Kamis, 14 September 2017

KULKAS & TUJUH POHON KELAPA



Aku membuka pintu belakang. Aku kaget. Halaman belakang rumah yang dulu gersang kini telah berubah menjadi teduh. Beraneka pohon tumbuh di sana, menjulang tinggi dengan buah-buah yang lebat, siap untuk dipetik. Beberapa tandan pisang raja siang dipanen, buah nangka siap diambil, buah sirsak bergelantungan, dan yang paling membuatku terkejut adalah pohon kelapa yang menjulang tinggi dengan buah yang lebat.
Aku ingat, dulu ada tujuh pohon kelapa yang aku tanam bersama bapak. Kini, tujuh pohon kelapa itu berhasil bertahan melewati musim hujan dan kemarau. Aku memandang tujuh pohon kelapa yang berdiri kokoh itu dab dakan hati aku tak henti berdoa, semoga tujuh pohon kelapa itu mampu mengubah hidup kami: aku, bapak, dan emak.
Seperti buku sebelumnya, Rohmat Sholihin dalam buku ini juga mengembara dalam belantara peristiwa hidupnya yang romantis sekaligus tragis dan tak lepas dari persoalan tempat di mana dia bermukim. Peristiwa-peristiwa yang terjadi tak berbeda jauh dengan yang pernah saya alami. Oleh karena itu saya sangat asyik membaca kumpulan cerpen ini; seperti menapaktilasi masa lebih 65 tahun silam: kemelaratan, sinisme, suka-duka bersama orang sekitar, termasuk di dalamnya isu-isu yang melukai hati, perasaan... pendek kata, membaca karya Mas Rohmat Sholihin membimbing saya menelusuri lorong masa lalu yang sekarang telah menjadi sejarah.
Soesilo Toer -

Penulis: ROHMAT SHOLIHIN
Penyunting: SOESILO TOER
Penerbit: KOMUNITAS KALI KENING & PATABA PRESS
Cetakan Pertama: September, 2017
Tebal Buku: xvi + 272 halaman, 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-61940-3-9