hitam dan bibir mungil merah muda. Setelah kelahiran kedua bayi tersebut matahari terus bersinar di desa itu selama tujuh hari walaupun saat itu sedang musim hujan. Tidak tahu mengapa tetapi nama Vis dan Sol sepertinya sudah ditakdirkan untuk mereka. Saat kedua bayi itu digendong dan tangan mereka bersentuhan untuk pertama kalinya, keluar cahaya kuning hangat yang membuat semua orang kagum. 
Ketika Vis dan Sol berumur lima tahun, mereka mulai pergi ke sekolah sihir. Mereka rajin belajar bersama di sekolah maupun di rumah. Tanpa diragukan lagi, mereka menjadi murid paling pintar di sekolah sihir. Pada umur sembilan tahun mereka sudah menguasai sihir untuk murid yang berumur 14 tahun.
Sesuai namanya, Vis sangat mahir dengan sihir yang membutuhkan kekuatan, sedangkan Sol mahir dalam sihir api dan pengobatan. Sayangnya, karena kepandaian itu banyak anak yang iri pada mereka dan mengatakan bahwa mereka sangat sombong dan suka memamerkan sihir mereka, padahal mereka tidak pernah melakukan hal itu. Vis dan Sol tidak punya teman lain selama beberapa tahun.
Kertika mereka berumur lima belas tahun pelajaran di sekolah menjadi berbeda. Sol ingin belajar lebih banyak tentang sihir dan pengobatan. Sedangkan Vis ingin melatih sihir menyerangnya. Sejak itu Sol mulai akrab dengan murid-murid perempuan lainnya tetapi semua anak laki-laki masih tidak menyukai Vis. Anak-anak perempuan teman Sol pernah mengatakan sebenarnya mereka senang kepada Vis karena tampan dan kuat. Namun teman-teman mereka mengatakan kalau Vis sombong dan tidak mau bergaul dengan penyihir lemah apalagi perempuan. Sol menjelaskan bahwa Vis itu baik, dan mengatakan bahwa omongan teman-teman tentang Vis itu bohong, tidak benar. Salah satu anak bertanya kepada Sol.
“Kamu mencintainya ya?”
“Ya, tentu. Dia sudah seperti saudara bagiku”
“Bukan itu, maksudku mencintai seperti ibumu mencintai ayahmu” kata perempuan dengan senyuman kecil.
“A..apa maksudmu?” muka Sol memerah.
Anak perempuan itu tertawa, “Hahahaha! Aku cuma bercanda, Sol! Lihat mukamu memjadi merah. Maaf  ya. Tapi benar-benar lucu lho! Hahahaha!”
Pada saat itu muka Sol sudah merah padam karena malu. Tiba-tiba pintu kelas mereka terbuka.
“Sol, ibumu menyuruhku membawakan makan siangmu!” kata Vis.
Anak-anak perempuan itupun tidak tahan lagi dan tertawa dengan keras. Banyak yang menggoda Sol dan mengatakan bahwa pangerannya sudah datang.
“Tapi bel belum berbunyi bagiamana caranya makan?” tanya Sol bingung.
“Teeeeeet”, suara bel terdengar. Semua lagsung tertawa termasuk guru sihir pengobatan yang  tadinya mau menegur mereka karena berbicara di kelas tetapi perhatian teralih oleh pembicaraan mereka.
“Kenapa? Ayo cepat! Aku mau berlatih dulu sebelum bel masuk berbunyi!” kata Vis.
Sol keluar mengikuti Vis. Murid perempuan lain juga keluar dari kelas.
Setelah memastikan bahwa tidak ada yang mengikuti mereka, Sol dan Vis berjalan ke tempat yang tidak diketahui oleh murid-murid lain dan sudah dilupakan oleh para guru yaitu sebuah taman kecil di belakang gedung ilmu sihir menyerang. Taman itu ditemukan oleh Vis saat mengambil salah satu pedangnya yang tidak sengaja dilempar terlalu keras. Pada saat itu Vis berumur sebelas tahun. Karena tidak ada orang yang mau duduk dengan mereka pada jam makan siang jadi sudah empat tahun mereka duduk dan makan siang bersama di tempat rahasia itu.
“Ada apa denganmu? Kenapa diam saja? Dan kenapa mukamu merah? Apa kamu demam?” tanya Vis khawatir.
“Aku tidak apa-apa hanya capek dari pelajaran tadi. Hampir seperempat kekuatanku habis dalam pelajaran itu saja.Eh bicara tentang pelajaran kenapa kamu keluar duluan dan kenapa kamu bisa membawa makan siangku?”
Vis menjelaskan bahwa ia lupa dengan salah satu bukunya. Kemudian ia disuruh mengambil. Saat mengambil buku, ibunya Sol melihatnya dan menyuruh membawakan makan siang  Sol yang tertinggal.
Ketika mereka belum selesai makan siang tiba-tiba banyak suara kaki kuda. Itu adalah sesuatu yang aneh. Satu-satunya kuda yang ada di desa itu adalah kuda paman Tul. Ia adalah satu-satunya orang yang mau keluar masuk desa ini untuk membeli barang dagangan di desa terdekat. Paman Tul bisa keluar dan masuk desa Mauro Ilio tetapi tidak ada yang bisa masuk ke sana karena satu macam mantra telah dibuat oleh pendiri desa itu ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu untuk melindungi desa. Para murid sekolah baru saja mempelajari tentang ini di kelas sejarah tadi pagi, tetapi belum saja setengahnya, bel sudah berbunyi. Katanya hanya orang yang lahir di desa ini, binatang, keluarga mereka dan pemilik tahta seluruh sihir di dunia yang bisa keluar masuk desa Mauro Ilio.
