Rabu, 09 Mei 2012

Pataba Aset Wisata Budaya & Wisata Blora


P A T A B A
ASET BUDAYA DAN WISATA BLORA
Disarikan dari tulisan Yuni Kiki Handini

Pendahuluan
Pramoedya Ananta Toer adalah sosok legendaris sastra Indonesia yang beberapa kali masuk nominasi penerima hadiah Nobel. Karyanya lebih dari 50 judul, yang sudah diterjemahkan dalam 41 bahasa dunia. Karya yang paling fenomenal adalah Tetralogi Buru : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.
Banyak hal yang membuat Pramoedya menjadi besar dan sangat layak dijadikan contoh bagi generasi muda, dalam hal keteguhan memegang prinsip, keberanian melawan tirani, produktivitas karya dan ketekunan mendokumentasikan segala hal.
Obsesi Pramoedya sebelum meninggal adalah menyusun ensiklopedi Indonesia, serta membangun rumah budaya di tanah kelahirannya Blora. Obsesi itu diwujudkan oleh adiknya, Soesilo Toer. Adik kebanggaan Pramoedya, yang doctor jebolan Plekhanov itu membangun perpustakaan di rumah pusaka keluarga Toer di Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora. Perpustakaan itu diberi nama Pataba, akronim dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa.

Latar Belakang Berdirinya Perpustakaan Pataba
Perpustakaan Pataba adalah perpustakaan yang didirikan oleh Soesilo Toer, untuk mengenang Pramoedya Ananta Toer sang kakak yang telah meninggal pada 30 April 2006. Perpustakaan itu memanfaatkan bekas dapur yang direnovasi sebagai paviliun untuk Pram, ketika sedang berada di Blora. Ruangan ukuran 5x4 meter persegi, yang berada di samping kanan rumah utama itu, memuat koleksi buku-buku pribadi Soesilo Toer dan sebagian buku milik kakaknya, Promedya dan Koesalah Soebagya Toer.

Pataba dan Rumah Budaya
Perpustakaan Pataba, yang selanjutnya dalam tulisan ini disebut Pataba, adalah perpustakaan yang sangat potensial untuk menarik pengunjung karena perpustakaan ini lain dari perpustakaan umumnya. Setiap pengunjung akan disambut oleh empunya Pataba, Soesilo Toer. Mereka yang datang selalu disediakan air minum kemasan dan cemilan.  Saatnya makan, mereka akan diajak makan bersama-sama keluarganya. Pak Soes, panggilan akrab Soesilo Toer dengan senang hati dan bersemangat senantiasa membagi pengalamannya, baik sebagai pribadi maupun sebagai adik pengarang pemenang Magsaysay itu.
Selain dimanfaatkan sebagai perpustakaan, rumah peninggalan Mastoer itu juga menyimpan berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan Pramoedya Ananta Toer dan keluarga besarnya. Di  rumah utama masih tersimpan kursi-kursi dan lemari tua, peralatan makan tempo dulu, televisi hitam putih, mesin ketik dan foto-foto keluarga, lukisan maupun patung. Ada souvenir khas yang bisa dibawa pulang oleh pengunjung berupa kaos bergambar Pram, atau souvenir menarik yang lain. Tentu semua mengkait dengan Pram, sebagai ikon perpustakaan itu.

Pataba dan Aset Wisata Blora
Banyak tamu dari luar negeri asing datang ke rumah tua di Jl. Sumbawa No.40 Jetis Blora, tempat Pataba berdiri sekarang. Entah dari mana mereka tahu tempat itu. Faktor Pramoedya Ananta Toer yang mendorong tamu asing ingin menginjak langsung Blora, rumah, tanah kelahiran dan kampung halaman penulis itu. Bagi mereka, Blora adalah Pramoedya Ananta Toer.
Bukan saja dari luar negeri yang berminat terhadap Pram, dan segala memorabilianya, dari dalam negeri antusiasme terhadap Pram juga cukup tinggi. Terbukti banyak tokoh dari berbagai latar belakang SARA, ideologi maupun budaya yang datang ke Pataba. Fakta tersebut merupakan aset yang sangat potensial bagi Pataba khususnya, dan pemerintah Blora umumnya.

