Senin, 04 Juni 2012

Seribu Wajah Pram Dalam Kata


SERIBU WAJAH PRAM DALAM KATA
Soesilo Toer

Aku bukan terdakwa, tetapi mengaku bahwa tahu istilah katralogfi PAT sesudah membaca ‘Tempo’ 8-14 Mei 2006, usulan Apsanti Djokosujatmo, dosen Fakultas Ilmu Budaya UI. Dan aku menilai sah-sah saja kalau ada pendapat yang mengatakan Pram meninggalkan kita dengan perasaan damai karena telah menunaikan tugas dunianya dengan semaksimal mungkin, memberikan seluruh pengetahuan dan hidupnya bagi bangsanya.
Itu kalau dilihat dari sudut nama. Pram punya embel-embel Toer. Sedang Toer adalah nama bapaknya sekaligus juga akronim. Pencipta akronim adalah Toer itu sendiri. Kalau ditulis lengkap berbunyi “Tansah Ora Enak Rasane”. Aku jadi ragu apa Pram di dunia sana juga tetap gelisah dan selalu Tansah Ora Enak Rasane?
Pada acara seratus hari meninggalnya PAT di gedung milik Kedutaan Jerman di daerah Menteng Jakarta tahun 2006, dimeriahkan dengan peluncuran buku “Pram Dari Dekat Sekali”. Dalam kesempatan itu Oey Hay Djoen, yang notabene adalah sahabat karib Pram, melontarkan uneg-unegnya bahwa Pram adalah biang pelit. Padahal PAT jadi ternama dan kaya berkat bantuan banyak pihak, terutama bekas tapol pulau Buru. Seperti diketahui OHD adalah tapol nomor satu, sedangkan PAT nomor tujuh.
Namun saksi lain melengkapi uneg-uneg sang sahabat dengan berbisik-bisik di sebuah sudut ruangan. Ia menyaksikan pada suatu ketika Pram hanya punya celana pendek tunggal dari karung goni yang sedang dipakainya. Bisa dibayangkan, lha kalau celana itu pun harus diikhlaskan demi membela martabatnya sebagai manusia, bagaimana ia harus sembunyikan ‘lele dumbo’nya yang katanya sedang kena flu? Berobat ke ‘on clinic’ lebih mustahil lagi. Sang dumbo tetap sakit sampai PAT meninggalkan OHD selamanya. Entah sekarang, karena keduanya telah sma-sama di dunia maya. Moga-moga saja mereka tidak lagi debat di sana.
Lain lagi pernyataan Bandelan Aminudin dkk. Pram adalah mata pusaran keluarga, pusat dan pengayom keluarga besar Toer. Ia pemurah, tapi keras. Adik lelaki terkecil Pram, Soesatyo, pernah ditempeleng karena mbolos dari tugas kliping yang diberikan kepadanya. Ia menghardik, “… Di Vietnam hujan peluru, kau… hujan air saja takut, malu aku jadi kau!”
Ziarah kubur Pram terakhir di Blora tahun 2006. Ia perintah supaya aku memasang keramik seputar makam keluarga di Sasono Lalis, Kunden Blora. Ada beberapa nisan di situ antara lain atas nama Toer, bapak, Saidah, ibu, Koen dan Susanti, adik perempuan, termasuk mbah Satimah, tokoh buku Pram ‘Gadis Pantai’. Ia juga menyuruh memasang vas porselen dengan bunganya sekali. Penjaga makam diupahi supaya menjaga kelestariannya. Mungkin itu cara Pram menunjukkan perhatian kepada keluarga yang sudah terlebih dahulu pergi. Semua aku kerjakan sesuai perintah, kecuali pasang keramik. Hari berikutnya Pram dan keluarga kembali ke Jakarta dan mampir ke makam. Semua utuh seperti sebelumnya, kecuali seluruh vas kembangnya. Pram menggeleng-geleng berat. Barangkali hatinya miris. Tapi tidak menangis. Yah yuma vas kembang. Bukankah itu sejenis perhatian?
Menurutku Pram bukan lelaki romantis. Tetapi pencemburu. Sekali aku menginap di rumah barunya Bojong Gede, Bogor. Aku diperintah tidur di kamar atas, berhadapan dengan kamarnya sendiri. Aku ogah dan memilih tidur di karpet di lantai dasar. Besoknya ketika bangun pagi aku didiamkan, tidak ditegur dan tidak diajak sarapan. Mungkin itu cara Pram memamerkan kesetiaannya kepada keluarga. Ia memang mengatakan di rumah ia milik keluarga. Di luar ia milik siapa saja. (*)