Selasa, 16 Agustus 2016

SURAT DARI TIMUR JAWA



Sebagian tulisan dalam buku ini sebelumnya sudah pernah terbit dengan judul Surat dari Madura untuk Negeri Edisi 1, namun dicetak dalam jumlah terbatas. Untuk kalangan sendiri. Sebagian besar orang yang berkesempatan membaca berkomentar kalau “aliran” yang diambil oleh penulis sulit dimengerti. Mungkin sama seperti halnya Trisnojoewono atau Afrizal Malna yang karya-karyanya sulit untuk dicerna kebanyakan orang. Karena memang, dalam menilai sebuah karya seni, atau seniman itu sendiri, tidak bisa kita menilainya menggunakan sudut pandang kebanyakan orang pada umumnya. Para seniman itu hidup dalam dunianya sendiri, yang mungkin saja berbeda dimensi dengan sebagian besar orang, dan bila hendak menilainya, maka kita harus ikut masuk ke dalam dunia seniman itu beserta dengan dimensinya. Tidak mudah memang, namun memang harus seperti itu. Dan tugas kami sebagai penerbit adalah menunjukkan kepada dunia pada umumnya: seperti inilah dunia menurut pemikiran Mohammad Ij paling indah. Itulah dunianya dengan segala kebaikan dan keburukannya, positif-negatifnya, hitam-putihnya, dan segala hal yang akan membentuk keseimbangannya sendiri. Kita tidak bisa memaksakan agar dia memasuki dunia yang kita senangi dan sukai.
Pernah Chairil Anwar berkata “Semua berhak dapat tempat,” sementara Pramoedya Ananta Toer berkata, “Tulislah apa pun, suatu saat pasti berguna,” dengan berdasar pada kedua kata-kata dari seniman kelas wahid Indonesia tersebut, maka penerbit berusaha membantu semaksimal mungkin untuk “memberikan tempat” kepada Mohammad Ij dalam dunia sastra tanah air yang semakin kaya dan variatif. Bahkan untuk mulai menulis, memamerkan sebuah karya, sampai menerbitkannya jelas membutuhkan sebuah perjuangan dan tentu saja keberanian tersendiri. Berani malu, jelas. Penerbit percaya bahwa semua tulisan pasti memiliki kegunaan, tinggal bagaimana pembaca yang menilai karya tersebut. Apakah bisa mengambil pelajaran dari buku yang dibacanya itu atau tidak. Tidak ada karya sampah, tapi manusia sampah banyak dan di mana-mana. Kalau sebuah karya baik, tentu akan bertahan lama, akan abadi, sampai jauh di kemudian hari. Dan saat ini penerbit belum bisa memastikan, apakah tulisan dari Mohammad Ij termasuk karya yang baik, silakan pembaca sendiri yang menilainya, dan waktu yang akan memberikan jawaban.
Pada kesempatan kali ini, kami menerbitkan ulang buku Surat dari Madura untuk Negeri Edisi 1 dengan ditambah Surat dari Madura untuk Negeri Edisi 2 yang kami gabung dengan judul baru Surat dari Timur Jawa dengan harapan agar lahir penulis-penulis muda berbakat lainnya yang selama ini belum atau kurang mendapat tempat agar namanya lebih dikenal masyarakat. Semoga saja akan lahir Chairil-Chairil dan Pram-Pram lainnya dikemudian hari agar Indonesia berbudaya dan semakin kaya, juga untuk mematahkan ramalan yang mengatakan bahwa penulis seperti Pramoedya Ananta Toer hanya lahir sekali dalam seabad. Karena masa depan adalah sesuatu hal yang tidak bisa kita ramalkan. Dan tentu saja dengan penerbitan buku ini juga untuk mewujudkan moto Pataba itu sendiri, “Masyarakat Indonesia maju adalah masyarakat Indonesia membaca menuju masyarakat Indonesia menulis.” Semangat membaca, dan semangat menikmati.

Blora, 16 Januari 2016