Sabtu, 12 Agustus 2017

KISAH HARUBIRU SANG PENGOCEH




Kata Pengantar
Oleh Soesilo Toer

Ketika libur lebaran kemarin datang seseorang dari daerah Bulu, Rembang, tempat di mana dimakamkan wanita sejati Indonesia, RA Kartini. Ketika itu dia membeli buku Cinta Pertama yang dijual di Perpustakaan Pataba. Selain itu, dia juga bercerita memiliki naskah dan hendak diterbitkan. Saya menyuruh dia mencetak dan memberikannya kepada saya. Nama orang itu adalah Danang Pamungkas, yang naskahnya saya sunting dan  saat ini sedang pembaca pegang.
Dalam bukunya, Danang Pamungkas berterus-terang mengakui perubahan drastis hidup di desa dan di kota besar. Apalagi kota besar yang dimaksud adalah Yogya yang terkenal sebagai kota pelajar. Bukan hanya nasional, melainkan juga internasional. Yogya tak beda dengan kota Praha di Cekoslovakia sebagai kota pemuda sesudah Perang Dunia II atau Moskow sesudah tahun 1960 sebagai kota mahasiswa sedunia di mana mahasiswa yang meliputi setengah juta orang dari lebih seratus negara belajar di sana,
Saya percaya, setiap buku punya makna dan tujuan, baik secara terbuka ataupun tersembunyi. Itu urusan dan rahasia sang penulis sendiri. Buat saya, yang paling jelas dari buku ini adalah bukan lahir dari persoalan orang lain, melainkan lahir dari pengalaman pribadi. Bukan buku pesanan demi imbalan tertentu dari tokoh yang ia tulis.
Sebagai sama-sama bekas mahasiswa yang berbeda rentang waktu lebih dari 60 tahun (antara pertengahan abad 20 dan permulaan milenium ketiga) jelas memiliki banyak perbedaan, walau ada juga sisa-sisa kesamaannya. Yang jelas, perubahan orde membawa konsekuensi tersendiri dalam dunia pendidikan. Hal itu nyata dikemukakan oleh Danang Pamungkas. Satu yang saya rasakan, Danang Pamungkas terlihat banyak membaca buku. Nyata dari banyak tokoh yang disebut dan sitiran kata-kata sang tokoh dalam buku ini.
Soal penilaian terhadap tokoh, itu urusan Danang Pamungkas pribadi. Dan, itu buat saya sangat positif. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin dewasanya sang tokoh ini, pasti akan makin objektif apa yang pernah ia kemukakan dan ia nilai. Seperti kata-kata dia sendiri, dialektika hidup dengan segala konsekuensinya.
Satu hal yang misterius buat saya adalah disebutkannya tokoh yang menurutnya di atas rata-rata tokoh lain. Banyak nama tokoh seperti itu, sebut saja Bob – raja kayu lapis Indonesia dan salah satu tokoh di balik dendam tersembunyi sang tokoh utama, Fuad – bekas menteri PDK Orde Baru dengan apologia-nya Sokrates, Basri – tokoh dalam kabinet Presiden ke-7 RI. Dan masih banyak yang lain memerlukan catatan kaki.
Ada juga hal yang menarik ketika Danang Pamungkas menyebut dirinya proletar. Padahal kalau menyimak naskah dari kalimat pertama sampai titik terakhir tidak ada sama sekali gejala seperti itu. Itu kalau menurut sejarah lahirnya istilah tersebut, kapan dan di mana lahirnya.
Pernah di Indonesia ada tokoh yang berupaya membangun perekonomian Indonesia yang dia sebut sebagai ekonomi Pancasila dengan tiang utama etatisme. Nama ahli ekonomi mikro dari UGM itu melambung sebentar dan kemudian tenggelam begitu saja sekitar tahun 1980. Seingat saya, bahkan saya ingin berpolemik lewat surat kabar terbesar di Indonesia. Waktu itu belum berkembang HP. Namun surat kabar tersebut menolak dengan alasan tidak menerima polemik. Doktor ekonomi itu sangat akrab dengan para wartawan, tetapi begitu diangkat menjadi tokoh DPR/MPR menolak menemui wartawan. Tokoh yang begini menurut Abraham Lincoln (Presiden Amerika Serikat yang terbunuh) jelas bukan tokoh baik.
Menurut Sokrates, negara baik itu dipimpin oleh orang baik. Cara untuk menguji orang baik itu adalah dengan memberikan dia jabatan. Berubah atau tidak ketika orang itu mempunyai jabatan, kata Abraham Lincoln. Perubahan yang dimaksud Abraham Lincoln tentunya adalah 3T (tahta, harta, dan kalau lelaki - wanita).
Saya percaya pada ajaran dialektika fanta rei yang mengajarkan semua mengalir, semua berubah. Termasuk diri seseorang: berubah umur, rambut. Cuma perubahan itu bagi setiap orang terasa berbeda, karena setiap individu adalah manusia tunggal dengan citarasa berbeda pula. Jadi, adanya adagium rasa tak bisa diperdebatkan, dalam hal ini, berlaku hukum tersebut. Danang Pamungkas membuktikan itu dalam tulisannya. Dia melukiskan apa saja yang dia alami dengan lugas, pas, dan menarik dibaca dan dipelajari. Berbagai kesukaran dalam studi, berbagai uneg-uneg dalam bergaul, berbagai langkah konyol seorang pemuda meningkat remaja, tumplek blek dia tulis. Terutama dalam kaitannya dengan birokrasi kampus dan perguruan tinggi di mana dia menempuh studi yang dia pilih sendiri. Dan, dengan berbagai kesukaran itulah akhirnya ia berhasil lulus sebagai sarjana seperti yang ia cita-citakan. Itu terbukti dari skripsi yang ia tulis. Karena itu, hai mahasiswa, bacalah tulisan Danang Pamungkas ini sebagai contoh kasus nyata bagaimana berjuang mewujudkan cita-cita.