Vis dan Sol langsung berlari ke arah suara itu. Mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Ada banyak kuda putih yang berbaris dengan rapi tetapi hanya dua yang ditunggangi. Para penunggang itu memakai jubah ungu panjang yang berisi simbol sihir yang besar di belakangnya. Mereka berdua berbalik dengan pelan dan melepas tudung jubah mereka lalu turun dari kuda. Salah satunya adalah seorang perempuan cantik. Matanya abu-abu, rambutnya panjang hitam ada seuntai rambut merah yang terjulur di sisi wajah kiri dan seuntai rambut biru di sisi kanannya. Satunya seorang laki-laki bermata merah dengan rambut coklat panjang sebahu.
Kepala sekolah lalu datang diikuti oleh kerumunan orang yang datang dari mana-mana. Kepala sekolah mereka adalah salah satu dari tujuh penyihir paling tua, bijaksana dan kuat. Ke tujuh penyihir itu disebut Septem Sapium
“Hari ini akhirnya datang,” kata kepala sekolah.
Setelah ia mengatakan itu tiba-tiba mereka semua berada di sebuah ruangan temaram. Sumber cahaya di ruangan itu hanya empat lilin besar yang diletakkan di masing-masing sudut ruangan yang cukup besar itu. Setiap sisi ruangan ditutupi oleh rak buku tinggi dan lebar dengan sampul kulit tebal. Sepertinya semua buku itu adalah buku tentang sihir atau buku mantra. Banyak judul buku tidak bisa dibaca Vis dan Sol karena ditulis dalam bahasa sihir lama.
“Oh, jadi hari ini, ya?” suara wanita tua terdengar.
“Iya, mereka akhirnya datang,” jawab kepala sekolah.
Enam penyihir muncul dari sebuah pintu yang ada di belakang sebuah lemari. Mereka semua sudah tua, tiga perempuan dan tiga laki-laki.
“Yang Mulia, senang bertemu dengan anda berdua!” kata salah satu penyihir tua.
“Ah, tidak usah memanggil kami yang mulia. Sebenarnya, kami yang sangat senang dan gugup menemui kalian. Kalian adalah Sep..” perkataan laki-laki misterius dipotong oleh Vis.
“Tunggu sebentar! Siapa kalian dan kenapa kalian dipanggil Yang Mulia oleh Septem Sapium? Mereka adalah penyihir paling kuat di desa ini. Dan juga kenapa aku dan Sol ikut diteleportasi ke sini?”
“Maaf, kami belum memperkenalkan diri kami. Namaku Elisa dan ini Drynn. Kami adalah ratu dan raja sihir yang berikutnya dan kami memerlukan bantuan kalian,”jawab perempuan misterius yang bernama Elisa sambil memegang pundak Drynn.
“Ya, kami belum menjadi raja dan ratu masih pangeran dan putri,” kata Drynn.
“Tunggu, kalau kalian raja dan ratu sihir yang berikutnya kenapa kalian memerlukan bantuan kami?” tanya Sol.
“Begini. Jauh di luar sana, di negeri Exolas di mana kami tinggal, sedang ada masalah besar. Ada penyihir bernama Morte menggunakan sihir hitam. Ia sangat kuat, mempunyai banyak pengikut yang berpikir bahwa ilmu sihir hitam adalah sihir terbaik. Mereka ingin membunuh semua orang yang tidak menggunakan sihir hitam namun sebelum membunuh korban mereka menyedot semua kekuatan korbannya. Seperti yang kalian mungkin tahu, proses ini sangat menyakitkan. Awalnya mereka membunuh satu hingga dua orang dalam satu bulan tetapi baru-baru ini mereka membunuh sampai dua belas orang dalam seminggu,” jelas Drynn.
“Aku tahu masalahnya, tetapi bagaimana aku dan Sol bisa membantu,”kata Vis.
“Ada sebuah buku yang berisi ramalan tentang desa ini. ‘Kegelapan akan datang perlahan tetapi pada saat ia mulai menyerang dengan brutal seorang perempuan yang mempunyai warna api dan air di rambutnya serta laki-laki bermata merah akan mencari kekuatan dan matahari.  Pada saat mereka menyerang kegelapan korban akan jatuh tetapi cahaya akan selalu menang’. Jadi kalian harus ikut dengan mereka dan berusaha mengalahkan kegelapan,”jelas kepala sekolah.
“Kalau ramalan negeri kami agak berbeda,”kata Elisa.
“Saat anak perempuan seorang raja dan anak laki-laki yang dibawa oleh istri kedua raja bersatu dan menemukan kekuatan bermata hijau dan matahari berambut coklat di desa sihir, kegelapan akan sirna selamanya,”dia melanjutkan.
Vis dan Sol tidak bisa berkata apa-apa, mereka terpaksa ikut Elisa dan Drynn. Ternyata mereka sudah lama mencari desa sihir yang disebut dalam ramalan. Mereka telah berkeliling kemana-mana, namun tidak menemukan apa-apa. Akhirnya mereka mendengar tentang Mauro Ilio yang tersembunyi di hutan Lunae dan berhasil menemukan ‘kekuatan’ dan ‘matahari’.
