Sabtu, 30 Mei 2015

PRAM DARI DALAM





Pendahuluan:


Sebuah Melodia


Tulisan ini adalah monogram yang tidak ada artinya samasekali. Namun saya merasa perlu mengkajinya kembali. Lebih-lebih monogram ini merupakan anagram yang diilhami oleh Voltaire, yang menjadi sangat kondang dengan anagramnya ketimbang aslinya.


S


elain itu, monogram ini merupakan usaha untuk memberikan gambaran lebih terperinci tentang suatu peristiwa sejarah, yang karena penyajiannya yang jauh dari lengkap sehingga dia bagaikan monster yang menakutkan. Padahal, dia adalah suatu peristiwa paling dramatis, aromatis, melankolis, dan juga romantika revolusi dan sejarah peradaban manusia. Dia memberi inspirasi dan ilham bagi mereka yang mendambakan suatu ideologi dan bukan elitis melainkan populis, suatu keagungan jagat raya yang mencerminkan manusia seutuhnya dalam gelarnya sebagai homo ludens, yang dengan nalar menjadikannya homo faber, anak alam yang menaklukkan dunia, membebaskan dari segala bentuk kemiskinan, penindasan, pemerasan dengan segala efek sampingan.


Melodia adalah anagram penuh janji, cita-cita, dan impian-impian masa datang bagi mereka yang percaya pada nyanyi dan lagu merdu yang mengalun darinya. Ini bukanlah paksaan untuk memercayainya dan jangan percaya kalau kemudian Anda meyakininya, karena memang selalu ambigu, berbau duopoli. Namun yang utama bagi saya, monogram ini merupakan suatu uji coba dan usaha untuk mencari kebenaran dari realitas yang bersifat empiris dan bahkan mungkin radikal, walau usaha ini tidak terpusat pada politik—di mana radikal diartikan sebagai setiap usaha bagi setiap orang yang ingin mengubah tatanan sosial secara menyeluruh sampai ke akar-akarnya karena radikal berasal dari bahasa Latin, radix, yang bermakna akar atau root.


Dalam sejarah, pembentukan bangsa sangat rumit. Namun sejak kemunculan gerakan rasionalisme, nasionalisme menjadi salah satu gerakan yang menjadi sentimen kesadaran yang membahana, merasuk dalam jiwa publik dan kehidupan perorangan. Dia bisa dibilang satu faktor yang menonjol atau bahkan paling menonjol dalam sejarah umat manusia. Melihat pada zamannya bisa dibilang nasionalisme adalah gerakan yang dimasukkan dalam kategori modern, yang mewabah ke seluruh penjuru dunia dan hidup sentosa dalam kehidupan sosial dan organisasi umat manusia. Dalam kebangkitan kesadaran nasionalisme itu, manusia meneropong masa lalu dengan segala kekeliruan sejarahnya.


Nasionalisme bangkit sebagai kekuatan yang sangat dominan di Eropa Barat dan Amerika Utara. Harus diakui, revolusi di Amerika dan Perancis merupakan inti pertama wabah nasionalisme. Kemudian, pada permulaan abad ke-19, wabah dari jantung Eropa itu merambah ke seluruh daratan Eropa. Abad berikutnya dia merambah ke Asia dan Afrika. Dengan kelahiran berbagai negara di Amerika Latin, wabah nasionalisme juga merambah daratan itu. Dunia setuju bahwa abad ke-19 merupakan abad nasionalisme di Eropa dan abad ke-20 di Asia.