Blora, 31 Juli 2017
Soesilo Toer


Hidup di kota besar bukanlah hal mudah bagi Mayong. Ia menemukan ketidakadilan, penindasan, ketidakmanusiawian dan juga kebodohan yang menjadi ciri bangsanya. Ia berharap banyak dengan pendidikan tinggi akan membuatnya menjadi manusia bebas dan bermartabat bagi dirinya. Namun lika-liku kehidupan yang menerjang membuatnya pesimis dengan harapan yang telah ia imajinasikan dalam alam pikirannya selama ini. Wanita silih-berganti mengisi hidupnya, baik wanita berdarah Melayu maupun wanita berdarah Jawa. Namun malang nasib Mayong, tidak satu pun dari mereka mampu membuatnya sadar bahwa asmara itu tidak hanya dirasionalkan saja, tetapi juga membutuhkan sesuatu hal yang tidak bisa ia temukan di lingkungan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Novel ini seperti membawa diri saya sendiri menelusuri masa lampau; masa di mana kampus bukan berisi pekarangan, melainkan penentangan. Masa di mana kehidupan kuliah bukan diisi oleh kedatangan, melainkan kehadiran sebuah mimpi.
Eko Prasetyo –
Lugas, pas, dan menarik dibaca dan dipelajari. Berbagai kesukaran dalam studi, berbagai uneg-uneg dalam bergaul, berbagai langkah konyol seorang pemuda meningkat remaja, tumplek blek dia tulis.
Soesilo Toer –

Penulis: DANANG PAMUNGKAS
Penyunting: SOESILO TOER
Penerbit: PATABA PRESS
Cetakan Pertama: Agustus, 2017
Tebal Buku: xvi + 184 halaman, 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-61940-2-2
Harga: Rp. 70.000