Selasa, 16 Agustus 2016

PRAM DALAM TUNGKU




Tanpa terasa sepuluh tahun berlalu sudah semenjak kepergian sastrawan kondang Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Untuk mengenang hari meninggalnya, 30 April 2006, didirikanlah Perpustakaan Pataba di rumah peninggalan Mastoer di Blora. Upaya itu selain untuk mengenang jasa-jasa Mastoer dalam dunia pendidikan di Kota Sate, juga untuk mengenang Pramoedya Ananta Toer. Buku ini merupakan buku seri kelima tentang Pramoedya Ananta Toer yang menjadi kado ulang tahun kesepuluh Perpustakaan Pataba bagi para penggemar Pramoedya Ananta Toer di mana pun berada dan untuk melengkapi keempat seri sebelumnya: Pram dari dalam, Pram dalam Kelambu, Pram dalam Bubu, dan Pram dalam Belenggu. Kami selaku penerbit tak menutup kemungkinan untuk menerbitkan buku Pram dalam Tungku jilid dua, tiga, dan seterusnya apabila ada tulisan- tulisan lain tentang Pramoedya Ananta Toer yang kami terima.
Selama ini, Jalan Sumbawa tempat Perpustakaan Pataba beralamat, tercatat sudah beberapa kali berganti nama seperti dapat kita lihat pada catatan Soesilo Toer dalam buku Pram dari Dalam.

Yang diketahui oleh umum, dan sekarang pun hanya tinggal beberapa orang yang tahu, kali pertama disebut Jalan Pasar Pari, karena di ujung timur jalan ini ada pasar. Bisa diduga dulu Blora daerah penghasil padi. Ketika dibuka lembaga penelitian tentang ternak, Blora berhasil meningkatkan    populasi    ternak    sapi    secara


signifikan, bahkan sampai dewasa ini. Pasar Pari diubah menjadi Pasar Khewan. Jalan Pasar Khewan kemudian diubah lagi menjadi Jalan Pejagalan, ketika di depan pasar dibuka tempat pemotongan ternak. Karena istilah pejagalan dianggap terlalu kejam kemudian diubah menjadi Jalan Pemotongan. Nama jalan itu bertahan sampai tahun 1949.