Dulu, masalah nasionalisme menyatakan secara tidak langsung tentang negara dan bangsa berdasar prinsip geografi. Pada era nasionalisme modern pengertian tersebut mengalami perombakan. Bangsa disatukan oleh keinsyafan, kesadaran, state of mind, untuk hidup bersama bukan atas rekayasa intimidasi dan penindasan alat kekuasaan, keserakahan, kepongahan, ketamakan penguasa. Ingat masa kejayaan Yunani dengan peradaban Sparta dan Athena. Kejayaan Kristen, Islam, Mongol, dan lain-lain. Kesetiaan politik, sebelum era nasionalisme, bukan didominasi oleh kebangsaan, juga bukan oleh peradaban, melainkan oleh keyakinan, kepercayaan agama. Belakangan, ketika era Renaisance dan Klasikisme, pada zaman Yunani dan Romawi, peradaban menjadi norma universal yang dipandang sebagai acuan untuk semua orang dan sepanjang waktu. Lebih ke belakang lagi, peradaban Perancis menjadi norma standar di seluruh Eropa. Hanya pada akhir abad ke-18 peradaban baru diakui sebagai sumber kesetiaan, yang bermuara pula pada nasionalisme, yang antara lain mengedepankan prinsip bahwa semua orang hanya dapat diajar dalam bahasa ibunya, bukan dalam bahasa dari peradaban lain. Dari akhir abad ke-18 itu terjadi perombakan dalam sistem pendidikan, kehidupan gayung bersambut dengan perombakan sistem kenegaraan loyalitas bangsa. Perombakan itu dibantu oleh para penyair, seniman, dalam penciptaan budaya nasionalisme, merombak bahasa nasional menuju ke bahasa yang lebih tinggi kualitasnya dalam dunia sastra. Terjadi perombakan di segala bidang yang akhirnya bermuara pada spirit nasionalisme. Melemahnya dominasi agama, sistem feodal, sektantisme, dan sebagainya mempercepat lahir dan tumbuh wabah nasionalisme. Dia dipercepat oleh rasionalisasi pendidikan, perkembangan ekonomi yang saling tergantung, yang membutuhkan teritori yang lebih luas, diikuti kelahiran kelas menengah dengan usaha-usaha mereka yang bernuansa kapitalistik. Perkembangan itu menciptakan negara dengan kesatuan wilayah dengan sistem konsentrasi politik dan ekonomi, yang juga merupakan spirit kelahiran nasionalisme. Dalam masalah nasionalisme, Indonesia tertinggal dua abad lamanya. Itu pun lahir dari rekayasa balas budi, yang disponsori oleh penjajah Belanda dengan bom waktu terselubung: “politik balas budi.”


Pendek kata, pengaruh ajaran baru tentang nasionalisme merombak banyak tatanan dan dominasi tradisi lama, termasuk cara berpikir, dari dua ribu tahun kejayaannya. Dalam revolusi pemikiran itu, kita bisa sebut John Milton dengan konsep liberty, John Locke, Thomas Jefferson, Thomas Paine, Jean Jacques Rousseau, Johann Herder. Slogan termasyhur liberty, egality, fraternity ditambah dengan deklarasi hak asasi manusia menjadikan nasionalisme wabah yang mendunia.


Tentang wilayah bahasa: bahasa merupakan salah satu akar rumput bangsa. Namun tidak mutlak. Orang bisa saja memilih bangsa tanpa harus ingat akan akar rumputnya. Dalam sejarah kelahiran bangsa, Indonesia termasuk salah satu yang paling unik di dunia. Mustahil diambah dengan mukjizat. Bangsa lahir karena sumpah. Orang Yunani, Yahudi, menjadi bangsa karena akar rumput misi menjadi peradaban, budaya, dan tradisi. Semua tersimpul dalam keseharian kehidupan mereka yang disebut etos, dari etika. Etika bangsa, etos bangsa. Belakangan orang sering mempergunakan maniak, crazy, atau holism: technocrazy, workholism, communistomaniac, dan sebagainya memberikan indikasi kecenderungan akan etos yang berlebihan. Semua itu mungkin berkonotasi positif, namun yang tidak berakar rumput dalam wilayah, bangsa, dan bahasa ini.


Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak lahir memang tidak pernah utuh; keretakan silih berganti menghiasi sejarahnya yang sudah lebih dari setengah abad, mulai dari federalisme, separatisme, renegadisme, sampai vandalisme tradisi, seni, budaya, dan peradaban. Hal itu ditambah dengan kemelelehan nasionalisme, yang memang kurang mempunyai akar rumput yang kuat. Kelemahan penegakan hukum menyebabkan negara yang sepertinya menganut paham demokrasi ini terjerumus ke dalam kediktatoran penguasa ala Napoleon Bonaparte. Itu menyebabkan timbulnya kesewenang-wenangan, ketidakadilan. Manusia kehilangan hak sebagai manusia. Banyak peristiwa mengungkapkan kenyataan bahwa warga diperlakukan tidak lebih baik dari ternak. Dibakar hidup-hidup karena mencuri motor, dibunuh karena dicurigai sebagai dukun santet. Karya seni Tisna Sanjaya dari Bandung dibakar karena dianggap sampah oleh Satuan Polisi Pamong Praja. Berbagai kekerasan dan penganiayaan para siswa STPDN, Jatinangor.


