Senin, 04 Juni 2012

Soesilo Toer "Menarik Garis Pada Level Ketidakwajaran"


MENARIK GARIS PADA LEVEL
K E T I D A K W A J A R A N
Soesilo Toer
Tulisan Bagian Pertama

Di kampung aku belajar ngaji sejak kecil. Tadinya hanya mendengarkan entah dari siapa mulanya. Suaranya mendayu-dayu, meratap penuh iba. Tapi jelas bukan dari bapak. Dan memang seumur hidup aku tidak pernah mendengar bapak mengaji. Ketika bapak meninggal aku mengaji di rumah tetangga. Di langgar. Enggak bayar. Bahkan kalau hapal sesuatu ayat dapat hadiah, jajan ndesa : gantilut, dumbeg, emput atau apa saja. Jadinya ya getol banget. Guru ngajinya Pak Irin, petani ngebon, yang bengkoangnya suka aku gangsir. Walau ketahuan tak pernah sewot, oleh tingkahku yang ‘begidasan’.
Ketika diboyong Pram ke Jakarta, oleh istrinya aku disuruh ngaji di madrasah dekat rumah. Katanya, wak haji adalah bapaknya kiper tim nasional Mauli Saelan. Tak pernah aku ngecek kebenarannya. Yang kuingat di sini aku panen raya, hampir tiap hari kena gebug mistar di telapak tanganku karena tuolol banget. Yang istimewa dapat zakat ‘bengkoyok’, sejenis penyakit kudis, mrintis berisi nanah berwarna keputihan. Kukira karena bangku-bangku tidak pernah dibersihkan selama tahunan. Sembuh setelah disuntik cairan, katanya ‘cortison’, sekalian minta keluar karena kapok.
Ketika dewasa aku belajar agama di Tanah Abang, di rumah haji Junaidi, bapaknya Mahbub Junaidi, tokoh teras ormas Islam di Jakarta. Pram tahu banget masalah ini. Makanya tak heran ketika pada suatu kali pertemuan, ia tanya penuh selidik, “Hebat kamu…kapan jadi Islam sejati?”
Dan aku tidak paham, enggak mudeng. Belum pernah selamanya aku dengar tes pemahaman semumet itu.
“Atau mau jadi Syeh sekalian. Kalau keturutan itu berarti kau mengalahkan embahmu Haji Ibrahim, penghulu Rembang. Hebat…,” pujinya.
Tentu aku berbunga-bunga walau hati kecilku mengkerut. Pasti ia bercanda. Ia tahu persis keadaanku yang sering masak nasi saja berasnya sering ngutang di warung. Tapi tidak, melihat roman mukanya yang tanpa ekspresi aku yakin ia serius. Belakangan ketika dewasa dan mulai jerawatan, aku jadi teringat masa lalu, ketika pada suatu kali Pram pisah ranjang dengan istrinya dan berakhir, seperti ia sendiri mengakui cerai tanpa bercerai, atau sering dikatakan sebaliknya bercerai tanpa cerai.
Sepengamatanku masa itu KUA belum berfungsi banget seperti sekarang. Bahkan tahun ’62 KTP juga belum berfungsi optimal. Mungkin karena itu umpatan atau makian ‘haram jadah’ terhadap anak yang lahir tanpa surat nikah medok banget di Jakarta. Cerita selanjutnya kan begini : Serius karena tak naik kelas aku bertekad belajar maksimal. Salah satu kiatku ngendon di rumah kakak ipar kontemporerku, tegasnya setengah bekas istrinya Pram. Ia tak  keberatan, bahkan setuju, maksudnya supaya aku bisa ngemong ponakan-ponakanku, yang jumlahnya tiga orang. Semua cewek. Kiat kedua, kami dengan teman-teman membentuk kelompok belajar bersama secara bergilir. Berjumlah empat orang. Semuanya cowok.