Tentu saja sebelum mulai misi berbahaya ini Sol dan Vis harus mendapat izin orang tua mereka. Orang tua mereka setuju namun dengan syarat, Vis harus selalu melindungi Sol. Mereka kemudian mengepak sebelum berangkat, dan mendapat pelatihan khusus terlebih dahulu.
Esoknya Sol, Vis, Elisa dan Drynn berteleportasi ke istana Exolas. Istananya sangat luas dan tamannya indah. Elisa segera menunjukkan ruangan untuk Sol dan Vis. Saat masuk ruangan luas itu terlihat satu sofa besar, puluhan buku dan empat pintu. Dua pintu adalah kamar tidur untuk masing-masing anak dan dua pintu lainnya menuju kamar mandi.
Mereka berencana menyerang Morte setelah berlatih selama seminggu. Ternyata banyak yang belum Vis dan Sol ketahui tentang sihir sehingga mereka harus berlatih keras dan menghapalkan ratusan mantra baru. Sol belajar membuat berbagai ramuan yang akan dipakai saat bertempur nanti. Sol dan Vis juga harus mempelajari banyak sihir menyerang dan sihir pertahanan. Pada hari ke tujuh mereka sudah jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
“Pertempuran kita dengan Morte akan dimulai besok. Untuk sisa hari ini sebaiknya kalian istirahat dan menghapalkan mantra saja,”kata Elisa.
“Besok jam enam pagi kalian harus menemui kami dan kita berangkat dengan kuda ke markas Morte,” lanjut Drynn.
Sol dan Vis mengiyakan dan pergi ke kamar mereka. Mereka berdua mengambil masing-masing satu buku dan duduk di sofa bersama.
“Aku masih tidak percaya hal ini terjadi,” bisik Sol.
“Aku juga. Sebenarnya aku sangat takut dengan pertempuran besok. Aku mempunyai firasat buruk. Tidak tahu kenapa hatiku terasa berat,” kata Vis.
  Mereka memutuskan untuk terus membaca, hingga jam delapan kemudian mereka masuk kamar masing-masing. Esoknya mereka bangun pagi sekali. Setelah mandi dan sarapan, Sol mengepak beberapa botol kecil berisi ramuan ke sebuah tas. Vis dan Sol bersama Elisa dan Drynn mulai melakukan perjalanan menuju markas Morte diikuti puluhan pasukan istana.
Seratus meter sebelum sampai markas Morte pasukan sihir hitam sudah menyerbu. Drynn membantu pasukan istana menyerang pasukan sihir hitam. Sedangkan Sol, Vis dan Elis terus maju ke markas Morte. Mereka harus membuat beberpa pasukan sihir hitam tidak sadar dengan ramuan yang dibuat Sol. Dengan beberapa mantra dan beberapa tebasan pedang Vis, mereka bisa masuk ke markas Morte tanpa harus berkeringat.
Markas Morte adalah tempat gelap. Ada ratusan simbol dengan bahasa sihir lama yang diukir ke tembok-tembok. Baunya anyir, bau mayat terbakar. Selagi mereka berjalan, lilin yang menggantung di sisi-sisi dinding menyala satu per satu. Mereka harus berjalan melalui lorong yang panjang. Di akhir lorong ada pintu besar. Tiba-tiba ada tiga bentuk jubah muncul.
“Di sebarang pintu ini ada Morte, dia hanya sendirian. Satu-satunya cara untuk membuka pintu ini dari luar adalah jika kalian bisa mengalahkan kami,” kata salah seorang berjubah yang berdiri di tengah.
Mereka langsung menyerang Vis, Sol dan Elisa. Orang yang baru berbicara menyerang Elisa. Laki-laki itu menggunakan sihir air hitam yang membuat airnya jauh lebih mematikan. Dengan gampang ia bisa membuat pedang air yang bisa menebang kepala Elisa, tetapi Elisa sama kuat. Ia menggunakan sihir api yang sering ia ajarkan kepada Sol. Pertarungan sangat sengit. Tidak ada yang tahu siapa yang akan menang. Pertarungan Sol dan Vis melawan dua orang perempuan berjubah lainnya berjalan cepat. Dalam tiga menit dua orang berjubah itu sudah dibuat tidak sadarkan diri. Kemudian Vis dan Sol membantu mengalahkan laki-laki berjubah itu. Sebelum pingsan, ia mengatakan sesuatu dengan maksud menakuti mereka.
“Kalau kalian melawan aku saja sudah kesulitan, maka kalian akan dihancurkan seperti semut oleh yang mulia Morte. Kekuatanku baginya ibarat burung yang tidak bisa terbang!”
Setelah laki-laki berjubah itu pingsan, pintu besar yang ada di belakangnya terbuka. Mereka masuk dan melihat seorang laki-laki duduk di kursi besar yang terletak di tengah ruangan. Laki-laki itu botak dengan kumis tebal. Ia sedang membaca buku.
“Wah ternyata kalian lebih kuat dari yang kupikir. Kukira kalian sudah dibunuh oleh para semut yang aku tempatkan di depan istana,” kata laki-laki itu yang ternyata adalah Morte.
“Istana? Tempat ini lebih mirip rumah tikus daripada istana,” kata Elisa.
“Diam kamu! Bisa-bisanya kecoak kecil sepertimu mengejek istanaku. Kamu harus diberi pelajaran!”
