Jumat, 11 Agustus 2017

CINTA PERTAMA




Di Balik Cinta Pertama

S
ebuah kebahagiaan yang begitu besar bagi kami, akhirnya naskah terjemahan Maxim Gorky berjudul Cinta Pertama ini bisa terbit. Setelah melewati waktu yang panjang sejak pertama kali kami menemukannya. Kalau diceritakan, beginilah alurnya:
Ketika itu kami diundang oleh keluarga Pak Koesalah Soebagyo Toer menghadiri pemberian hadiah Pushkin Award yang diberikan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, kepada mendiang Koesalah Soebagyo Toer atas jasa-jasanya memperkenalkan kesusasteraan Rusia kepada masyarakat Indonesia dengan menerjemahkan karya-karya sastra Rusia selama lebih dari lima puluh tahun. Acara tersebut diselenggarakan di Jakarta bertepatan dengan National Day of Rusia di Hotel Mega Kuningan.
Sehari sebelum acara kami sudah ada di rumah keluarga Koesalah Soebagyo Toer. Ketika itu Ibu Utati, menyarankan kami untuk menerbitkan ulang buku Ibuku di Surga karya Koesalah Soebagyo Toer yang sebelumnya pernah dicetak secara, kalau zaman sekarang disebut, indie. Menurut Ibu Utati, buku itulah yang, “paling siap naik cetak.” Tentu saja merupakan sebuah kehormatan bagi kami dapat menerbitkan buku mendiang Koesalah Soebagyo Toer. Walau tak setenar sang kakak, Pramoedya Ananta Toer, namun bagi para pecinta sastra Tanah Air tentu tahu. Selain dikenal sebagai penerjemah, Koesalah Soebagyo Toer adalah penulis kronik, memoar, puisi, lagu, cerpen, novel, cerita anak-anak, dan di kalangan penjual buku (bekas maupun baru) dikenal sebagai dokumentator andal.
Kami memperoleh izin menyalin data dari komputer Pak Koesalah Soebagyo Toer. Kesempatan ini kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semua data kami salin. Ketika kembali ke Blora dan memeriksa data dari komputer Pak Koesalah tersebut, kami menemukan begitu banyak naskah, baik yang sudah maupun yang belum terbit. Di antara begitu banyak naskah “yang terserak dan yang tercecer” itulah kami menemukan naskah terjemahan Cinta Pertama ini. Melihat bahwa buku ini ditulis oleh Maxim Gorky yang notabene berasal dari Rusia, dan didukung oleh fakta bahwa Pak Koesalah Soebagyo Toer adalah salah satu penerjemah terbaik Indonesia, terutama menerjemahkan buku-buku sastra dari Negeri Beruang Merah, kami berpikir tentu ini salah satu terjemahannya. Untuk beberapa lama, kami terpaku pada pemikiran ini.
Selama beberapa lama kami disibukkan dengan promosi dan penyebaran buku-buku kami yang sudah terbit. Ketika kami tanyakan beberapa orang penjual buku, mereka semua belum mengetahui naskah terjemahan ini pernah terbit di Indonesia. Hal ini tentu sangat menggembirakan kami. Itu artinya jalan untuk menerbitkan naskah terjemahan ini akan lebih mudah.
Ketika kami membuka kembali naskah terjemahan ini seluruhnya, barulah kami mengetahui bahwa ternyata bukan Pak Koesalah Soebagyo Toer yang menerjemahkannya melainkan Pak Ladinata. Kami tidak berkecil hati. Karena memang semenjak menemukan naskah-naskah dalam komputer Pak Koesalah Soebagyo Toer, kami memiliki komitmen untuk sesegera mungkin menerbitkannya.
Pada awalnya, kami berpikir untuk “menahan” naskah-naskah terjemahan setidaknya hingga tahun 2019. Kami berniat menerbitkan naskah-naskah lain dari Pak Soesilo Toer dan Pak Koesalah Soebagyo Toer. Namun, “godaan cinta pertama” seorang Maxim Gorky tak mampu kami tahan. Dia begitu “seksi” hingga akhirnya hati kami luluh. Kami berpikir, daripada nanti didahului penerbit lain. Maka, pada suatu hari, kami mencoba menghubungi penerjemah via email yang tertera di bagian bawah lampiran naskah. Setelah menunggu sekian lama, email tersebut tidak berbalas. Kami sempat berpikir, apakah ini suatu pertanda buruk?