Kalau dengan sistem inipun aku tidak lulus, berarti benar putusan bapakku dulu di kampung, yang ndongkrokkan aku di kelas empat dua tahun karena dianggap gebleg. Dan aku sudah memutuskan jalan keluarnya : keliling nusantara dengan naik sepeda. Kebetulan waktu itu sedang ngetrend-ngetrendnya Melayu dilanda hobi keliling dunia jalan kaki. Yang paling berkesan tiga serangkai keliling dunia. Salah seorang di antaranya Lawalata, seingatku dari Sulawesi. Terdengar kabar kemudian bahwa salah seorang pengeliling dunia jalan itu sampai di Jerman dan digaet janda bule, pengusaha sapi perah. Cuma seorang yang sampai di markas PBB di New York. Tapi bagiku tidak penting lagi urusan jadi filsuf jalanan itu.
Suatu kali, ketika aku membersihkan perpustakaan Pram, aku menemukan segumpal surat lusuh tulisan Mbak Afrah, bekas istrinya Pram, yang tak jadi dikirimkan, diuwel-uwel dan dibuang. Waktu itu ia susah kerja di Bilangan Glodok, Jakarta Kota. Dalam konsep surat yang ngebet minta cerai itu tecantum kata Syeh. Tanya kepada bekas istrinya tentu saja tidak etis dan kurang ajar. Tanya sama Pram rasanya juga kebangetan. Bocoran kemudian kusadap dari anak pertama Pram, Ros, yang waktu itu sudah mulai belajar baca tulis. Aku juga yang disuruh menjemput dan mengantarkan sekolah Belanda di kampung di Jalan Kaji, Petojo Binatu. Tentu saja tidak mudah anak seumur itu, tapi aku ngebet banget. Dari berbagai bujuk rayu pernah terungkap mungkin dengan tak sengaja, anak semok ini berucap beberapa kali : “Edan harta.”
Dua kata itu kureka bagaikan pelajar ilmu spionase memecahkan sandi musuh. Tak penting bagiku benar atau salah Syeh adalah akronim. Dua kata akhir sudah terbuka artinya, tinggal dua kata depan. Sesudah puyeng sampai mblelek aku selesaikan sandi yang akronim tersebut. Yang bunyi lengkapnya adalah “Suami Yang Edan Harta”. Dan aku tak ingin menceritakan tentang diriku sendiri, yang pasti usahaku menjadi Islam sejati makin buram saja, apalagi sebagai predikat Haji dan Syeh yang mabrur. Barangkali kalau akronim yang kupecahkan itu benar rasanya kok memper. Soalnya Pram bersama istrinya itu penah tinggal ngontrak di Kebayoran Baru, yang waktu itu masih menjadi kawasan elit. Sekarang sudah tenggelam oleh perkembangan kawasan. Tapi kalau Syeh itu merupakan predikat, aku yang pertama akan mengacungkan jempol.
Tahun-tahun pertama aku tinggal di rumah Pram di Kober, aku dapat deal, obyekan. Berupa jadi guru. Murid pertama, satu-satunya dan terakhir adalah cang Ilyas, yang tak lain adalah mertua lelaki Pram sendiri. Tidak tahu kenapa aku yang dipilih, bukan Mbak Ies atau Mas Liek. Tak pusing aku, dan tak memikirkan berbagai alasan keputusan cang Ilyas, yang menurut pengamatanku sangat patuh atas keyakinannya. Jidatnya ngleyer, bersih dan tenang adem, menggambarkan jiwanya yang mantap tenang. Juga karena sering dibasuh. Usahanya jual berbagai kebutuhan pokok rumah tangga, termasuk kayu bakar. Kompor waktu itu belum ngetrend banget. Kadang aku juga disuruh belanja ke Tanah Abang Bukit. Disamping mendapat tambahan uang jajan mengajar, aku juga diupah setiap kali habis belanja. Ia pasti tahu kebiasaanku, di hari libur suka diajak anak-anak Betawi sekitar untuk memancing di empang-empang ikan mujaher di sepanjang kali Ancol subuh-subuh. Nikmat menyenangkan memang, tapi itu mencuri. Dia kuatir, aku sama sekali tidak tertangkap basah centengnya yang katanya terkenal beringas dan tanpa ampun.