Dengan beberapa kata, mulut Elisa hilang. Di bawah hidungnya hanya ada kulit dan tidak ada mulutnya.
“Kalau kamu bisa berbuat baik akan kukembalikan mulutmu, sebelum kubunuh, sehingga mayatmu akan kembali cantik,”kata Morte.
“Hei, kenapa kamu membawa anak-anak? Apa kamu mau memberikan mereka kepadaku untuk menjadi budak? Ataukah kau ingin aku membunuhnya?” Morte mulai mendekati Sol dan Vis.
Sol menyerang dengan mantra sihir api. Beberapa bola api terlempar ke Morte. Morte menangkap semua bola api itu seperti sedang menangkap bola.
“Wah ternyata kamu melawan ya! Maaf mainan kecil ini tidak bisa melukaiku. Bagaimana kalau kuajari sihir yang sebenarnya?”
Morte melafalkan sebuah mantra, dan bola api sangat besar meluncur dengan cepat ke arah Sol. Melihat bola api itu, malah membuat Sol tidak mampu bergerak. Tepat sebelum bola itu mengenai Sol, Vis berdiri di depan Sol dan melindungi dari kobaran bola api. Vis langsung terjatuh. Seluruh dadanya penuh dengan bekas api. Sol langsung menangkapnya. Ia harus menyembuhkan luka bakar Vis secepatnya, atau Vis akan mati.
“Aku sudah menepati janjiku pada orang tauamu, Sol,” kata Vis pelan.
“Kamu bodoh! Jangan bicara, dan jangan berani-berani mati! Aku bisa menyembuhkanmu. Jangan khawatir.” kata Sol asal-asal karena panik.
  “S..sudah..lah, So..l! Kam..u har..rus menga..lah..kan Morte. Bi..ar..kan..ak..u” kata Vis mulai putus-putus. “Se..la..mat ting..gal Sol! Ak..u..” Vis tak mampu menyelesaikan kata terakhirnya.
“Hahahahaha! Anak bodoh! Mati hanya untuk seekor semut perempuan!” tawa Morte memenuhi ruangan.
“Kamu membunuh Vis!” teriak Sol marah.
Dalam sekejap lima bola api yang lebih besar yang dibuat Morte terbentuk di sekeliling Sol.
“Kamu membunuh Vis!” teriaknya lagi.
Kelima bola api itu langsung meluncur ke arah Morte. Seluruh tubuhnya terbakar dalam kobaran api.
“Kamu cukup kuat untuk seekor semut.” Seluruh api yang ada di tubuh Morte menghilang tanpa jejak. Bajunya sama sekali tidak tersentuh api, masih utuh.
“Vis! Bangun Vis! Ayo kita belum mengalahkan Morte! Ayo bangun, kami tidak bisa mengalahkan Morte tanpamu. Kami membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu!” Sol memeluk tubuh Vis dengan erat. Air matanya mengalir di pipinya.
Ternyata bola-bola api itu hanya untuk mengalihkan perhatian Morte. Sol mencoba banyak mantra tetapi tidak ada yang berhasil. Ia memberi Vis ramuan yang seharusnya efektif tetapi tidak berguna. Vis sudah pergi. Sol memeluk Vis lagi, menggenggam tangannya dengan erat dan menangis dengan keras. Air matanya mulai jatuh ke muka Vis.
“Kamu tahu apa yang teman-teman di kelasku katakan padaku? Mereka berkata bahwa aku mencintaimu. Dan ternyata mereka benar,” Sol menyeka air matanya yang  jatuh ke muka Vis dan menciumnya.
Pada saat itu hal yang tidak mungkin terjadi, terjadi. Seperti saat tangan mereka bersentuhan untuk pertama kalinya, cahaya berwarna kuning yang hangat keluar dari tubuh mereka. Sol kebingungan. Dengan pelan, semua luka bakar Vis menghilang. Mata Vis mulai membuka dan mulutnya membentuk sebuah senyuman.
“Aku tahu Sol. Aku juga mencintaimu,” kata Vis sambil menghapus air mata Sol. Mereka berpelukan.
“Kamu masih belum mengalahkannya? Kukira kamu lebih kuat daripada aku ini,“ kata Vis kepada Sol dengan tawa kecil.
Dengan cepat sebuah pedang muncul di tangannya. Ia mengucapkan beberapa kata dan sepuluh pedang lagi muncul di sekelilingnya. Sol mengucap beberapa kata dan pedang-pedang itu ditutupi api. Semua pedang itu terbang ke arah Morte dari berbagai penjuru. Morte tertembus pedang-pedang itu. Vis dan Sol tidak mau mengambil resiko. Dibantu Elisa batu-batu melayang dan membentur Morte dari atasnya. Pecahan es yang tajam terbang menghantam dan menusuk tubuhnya. Morte jatuh dengan darah menggenang di sekitarnya. Menurut buku yang dibaca Sol, untuk membunuh sihir hitam harus membakar tubuhnya. Morte dibakar hingga menjadi abu.
“Hari ini kalian telah melakukan hal baik. Menyelamatkan banyak jiwa. Terima kasih” kata Drynn kepada Vis dan Sol.
“Kalau kalian memerlukan sesuatu, bilang saja kepada kami. Apa kalian yakin akan pergi sekarang? Kami akan mengadakan pesta nanti malam,” lanjut Elisa.
