Sabtu, 12 Agustus 2017

EUTANASIA




Pengantar

Tadinya saya tahu kota Tuban hanya sebatas legenda “watu tiban” atau “metu banyune” saja, atau dari lakon wayang krucil yang katanya ciptaan Pangeran Pekik dari Madura. Pada zaman permulaan kemerdekaan dikenal Kesatuan Ronggolawe yang dikomandani oleh Jenderal Djatikoesoemo. Pada era Orde Baru saya membaca buku Arus Balik yang sebagian besar berlatar Tuban dengan tiga tokoh utama Wiranggaleng, Idayu, dan sang “Ulasawa.” Belakangan ini saya mencoba mengenal Tuban langsung dengan pecel lele dan ikan bakarnya yang dahsyat nikmat dan harganya. Untung saja ada wartawan Tuban yang filantrop tulen. Dari dialah saya mengenal kelenteng yang begitu megah dan menakjubkan, yang dalam cerita “Rey” dikatakan “terbesar se-Asia Tenggara se-Asia Tenggara dan dengan berani menantang laut lepas yang terhampar luas di depannya.” Sama seperti Museum Geologi Bandung yang membuat diri kita seperti debu dibandingkan dengan alam semesta.
Ternyata kota pantai Laut Jawa ini juga penuh dengan sesuatu yang menakjubkan diri saya. Begitu banyak tradisi lama yang tersimpan tanpa peduli meski dunia sudah demikian maju. Dunia maju yang juga penuh dengan dekadensi abad 21, narkoba, budaya modern kota besar yang berasimilasi dengan tradisi dan budaya local pedalaman. Semua itu sedikit banyak terkuak dalam karya Linda Tria Sumarno ini. Gaya menulis seperti film detektif yang penuh dengan kejutan, teka-teki, yang endingnya harus kita ciptakan sendiri. Edan! Secara acak dapat kita baca Alia, Rey, Sekar, Jasmin, dll. Kita bak dipermainkan ombak pantai Laut Jawa di Tuban dan akhirnya kita terbenam batu tiban besar yang seharusnya menyakitkan, namun justru kita merasakan nikmat berkepanjangan yang tragis sekaligus romantis. Membaca cerpen Linda Tria Sumarno ini saya hanyut terbawa arus air mata sendiri. Sudah lama saya tak menikmati karya yang sedikit ngelantur, namun pas. Sebuah kisah sederhana tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di sekeliling kita. Dengan jeli penulis menangkap kejadian-kejadian biasa tersebut dan mengubahnya menjadi kisah yang luar biasa.
“Senandung Senja Sang Veteran” adalah hasil nyata Revolusi 1945. Banyak pejuang cacat yang tak memperoleh pension, namun puluhan ribu lagi dengan tipu daya mengaku sebagai veteran. Ada seorang yang mengaku veteran dengan bangga pamer sumber hidupnya dari tiga jenis pension: veteran 45, veteran Trikora, dan pension atas nama istri yang seorang bekas pegawai negeri, namun pada kenyataannya angkat senjata pun tidak pernah. Tokoh Mbah Tejo sama dengan yang dialami Prawito Toer, adik Pramoedya Ananta Toer, yang jelas cacat, dipensiun dini dan dicabut hak pensiunnya karena difitnah sebagai orang kiri. Lalu siapa yang harus membela? Yang lucu ada di negeri ini seorang generalissimo – jenderal bintang lima, entah menang perang lawan siapa hingga mendapat bintang begitu banyak. Dalam suatu acara resmi internasional yang ditandai dengan tembakan pistol sebagai pembukaan resminya, eh… tidak tahu cara menembakkan pistol itu! Edan!
“Luka di Tepian Kali Kening” adalah banyak fakta yang terjadi di negeri ini. Sungguh, untuk pertama kali saya menikmati alur ceritanya. Sebuah tragedi kemanusiaan yang tak termaafkan. Pendeknya membaca kumpulan cerpen Linda Tria Sumarno ini semoga saja merupakan titik awal kebangkitan dunia seni sastra Indonesia untuk bersinar kembali menandingi gaya dekaden yang pernah saya nilai sebagai angkatan pertama millennium tiga.
Sebagai penutup, gaya nglantur Linda Tria Sumarno saya yakin akan mengungguli keindahan “raja nglantur” kenamaan, Ivan S Turgenev, pengarang kelahiran Rusia abad 19. Akhir kata, selamat dan terus berkarya!

Blora, 28 Mei 2017 
Soesilo Toer

Ratri tak sudi menemui ibunya yang sedang meregang nyawa. Terlintas di mata Ratri, ibunya yang malam itu pulang entah dari mana. Ibunya selalu pergi siang hari dan pulang larut dengan seorang lelaki yang bukan bapaknya. Ia juga tak bisa melupakan malam di mana ia harus merasakan pedihnya luka yang digoreskan lelaki ibunya itu, lelaki yang merenggut masa depannya dengan paksa tatkala ibunya tengah terlelap tidur. Ratri membenci ibunya. Hidupnya semakin terpuruk, saat bapaknya pulang dari Malaysia tanpa memberi kabar dan mendapatu ibunya sedang bercumbu dengan lelaki lain. Terjadi pertengkaran hebat antara bapaknya dengan lelaki ibunya. Hingga membuat ibunya kalap dan menikam bapaknya sampai meregang nyawa di hadapannya. Satu hal yang tidak mungkin Ratri lupakan dan maafkan seumur hidup, bahwa ibunya sendirilah yang membuatnya menjadi yatim.

Gaya menulis seperti film detektif yang penuh dengan kejutan, teka-teki, yang endingnya harus kita ciptakan sendiri. Edan! Secara acak dapat kita Alia, Sekar, Jasmin, dll. Kita bak dipermainkan ombak pantai Laut Jawa di Tuban dan akhirnya kita terbenam batu tiban besar yang seharusnya menyakitkan, namun justru kita merasakan nikmat berkepanjangan yang tragis sekaligus romantis. Membaca cerpen Linda Tria Sumarno ini saya hanyut terbawa arus air mata sendiri.
Soesilo Toer –


Penulis: LINDA TRIA SUMARNO
Penyunting: SOESILO TOER
Penerbit: KOMUNITAS KALI KENING & PATABA PRESS
Cetakan Pertama: Juni, 2017
Cetakan Kedua: Agustus, 2017
Tebal Buku: xii + 132 halaman, 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-61434-7-1
Harga: Rp.55.000