Namun maling prof lebih licik. Subuh adalah jam-jam yang paling mengasyikkan ngorok dengan hembusan sepoi angin laut. Untuk mencegah aku hanyut terbawa arus lingkungan itulah caranya cang Ilyas, walau sekejap pun ia tidak cuap-cuap. Sungguh ia seorang pendidik, guru jadi murid yang baik. Pram sendiri beberapa kali berucap tentang fakta ini. Entah kok rasanya ia gagal mendidik anak perempuannya. Kenangan manis Pram itu sangat membekas karena semua kekurangan kebutuhan rumah tangga Pram terpenuhi tanpa repot-repot dengan cara mengutang ke warung mertuanya. Tak pernah ditagih dan tak pernah dicek cocok dengan besarnya utang atau tidak. Ini yang menyebabkan Afrah gemes, guondiek, kata orang Blora untuk menekankan gedenya kegemesan seseorang.
Mungkin kenangan manis sang mertua inilah kemudian ketika sang anak mantu terusir dan mengalami pasang surut dalam kehidupan rumah tangganya ia punya nadar untuk menghajikan sang mertua ke Tanah Suci. Tidak pernah dengar aku apakah istrinya Pram yang baru, Mimin, jadi sewot dan gemes oleh rencana mulia yang gila tersebut. Yang jadi fakta Pram gagal menghaji-mabrurkan bekas mertuanya. Keburu meninggal karena kangker paru-paru. Mertuanya itu perokok berat daun kaung. Rokok kegemaram Betawi Orak, walau setahuku mertua Pam adalah keturunan Badui Luar, Banten, yang dikenal, katanya, sebagai pengikut yang patuh.
Sebagai tambahan Banten adalah daerah wewenang Dauwes Dekker, semasa masih dinas. Dan dari sinilah ia yang bernama samaran Multatuli, mengangkat praktek kekejaman kolonialisme Belanda ke dunia internasional dalam drama percintaan terselubung Saijah dan Adinda yang menggetarkan hati banyak pembaca. Termasuk Lenin, sang tokoh Revolusi Oktober turut memberikan komentarnya, agar kekejaman kolonialisme itu menjadi bukti suatu kekuasaan yang kejam, tidak adil, tidak manusiawi dan harus dihancurkan dengan cara revolusi.
Pram sendiri beberapa kali mengaku Multatuli sebagai salah seorang guru sepiritualnya. Sebagai rasa solidaritas yang tulus atas nasib saudara setanah airnya yang tertindas oleh kekejaman kekuasaan, ketika pemerintah ORLA mendirikan Departemen Petera, Departemen Pengerahan Tenaga Rakyat, sekitar tahun ’55-’58, Pram salah seorang yang getol untuk membangun kawasan Banten, terutama daerah Malingping sebagai proyek percontohan. Kelihatannya proyek itu gagal, walau Pram berhasil menulis ‘Sekali Peristiwa di Banten Selatan’. Tentu kegagalan itu bukan semata karena Pram bukan ekonom yang memahami tentang pembangunan kawasan tertinggal.
Waktu itu problem dan pemecahan masalah seperti itu belum berkembang. Kegagalan terutama adalah kelihatannya pemerintah kurang serius dan sungguh-sungguh. Salah satu indikasinya relawan yang berjubel dan berminat untuk proyek tersebut, termasuk aku, kurang mendapat respon, bahkan departemen itu sendiri kemudian juga bubar. Kalau dokumen dadakan itu terpelihara, pasti tercatat namaku. Aku belum lagi pikun, departemen itu terletak di daerah Cikini, tidak jauh dari sebuah show room mobil yang sekitar tahun 1954 pernah diberondong dengan bren oleh bridage 17 TRIP, yang bermarkas di Jalan Raden Saleh, sekitar satu setengah kilometer Depatermen Petera. Masalah latar belakang terjadinya insiden tersebut aku kurang paham. Hal itu kudengar dari salah seorang tokoh peristiwa tersebut, yang waktu itu bekerja di Jalan Madura, di mana aku sendiri pernah bekerja.