“Iya. Hari ini kami sudah melalui banyak hal. Kami sekarang ingin pulang ke rumah dan tidur!” jawab Vis.
Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada satu sama lain. Vis dan Sol pulang ke desanya. Banyak hal yang sudah terjadi tetapi mereka akhirnya bisa pulang dengan selamat sambil bergandengan tangan. Mereka mencintai satu sama lain dan itu yang terpenting. (*)


Nama Penulis           : Ida Ayu Amara Kanaka (Amara)
Sekolah                     : SMP Dyatmika Denpasar Bali
Judul                                    : Bertempur Melawan Kegelapan

****************************************************************************
DI MANA MESTI DICARI
Ulfah Midiana (Jogjakarta)

Jika bisa meminta pasti ia akan meminta. Jika bisa memilih pasti ia akan memilih. Jika bisa berharap pasti ia akan berharap. Tapi sayang, itu semua tidak bisa. Tidak bisa untuk dicapai, dan tidak bisa untuk diraih. Entah kenapa, memang itu adanya. Tidak bisa apa-apa, hanya berdoa dan pasrah diri kepada yang kuasa. Hanya itu…
Aku benar-beanr miris ketika melihatnya. Ia tumbuh menjadi seorang anak perempuan cantik yang ceria, penuh tawa, sama sekali tidak ada duka. Tetapi jika mengingat masa lalu hatiku miris lagi.
Saat itu tanggal 27 April 2007, aku menjadi saksi hidup atas kemunculannya. Sangat senang dan bahagia rasanya. Ya, dia yang muncul adalah Baiza. Seorang anak perempuan hasil perkawinan mbak Silvia dengan mas Anton suaminya.
Benar-benar tidak terduga kini aku sudah menjadi seorang tante. Memang belum pantas dengan usiaku yang masih 13 tahun. Tetapi aku senang. Ini adalah kisah tentang dia, Baiza. Hari itu hari yang bahagia melihat kelahirannya. Membawa awal baru di keluarga kami.
Baiza menangis ketika baru saja muncul ke dunia. Semua merasa bahagia seperti diriku. Mbak Silvia, kakakku menangis saat menggendong dan memeluknya. Benar-benar tidak percaya. Baru kali ini aku melihat mbak Silvia menangis. Menangis bahagia untuk anak pertamanya. Mbak Silvia mengajarkan untuk tidak memperlihatkan air mata di depan orang banyak. “Buatlah orang-orang di sekitarmu bahagia dengan tawa dan bukan dengan air mata.” Itu yang dipesankan mbak Silvia. Wajar jika aku tidak pernah melihatnya menangis.
Tetapi kebahagiaan itu hanya sesaat. Mbak Silvia kemudian kejang-kejang dan pingsan. Kami sekeluarga panik. Dokter dan perawat segera melakukan tindakan terhadap mbak Silvia. Mereka dari raut wajahnya juga terlihat cemas. Kondisi itu membuat kami menjadi semakin tegang. Akhirnya air mata kami tidak bisa terbendung lagi saat dokter sudah angkat tangan tidak mampu menyelamatkan mbak Silvia. Kami semua menangis, sangat sedih atas kepergian mbak Silvia yang tiba-tiba. Ibu pingsan sesaat setelah mengetahui mbak Silvia meninggal.
Aku berlari menuju ke kamar di mana mbak Silvia terbujur. Aku tidak percaya kalau mbak Silvia telah tiada. Betul-betul tidak percaya. Sampai akhirnya ada seorang suster yang menghampiriku, saat aku sedang memeluk mbak Silvia.
“Maaf dik, ini ada titpan surat dari mbak Silvia,” kata suster itu.
Perlahan kubuka surat itu. Aku masih belum percaya surat itu dari mbak Silvia, sampai akhirnya terlihat tulisan rapi yang sudah kukenal. Tulisan mbak Silvia.
Untuk adikku tersayang, Amira
Mira, mbak senang karena sekarang kamu bisa bersikap lebih dewasa. Mbak hanya bisa menitipkan pesan ini. Mbak ingin kamu melakukan pesan ini dengan tulus dan jujur. Mbak ingin Baiza memanggilmu tante, jangan kamu marahi dia kalau dia tidak bersalah. Sayangi dia seperti kamu menyayangi mbak. Ingat, jangan pernah menunjukkan air matamu di depan orang-orang tersayangmu. Buat mereka bahagia dengan tawa, tidak dengan air mata. Jadikan Baiza sesuai dengan arti namanya.
Dari mbak Silvia, kakakmu tersayang
Air mataku menetes lagi. Seminggu berlalu semenjak kematian mbak Silvia, sedih dan duka masih tertinggal di hati keluargaku.Tetapi tidak untuk mas Anton. Justru dia pergi meninggalkan kami dan Baiza anaknya yang belum genap seminggu itu. Kami sangat kecewa dan marah padanya. Namun kami tidak bisa berbuat apa-apa. Waktu terus berjalan, tahun terus berganti. Mas Anton tidak pernah memberi kabar apa-apa. Kami tidak tahu di mana. Tanpa kabar, tanpa kasih sayang apalagi kiriman uang. Sepertinya mas Anton sudah betul-betul menghilang dari kehidupan kami dan anaknya Baiza. Ingin aku menangis, namun kembali aku teringat pesan mbak Silvia. Maka tekadku akan memenuhi amanah mbak Silvia, menjadikan tante untuk Baiza.