Pada suatu malam ketika di Jogja, akhirnya kami memutuskan untuk menghubungi kontak penerjemah via nomor handphone. Ketika kami misscall, tersambung. Berarti masih aktif, pikir kami. Kami kemudian memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud dan tujuan menghubungi penerjemah. Lama kami menunggu pesan balasan. Kembali pikiran kami tak keruan. Menghabiskan waktu dengan harap-harap cemas menunggu kepastian soal “naskah seksi” tersebut.
Ketika penerjemah membalas pesan kami, alhamdulillah beliau merasa sangat senang dengan tawaran kami. Bahkan beliau merasa tersanjung menerbitkan terjemahannya pada penerbitan milik keluarga besar Toer ini. Walaupun mengetahui bahwa kami hanyalah penerbit indie abal-abal dengan julukan penerbit liar, namun tak bisa dimungkiri nama mendiang Pak Koesalah Soebagyo Toer masih mempunyai pengaruh besar di mata pecinta sastra Tanah Air.
Penerjemah menceritakan kepada kami bahwa sebenarnya “naskah seksi” ini sudah pernah dikirim ke penerbit besar di Jakarta dan Jogjakarta, namun pihak penerbit menginginkan dilakukan penyuntingan secara radikal. Jurang perbedaan ini sangat mengganggu penerjemah. Penerjemah tidak ingin hal demikian terjadi. Penerjemah merasa tugasnya adalah menerjemahkan, bukan menyadur atau mengarang, sesuatu hal yang diinginkan dari pihak penerbit besar tersebut.
Entah ini rezeki kami selaku penerbit, atau memang si “seksi” ini dan sang penerjemah berjodoh dengan kami, entahlah. Yang jelas, penerjemah dengan senang hati menerbitkan Cinta Pertama di Pataba Press dengan syarat tidak diubah secara radikal dan menunggu keputusan dari penerjemah pada bulan Maret, mengingat naskah terjemahan ini ingin dijadikan sebagai bahan penelitian. Tentu saja dengan senang hati kami menyanggupi. Kami selaku penerbit berpikir bahwa tugas kami adalah untuk menerbitkan naskah penulis atau penerjemah sebaik mungkin, bukan untuk mengubah naskah tersebut. Soal diterima dengan baik atau tidak, itu menjadi kewenangan pembaca. Biar nanti waktu yang akan menjawab, apakah naskah tersebut diterima pembaca atau tidak, bukan kami yang harus menjawab, melainkan pembaca. Kami percaya dengan kata-kata Chairil Anwar: “Semua berhak dapat tempat.” Dan prinsip itu kami pegang sebagai penerbit indie liar sampai saat ini.
Naskah segera kami cetak untuk dikoreksi oleh Pak Soesilo Toer yang memang gaptek – tidak memakai komputer apalagi laptop. Begitu kami kembali ke Blora, segera naskah kami berikan dan dalam dua hari selesai dikoreksi. Memang Pak Soesilo mengaku ada beberapa kata yang tidak dimengerti. Melihat pada kata tersebut, nampaknya bukan kata bahasa Indonesia, melainkan Malaysia. Kebetulan kami menjalin kerja sama dengan penerbit dan penjual buku dari Malaysia. Dia adalah Zaidi Musa, pemilik penerbitan Kedai Hitam Putih dari Kelantan. Beberapa kata yang tidak kami mengerti kami tanyakan dan dia menjelaskan makna atau padanannya dalam bahasa Indonesia. Walaupun ada beberapa kata yang dia juga tidak mengerti, namun bantuannya sangatlah membantu kami lebih memahami isi buku ini. Pak Soesilo Toer sendiri mengaku bahwa gaya menulisnya memang seperti Maxim Gorky, persis seperti terjemahan Cinta Pertama ini. Jadi, tanpa melakukan koreksi radikal terhadap cerita Maxim Gorky ini, kita dapat mengetahui, O, seperti inilah gaya tulisan Maxim Gorky sebenarnya.