Justru keberhasilan pembangunan kawasan boleh dikata sukses ketika modal Uni Soviet turut berkiprah di negeri ini. Mereka yang sudah kenyang makan garam dalam masalah pembangunan kawasan menunjuk Cilegon Banten sebagai pusat studi pengembangannya, dengan membangun tanur baja pertama di sana. Mereka memproyeksikan Cilegon sebagai mata pusaran untuk pembangunan kawasan Jawa Barat dan Sumatera bagian Selatan. Prediksi itu terbukti benar walau pembangunan Cilegon mengalami pasang surut. Buktinya sekarang Propinsi Banten menurut data statistik, kalau BPS tidak berorientasi ABS, merupakan kawasan industri yang paling berkembang di Indonesia, mengungguli propinisi metropolitan.
Pram gagal menghajikan bekas mertuanya. Sebagai pelipur lara ia membiayai istri barunya ke tanah suci. Tak tahu, apakah Pram berkeinginan menghajikan orang tuanya atau tidak. Yang kutahu tugas penuh berkah dan rahmat itu diemban oleh Soesatyo, adik Pram terkecil, yang lolos dari tangan-tangan usil kekuasaan. Namun sudah empat tahun terakhir ini ia tergolek di tempat tidur, seperti laiknya krangrang merah telanjang bulat sepanjang hari karena kena stroke. Kurasa usus dan waduknya, yang terbiasa terisi dedaunan desa diubah polanya menjadi serba lemak dan daging, nasi kebuli dan kopi-madu ala negeri padang pasir. Tak ada yang bisa menolong, termasuk dirinya. Untung ia punya istri dan ipar ponakan yang setia dan tabah. Kalau tidak aku yakin sudah ketemu kakak tertuanya di alam misteri. Entah kalau di sana pun keadaannya sama dengan di dunia nyata kita ini. Kalau tidak, ada kemungkinan si bungsu ini bakal kena hajar untuk yang kedua kali.
Tapol lain yang juga dikembalikan dari Buru adalah tokoh lumayan gede. Berita yang beredar adalah wakil ketua Ikatan Dokter Indonesia, dokter Ashar Sosromunandar. Orang cukup keker. Senyumnya unik dengan alis tebal yang sudah bercampur uban. Dan justru di situ bagiku yang bikin kangen dan susah melupakan. Dalam lingkungan tahanan ia selalu pakai celana dalam komprang yang sudah terkontaminasi dengan berbagai cairan, walau kegiatannya sepanjang yang kutahu adalah mencuci sandangnya sendiri. Baru kalau ia dinas pengobatan para tapol pakai pakaian lain. Kala itulah kelihatan klimis dan ketokohannya yang menonjol. Itu dilengkapi dengan kacamatanya tebal dan jalannya yang berat sedikit, sedikit saja ngegang. Beda dengan langkah bung Karno yang kentara banget. Wajah bung Karno sempurna, kalau pak dokter ini agak mblelek dan berbau kampungan. Dan ia dua kali beruntung, pertama laku kawin, dan kedua keluarganya tetap setia, juga anak-anaknya yang kulihat sering mbezuk dengan kiriman seabrek.
Aku sendiri minta agar keluarga sedikit mungkin bezuk mengingat keadaanku yang ngere. Juga karena posisiku sebagai pencuci piring cukup membuat diriku tak pernah kekurangan jaminan. Namun akibatnya fatal. Berat badanku naik. Celana dan dan baju di alam bebas seperti sesak dan menyempit. Hal yang terasa ganjil adalah saat duduk bersila, perut seperti menekan dubur. Sesak dan menyesakkan. Bukan itu saja, terasa ada sesuatu yang mengganjal di sana. Tadinya kukira cuwilan e’ek yang nyangkut, eh ternyata bukan. Kurasa daging tumbuh, mengingat kalau tersenggol terasa sengkring-sengkring. Makin hari makin gatal dan perih. Akhirnya suatu kali ketika aku ke belakang e’ekku yang mantap gede dilamuri dengan merah segar, darah!