Semua itu merupakan bukti yang membenarkan prediksi Pythagoras atau Konghucu yang menyatakan sejak lahir manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat. Di sisi lain, yang terlanjur berbuat jahat dan takut menanggung akibatnya, gencar mempopulerkan rekonsiliasi nasional, yang diharapkan mampu menyelesaikan berbagai konflik dan beda pandangan politik dan ideologi untuk bersama-sama membangun bangsa. Mereka menilai, mengangkat harkat bangsa itu dengan cara duduk bersama, mempertemukan berbagai pandangan. Itu adalah jargon politik yang sudah basi. Mengangkat harkat bangsa bukan dengan duduk bersama, melainkan berkarya bersama sesuai dengan bakat, minat, dan cita-cita. Manusia Indonesia bisa mengangkat diri melalui kerja, baik yang bersifat individualistik maupun komunal, ditunjang oleh etos kerja dalam keluarga. Bangsa harus diubah dari konsumtif menjadi produktif. Akar harkat bangsa itu dengan karya, dengan kerja keras yang dimulai dari perseorangan. Harus diingat, kerja bukanlah kejahatan kemanusiaan. Dengan kerja apa saja yang bermanfaat, pertama orang menghargai jerih payahnya sendiri, bau keringatnya sendiri. Kedua, lahir rasa dan kesadaran menghargai kerja orang lain. Ketiga, tumbuh kesadaran membina keluarga dengan kerja sebagai budaya. Keempat, keluarga yang mapan menciptakan kedamaian keluarga yang berbuntut hubungan yang serasi dan sederajat dengan keluarga lain. Kelima, kalau persoalan keluarga dan antarkeluarga bisa diatur, budaya ketertiban masyarakat semestinya akan tercipta karena punya akar rumput yang kukuh. Dan budaya seperti itu bisa meningkat sampai ke jenjang yang lebih tinggi.


Kalau akar permasalahannya bisa diatasi semestinya berbagai tabiat buruk dalam masyarakat juga bisa diatasi. Sifat malas, serakah, berdusta, kejam, dan sebagainya menjadi terkesampingkan. Dalam hal ini, ajaran sang Buddha dan ajaran-ajaran kepercayaan lain yang positif akan sangat relevan dan membantu.


Bangsa ini makin hari bukan menjadi kian dewasa, justru menjadi makin beringas, kejam, serakah, dan sifat buruk yang lain. Semua tercermin dalam polah masyarakat yang bisa ditelusuri baik dalam surat kabar maupun televisi. Penodongan, pemerkosaan, pembunuhan, korupsi, pembobolan bank, manipulasi, KKN, dan kebobrokan masyarakat yang lain. Sinyalemen van Geldener bahwa bangsa ini adalah bangsa kuli sudah lama menjadi kenyataan. Kalau sebelum perang kita jaya dalam berbagai hasil produksi pertanian, perkebunan, dan pertambangan serta menjadi pengekspor kelas dunia, kini hanya menjadi sejarah. Ekspor manusia ala Las Casas abad ke-17-18 terulang pada milenium ketiga ini. TKI dan TKW ke luar negeri menjadi primadona kesibukan yang mendatangkan rezeki. Tidak peduli bahwa sebagian di antara mereka diperlakukan tidak lebih dari budak dan ternak. Sia-sia Multatuli mengorbankan seluruh hidupnya demi manusia Nusantara. Dia hanya mendambakan kita menjadi manusia. Manusia yang berhasrat untuk hidup bersama menjadi bangsa ala Ernest Renan: bangsa Indonesia.


