Jumat, 08 September 2017

KOMPROMI





Dari Penerbit

Suatu hari, tanpa sengaja kami menemukan kertas tanda terima dari Prof. Dr. Andries Teeuw di Jakarta bertanggal 27 Januari 1975 yang menyatakan telah menerima dua buah naskah tulisan Soesilo Toer berjudul Kompromi dan Anak Bungsu yang diantarkan oleh Hermanoe Maulana (suami Is, salah seorang kakak perempuan dari Soesilo Toer). Bila melihat tanggal tersebut, ketika itu Soesilo Toer masih mendekap dalam penjara Orde Baru di Kebayoran Lama. Sebelumnya, kedua naskah tersebut dititipkan oleh penulis pada Theo van Bausekom sekitar tahun 1973, baru kemudian diserahkan kepada Pak Hermanoe Maulana. Pada tahun 1975 ketika Prof. Dr. Andries Teeuw mendapat gelar Honoris Causa bahasa Jawa dari Universitas Indonesia, Pak Hermanoe Maulana memberikan kedua naskah itu kepada Prof. Dr. Andries Teeuw ketika penulis masih mendekap dalam penjara Orde Baru di Kebayoran Lama.
Bila Anak Bungsu sudah lebih dulu kami temukan dan kami ketik ulang, namun bagaimana dengan Kompromi? Kami sama sekali tidak mengetahui apalagi melihat naskah tersebut dan bagaimana nasibnya? Hilang, terselip, dimakan rayap, atau bagaimana? Dalam keadaan yang masih abu-abu soal naskah tersebut, ketika ada kesempatan berkunjung ke Depok, kami sempat bertanya kepada Ibu Oetati, istri mendiang Pak Koesalah Soebagyo Toer, apakah memiliki alamat Pak Andries Teeuw atau tempat di mana kira-kira beliau menyimpan koleksinya. Sayangnya, semua usaha pencarian naskah Kompromi gagal.
Entah kebetulan atau memang sudah menjadi jalannya, tanpa sengaja naskah itu berhasil ditemukan dalam koper yang berisi kumpulan dokumen penulis selama ke luar negeri. Naskah yang berhasil ditemukan itu sudah terkumpul secara urut dan lengkap, walaupun tidak begitu rapi karena diketik pada kertas tipis seperti biasa digunakan untuk membungkus roti. Sama halnya dengan Anak Bungsu dan Dunia Samin 2, Kompromi ditulis ketika penulis belajar di luar negeri. Dari tanggal yang tercatat pada naskah tersebut menunjukkan bahwa naskah mulai ditulis pada 12 November 1969 dan selesai pada 21 November 1969, atau dalam tempo sekitar sepuluh hari, di mana antara satu bab dengan yang lain hanya berselisih hari saja. Hal itu memberitahu kepada kita, ketika itu penulis sedang memiliki mood yang sangat bagus untuk menulis.
Dalam naskah tersebut tahulah kami bahwa buku ini pada mulanya berjudul Di Antara Dua Kaki Gunung Batu merujuk pada perbandingan antara dua gunung batu dari dua negara di dua belahan dunia; satu di Wonosari, Gunung Kidul, Jogjakarta yang ada di Pulau Jawa, satunya lagi di Kamenka, sebuah kota kecil di Republik Moldavia. Dan isi buku ini memang memperbandingkan kedua gunung batu tersebut, tentu saja bersama dengan para tokoh yang mendiami. Para tokoh wanita dari kedua gunung batu itulah yang telah menginspirasi menulis buku ini, ditambah dengan seorang tokoh wanita dari gunung lainnya di daerah Jawa Barat. Praktis inti cerita buku ini adalah tentang kisah percintaan antara sosok aku dengan ketiga wanita tersebut. Sebuah kisah yang tak kalah romantis dan tragis bila dibandingkan dengan Anak Bungsu, novel ini termasuk dalam salah satu karya terbaik Soesilo Toer.
Pada medio tahun 1959-1960 penulis pernah menulis fragmen Wonosari yang dimuat dalam majalah Widjaja selama beberapa edisi. Ketika pengantar ini dibuat, beberapa bagian dari fragmen Wonosari tersebut berhasil kami temukan. Ke depannya, kami yakin, dengan usaha, kerja keras, dan bantuan dari beberapa kawan penjual buku, akan berhasil mengumpulkan fragmen tersebut secara lengkap untuk kemudian kami terbitkan ulang. Semoga saja.
Melihat pada apa yang ditulis (baik itu Kompromi maupun beberapa fragmen Wonosari yang sudah kami temukan), terlihat dengan jelas Wonosari memiliki tempat khusus di hati penulis, tempat spesial yang bahkan tak mampu menandingi, seperti yang penulis katakan, “Paris yang agung, London yang hebat, Berlin yang cemerlang, dan Moskow yang besar. Semua kota-kota terkenal di dunia itu tak mampu menandingi sebuah kota gersang di kaki Pegunungan Seribu: Wonosari.”
Kalau bukan karena sesuatu hal yang spesial, mana mungkin penulis akan menjawab dengan tanpa ragu-ragu Wonosari sebagai kota yang paling banyak memberikan kenang-kenangan dalam hidupnya. Bukankah kata-kata itu yang menjadi kalimat pembuka dari novel yang ditulis ketika penulis berada di luar negeri ini? Belum cukup, cobalah tengok bagaimana Soesilo Toer menggambarkan Wonosari dalam buku ini:
Di sana, di antara kemiskinan, kenanaran, aku menemukan kehangatan dan keagungan cinta pertama dalam hidup. Itu terjadi hampir lima belas tahun yang lalu. Namun rasanya, waktu tidak bisa menghapus kenang-kenangan indah itu dari ingatanku. Kalau kemudian aku menemukan kegembiraan hidup baru, keindahan hidup baru, kenalan baru, semua itu hanyalah duplikat dari keindahan yang kureguk dari kota gersang, Wonosari. Wonosari tidak ada duanya dalam hidup ini, ia satu-satunya, ia tidak terulang kembali selamanya.
Dengan terbitnya buku ini, semakin banyak resensi kita untuk memperbandingkan alam pikiran dari penulis, sebelum ke luar negeri, ketika di luar negeri, dan setelah kembali ke Indonesia, bahkan jauh berpuluh tahun setelah penulis vakum dari dunia kesusasteraan Indonesia. Lebih dari itu, kita pun dapat melihat sudut pandang penulis berkait soal cinta. Persoalan yang tidak akan pernah ada habisnya di dunia ini. Akhir kata, selamat menikmati, selamat jatuh cinta.

Blora, 9 Juni 2017, 16.40