Rabu, 16 Mei 2012

Foto Keluarga


FOTO KELUARGA
Hermawan Widodo

Keluarga Murwadi, termasuk keluarga yang terpandang di dusun Kepuh Lor. Masih keturunan trah Wongsoharjo yang tanahnya hampir sebagian besar meliputi dusun dari ujung timur hingga ujung barat tepi sungai. Di samping itu, bapak adalah PNS kantor pajak Jogja. Instansi yang sangat-sangat basah, sampai mampu melambungkan nama Gayus Tambunan. Seorang biasa yang hanya pegawai golongan III dan bukan siapa-siapa menjadi bahan pembicaraan dalam percaturan politik dan hukum tingkat nasional dengan mafia pajaknya. Dengan posisi seperti itu, wajar jika posisi sosial keluarga saya cukup tinggi di lingkungan Kepuh Lor.
Sebagimana layaknya keluarga terpandang, kehidupan kami juga lumayan makmur. Artinya secara materi tidak pernah kurang. Bahkan keluarga kami menjadi tumpuan warga saat mereka membutuhkan berbagai hal. Uang, kendaraan bermotor, dan lainnya adalah hal biasa dipinjamkan kepada tetangga yang datang membutuhkan. Teras, bagian depan rumah, sering dijadikan tempat berkumpul beberapa tetangga dekat. Biasanya ibu menyajikan mi rebus panas kepada mereka atau sekedar kacang rebus. Keluarga kami juga menjadi pelangganan untuk membeli ikan hasil tangkapan dari tetangga yang kerjanya mencari ikan dengan pecak. Pecak merupakan alat penangkap ikan, berupa jaring yang diikatkan pada 4 ujung bambu.
Dengan kondisi keluarga yang cukup makmur, semestinya juga diikuti dengan budaya hidup yang maju. Namun keluarga kami dalam beberapa hal sangat-sangat jauh tertinggal. Salah satu yang paling saya sayangkan adalah dokumentasi keluarga. Bapak tidak pernah mendokumentasikan keluarga kami dalam bentuk foto. Berbeda dengan keluarga Mbak Jazim, adik bapak yang memiliki dokumentasi berupa foto-foto diri dan anak-anaknya sejak bayi hingga dewasa. Karena saya berada di lingkungannya, maka saya kadang masuk dalam jepretan kamera mereka sehingga dalam beberapa foto itu tampak diri saya.
Keluarga saya sama sekali tidak memiliki konsep dalam mendokumentasikan keluarga. Sangat sedikit foto yang bisa saya lihat waktu saya kecil. Hanya ada satu foto yang menurut saya sangat bersejarah, yaitu saat saya digendong bapak bersama ibu. Mungkin itu satu-satunya foto keluarga saya. Foto itu diambil oleh studio foto Pak Slamet Kotagede yang bagi orang Kepuh Lor sudah sangat terkenal.
Karena itu, saya berinisiatif membuat foto keluarga. Niat yang sudah sangat terlambat. Tetapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Waktu itu adik saya yang terkecil Koco umurnya sekitar 6 tahun. Saya sudah kuliah, dua adik saya Igun dan Igit masih SMA. Saya melihat foto-foto keluarga yang ditempel di ruang tamu, umumnya menggunakan setelan jas atau batik.
Keluarga saya tidak ada yang memiliki setelan jas. Satu-satunya jas milik bapak saat pernikahan, sudah tidak bisa dipakai lagi, sudah terlalu kekecilan untuk badan bapak bahkan anak-anaknya. Karena tidak punya jas, maka batik menjadi pilihan. Koleksi batik bapak lumayan banyak, sehingga kami berempat bisa mengenakan batik. Bapak, saya, Igun dan Igit mengenakan baju batik milik bapak dengan model  dan warna yang berbeda-beda. Ibu juga berbatik. Ada yang lengan panjang, ada yang pendek. Bapak dan Igit berlengan panjang, saya dan Igun lengan pendek. Koco berbaju kotak-kotak biru, karena tidak ada batik ukuran kecil.
Saya tidak ingat kamera yang dipakai milik siapa, yang jelas kamera saku otomatis. Sedangkan yang memotret adalah Hari saudara sepupu saya, anaknya Mbak Jazim. Pengambilan gambar dilakukan di ruang tamu, dengan posisi bapak ibu dan Koco duduk di kursi tamu panjang. Sedangkan saya, Igun dan Igit berdiri di belakang kursi. Saya, Igun, Igit dan Koco hanya memakai celana pendek. Saya memakai celana pendek bergambar nanas, oleh-oleh dari Bali saat KKL pertama Fakultas Geografi UGM. Sandal-sandal masih tampak berserakan di bawah kursi. Perkiraan saya, celana pendek itu tidak akan nampak karena tertutup kursi, begitu juga dengan sandal-sandal yang berserakan.
Dengan penuh semangat bagaikan fotografer profesional, Hari memotret mengambil foto kami sekeluarga. Pengambilan gambar untuk foto keluarga bersama, bapak ibu dan empat anaknya berjalan tanpa kendala. Jepret sekali, kemudian jepret sekali lagi selesai.
Karena merasa kurang, kami berempat minta difoto lagi. Saya, Igun , Igit dan Koco berpose hanya memakai celana jeans dengan bertelanjang dada. Ide itu mennjiplak foto sampul kaset Swami 1 yang berpose tanpa baju. Jepret sekali selesai. Total pengambilan foto itu hanya tiga kali jepretan. Tentu hal itu sudah menumbuhkan harapan di tengah kelangkaan foto di keluarga kami.
Seminggu kemudian foto itupun jadi. Tetapi hasil cetakan foto itu sungguh mengejutkan kami semua. Dua kali pengambilan foto keluarga tidak ada satupun yang memuaskan.
Satu foto secara utuh menampakkan gambar kami sekeluarga. Tetapi sayang celana pendek putih bergambar nanas yang saya pakai, yang semula dikira tertutup kursi ternyata masih nampak dengan sangat jelasnya. Sedangkan sandal yang berserakan juga terekam sangat jelas di bawah kursi mengganggu pandangan.
Foto jepretan satunya malah lebih parah lagi. Kondisinya sama dengan jepretan sebelumnya, hanya kepala kami bertiga yang hilang. Tampak dalam foto adalah bapak, ibu dan Koco secara utuh, sedangkan saya, Igun dan Igit yang nampak hanya badan hingga ke leher, tanpa kepala. Hasil kerja seorang fotografer amatir kelas kampung. Sungguh-sungguh mengecewakan. Harapan mempunyai foto keluarga pupuslah sudah.
Hasil yang lumayan bagus justru pose kami berempat bercelana jeans tanpa baju. Cetakan foto maupun posenya menurut sangat mewakili kami. Koco paling depan didekap Igit, Igun dibelakangnya memegang pundak Igit dengan posisi wajah serong ke kanan, dan saya di belakang Igun dengan wajah agak serong ke kiri. Tidak ada pengarah gaya saat itu. Hanya ingin meniru pose Swami saja. Sampai sekarang foto itu masih terpasang di kamar depan, meskipun hanya cetakan perbesaran copy laser. Negative dan juga foto aslinya sudah tidak karuan rimbanya. 
Upaya itu merupakan usaha pertama dan terakhir mewujudkan foto keluarga kami. Karena sejak itu tidak pernah lagi kami foto bersama. Memang ada foto kami bersama sekeluarga, tetapi bukan merupakan foto keluarga kami, karena foto itu memuat seluruh keluarga mbah saya Martodimulyo dari anak, cucu hingga cicit yang ada. (*)