Nama Baiza dengan susah dicari oleh mbak Silvia sebelum kelahirannya. Untuk apa mencarikan nama susah jika tidak mampu mewujudkan makna di balik nama itu. Aku sedikit-sedikit memberi contoh yang  baik kepada Baiza. Kemudian Baiza tumbuh menjadi bocah mungil yang memiliki sifat lembut seperti namanya, putih hatinya, suci, cerdas dan cemerlang. Itu yang diinginkan oleh mbak Silvia.
Saat Baiza sudah beranjak umurnya, tanteku mengadopsinya. Tentu dengan terlebih dahulu dilakukan rapat keluarga. Ibuku mengijinkan dengan syarat, ibu masih tetap dipanggil nenek oleh Baiza. Kemudian kami sekeluarga masih diberi kesempatan menyanyangi Baiza. Tanteku hanya menjawab iya setiap kali ibuku memberinya syarat. Dan itu membuat kami bahagia.
Kini Baiza sudah berumur empat tahun. Sifat mbak Silvia sepertinya turun kepadanya. Dia tampak selalu bahagia, tidak pernah terlihat kesedihan di wajahnya. Dia bermain dengan teman sebayanya dan selalu menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang putih cantik. Selama ini Baiza tidak pernah menanyakan ibu dan ayahnya. Yang ia tahu hanya bahagia untuk dirinya dan untuk orang-orang tersayangnya. Aku tahu, kini pesan mbak Silvia sudah dilakukan oleh Baiza. Ia tertawa bahagia di depan orang-orang tersayangnya. Walaupun sebenarnya di dalam hati dan kehidupannya tersimpan kegelapan yang tidak bisa dipungkiri lagi keberadaannya.
Tetapi aku lega, aku sudah menjalankan pesan mbak Silvia dengan baik. Aku berharap ini akan bertahan lama. Namun aku masih bingung kalau suatu saat Baiza tahu bahwa tanteku bukanlah ibu kandungnya. Baiza mencari dan terus bertanya, aku harus menjawab apa? Kurasa aku belum siap untuk itu semua. Aku belum siap membuat Baiza sedih dan merasa luka ditinggal ibunya untuk selamanya, terlebih bapaknya yang pergi tanpa alasan itu. Aku masih memikirkan, “Di mana ia harus mencari?” Tetapi setidaknya Baiza sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, ceria dan penuh tawa. Sekarang tinggal bagaimana menata Baiza tumbuh menjadi gadis dewasa yang bisa menerima suratan dirinya dan ibunya. Itu semua membuat Baiza bisa tahu dan mengerti makna hidup yang sesungguhnya. Karena aku yakin Tuhan selalu  bersamanya. (*)

Nama Penulis           : Ulfah Midiana
Sekolah                     : SMPN 1 Depok Sleman Jogjakarta
Judul                                    : Di Mana Dia Harus Mencari

#############################################################################


WAJAHKU TIDAK ANGKER
Eka Asokawaty Nur (Jawa Barat)

Hari cerah tak membuatku merasa bercahaya di kelas pak Damian, guru matematika yang terkenal sangat tegas. Beliau sedang menerangkan bab fungsi komposisi dan fungsi invers. Mataku menatap papan tulis yang dipenuhi rumus-rumus dan contoh soal yang ditulis pak Damian. Aku segera menyalin tulisan di papan ke dalam buku catatanku.
“Oh ya, anak-anak, siapa yang belum ulangan?” tanya pak Damian tiba-tiba.
Galang mengacungkan jarinya.
“Cuma Galang saja?” tanya pak Damian lagi. Aku mengacungkan jariku karena minggu lalu aku sakit dan tidak ikut ulangan.
“Aku sama Dira saja pak?” tanya Galang.
“Iya, kan hanya kalian yang belum ulangan!” Pak Damian menegaskan.
“Gak mau pak!” ucap Galang.  Aku melirik ke arah Galang.
“Lho memangnya kenapa?” tanya pak Damian bingung.
“Galang takut kalau harus ulangan berdua dengan Dira, soalnya…” kata Ari teman sebangku Galang.
“Soalnya apa teman-teman?” kata Ari lagi.
“Angkeerr!” jawab beberapa cowok, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. Aku hanya bisa tertunduk. Jujur hatiku sakit. Aku paham maksud mereka. Mereka mentertawakan wajahku. Aku sadar bahwa kulitku hitam dan wajahku tidak menarik sama sekali. Aku menghela nafas. Intan teman sebangkuku memegang pundakku, mungkin ia mengerti yang kurasakan saat itu. Di antara teman-temanku hanya Intan yang mengerti perasaanku. Dia selalu menenangkan aku ketika aku menangis karena tidak tahan dengan ejekan-ejekan yang membuat hatiku sakit. Aku bersyukur punya sahabat sebaik Intan.
“Sudah, sudah! Pokoknya Galang dan Dira sepulang sekolah ikut ulangan susulan!” kata pak Damian tegas.
Galang tidak bicara lagi. Dia langsung tertunduk kesal. Aku menghela nafas lagi. Hatiku masih terasa perih. Suara ejekan dan tawa masih terasa menggema di gendang telingaku. Aku lelah dengan ejekan yang kuterima setiap hari. Aku ingin berteriak kepada dunia bahwa aku terluka. Aku sakit hati dengan semua hinaan yang tertuju padaku.