Upaya Pataba Wujudkan Rumah Budaya
Pataba sudah melakukan berbagai kegiatan untuk mempertahankan identitas dan eksisitensi dirinya. Kegiatan itu tak lepas dari ruang lingkup baca, tulis maupun seni dan budaya. Lomba menulis pelajar tingkat nasional, yang kemudian hasilnya diterbitkan oleh Pataba Press dalam bentuk buku berjilid. Kegiatan memperingati hari meninggalnya Pramoedya Ananta Toer dengan berbagai bentuk pegelaran seni budaya : baca puisi, pementasan teater, melukis wajah Pram dan lain-lain.

Keadaan Pataba Saat Ini
Kondisi Pataba saat ini cukup memprihatinkan. Banyak hal yang butuh pembenahan dan penataan. Kendala utama adalah dana. Namun Pak Soes, selaku penanggung jawab Pataba tidak pernah surut dalam menjaga, mempertahankan Pataba, dengan berbagai upaya. Banyak ide kreatifnya untuk mengupayakan dana itu, tanpa harus meminta. Menulis dan menerbitkan buku untuk dijual kepada pengunjung Pataba, atau dijual saat ada pameran buku di Blora. Lahan yang luas juga diberdayakan, ditanami aneka tetumbuhan yang hasilnya kemudian diuangkan di pasar Blora.
Karena bangunan rumah yang sebagian difungsikan sebagai perpustakaan dan tempat tinggal keluarga Soesilo Toer merupakan milik kelurga besar keturanan Mastoer, sehingga pemilik bangunan itu bukanlah Pak Soes seorang. Ketika keluarga besarnya menghendaki agar rumah warisan dan lahannya itu dijual, Pak Soes tidak bisa mencegahnya. Andaikan Pak Soesilo memiliki cukup dana, pasti rumah dan pekarangan warisan orang tuanya itu akan dibelinya sendiri. Itulah sesungguhnya masalah yang besar, yang sedang menghadang keberlangsungan Pataba.

Gagasan Mewujudkan Pataba Sebagai Aset Budaya dan Wisata Blora
Beberapa hal dapat dilakukan untuk mewujudkan Pataba sebagai asset budaya dan wisata Blora. Tentu membutuhkan kerja sama dengan instansi pemerintah maupun swasta untuk dapat mendukungnya.
Memperluas ruang perpustakaan ke samping kanan, sehingga terasa lebih longgar ruang baca pagi pengunjung. Salah satu ruang difungsikan untuk ruang baca dengan dilengkapi kursi dan meja baca atau meja lesehan. Buku-buku karya Pram dan buku-buku berharga ditempatkan di ruang khusus dan hanya boleh dibaca di tempat. Buku-buku umum dipajang di ruang umum dan boleh dipinjam untuk dibawa pulang oleh anggota Pataba. Ruang pamer untuk memajang memorabilia Pram dan keluarga besar Mastoer. Ruang souvenir untuk memajang berbagai  souvenir khas Pataba, yang bisa dibeli oleh pengunjung.
Rumah utama difungsikan sebagai ruang publik yang dapat dijadikan sebagai tempat diskusi atau sarasehan. Kamar di rumah utama dijadikan sebagai kamar penginapan bagi pengunjung yang ingin merasakan langsung kamar yang pernah dipakai tidur oleh Pram.
Mengadakan kegiatan rutin berkala, berupa pentas seni dan budaya dengan mengambil momen peringatan kematian, atau kelahiran Pram. Bagusnya mengambil hari kelahiran, karena Pram lahir di Blora. Menyelenggarakan lomba menulis bagi kalangan pelajar tingkat nasional yang sudah mulai dirintis tahun 2011. Memberdayakan lahan pekarangan yang ada untuk pengembangan fauna dan satwa, sehingga selain merupakan cagar budaya, Pataba juga mampu menjadi cagar alam.