Lalu, ketika Orde Baru berkuasa,  Jalan Pemotongan diubah menjadi Jalan Sumbawa hingga sekarang.
Ketika memperingati seribu hari meninggalnya Pramoedya, berbagai komunitas mengusulkan Jalan Sumbawa menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer. Usaha untuk mengenang pengarang Blora itu gagal, karena tidak ada respons dari dinas terkait. Demikian juga tidak ada tanggapan ketika ahli waris Toer menghibahkan tanah bekas Sekolah Instituut Boedi Oetomo (IBO) kepada negara, demi generasi muda. Sebagai salah satu syarat antara lain Jalan Galingsong, di mana tanah itu terletak, diubah menjadi Jalan Mastoer.
Namun, sampai detik ketika penerbit menuliskan semua ini, nama jalan tersebut tetaplah demikian adanya. Bahkan yang menyedihkan, Jalan Sumbawa sudah diganti secara sepihak oleh para pembuat Master Plan Blora dengan nama Jalan Ambon. Melihat hal itu, penerbit pun tidak ingin kalah. Sejak kali pertama menerbitkan buku secara resmi di bawah naungan Lembaga Kajian Budaya dan Lingkungan Pasang Surut dalam buku Pram dalam Kelambu, kami pun mengklaim secara sepihak jalan tempat Perpustakaan Pataba beralamat adalah Jalan Pramoedya Ananta Toer (eks Jalan Sumbawa) Nomor 40. Begitu pun ketika beberapa kawan mengirimkan surat atau paket kepada kami, banyak yang sudah melakukan hal yang sama. Dengan harapan, seiring perjalanan waktu, orang akan makin terbiasa menganggap Jalan Sumbawa sebagai Jalan Pramoedya Ananta Toer dan dengan demikian makin memperkenalkan nama Pramoedya Ananta Toer ke masyarakat Blora khususnya.
Berita soal usulan penggantian nama jalan itu pernah dimuat dalam jaringan (daring) di salah satu radio di Blora. Ketika kami melihat beberapa komentar dari khalayak ramai, masih ada yang belum mengetahui siapa Pramoedya Ananta Toer. Itu tentu sangat menyedihkan. Sosok yang terkenal dan dihormati di dunia itu, justru tidak dikenal di daerah asalnya. Setelah itu pun muncul berita mengenai penggantian nama jalan tersebut di salah satu koran di Jawa Tengah, dan menurut pendapat pejabat terkait, itu merupakan usulan bagus. Namun, usulan bagus yang tidak pernah ada ditindaklanjuti selama tujuh tahun belakangan semenjak kali pertama muncul ketika acara 1.000 Hari Meninggalnya Pram pada 2009 dan sudah 31 tahun semenjak SMPN 5 dihibahkan ke negara.
Maka, untuk makin memopulerkan nama Pramoedya Ananta Toer, penerbit terus berupaya sekuat tenaga, salah satu cara dengan mengadakan lomba menulis untuk pelajar SMP/SMA sederajat, kegiatan dalam rangka hari lahir dan meninggal Pramoedya Ananta Toer, bedah buku, menerbitkan buku, bekerja sama dengan beberapa komunitas dalam dan luar kota Blora, promosi, dan lain sebagainya.
Dan, bila Jalan Sumbawa telah benar-benar berubah menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer, selanjutnya penerbit akan pindah alamat ke Jalan Mastoer (eks Jalan Halmahera) Nomor 53 karena memang sudah seharusnya Jalan Halmahera berganti nama menjadi Jalan Mastoer. Itu sebenarnya sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban pemerintah daerah sebagai bagian dari “perjanjian” dengan keluarga Mastoer ketika menghibahkan tanah yang sekarang dipergunakan untuk bangunan sekolah SMP Negeri 5 Blora.
Dalam perjanjian itu disebutkan, tanah dan bangunan peninggalan dari Dr. Soetomo akan diberikan kepada negara, sedangkan bangunan milik Mastoer akan ditimbun di rumah masa kecil Pramoedya Ananta Toer, tempat sekarang berdiri Perpustakaan Pataba. Selain itu, Jalan Halmahera, di mana bangunan itu berdiri diubah menjadi Jalan Mastoer, dan terakhir adalah pembuatan monumen untuk mengenang jasa-jasa Mastoer. Namun apa daya? Bangunan milik Mastoer tidak diberikan kepada para ahli warisnya, Jalan Halmahera sampai detik ini belum diganti, dan hanya satu permintaan keluarga Toer yang dikabulkan. Itulah pembuatan monumen. Itu pun dengan banyak kesalahan di sana-sini. Nama Mastoer yang hanya Mastoer thok thil, doang aja, tanpa embel-embel lain, ditambahi dengan nama sang bapak, Imam Badjoeri. Di monumen itu juga tertulis “Belajar, Bekerja, dan Berdoa”, padahal itu bukanlah moto Instituut Boedi Oetomo. Itu moto kaum Nasrani abad ke-
17 dari Prancis. Padahal, jelas-jelas Mastoer adalah Islam. Begitu pun sang bapak dan bapak mertua, yang sama-sama merupakan penghulu. Jelas itu adalah penipuan, pemalsuan, pembelokan, dan pembohongan sejarah. Kalau sejarah sudah diselewengkan, lantas bagaimana generasi muda sekarang bisa mengetahui atau bahkan mencintai sejarah? Hal itu masih diperparah oleh minat baca generasi muda sekarang yang memprihatinkan. Mereka lebih senang melihat ketimbang membaca. Kalaupun membaca, jika tidak ada gambarnya, emoh.
Pernah Pramoedya Ananta Toer menyikapi secara kritis moto yang tertulis di monumen itu. Namun tidak ada perubahan. Di kemudian hari, Soesilo Toer melakukan hal yang sama, bahkan siap menanggung biaya perbaikan. Namun sang kepala sekolah, ketika itu, mengatakan tidak kekurangan dana dan berjanji akan mengganti. Lagi-lagi sampai saat ketika pengantar ini diketik, ketika kepala sekolah sudah berkali-kali berganti, tetap tidak ada perubahan. Karena itu, dalam rangka “mendesak” dan “menekan” pemerintah daerah untuk meluruskan sejarah dan menaruh nama Pramoedya Ananta Toer dan Mastoer di tempat semestinya, kami selaku penerbit akan terus berpromosi, mengklaim secara sepihak, dan dalam beberapa tahun ke depan juga akan kami susuli dengan menerbitkan sebuah buku berjudul Perjuangan Sebuah Lembaga Pendidikan, yang mengulas sepak terjang Instituut Boedi Oetomo di dunia pendidikan di kota Blora.
Jika kedua nama jalan itu telah berganti nama, bukan tidak mungkin Pataba akan kembali pindah alamat ke Jalan Pramoedya Ananta Toer VI Nomor 2 RT 19 RW 25 Jetis, Blora. Angka-angka yang tertera di alamat itu tidak lain dan tidak bukan merupakan tanggal lahir Pramoedya Ananta Toer. Memang, Perpustakaan Pataba, yang merupakan rumah peninggalan Mastoer, memiliki letak unik. Seperti para penghuninya yang dipojokkan, rumah itu pun terletak di pojokan dan berdiri sendiri seperti kata Muhidin M. Dahlan. Di sisi utara, di antara pagar dengan SD Negeri Jetis 2 dipisahkan dari jalan menuju ke makam. Pun demikian di sisi timur, yang dipisahkan dari sebuah lorong, barulah dapat ditemui sebuah toko mebe
Ada yang bilang, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan.” Bung Karno juga pernah bilang, “Jas merah, jangan sekali- sekali melupakan sejarah.” Jangan sampai kata-kata Bung Karno itu hanya tersisa “merah” saja. Jangan sampai pula terjadi, orang Belanda menjadi lebih Indonesia ketimbang orang Indonesia sendiri karena “otak orang Indonesia (sudah berada) di Belanda”, seperti kata Gunawan Budi Susanto. Bukankah semua itu akan menjadi ironi yang begitu menyedihkan bagi bangsa sekaya Indonesia?

Maka, sudah menjadi kewajiban generasi muda untuk mengubah dan memperbaiki semua itu ke arah yang lebih baik tentu. Karena, hanya kepada generasi mudalah kita dapat menggantungkan harapan dan hanya generasi mudalah yang dapat melakukan. SEMANGAT BELAJAR!!! SEMANGAT BEKERJA!!! SEMANGAT BERKARYA!!!



Blora, 13 Agutus 2015: 22:30