Dengan sabar kami menanti keputusan dari penerjemah. Mengulang kembali saat-saat menunggu dengan harap-harap cemas menanti kepastian. Mungkin kami juga harus mempersiapkan diri kalau sewaktu-waktu terkena serangan jantung karena keputusan yang kami terima tiba-tiba saja jauh dari yang kami harapkan.
Semua kekhawatiran itu sirna ketika pagi ini  penerjemah menghubungi kami. Beliau menanyakan perihal apakah Pak Soesilo Toer sudah selesai menyunting si “naskah seksi” dan kami mengirimkan naskah yang sudah dikoreksi oleh Pak Soesilo Toer beserta dengan catatan koreksi yang kami lakukan. Syukur alhamdulillah, sang penerjemah merasa senang sekali dengan hasil koreksi Pak Soesilo Toer. Beliau juga senang lantaran Pak Soesilo Toer mengoreksi dengan menggunakan padanan kata dalam bahasa Indonesia agar lebih dimengerti pembaca. Kami selaku penerbit pun merasa begitu berbahagia bisa memperkaya kesusasteraan Indonesia dengan karya-karya terjemahan Rusia. Bagi kami, ini adalah sebuah awal yang begitu baik untuk menerbitkan karya-karya sastra dunia lainnya. Semoga ke depannya kami bisa menjadi penerbit yang lebih baik daripada sekarang. Penerbit yang bukan hanya mengejar keuntungan semata, namun bisa memiliki sumbangsih untuk keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara, lebih-lebih dunia. Amin.
Dalam pengantar ini kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Pak Ladinata yang telah mempercayakan kami untuk menerbitkan naskah terjemahannya, kepada Zaidi Musa yang telah membantu mengartikan kata-kata yang tidak kami mengerti, kepada Pak AC Andre Tanama yang telah “mengubah” sketsa Kamiskaya untuk “menyatukan” Maxim Gorky dengan cinta pertamanya, Olga Yulievna, kepada semua kawan-kawan yang telah membantu Pataba Press tanpa bisa kami sebutkan satu per satu, dan tentu saja tak boleh kami lupakan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mendiang Pak Koesalah Soebagyo Toer dan keluarga yang telah mengizinkan kami “membajak” komputer sehingga naskah ini kami temukan dan sekarang bisa kita baca bersama-sama. Akhir kata, kami selaku penerbit mengucapkan selamat membaca. Selamat mencari cinta pertama.

Blora, 10 Februari 2017, 20:50

CINTA PERTAMA


“Dapatkah kau rasakan betapa aku mencintaimu? Aku tidak pernah bisa mengalami begitu banyak kegembiraan, sebanyak seperti yang aku rasakan ketika denganmu. Ini sungguh benar: percayalah! Tidak pernah aku mencintai dengan begitu penuh rasa kasih, dengan begitu penuh kelembutan, juga dengan begitu senang hati. Dengan perasaan takjub, bersamamu, aku merasa baik-baik saja...”


Spontanitas yang Maxim Gorky perlihatkan menghajar saya sebagai sesuatu yang sangat unik
Stefan Zweig –  

Inilah karya Maxim Gorky yang banyak dipuji orang karena keindahan dan melankolitasnya. Penuh dengan data yang jarang ditemukan orang. Sebuah karya yang berkiblat pada kepincangan sosial pada umumnya.
Soesilo Toer –
 

Penulis: MAXIM GORKY
Penerjemah: LADINATA
Penyunting: SOESILO TOER
Penerbit: PATABA PRESS
Cetakan Pertama: Maret, 2017
Tebal Buku: xx + 104 halaman, 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-60211-8-2
Harga: Rp. 50.000