Berbagai Pihak Bisa Membantu Mewujudkan Gagasan Tersebut
Keberlangsungan Pataba akan sangat bergantung kepada keluarga besar Pramoedya Ananta Toer (adik-adiknya beserta anak keturunanya). Jika keluarga besar menghendaki mempertahankan rumah pusaka itu untuk dimanfaatkan bagi kepentingan mencerdaskan bangsa melalui budaya membaca dan menulis, maka satu masalah sudah ada jawabannya.
Pemerintah kabupaten Blora, maupun pemerintah provinsi Jawa tengah dapat memberikan bantuan yang bersifat tidak mengikat, karena sudah menjadi karakter Pataba, untuk tidak meminta bantuan kepada siapapun. Bantuan itu bisa berupa buku-buku untuk menambah koleksi pustaka yang sudah ada, maupun dana pemeliharaan.
Perusahaan-perusahaan besar yang ada di Jawa Tengah seperti Djarum, Pura dan Polytron di Kudus, Kacang Garuda dan Dua Kelinci di Pati dan lainnya, yang memiliki dana khusus bagi pengembangan seni dan budaya. Selama ini perusahaan tersebut mau mensponsori penyelenggaraan pentas seni musik maupun teater. Alangkah bagusnya jika mereka juga mau mensponsori keberadaan Pataba yang juga tidak jauh lingkup dari seni dan budaya.
Dinas pariwisata Blora dan Jawa Tengah dapat memasukkan Pataba pada peta pariwisata sekaligus mempromosikannya, sehingga semakin banyak tamu dari dalam dan luar negeri yang dating ke Pataba.
YPPI (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia) dapat membantu mengembangkan perpustakaan yang dikelola Pataba, sehingga mampu menjadi perpustakaan berstandar nasional bahkan internasional, tanpa menanggalkan identitas Pataba yang sudah menjadi cirri khasnya.
Peran media cetak, audio maupun audio visual tingkat daerah, regional maupun nasional untuk meliput kegiatan yang diselenggarakan oleh Pataba.

Langkah Strategis Mewujudkan Gagasan Tersebut
Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mewujudkan gagasan menjadikan Pataba sebagai aset budaya dan wisata bagi Blora, Jawa Tengah bahkan nasional.
Membuat proposal yang diajukan kepada pihak-pihak yang dapat membantu mewujudkan gagasan tersebut.
Membuat kesepakatan dengan pihak-pihak yang dapat membantu Pataba untuk melakukan kegiatan yang bersifat membangun dan positif bagi masyarakat di sekitar Pataba.
Merekomendasikan Soesilo Toer, PhD, selaku penanggung jawab Pataba, untuk diajukan sebagai calon lelaki sejati, sejuta prestasi di ajang pemilihan lelaki sejati oleh perusahaan rokok Sejati.
Merekomendasikan Soesilo Toer, PhD, untuk tampil di acara-acara televisi daerah dan nasional, sehingga masyarakat luas lebih mengenal Pataba. Acara semacam Kick Andy  maupun Mata Najwa di MetroTV, Satu Jam Lebih Dekat di TVOne dan acara sejenis itu sangat pas untuk menampilkan profil Soesilo Toer dan Pataba secara utuh.

Penutup
Pataba adalah gagasan dari salah satu keluarga besar Toer, Soesilo Toer, adik kebanggan Pramoedya Ananta Toer, yang kemudian diwujudkan untuk mengenang kakaknya tersebut. Namun kenangan itu dibagi bersama untuk segenap lapisan masyarakat Blora, Indonesia bahkan dunia. Suatu upaya mulia yang dilakukan di masa tuanya, untuk mewujudkan cita-cita luhur mencerdaskan bangsa melalui budaya membaca dan menulis. Meski begitu, upaya mulia itu, belum bisa diterima oleh pihak-pihak tertentu, karena stigma yang masih melekat pada keluarga besar Toer.
Ketika layar sudah dikembangkan, pantang untuk ditarik kembali. Soesilo Toer akan mempertahankan keberlangsungan Pataba, yang sudah identik dengan dirinya. Segala bantuan akan diterima dengan tangan terbuka, tanpa harus meminta.
Jikapun tak ada, orang tua itu akan tetap berdiri tegak, meski sorang diri. Layaknya Napoleon Bonaparte, “Ketika ada seribu tentara berdiri, aku salah satu dari yang seribu itu. Ketika ada sepuluh tentara berdiri, aku salah satu dari yang sepuluh itu. Ketika tinggal ada satu tentara yang berdiri, akulah yang berdiri tegak itu!” (*)
Yuni Kiki Handini
Mahasiswa Angkatan 20069 Jurusan Ilmu Perputakaan Undip Semarang
Judul asli naskah ini adalah:
“Perpustakaan Pataba Sebagai Aset Budaya dan Daya Tarik Wisata di Kabupaten Blora