Karena itulah, perlu menelaah tokoh Charles Darwin yang mengajarkan bahwa untuk membuktikan kita ini manusia, kita harus bekerja. Hanya dengan kerja kita menjadi manusia sejati. Manusia sejati adalah perubahan dari homo sapiens menjadi homo ludens. Dalam proses menjadi homo ludens, manusia langsung atau tidak langsung belajar dari lingkungan, memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan harkatnya. Kalau demikian, maka manusia akan menapak lebih tinggi, yaitu menjadi homo faber, manusia yang mampu mencukupi kebutuhan sendiri dan lingkungannya. Kalau berhasil, manusia akan berpikir secara rasional dan mulai memilah-milah kebutuhan dan jadilah manusia sebagai homo economicus sejati dengan prinsip yang dihafal dari anak SD sampai mahasiswa: tenaga sesedikit mungkin, hasil sebesar mungkin.


Namun untuk menyelesaikan berbagai kepentingan di luar itu, masalah hubungan antarbangsa, antarkelompok, kedaulatan batas wilayah, dan sebagainya, lahirlah manusia homo economicus itu menjadi mahkluk baru yang dikenal dengan nama homo politicus. Di sini watak manusia terbelah menjadi dua. Dengan politik manusia membela hak dan kepentingannya, dengan politik itu juga manusia merampas dan merampok hak dan kepentingan manusia lain. Ingat selalu pesan salah seorang dari banyak presiden terbunuh negeri adidaya dengan konsep demokrasinya yang agung, “demokrasi”—Amerika Serikat. John Fitzgerald Kennedy berpetuah beberapa waktu sebelum mati ditembak warga negaranya sendiri, “Dalam politik tidak ada sahabat sejati. Yang ada hanyalah sekutu. Kita bisa memaafkannya, tetapi tidak bisa melupakannya.”


Apa yang dipetuahkan John Fitzgerald Kennedy sama sekali sempurna. Benar, mutlak, bahkan bisa dijadikan dogma atau doktrin bagi siapa saja yang mau berkecimpung dalam dunia politik. Contoh konkret adalah dunia perpolitikan di Tanah Air. Tidak salah dan malu kita menerima petuah dari tokoh Malaysia, Mahathir Mohamad, bahwa untuk pembangunan negara dan bangsa diperlukan syarat mutlak: stabilitas politik. Sama sekali benar nasehat Ben Mboi, bekas Gubernur dan anggota DPA, yang mengatakan, “Janganlah bereksperimen dengan masyarakat dan negara.” Dan model coba-coba begini, bangsa kita sudah kenyang, dan itu berarti kita belum paham.


Kita belum menjadi bangsa yang cerdas, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Mari kita cermati nasehat pemenang Nobel Sastra asal Mesir. Mahfouz Naguib bilang, “Engkau bisa tahu apakah seseorang cerdas dari jawabannya. Dan engkau bisa tahu apakah seseorang bijak dari pertanyaannya.” Sulit dibuktikan. Lebih-lebih dalam dunia politik. Semua berbau busuk dan bernuansa dekadensi moral. Namun masih ada orang yang waras di antara orang yang gila. Simak kata sutradara dari Jepang, Akira Kurosawa, yang berkilah, “Di dunia gila, hanya si gila yang waras.” Apakah ketika bangsa kita berjuang tahun 1945 dulu termasuk bangsa yang gila, gandrung, dan maniak kemerdekaan? Bisa jadi ya. Yang patut dicatat adalah ajarah tokoh hak-hak sipil yang punya nasib seperti John Fitzgerald Kennedy, Martin Luther King Jr, bahwa kemerdekaan takkan pernah diberikan secara sukarela oleh penindas, tetapi harus dituntut oleh mereka yang tertindas. Lebih afdol lagi kalau kata “dituntut” itu diganti “direbut,” sebab memang situasi dan kondisi waktu tahun 1945 memungkinkan tindakan demikian. Hal itu berkat pelajaran dari orang Amerika juga yang mengajari, “Melewatkan kesempatan adalah kebodohan.”


Lalu, bagaimana dengan situasi dan kondisi negara ini? Korupsi merajalela. Dalam kajian luar negeri, Indonesia termasuk negara paling korup di dunia. Membantah sama artinya dengan membenarkan. Beras (untuk warga) miskin dikorup. Bantuan dari luar negeri diembat. Jatah rumah sakit dikemplang. Harga makanan ternak disulap. Pendek kata, awur-awuran. Bahkan bahasa pun dikorup, seperti yang dicermati George Orwell, penulis dari Inggris, yang mengedepankan pendapat, “Jika pikiran mengorupsi bahasa, bahasa pun sanggup mengorupsi pikiran.” Apalagi korupsi benda yang bernilai jual. Baca novel Korupsi karya Pramoedya Ananta Toer; yang dimulai hanya mencuri beberapa lembar kertas dari kantor. Kenikmatan itu kemudian menjadi budaya dan darah dagingnya. Dan, jadilah kemudian dia koruptor dan dia menikmati predikat barunya.