Aku gendadapan, blingsatan, kebingungan. Tak ada yang harus kutumpahkan kegalauan hatiku, kecuali kepada sang mblelek. Dan nasehatnya justru sangat mengagetkan, “Puasa aja, Bung!”
Gila sahutku dalam hati. Sudah ditahan, sudah kehilangan beraksi, disuruh puasa. Apa enggak pembodohan namanya. Dan lagi pendapatku, ditahan itu bukan cuma puasa, itu tirakat gede-gedean. Puasa menurutku prinsipnya cuma memindahkan dari makan siang menjadi makan malam. Ditahan dengan istilah tirakat jauh mengungguli puasa. Makanya nasehat yang kunilai kebangetan itu sangat mengecewakan hatiku. Namun mau apa, kukira nasehatnya itupun asal bunyi, karena secara naluri ia toh juga tersiksa. Kebebasannya diberangus. Dan kalau melihat lamanya, ia jauh mengungguli diriku.
Orang bilang perkawinan adalah cara memberangus diri sendiri, tapi ditahan adalah pemberangusan pribadi dengan todongan senjata. Jadi intinya jauh berbeda. Kukiran, dan ini menurutku paling valid, siksaan orang ditahan bukannya perihnya hentakan fisik tapi adalah perihnya hentakan batin, naluri seks. Pengalamanku sendiri membuktikan bahwa ketidaklancaran metabolisme kegiatan jorok yang ngangeni dan membius itu sangat fatal. Tidak lancar berarti gangguan menghumbalang seluruh aktifitas ke luar dan ke dalam. Sebaliknya kelancaran menimbulkan efek serba positif.
Pernah kubaca, atau kudengar. Mungkin kudengar karena membaca bagiku adalah bukan kegiatan yang intens tetapi insidentil saja. Bahwa kelancaran metabolisme seks yang berhasil, menimbulkan efek-efek prestasi yang mengejutkan baik dalam bidang studi, sport maupun kegiatan yang mempergunakan kerja otak. Pokoknya ia memberi stimul ajaib. Lhah kalau kebebasan kita terjerat dengan jeruji besi apakah itu bukan bencana?
Bukan itu saja. Hal itu mendorong langsung pada kejiwaan dan mental. Tapi juga timbulnya berbagai penyakit psikis. Lebih parah lagi bahwa sebagian besar lelaki di atas empatpuluh tahun terancam terkena penyakit prostat, penyempitan pembuluh saluran kencing, akibat kekuranglancaran hubungan rumah tangga. Jadi bagi tapol-tapol yang tidak bisa penyaluran hobi yang bikin ketagihan ini sama saja dengan menantikan bencana.
Bukti penelitian ngawur ini bisa kutemukan atas bencana kami sendiri. Pram yang paling lama pernah mengalami ditahan, kena prostat paling dulu. Koesalah, juga setali tiga uang. Karena ia mencoba menghindar dengan memaksakan diri, bencana laki-laki itu ditambah bonus sakit hernia, atau istilah joroknya kondor. Terakhir aku yang tirakat sekitar enam tahun dapat anugerah dua sertifikat juga. Cuma hanya berkat mukjizat saja aku lepas dari bencana kaum lelaki ini tanpa operasi.
Dongengnya begini : Suatu kali di pagi dalam keadaan gerimis tanpa sarapan dan minum air putih hangat aku ke kebon, mencangkul. Waktu itu baru panen alang-alang. Aku diliputi oleh nafsu merombak kebon warisan orang tua itu dari bero menjadi hijau. Singkat kata ngebut. Pulangnya aku demam dan minum dua pil anti pilek. Meriangku kurang, tapi jadi beser. Temponya makin sering dan suatu saat aku kepingin pipis. Tak keluar air. Tombak tumpulku sakit, perih dan tegang. Kunanti, kupaksa, kuhentakkan, sia-sia. Aku kalut dan kesakitan. Jalan keluarnya aku pergi ke dokter terdekat, sesuatu yang bagiku langkah mewah. Tapi terpaksa. Sebab aku sudah yakin dengan sindiran publik yang berbau mencemooh diri sendiri itu, orang miskin dilarang sakit. Dokter yang isunya pernah ngobati gendruwo kesasar itu bilang, aku kena penyakit radang kandung kemih. Obat diberikan dan aku pulang.