Bel tanda pulang berbunyi. Semua murid bersiap pulang termasuk aku. Aku memasukkan semua buku yang tergeletak di meja ke dalam tas mungilku. Lalu Alfian sang ketua kelas memimpin doa. Setelah pak Damian mempersilakan pulang, para murid berhamburan keluar kelas.
“Galang, Dira ikut bapak!” kata pak Damian.
“Aduh sial banget nasib kamu, Lang!” kata Aris sambil geleng-geleng kepala.
“Kamu mau ikutan uji nyali, ya?“ tanya Raka kemudian tertawa.
“Doakan aku ya, semoga aku pulang selamat.” Kata Galang, disusul dengan tawa mereka bertiga.
“Ulangannya juga tidak bakalan bener tuh!’ kata Ari.
“Lho memang kenapa?” tanya Galang.
“Ya, iyalah. Bareng si muka angker, serem begitu!” Ari menjawab, yang langsung disambut tertawa bertiga lagi.
Aku dan Galang sudah siap untuk ulangan. Soal ulangan telah ada di hadapan kami, menunggu untuk kami kerjakan.
“Ayo mulai kerjakan. Waktumu tiga puluh menit!” perintah kata pak Damian.
Aku langsung melahap semua soal suku banyak dan teorema sisa yang lumayan sulit. Aku sudah mempersiapkan dengan matang untuk ulangan susulan ini. Galang terlihat kebingungan. Dia hanya melihat soal yang ada di depannya tanpa mencoba mengerjakan. Dua puluh menit kemudian aku telah selesai mengerjakan semua soal. Kemudian kuserahkan jawaban itu kepada pak Damian. Aku melihat kertas jawaban Galang masih kosong. Belum satupun soal yang dikerjakan. Galang menatapku dengan sinis. Aku hanya menunduk lalu melangkah keluar ruangan untuk selanjutnya pulang.
Sampai rumah, aku menuju kamarku yang sepi. Setelah mencopot sepatu aku berbaring di kasurku yang empuk.
“Hari ini seperti biasa, aku diejek lagi oleh mereka,” kataku kepada Rona, boneka sapiku yang imut.
“Aku ingin mereka merasakan yang aku rasakan.” Perlahan air mataku meleleh, hatiku terasa perih. Aku ingin mereka berhenti mengejekku. Rasa sakit di dadaku membuatku menangis tersedu.
Aku memperhatikan dengan serius pelajaran bahas Jepang kali ini. Ini Sensei dengan gaya mengajarnya yang menyenangkan, mampu membuatku terhipnotis dan menjadikan bahasa Jepang sebagai palajaran favoritku.
Tiara san, Himana toki nani o shimasuka?” kata Rini Sensei kepada Tiara.
Tomodachi to eiga o mimasu” jawab Tiara ragu.
Tok..tok..seorang mengetuk pintu. Lalu Rini Sensei pun mempersilakan masuk.
“Maaf saya telat, Sensei,” ucap Intan merasa bersalah.
“Kamu telat sepuluh menit!”
“Izinkan saya masuk, Sensei,” Intan memohon.
“Ya sudah, tetapi kamu harus berdiri dulu di depan kelas selama sepuluh menit, setelah itu boleh duduk!”
“Baik, Sensei,” kata Intan dengan muka merah menahan malu, karena semua mata tertuju kepadanya.
Kami melanjutkan pelajaran yang sedikit tertunda.
“Sensei, aku mau tanya?” kata Ari mengacungkan jarinya.
“Silakan, mau tanya apa?”
“Kalau bahasa Jepangnya hitam apa, Sensei?” tanya Ari lagi.
“Kalau angker apa, Sensei?” Galang juga ikut bertanya.
“Aku juga mau tanya dong. Kalau bahasa Jepangnya perempuan berwajah angker apa, Sensei?” Raka ikut bertanya pula. Lalu sebagian murid tertawa. Aku kesal, pasti mereka mencoba mengejekku. Aku hanya bisa tertunduk, tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati aku menjerit dan menangis.
Brukk..tiba-tiba Intan jatuh pingsan. Semua panik. Alfian selaku ketua kelas mengangkat tubuh Intan, mau dibawa ke UKS. Namun tiba-tiba Intan bangun.
“Aaarrrgghh…” Intan menjerit. Semua kaget. “Kalian tidak punya hati!” Intan berteriak.
Aneh, yang keluar dari mulut Intan bukan suara Intan. Suara itu terdengar seperti suara bapak-bapak.
“Kamu kenapa, Intan?” tanya Rini Sensei.
“Di mana hati kalian?” tiba-tiba Intan menghampiri Galang, Ari dan Raka. Tanpa diduga Intan mendorong tubuh mereka bertiga hingga ketiganya terjengkang jatuh bergulingan. Kami tentu kaget, melihat kekuatan Intan yang tidak semestinya.
“Mak..sud..nya?” Galang menjawab terbata-bata. Tampak sekali Galang sangat ketakutan. Demikian juga Ari dan Raka. Kemudian Intan membuat gerakan yang tidak terduga, menendang meja hingga meja itu terbalik. Galang, Ari dan Raka semakin ketakutan dibuatnya. Kami yang tidak diintimidasi oleh Intan saja takut melihatnya.
“Apa kalian tidak sadar telah menyakiti Dira!” bentak Intan kepada mereka bertiga sambil melotot dan menuding-nuding mereka. Jantungku berdebar, ketika Intan menyebut namaku.