Dan, sedikit berbicara filosof, adakah beda antara kenikmatan dan kebahagiaan itu, atau keduanya saling tergantung, saling mengisi, saling menunjang? Masih dalam nuansa filosofis, renungkanlah kesimpulan brilian dari tokoh dualis terbesar di dunia, Immanuel Kant, “Kebahagiaan bukanlah ideal akal, melainkan imajinasi.” Untuk mengerti ajaran itu, kita perlu mendalami ajaran Immanuel Kant lebih dalam. Sayang, bangsa ini bukan science maniac, gila ilmu. Bangsa ini adalah bangsa yang liat, bersikukuh dengan kekayaan rohani leluhur. Maksud saya, jika dia Islam, bukan Islam sejati. Kalau dia Kristen, bukan Kristen sejati. Kalau dia Hindu, bukan Hindu sejati. Kesempurnaan dia sebagai manusia dilengkapi dengan bekal tradisi leluhurnya. Keyakinannya tidak totaliter seperti tokoh eksistensialisme Sorem Aabye Kierkegaard yang yakin bahwa kalau mau eksis bertindaknya secara menyeluruh. Selagi percaya dia lebih dari siapa pun, selagi tidak percaya dia pun lebih dari siapa pun. Menurut pendapat dia, setiap manusia mempunyai tantangan dunianya sendiri. Tidak ada kekecualian, termasuk dirinya sendiri. “Aku tertawa dengan satu muka, aku tersedu dengan muka yang lain.”


            Sindiran itu adalah cermin keadaan secara menyeluruh proses yang ada di Indonesia sekarang ini, yang kalau dicermati intinya merupakan bom waktu—warisan politik etis yang diselewengkan. Dan, Pramoedya Ananta Toer adalah seorang pengarang yang berhasil, bahkan sangat berhasil. Saya termasuk penulis yang sangat berhasil—berhasil gagal. Anda bisa simak dan baca apa yang saya tulis. Dan, Anda akan rasakan benar keberhasilan saya yang gagal itu. Justru itu kritik, maki, umpat, tumpahkan semua. Dan saya akan selalu sampaikan terima kasih, hanya dengan catatan kecil sebagai permohonan: tulislah lebih baik dari saya. 

Soesilo Toer 



"PRAM DARI DALAM" karya SOESILO TOER
Penerbit: Pataba Press
Penyunting: Gunawan Budi Susanto
Cetakan pertama: Februari 2013
Cetakan kedua: Februari 2015
Tebal buku: xii + 286 halaman, 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-17414-2-9
Harga: Rp 70.000,00 (Belum termasuk ongkos kirim)




Pemesanan:
* Purwokerto
dan sekitarnya: Yuli Rm (081568241918)


* Cirebon dan sekitarnya: Hermawan Widodo (081914020214).


* Semarang dan sekitarnya: Kang Putu (087731631118).


* Jogja dan sekitarnya: Marheriyanto, Fakultas Teknologi Pertanian UGM Jogja (081328274794) / Senja Mulyana (085721364525/082138878011).


* Mojokerto dan sekitarnya: Rockhand (089619090001)


* Karawang dan sekitarnya: Khamid Istakhori (085695622555)


* Malaysia: Zaidi Musa, Kedai Hitam Putih (+60123840415)


* Jakarta dan sekitarnya: Yohana Sudarsono: (085693269444/089677578419) / Koesalah Soebagyo Toer Jl. Turi III No 27 RT 05/10 Kemiri Muka, Beji, Depok 16423 (087785067160)


#Pemesanan dari berbagai kota lain di Indonesia bisa ke Benee Santoso
Jalan Sumbawa Nomor 40 Kelurahan Jetis, Kota Blora, Jawa Tengah
Telepon +6287742070671/+6285711631124 BBM: 537CB695 WA: 089
653169450 Wechat/Line : ben_kim13