Aku sempatkan mampir ke pangkalan pengobatan alternatif tak jauh dari dokter dengan predikat sumpah Hipocrates tadi. Sang tokoh pengobatan alternatif, yang bertampang dukun itu memandangku seadanya dan keluar hipotesis: “Bapak kena gejala sakit gula.”
Ia mendongeng panjang lebar akan membuat ramuan Aceh, Dayak dan Kubu. Ia meyakinkan aku akan sembuh dalam trempo beberapa jam dengan harga tigaprapat juta. Pringisan kesakitan yang kuderita tak digubrisnya. Dan aku potong sebelum ia habis ceramah, bahwa aku tak mampu. Aku katakan bekas tapol dan pulang kampung jadi buruh nyangkul. Ia seperti mendelik kaget dan membanting harga menjadi sepuluh ribu untuk konsultasi yang serta merta kubayar dan segera aku minggat dari hadapannya.
Namun sesudah minum obat dokter pemerintah itu rasa sakit bukan berkurang, malah tambah parah dan aku kembali ke dokter minta disuntik penawar sakit. Rasanya aku belum disuntik. Barangkali ia belum biasa praktek nyuntik, tapi bilangnya sudah. Dan aku bayar sesuai tarip. Sakit makin tak tertahankan, tak tahu jalan keluar, mau nangis, sakit mangalahkan air mataku. Aku pringisan, istri kebingungan, blingsatan tak tahu apa yang diperbuat. Tetangga sebelah yang dari semula tahu penderitaanku menganjurkan aku ke dokter spesialis dan aku turuti dengan becak. Semula aku naik sepeda. Tadinya aku pakai pantolan, sekarang pakai sarung ala santri. Kupikir lebih praktis dan cepat bila ada sesuatu yang diperlukan mendadak. Tampak agak jauh, sedang pengendara becak sepertinya keliren, atau sengaja seperti seolah rumah dokter itu jauh, maksudnya supaya dapat imbalan yang sesuai seleranya.
Dokter cepat menangani, pasien lain yang lebih dulu dikesampingkan. Dan aku digarap. Selang yang ia pasang dalam pembicaraan dengan perawat dua digit lebih rendah dari yang seharusnya. Namun harus dipasang demi pasien. Dalam tempo kurang dari lima menit, kantong urine penuh. Sakit, nyeri dan tegang mengendor. Aku bersyukur, dan lebih bersyukur lagi ketika ia menyodorkan tarip sebesar tigaratus lima puluh ribu. Maksudnya, bahwa istriku mampu membayar, karena aku tak tahu persis dari mana ia mendadak punya duit segede itu.
Pulang naik becak aku sudah pringisan dengan para tetangga yang kebetulan melihat, dengan mengempit kantong kemih dan selang berjuntai dari balik sarung. Waktu itu hari sudah sore dan menjelang maghrib ketika aku buang besar dan ngeden, selang copot dan terburai. Segala plester dan segala yang dipakai untuk memperkuat kemapanan selang yang dipasang tidak berfungsi. Dan aku balik naik becak ke dokter spesialis, yang pengakuannya berasal dari tempat kelahirannya tokoh Boedi Oetomo, dokter Soetomo, tapi nyambung hidup dengan buka praktek di kota, yang dokter Soetomo pernah juga dapat tugas sebagai dokter Gubernemen. Bedanya dokter Soetomo menemukan jodoh di situ, dokter spsesialis ini sudah seabrek dengan produk ‘kiih raos’ ala urang Bandung teak. Dan malam itu nyawaku tertunda dicabut dan tidur bak tanpa nyawa, sangat pulas…( b e r s a m b u n g )