“Aa..ku tidak ngerti,” kata Raka semakin ketakutan. Tubuhnya gemetar. Namun tidak kulihat celananya basah karena ngompol. Tidak terbayang seandainya itu terjadi.
“Mana hati kalian!” bentak Intan semakin keras, disusul dengan dorongan lebih keras hingga mereka terjatuh dan membentur tembok. Aku melihat mereka menahan sakit, sambil memegang kepalanya. Mereka belum bisa bangun. Intan masih melototi mereka, sambil berkacak pinggang.
“Apa salah kami?” suara Galang memelas.
“Kalian selalu menghina Dira. Apa kalian tidak sadar!” bentak Intan lagi. Aku baru sadar, bahwa aku sepertinya mengenal suara itu. Ya, aku yakin itu adalah suara ayahku kalau sedang marah. Aku ingat persis karena aku kadang dimarahi ayah jika aku bermainnya kelewatan. Ayahku sudah meninggal lima tahun lalu, karena penyakit jantung. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri.
“Kami tidak menghina,” jawab Ari dengan suara parau hampir menangis.
“Kalian masih tidak sadar juga!” bentak Intan galak.
“Kami hanya bercanda,” kata Galang yang juga hampir menangis.
“Coba kalian pikir! Perbuatan kalian itu bukan lagi bercanda!” Intan semakin kalap. “Itu sudah keterlaluan. Sangat menyakitkan!” kali ini Intan berteriak keras.
Galang, Ari dan Raka semakin terpuruk. Seperti tikus clurut masuk comberan. Bajunya basah kuyup oleh keringat. Mukanya pucat pasi saking takutnya. Badannya semakin gemetar. Sepertinya lebih baik mereka pingsan saja. Namun teror untuk mereka bertiga belum reda. Kembali Intan menendang meja yang hampir saja mengenai tubuh mereka bertiga. Semakin tambahlah ketakutan mereka. Mereka bertiga meringkuk di pojok kelas, berhimpitan seperti maling ayam ketangkap massa, minta pengampunan.
“A..ku..mo..hon ma..aaf,” ucap Galang lirih nyaris tak terdengar.
“Aku juga mohon maaf, “ kata Ari dan Raka hampir berbarengan.
“Kalian harus ingat! Dira juga manusia, dia punya hati dan perasaan. Saat kalian tertawa, kalian harus tahu, Dira menangis!”
“Kami mohon maaf,” kata Galang menghiba.
“Tidak ada gunanya kalian minta maaf  kepada saya!” bentak Intan dengan mata semakin melotot.
“Kami menyesal,” kata Galang tersengal, hatinya serasa diaduk-aduk.
“Kalian harus minta maaf  kepada Dira!” suara Intan menggelegar.
Dengan sempoyongan  mereka bertiga bangun. Kemudian dengan ragu dan jalan tertatih mendekatiku. Belum sampai mereka berbicara kepadaku, tiba-tiba Intan menendang meja lagi. Galang, Ari dan Raka terduduk lagi. Kali ini mereka nyaris duduk simpuh di hadapanku. Tampak sekali wajah mereka pucat dan dalam kondisi yang betul-betul tertekan. Aku bisa merasakannya.
“Bukan hanya kalian bertiga! Semua yang pernah menghina Dira harus minta maaf  kepadanya!” perintah Intan galak.
Selagi Galang, Ari dan Raka bersimpuh, murid-murid yang lain menghampiriku, kemudian minta maaf dan menjabat tanganku. Tiba-tiba saja Intan jatuh, pingsan lagi. Alfian membopong Intan ke UKS. Aku mengikuti dari belakang. Setelah kuolesi dengan minyak angin, beberapa menit kemudian Intan siuman.
“Aku kenapa?” tanya Intan kebingungan setelah tersadar.
“Terima kasih ya, Intan.” Aku langsung memeluk Intan.
“Terimakasih untuk apa?” Intan masih kelihatan bingung.
“Untuk yang tadi di kelas!” kataku menjelaskan.
“Aku tidak ngerti. Aku kok lemes banget ya?” tanya Intan tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba Galang, Raka dan Ari muncul di UKS. Mereka langsung menghampiriku.
“Aku minta maaf Dir.” Kata Galang dengan suara yang tidak lagi gemetar.
“Aku juga Dir, minta maaf ya,” kata Ari dan Raka bersamaan. Mereka bertiga menjabat tanganku.
“Iya. Aku maafkan kok.” Kataku kepada mereka. Saat mengucapkan itu, hatiku terasa lega.
“Terima kasih ya!” kata mereka bertiga bersamaan. Intan di ranjangnya menatap kami dengan bingung.

Note :
Tiara san, Himana toki nani o shimasuka  - artinya Tiara, apa yang kamu lakukan di waktu luang.
Tomodachi to eiga o mimasu  - artinya menonton film bersama teman. (*)


Nama           : Eka Asokawaty Nur
Sekolah         : SMAN 1 Mande Cianjur Jawa Barat
Judul                        : Wajahku Tidak Angker

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Dapatkan tulisan-tulisan yang lain pada posting berikutnya :
“ Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa Jilid III “
Semua adalah persembahan Pataba Press Blora
Pataba ada di Blora untuk Indonesia dan dunia
Membangun Masyarakat Indonesia
adalah
Membangun Budaya Membaca dan Menulis